Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Kuliah


__ADS_3

"Pokoknya kamu nanti nggak boleh macam-macam lagi." pesan Mama.


"Iya, Ma." jawabku.


"Kamu juga nggak boleh pacaran dulu sebelum lulus!" pesan Papa.


"Iya, Pa." jawabku.


"Kamu juga jangan terlalu dekat sama Angga. Nanti malah jadi pacaran lagi." pesan kak Anton.


"Iya, Kak." jawabku.


"Jangan iya-iya aja. Dilakuin!" omel Kak Rian.


"Iya Kak. Maya juga tahu. Maya juga udah kapok. Masa sih Maya mau jatuh ke lubang yang sama lagi?" kataku membalikan ucapan Kak Rian.


"Ya sekarang kamu ngomong kayak gitu. Coba nanti kalau kamu ketemu lagi sama Leo, bisa-bisa kamu jatuh cinta lagi sama dia." kata Kak Rian membalikan lagi ucapanku.


"Ih Kak Rian mah doainnya kayak gitu sih. Enggak kayak gitu lah Kak. Lagian juga Maya tuh udah mati rasa sama Leo. Enggak bakalan Maya mau suka lagi sama orang kaya Leo." kataku dengan sungguh-sungguh.


"Bagus itu. Kamu pegang ya kata-kata kamu. Bapak enggak mau dengar lagi kamu sampai suka lagi sama laki-laki tidak bertanggung jawab seperti Leo!" kata Bapak mengancamku.


Nah kalau Bapak aku enggak berani melawan deh. Nyerah. Kalau Kak Rian masih bisa deh aku ngeyel-ngeyel dikit. Tapi kalau Bapak mah.... syeremmmm.


"Iya, Pak." kataku manut.


"Yaudah Bapak, Ibu dan kedua kakak kamu mau pulang dulu. Kamu jaga diri baik-baik. Ini bukan di kampung kita. Ini di tempat orang. Kamu harus bisa menjaga diri kamu, menyesuaikan diri, dan jangan berbuat yang aneh-aneh lagi." pesan Bapak sebelum pulang.


"Iya, Pak." aku mencium tangan Bapak. Mencium tangan Ibu dan juga memeluknya sebelum berpisah. Lalu mencium tangan kedua kakakku tersayang.


Keluargaku pun lalu pulang meninggalkan aku seorang diri di Bandung. Aku melanjutkan kuliah di salah satu universitas swasta di Bandung. Lumayan terkenal juga sih universitasnya.


Aku hanya melanjutkan cuti semesterku. Ya nggak begitu ketinggalan banget sih. Cuma harus tertinggal satu semester aja.


Tidak masalah bagiku, toh selama aku menikah aku sering belajar di kontrakan. Aku yakin aku bisa menyelesaikan kuliah aku secepatnya dan aku bisa langsung bekerja di perusahaan yang aku impikan.


"May, makan bakso yuk." sebuah pesan terkirim ke handphone-ku. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan Angga.


Aku mengiyakan ajakan Angga. Sesuai janjinya, Angga menemaniku di Bandung. Ia membuka cabang baru perusahaannya dan Ia sendiri yang terjun langsung mengurusinya disini.


Angga tinggal di sebuah rumah yang Ia kontrak. Rumahnya lumayan bagus sih dan letaknya juga kebetulan enggak jauh dari kosanku. Hanya sekitar tiga rumah aja. Enggak jauh kan?


Aku menunggu di depan kos-kosan. Sebentar lagi juga Angga dateng. Dan benar dong dugaan aku, Ia datang dengan hanya memakai kaos dan celana pendek saja. Benar-benar penampilan yang sangat santai. Padahal Dia mau ketemu cewek cakep kayak aku.


" Ayo." ajak Angga.


"Ayo-ayo aja. Mana aku tahu jalannya? Kamu-lah yang jalan duluan." sahutku.


"Yaelah May. Tuh tinggal lurus doang. Yang gede tuh tukang baksonya." Angga menunjuk ke arah sebuah ruko dan berjajar banyak tukang makanan di sana.


"Yang mana? Perasaan semua ruko sama gedenya enggak ada yang paling gede. Yang mana tukang baksonya?" tanyaku lagi setelah aku tak menemukan apa yang ditunjuk oleh Angga.


"Yang bilang rukonya paling gede siapa May? Kan aku bilang yang paling gede tukang baksonya. Abangnya gendut maksudnya May. Kamu mah nggak nyimak. Udah ayo!" Angga lalu berjalan mendahuluiku.


Baru beberapa langkah, aku pun berhenti. Angga sadar kalau Ia tidak lagi diikuti olehku. Ia berbalik badan dan menanyakan kenapa aku berhenti.


"Kenapa lagi?" tanya Angga.


"Ditraktir kan?" kataku sambil tersenyum cengengesan.


"Ya ampun May..... Masih aja ya. Iye aku traktir. Sama abang-abangnya juga kalau kamu mau aku beliin."


"Ih emosyong. Biasa aja kali." ledekku.


"Kagak emosi kali. Baru bakso doang mah kecil. Kamu mau minta beliin apaan? Ntar aku beliin."


"Wuidih... Pamer bener. Udah beliin bakso aja cukup." jawabku.


"Bener bakso doang cukup?" tanya Angga tidak yakin


"Di tukang bakso mah cukup bakso sama minum aja. Nah keluar dari tukang bakso kalau kamu mau beliin cemilan pizza sih aku enggak nolak. Sumpah." aku mengeluarkan senyum sejuta watt milikku yang paling sakti mandraguna.


"Bener kan dugaanku. Udah ayo. Aku bawa atm dan uang cash nih. Menyambut kedatangan kamu di Bandung, kamu bakalan aku traktir apa aja deh."


"Asyiiikk! Enggak sia-sia deh punya temen tajir! Capcus cin!"


*****


"May!" panggil Angga saat kami bertemu tanpa sengaja di depan kampus.


Kostanku memang tidak jauh dari kampus. Hanya cukup berjalan kaki 5 menit saja sudah sampai. Kantor Angga juga tidak jauh. Ia cukup mengendarai sepeda mahal kesayangannya saja. Benar-benar anti polusi. Jalan kaki dan naik sepeda.


"Tumben udah pulang?" tanyaku.


"Laper, May."


"Asyik!" aku bersorak girang.


"Kenapa kamu yang bilang asyik? Kan aku yang kelaperan!" protes Angga.


"Ya kan kamu laper berarti kamu mau makan kan? Ayo aku temenin. Kamu mau makan apa? Steak? Chinese food? Nasi kebuli? All you can eat?"

__ADS_1


Angga menggelengkan kepalanya. "Kagak mau. Aku bosen makan diluar terus. Kangen masakan rumah. Kangen masakan buatan Mama."


"Yaaaahhh... Berarti kamu mau pulang dong?" kataku kecewa.


"Enggak bisa pulang. Besok ada meeting pagi. Kalau pulang aku bisa kecapean."


"Terus gimana?"


"Kamu yang masakkin lah."


"Aku? Masak dimana? Di kostan ku enggak boleh masuk kamu." larangku.


"Ya di rumah aku lah."


Alarm bahaya seketika menyala dalam diriku. Laki-laki yang tinggal seorang diri tiba-tiba memintaku untuk memasak di rumahnya. Wah aku bisa terjerumus ke jurang nestapa lagi nih.


"Enggak ah. Aku enggak mau. Bahaya dua orang berduaan di rumah kamu." tolakku.


"Yang bilang berduaan siapa? Di rumah kontrakkanku ada teman yang lagi nginep. Udah ayo masakkin. Kita belanja dulu di tukang sayur."


Kalau ada teman Angga aku mau deh. Enggak mungkin Angga berani macam-macam. Aman.


"Memangnya mau dimasakkin apa sih?" tanyaku lagi. Aku berjalan kaki dan Angga menuntun sepedanya dan berjalan disampingku.


"Masak tempe orek, tumis kangkung dan sambel. Bisa enggak? Kalau bisa aku kasih hadiah deh."


"Hadiah apaan? Masak gampang kayak gitu aja kenapa enggak beli di warteg aja sih? Kan banyak tuh menu kayak gitu." tanyaku.


"Dibilangin enggak mau. Maksa banget sih?" kata Angga sambil menjewer telingaku.


"Awww... aww.. Sakit tau! Enggak aku masakkin nih!" aku mengancam balik.


Angga langsung melepaskan tangannya. "Nih anak piyik bisaannya ngancem orang yang lebih tua aja ya."


Angga berusia 3 tahun lebih tua dariku. Kadang Ia suka becanda dan mengancam bawa-bawa umur segala.


"Yeh lebih tua juga statusnya masih single. Aku dong statusnya udah janda." pamerku.


"Dih! Janda aja bangga!" sindir Angga.


"Iyalah. Kan janda semakin di depan ha...ha..ha..."


"Itu iklan Yamaha bukan iklan janda tau!"


"Suka-suka jandanya lah mau pake iklan apa. Yang penting janda semakin di depan. Perjaka belakangan aja... ha...ha...ha..." aku puas menertawakan Angga.


Angga juga ikut tertawa. Memang hubungan kami sudah sedekat itu. Sesama teman perantauan yang saling berbagi makanan.


Angga menyewa satu rumah. Ada dua kamar tidur dan di halaman rumahnya terparkir mobil mewah miliknya yang jarang Ia gunakan.


Aku dan Angga lalu menyiangi sayuran dan membersihkannya. Angga kebagian memotong sayuran sementara aku mengupasi bawang yang dulu menjadi profesiku kala susah.


"Ga, ajarin naik mobil dong." pintaku. Aku teringat mobil Angga yang terparkir di depan tidak terpakai.


"Ya tinggal buka pintu terus naik aja masa mesti diajarin sih May?"


"Serius nih. Ajarin bawa mobil maksudnya." koreksiku.


"Enggak bisa. Enggak kuat. Berat soalnya." jawab Angga santai.


"Lama-lama aku tendang nih mobil mewah kamu!" ancamku.


"Tendang aja. Kalau lecet masih asuransi kok." jawab Angga lagi masih dengan santainya.


"Capek bener ya Ga ngomong sama kamu. Nyebelin!"


Angga terdiam. Ia seperti sedang berpikir keras. Tapi aku yakin Ia tidak benar-benar berpikir serius.


"Baiklah. Aku ajarin." kata Angga kemudian.


"Tapi..." kataku.


"Tau aja kamu kalau ada tapinya he..he..he..."


"Tau-lah. Muka kamu kalau mau jahil tuh ketauan tau!"


Angga tersenyum lagi. "Syaratnya mudah kok."


"Iya apaan syaratnya?" tanyaku.


"Syaratnya mudah, tiap kali aku ajarin naik mobil kamu masakkin buat aku."


Aku memikirkan sejenak syarat dari Angga. "Oke." jawabku yakin.


"Beneran?" tanya Angga masih tidak percaya.


"Bener. Tapi uang belanjanya dari kamu ya."


"Yaelah masalah uang mah kecil. Nanti aku kasih. Bukan masalah itu mah." kata Angga mengiyakan syarat dariku.


"Oke deal."

__ADS_1


"Deal."


Kami pun saling berjabat tangan.


"Karena udah deal dan kamu enggak nyebutin aku masak dimana jadi aku akan memasak dari kostanku ya." kataku dengan senyum jahil.


"Yah iya aku lupa." Angga menepuk jidatnya.


"Bodo amat. Pokoknya udah deal. Besok kita mulai belajarnya. Oke?"


"Enggak bisa besok, May. Kan tadi aku bilang besok aku ada meeting." tolak Angga.


"Yaudah besoknya lagi."


"Oke, siap."


Aku dan Angga memasak menu yang Angga minta bersama. Kami juga makan bareng masakkan yang kami masak.


Aku jadi teringat Duo Julid. Bagaimana ya kabar mereka? Siapa yang mereka julidin lagi selain aku?


****


Sesuai kesepakatan, Angga mengajariku belajar mobil dan aku memasakkan sesuatu sebagai bayarannya. Hari pertama belajar, bumper belakang mobil Angga menabrak pot bunga.


Hari kedua, body samping mobilnya tergores lumayan panjang. Hari ketiga body depan mobilnya penyok karena aku menabrak pagar.


Angga hanya geleng-geleng kepala saja melihat hasil belajarku. "Pantesan dipanggil Si Oon sama Duo Julid. Ternyata begini toh." kata Angga sambil mengelus dada.


"Dikit doang kok Ga lecetnya. Uang kamu kan banyak. Cincay lah." ledekku.


Angga mengelus dadanya lagi. "Kamu yang belajar kenapa aku yang modal ya? Masak aku yang biayain. Servis mobil juga aku yang bayar. Ini mah rugi bandar namanya." keluh Angga.


Aku senyum-senyum saja tanpa dosa. Angga ternyata sabar loh menghadapiku. Bahkan aku baru lancar belajar bawa mobil setelah sebulan belajar loh. Bayangin aja berapa banyak lecet dan penyok yang udah aku perbuat pada mobilnya.


"May, besok pulang yuk." ajak Angga.


"Yaudah kalau kamu mau pulang. Kita kan beda arah. Kamu pulang aja. Aku males. Aku di kostan aja." tolakku.


"Kamu enggak pengen pulang?"


"Males."


"Kenapa?" tanya Angga heran.


Sejak masuk kuliah, hampir 6 bulan aku tidak pernah pulang ke rumah. Hanya Ibu dan Bapak yang suka mengunjungiku sesekali.


"Aku malas melihat tatapan karyawan Bapak. Mereka tuh kayak lagi menggunjingkan aku. Aku sih cuek aja tapi aku kasihan sama Bapak dan Ibu."


"Kalau kamu kasihan justru kamu pulang dong May. Kan mereka juga kangen sama kamu." bujuk Angga.


Aku menggelengkan kepalaku. "Aku malah rencananya pulang kalau udah lulus kuliah. Aku udah terlalu banyak mempermalukan Bapak dan Ibu. Aku mau beri hadiah nilai kuliahku yang bagus untuk mereka berdua."


"Anak baik. Lanjutkan. Niat kamu udah baik kok. Tapi lebih baik lagi kalau kamu juga pulang ke rumah sesekali." nasehat Angga tanpa harus memaksaku. Ia benar-benar dewasa.


"Siap, Bos!"


****


"May, main yuk!" ajak Angga.


"Enggak bisa. Aku lagi bikin skripsi." tolakku.


"Ya kan nanti lagi bisa." katanya beralasan.


"Enggak mau. Harua cepet selesai." tolakku.


"Enggak seru ah!"


"Biarin."


Aku meninggalkan Angga dan masuk lagi ke dalam kamar kostanku. Ini semeter terakhirku. Aku sudah melewati beberapa semester di Bandung dengan lancar. Jangan sampai skripsiku berantakan karena kebanyakan bermain.


Tinggal sebentar lagi aku pasti lulus. Aku sudah berencana akan tinggal lagi di Jakarta. Aku akan mencari pekerjaan disana.


Aku memang sudah merencanakan semuanya. Aku akan kembali ke Jakarta. Ada yang harus aku temui.


Siapa? Tentu saja pusara anakku Adam. Aku berjanji pada Adam kalau aku akan kembali lagi saat aku bisa menata hidupku lagi. Saat aku sudah tidak hancur lagi.


Sekarang aku sedang menyelesaikan skripsi, sebentar lagi sidang dan aku akan kembali tinggal di Jakarta. Aku bisa dekat lagi dengan Adam.


Saat aku disuruh melanjutkan kuliah oleh Bapak aku membuat perjanjian. Aku akan melepaskan perkebunan Bapak dan aku mau mencari pekerjaan di Jakarta.


Bapak awalnya menolak ide gilaku. Namun aku mengancam jika tidak diijinkan maka aku tidak akan melanjutkan kuliah lagi. Aku akan menghabiskan hari-hariku hanya dengan termenung dan bersedih saja.


Dengan terpaksa Bapak mengijinkanku. Ia hanya memintaku fokus belajar dan mengejar cita-citaku. Aku sudah semakin dekat dengan tujuanku.


Skripsi selesai lanjut sidang. Sidang juga berlangsung lancar selanjutnya wisuda dan selesai sudah aku menuntut ilmu.


Sekarang aku sudah punya ilmu dan ijazah yang bisa kupakai untuk melamar pekerjaan di tempat yang kuimpikan.


Seperti Dora dan Boots, kemanapun aku Si Dora pergi maka Angga Si Boots akan setia menemani. Ia juga kembali ke Jakarta.

__ADS_1


Jakarta, I'm coming!


__ADS_2