
Aku menatap Leo yang kini terasa amat berbeda di mataku. Leo yang dulu suamiku yang pengangguran dan suka minta uang saku buat melamar kerja. Leo yang bekerja di restoran sebagai pelayan dan memberikan nafkah yang tidak banyak namun selalu kusyukuri.
Kini Leo yang duduk di depanku amat berbeda. Sikap santainya, sikap cueknya namun perhatian tidak menyiratkan sama sekali kalau Ia adalah Mr. So yang terkenal itu.
Aku memperhatikan wajah Leo yang ditumbuhi sedikit bulu halus, mungkin karena harus menjemputku pagi-pagi sekali Ia tak sempat bercukur.
Garis mukanya yang tegas namun terlihat tampan dengan hidungnya yang mancung dan sorot matanya yang meneduhkan.
Kalau ada perumpamaan, Leo yang saat ini berada di sebelahku seperti ada blink-blink yang membuatnya begitu berkilau dan menyilaukan mata.
Leo sedang menjelaskan kepadaku kenapa Ia tidak bisa mengunjungiku di rumah Bapak. Iasibuk mengurus perusahaan, Papa yang rewel di tahanan, Mamanya yang merengek minta cerai dan Kakaknya Richard yang minta keluar dari pusat rehabilitasi. Stress pastinya menghadapi hidup seperti itu.
Namun Leo tumbuh menjadi lebih dewasa. Lebih bisa mengontrol emosinya. Tidak lagi menjadi Leo yang emosian seperti dulu. Stok sabarnya menjadi lebih melimpah.
"Aku berhasil membuat Papa menjadi sosok yang lebih hangat dan tak lagi menyeramkan seperti dulu. Mama juga akhirnya mendapatkan kebebasannya yang meskipun pada akhirnya menyesali keputusannya. Richard juga sekarang sudah menjadi temanku, tak lagi memusuhiku seperti dulu,"
"Perusahaan juga membaik. Semua keberuntungan itu pasti ada harga yang harus aku bayar. Aku kehilangan kamu dan Adam tentunya. Aku selalu menyesali keputusanku, seandainya... seandainya... dan sejuta seandainya yang lain. Tapi aku tetap tidak bisa kembali ke masa lalu. Dan sama seperti kamu May, aku pun takut melangkah ke masa depan. Takut akan menggoreskan luka baru di hati kamu."
Leo yang awalnya menatap lurus ke depan memandangi pemandangan gedung bertingkat dari kaca jendela tangga darurat kini menatap ke wajahku.
Sorot mata Leo menyiratkan rasa sakit yang Ia rasakan. Menyiratkan penyesalan yang tak berujung. Aku tahu itu dan aku pun mungkin memiliki sorot mata yang sama dengannya.
"Aku menukar semuanya dengan kebahagiaanku dan tentunya dengan kamu, May. Aku bodoh ya?" Leo tersenyum sinis akan perkataannya sendiri.
Tanpa kusadari tangan kananku terulur dan mengusap lembut wajah laki-laki yang amat kucintai dan dulu amat kubenci.
"Tapi kamu hebat, Leo. Kamu hebat! Aku bangga sama kamu!" kataku tulus.
Leo tersenyum mendengar ucapanku. Ia memegang tangan kananku, merasa nyaman dengan sentuhan yang kuberikan.
"Aku belum hebat karena sampai sekarang aku belum bisa balikkan sama kamu. Dan perusahaan ini bukan milikku. Aku hanyalah perantara. Orang yang ditugaskan untuk menjalankan perusahaan ini. Pada akhirnya perusahaan ini akan menjadi milik Richard seperti rencana semula. Apa aku masih hebat di mata kamu?"
Aku mengangguk yakin. "Kamu tetap hebat kok di mata aku! Papanya Adam is the best!" aku mengacungkan dua jempolku untuk memberi semangat pada Leo.
Leo tersenyum mendengar perkataanku. Ia lalu mencubit pelan hidungku dan mengacak rambutku.
"Kita balik yuk. Jangan kelamaan disini nanti ada yang curiga."
Aku mengangguk setuju. Hanya mengobrol seperti ini saja aku sangat senang. Tak ada kontak fisik seperti saat kami pacaran dulu.
Ah kenapa aku dulu berpacaran seperti itu ya? Kenapa aku enggak berusaha mengenal Leo lebih dalam lagi? Mungkin aku akan semakin mencintai kepribadian Leo yang baru aku ketahui saat ini.
Aku dan Leo berjalan keluar dari tangga darurat. Ternyata ada sepasang mata yang menatap kami tidak suka. Ya, mata itu adalah milik Ana.
"Habis ngapain kalian di tangga darurat?" tanya Ana sambil melipat kedua tangannya di dada dan menatap kami dengan tatapan menyelidik.
Aku dan Leo yang tak bisa menyembunyikan keterkejutan kami. Seperti tertangkap basah sedang berbuat mesum saja.
Aku tak mampu berkata-kata dan tak bisa menguasai diriku. Namun Leo sepertinya yang mengambil alih situasi.
"Habis curhat. Nih sambil curhat sambil minum biar pikiran lebih seger." Leo menunjukkan botol minuman kaleng yang Ia bawa.
Aku juga menunjukkan botol kosong milikku. "Enggak enak curhat di ruangan takut ada yang denger." kataku menambahkan.
"Kenapa berdua aja?" tanya Ana lagi masih tak percaya.
"Namanya juga curhat, Na. Harus tenang agar bisa meluapkan isi hati. Kalau rame-rame bukan curhat namanya tapi demo!" jawaban Leo masih saja kurang puas di mata Ana.
"Siapa yang curhat? Maya atau Leo?" tanya Ana.
"Maya!" jawab Leo.
"Leo!" jawabku.
Jawaban kami tidak kompak. Yah ketahuan deh kalau kami berbohong. Aku hampir saja panik namun lagi-lagi Leo menjawab dengan tenang.
"Maya curhat sama aku tentang pacarnya. Dia baru aja putus sama pacarnya. Makanya mukanya kusut dari kemarin," jawab Leo. "Ya aku juga curhat sama Maya tentang keluargaku. Saling curhat kita."
Ana tak bisa lagi bertanya karena semua pertanyaannya sudah Leo jawab dengan baik. "Kirain kalian lagi berbuat mesum di tangga darurat!" tuduh Ana.
Leo tertawa mendengar perkataan Ana. "Kalau mau mesum mah di hotel Na. Jangan di tangga darurat, sakit. Kayak enggak ada tempat lain aja."
"Iih Leo mah!" Ana memukul lengan Leo dengan manja.
__ADS_1
Apaan sih Ana? Menjijikan tau! Itu mantan suami aku tau! Ngapain kecentilan gitu sih?
"Udah ya Na, aku sama Maya mau mesum dulu di ruangan. Mesum tuh maksudnya MEmecahkan SUatu Masalah alias balik kerja lagi he..he..he..."
Leo pun berjalan dengan cueknya meninggalkan Ana yang kini menatapku dengan tatapan juteknya.
Saat aku hendak melewatinya Ana menarik lenganku dan menghentikan langkahku. "Ada apa lagi Na? Bukannya Leo udah jelasin semuanya sama kamu?"
"Kamu suka sama Leo?" tanya Ana kemudian.
"Memangnya ada yang enggak suka sama Leo? Leo baik dan mau menolong siapa saja. Kamu pasti juga suka sama Leo kan?" jawabanku setengah menantang.
"Iya aku suka sama Leo. Aku harap kamu mau ngejauhin Leo karena aku mau PDKT sama Dia." Ana mulai mengancamku agar menjauhi Leo. Siapa dia berani mengancamku?
"Lah apa hubungannya sama aku? PDKT mah PDKT aja, Na. Kalau aku jauhan sama Leo kayaknya enggak mungkin deh. Tempat duduk kami bersebelahan, kalau jauhan aku duduk di tempat Pak Johan gitu? Ih enggak sopan tau, Na!" jawaban yang malah membuat Ana makin gusar saja.
"Masa sih kamu enggak ngerti sama maksud aku May? Aku suka sama Leo. Aku udah suka sama Leo sejak awal masuk kantor. Leo tuh typikal cowok idaman aku banget. Sabar, ganteng dan pastinya bapakable dan suamiable banget."
"Iya sih Leo memang suamiable banget." kataku mengakui.
"Nah aku minta tolong ya sama kamu May. Kalau kamu enggak mau menjodohkan aku sama Leo setidaknya beri celah agar aku bisa deketin Leo sendiri. Aku yakin Leo juga punya perasaan sama aku." kata Ana penuh percaya diri.
Hah? Leo suka sama kamu Na? Mimpi! Eh tapi bukan enggak mungkin kan? Anak masih single loh! Duda keren kayak Leo pasti seleranya juga tinggi. Dibanding janda bekas dia pasti Leo lebih milih gadis seperti Ana pastinya. Huft....
"Kamu usaha aja terus Na. Aku balik ke ruangan dulu. Enggak enak kalau Pak Johan udah balik duluan dan aku masih ngobrol di luar."
Aku meninggalkan Ana dengan hati dongkol. Huh Leo tuh kayak don juan aja, Ana sampai tergila-gila seperti itu.
Aku duduk sambil menghembuskan nafas kesal. Untunglah masih belum ada yang balik ke ruangan selain aku dan Leo.
"Kenapa? Kesel banget kayaknya!" tanya Leo yang sedang sibuk dengan pekerjaannya sebagai Mr. So bukan sebagai audit.
"Ana tuh nyuruh aku jauhin kamu. Katanya mau PDKT sama kamu. PDKT mah PDKT aja, enggak usah nyuruh-nyuruh aku buat jauhin kamu dong!" keluhku meluapkan kekesalanku.
"Padahal kamu kan enggak mau jauh-jauh ya dari aku?" tanya Leo.
"Iya." jawabku tanpa dipikir lagi. Aku baru menyadari kesalahanku ketika Leo tertawa terbahak-bahak.
Tuh kan... Maya Oon! Kumat melulu sih oon-nya!
"Tau ah. Kamu juga sama nyebelinnya kayak Ana. Cocok tau kalian berdua! Serasi!
"Yang bener? Serasi ya? Boleh lah!" pancing Leo lagi.
"Bodo amat! Pacaran aja sana sama Ana!" aku memanyunkan bibirku dan berbalik badan tak mau melihat Leo yang terus saja tertawa, menertawai kebodohanku.
Suara tawa Leo menghilang. Sadar kali kalau aku ngambek.
Lalu tiba-tiba bahuku ada yang mencolek. Tanpa pikir panjang aku pun berbalik badan lalu...
Cup....
Leo mencium cepat pipiku. Leo langsung balik lagi ke kursi kerjanya dan meninggalkanku yang memegan pipi dengan wajah memerah.
Iiihhh apaan sih???
Aku harus secepatnya menguasai diri karena Kak Anggi dan Kak Fahri sudah datang. Huft.... Leo benar-benar suka nyerempet bahaya nih!
"May, laporan yang aku suruh sudah kamu periksa belum?" tanya Kak Anggi membuatku harus berkonsentrasi penuh pada pekerjaan.
"Udah, Kak. Udah aku kirim ke email Kakak sebelum istirahat tadi." jawabku sambil melirik ke arah Leo yang sedang senyum-senyum sambil bekerja.
"Bagus! Aku kirim lagi ya kerjaan baru buat kamu." ujar Kak Anggi.
"Iya, Kak."
"Gi, orang dari Samchi udah datang tuh. Tadi pas aku lewat udah mulai nempatin ruangan yang dekat bagian umum." kata Kak Fahri memberitahu.
"Udah pada dateng Kak? Berapa orang?" Leo yang sejak tadi sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba menyahut.
Kenapa Leo seantusias ini ya? Biasanya Leo tuh cuek bebek dan asyik dengan double jobnya. Memang siapa sih orang dari Samchi?
Aku menatap Leo dengan pandangan penuh curiga. Leo mengacuhkan pandanganku dan fokus pada jawaban Kak Fahri.
__ADS_1
"Ada beberapa orang saja sih yang udah datang. Enggak tau juga berapa banyak yang bakalan ditempatin disini." jawab Kak Fahri.
"Hari ini kita enggak ada survey ke lapangan ya. Jadi aku bakalan kasih kalian data buat dicek lebih banyak lagi. Buat persiapan survey lapangan besok soalnya." kata Kak Anggi.
"Siap, Kak."
"Nah gitu dong! Kan besok gajian. Harus semangat kerjanya. Gaji pertama lagi!" ledek Kak Anggi.
"Iya. Enggak sabar mau ngerasain gaji pertama." kataku dengan wajah berbinar-binar.
"Ditabung May. Inget! Jangan boros!" ujar Kak Fahri mengingatkan.
"Iya, Kak."
*****
Jam di dinding ruangan sudah menunjukkan pukul 5 lewat 15 menit. Tak ada yang beranjak dari ruangan. Kebiasaan deh, pasti mau lembur lagi.
Aku mengambil gelas dan hendak minum namun ternyata gelas milikku sudah kosong. Kulirik Leo yang sejak tadi tak ada di ruangan. Kemana perginya ya?
Aku pun keluar ruangan membawa gelas dan hendak mengambil minum di pantry. Namun pemandangan di depan mataku membuat aku tercengang.
Leo sedang mengobrol dengan seorang cewek yang tidak kuketahui siapa. Aku baru melihatnya hari ini.
Kenapa Leo bisa begitu akrab dengan cewek tersebut. Reflek jiwa perempuanku keluar. Tak mau merasa disaingi.
Sambil mengambil air aku perhatikan cewek berambut panjang tersebut. Kulitnya eksotis namun enak dilihat. Kecantikan perempuan Indonesia.
Melihatnya membuatku teringat pada Tara Basro. Saat Ia tersenyum, wajahnya terlihat amat manis dengan lesung pipi yang menambah menarik wajahnya.
Leo bahkan tertawa bareng dan mengindahkan kehadiranku disana. Huh! Dasar laki-laki semuanya sama!
Baru saja membuatku terbuai dengan tiba-tiba mencium pipiku eh sekarang lagi ketawa-ketiwi dengan cewek lain di depanku. Nyebelin banget!
Kenapa sih Leo selalu saja dikelilingi oleh cewek-cewek yang mengidolakannya?
Leo masih menyamar loh! Kalau semua tau Leo sebenarnya adalah Mr. So yang terkenal itu wah pasti makin banyak saja yang akan memuja-muja Leo.
Huh! Makin kesal rasanya!
Siapa sih yang rela mantan suaminya dilirik wanita lain? Dan Leo kenapa sih kecentilan senyum-senyum dan tebar pesona ke cewek lain? Pake nyuekkin aku lagi!
Aku menghabiskan air di dalam gelasku lalu mengambil air segelas lagi. Sengaja aku berlama-lama di pantry agar Leo sadar akan keberadaanku dan setidaknya mengenalkanku pada cewek yang sedang mengobrol dengannya tersebut.
Tapi Leo tetap saja tidak menggubris keberadaanku. Aku bahkan sudah minum dua gelas saking mengulur waktunya.
Dengan kesal aku kembali lagi ke ruangan. Ternyata di dalam semua sudah bersiap-siap hendak pulang. Lalu aku pulang dengan siapa dong?
Terpaksa deh naik kopaja. Padahal tadi pagi udah enak banget tinggal bobo manis diatas motor tau-tau udah sampai eh pulangnya harus naik kopaja yang padet-padetan dan banyak aroma tak sedapnya.
"May, kita duluan ya!" pamit Ka Anggi.
"Iya, Kak."
"Saya duluan. Jangan lupa suruh Leo kunci ruangannya ya." pesan Pak Johan.
"Iya, Pak." jawabku.
"Babay Maya!" pamit Ka Fahri.
"Bye Ka."
Aku menghela nafas kesal. Leo belum kembali juga. Nyebelin! nyebelin! nyebelin!
Dengan kesal kurapihkan meja dan bersiap pulang. Baru saja mematikan komputer dan hendak pulang eh Leo sudah kembali.
"Loh udah pada pulang ya semuanya?" tanya Leo yang langsung merapihkan meja kerjanya dan mematikan komputernya.
"Tau! Liat aja sendiri!" aku mengambil tasku dam berjalan keluar tanpa pamit pada Leo. Ngapain pamit sama orang nyebelin kayak Leo!
****
🥰🥰🥰 Done ya 2 bab hari ini. Besok kalau sempat aku nulis lagi. Kalau enggak sempat mohon maaf ya soalnya family time. 🥰🥰🥰
__ADS_1