Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Jatah Preman


__ADS_3

"Kok es krimnya cuma dua aja sih?" tanyaku setelah melihat isi dalam bungkusan plastik yang dibawa oleh Angga.


"Emangnya mau berapa banyak?" tanya Angga.


"Ya... Enggak usah banyak-banyak sih. Yang penting mahal dan banyak." jawab ku seenaknya.


Kembali ku lihat Angga menyunggingkan senyum. Nih orang kenapa ya? Sejak ketemu sama aku senang banget. Ketawa terus. Padahal dari tadi humor aku receh loh.


"Aku udah duga. Makanya aku udah bilang sama mbak-mbak di minimarket depan, nanti ada cewek rambutnya panjang, pakai celana jogger dan kaos warna putih yang akan mengambil es krim yang udah aku bayar. Jadi, kamu tinggal ambil nanti ya sebelum kamu pulang." kata Angga sambil tersenyum.


"Beneran?"


Angga mengangguk sambil tersenyum.


"Kamu beneran beliin es krim lagi buat aku?" tanyaku masih tidak percaya.


"Ya beneran lah. Masa aku bohong sih. Kan tadi kamu yang bilang. Yang penting mahal dan banyak. Jadi tadi udah aku bayarin tuh es krim satu box ukuran hampir sekilo kalau nggak salah ya. Jangan lupa nanti pas pulang kamu ambil ya. Kamu makan deh sepuasnya."


"Ih Dia mah..."


"Kenapa? Enggak suka?" tanya Angga lagi.


"Siapa bilang? Maksudnya Dia mah baik banget. Besok lagi ya." jawabku sambil tersenyum mengejek.


"Bisa aja deh. Iya nanti aku beliin. Kamu masih kuliah?" Angga mulai menggali informasi tentang aku.


Aku sudah duga sogokan es krimnya berarti barter atau tuker informasi. Gak apa-apalah nanti juga Dia akan mundur kalau aku bilang aku lagi hamil dan udah punya suami.


"Seharusnya sih masih. Tapi aku udah nggak kuliah lagi." jawabku dengan jujur.


"Kenapa?"


"Enggak punya uang."


"Memangnya sudah semester berapa?"


"Sudah semester 6." jawabku lagi dengan jujur.


"Wah sayang banget ya. Kamu tuh kurang 2 semester lagi dan bisa punya ijazah S1." kata Angga berempati padaku.


Aku memakan es krim yang Angga belikan. Es krim Magnum kesukaanku yang dulu bisa aku beli hampir setiap hari. Sekarang mau beli satu aja aku harus mikir. Lebih baik buat beli beras bisa dapat 1 liter dan tempe juga.


"Ya mau gimana lagi orang gak punya uang, mau bayar pakai apa? Pakai bulu ketek?"


Angga yang sedang makan es krim langsung tersedak mendengar perkataanku. Ia pun terbatuk dan menepuk-nepuk dadanya.


Aku memberikan air mineral yang tadi Angga beli di minimarket.


"Nih minum. Biasa aja kali. Belum pernah dengar apa orang bayar pakai bulu ketek?" celetukku.


Bukannya makin reda, Angga makin tersedak. Wajahnya pun memerah. Aku mulai khawatir melihat keadaannya seperti itu. Aku pun membantu menepuk-nepuk punggungnya dan menenangkannya.


"Tarik nafas..... keluarkan. tenang dulu." kataku sambil masih menepuk-nepuk punggung Angga.


Angga sudah mulai bisa menguasai dirinya dan sudah tidak terbatuk-batuk lagi. Perlahan wajahnya pun sudah tidak memerah seperti tadi.


"Kamu tuh ya. Bener-bener beda." kata pertama yang keluar dari mulut Angga setelah sudah tidak tersedak lagi.


"Beda? Memangnya aku TV One? Memang beda."


Angga sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Ia pun tertawa terbahak-bahak.


"Biasa aja kali. Senang banget sih." celetukku.


"Sumpah ya, baru kali ini tuh aku ketemu sama cewek ajaib kayak kamu. Bukan cuma cantik, tapi juga lucu dan gak jaim. Kamu udah punya pacar belum sih? Aku jadiin pacar nih langsung." kata Angga penuh semangat.


"Yeh... Dikata lagi beli handphone kali .Kalau suka langsung bungkus. Enggak bisa begitu Malih."

__ADS_1


"Ya udah maaf. Aku temuin orang tua kamu dulu deh. Aku minta baik-baik sama mereka buat ngelamar anaknya." jawab Angga dengan serius.


"Enggak ada lamar lamaran. Baru beliin es krim aja udah ngelamar. Murah banget aku cuma seharga es krim doang." tolakku tanpa memikirkan perasaan Angga.


Ah bodo amat, paling Angga cuma bercanda doang. Aku tak menanggapi dengan serius kata-katanya.


"Ya udah, jadi maunya dibeliin apa nih? Emas? Berlian? Logam mulia? Rumah? Mobil atau sepeda aku nih buat DP dulu?" nego Angga.


"Yaelah, cuma sepeda yang dilipat-lipat aja jadi DP. Rumah-rumahan yang aku lipat-lipat nggak Aku jadiin DP. Paling ini sepeda murah." ketusku.


"Kata siapa ini sepeda murah? Ini sepeda Brompton tahu. Kalau dijual tuh bisa 40 juta lebih malah karena udah aku modif sendiri."


"Bodo amat. Mau murah kek mau mahal kek emang aku pikirin. Lagian apaan sih DP DP aja. Kayak mau beli rumah aja ya." kataku dengan sewot.


"Habisnya kamu nggak percaya sih sama aku. Aku tuh serius tahu mau jadiin kamu istri aku."


"Emangnya kamu tahu sifat aku kayak gimana? Kamu kan nggak tahu siapa aku? Siapa tahu aku itu istri orang atau Aku sedang hamil? Atau mungkin aku seorang psikopat atau mungkin sebenarnya aku itu anak seorang mafia? Karena kamu belum kenal makanya kenal dulu." ceramah panjang lebar.


"Enggak usah. Aku udah yakin kalau kamu itu memang jodohku dan kamu pasti wanita baik-baik." jawab Angga dengan yakin.


"Jodoh? Sadar Mas, aku ini istri orang. Ini aku lagi bunting nih." kataku sambil menunjukkan perutku yang sebenarnya masih rata sih belum kelihatan sedang mengandung.


"Kalau mau nolak nggak usah bohong. Perut rata gitu dibilang lagi hamil. Lagian muka kamu tuh muka orang yang belum nikah. Muka mahasiswa yang jadi primadona kampus. Ngebohongnya kurang jauh Mbak." kata Angga ngeyel.


"Tahu ah dikasih tahu nggak percayaan. Aku emang dulu primadona kampus. Tapi sekarang udah nggak lagi. Aku tuh udah nikah dan sekarang lagi hamil. Terserah kamulah mau percaya apa enggak. Udah ya, udah sore aku mau pulang. Makasih es krimnya." aku bangun lalu mencari tempat sampah terdekat untuk membuang bungkus plastik.


Sebelum pulang aku mampir ke minimarket depan untuk ngambil es krim yang udah dibelikan untukku. Lumayan, gratis. Aku tidak pedulikan Angga yang terus menatapku dari kejauhan.


****


Aku berjalan dengan hati riang sambil bersenandung. Bagaimana tidak, aku membawa 1 kantong plastik berisi es krim yang akan sangat banyak banget kalau aku makan sendiri.


Sesuai janjiku maka aku panggil teman-temanku yang sudah baik hati sering mentraktirku jajan. Siapa lagi kalau bukan Bu Jojo dan Bu Sri.


"Bu Sri... Bu Jojo...." Aku melambaikan tanganku kepada Duo Julid yang sedang duduk di teras rumahnya Bu Jojo. Sudah bisa ditebak mereka pasti lagi ngegosip. Itu mah nggak usah ditanya.


Aku berjalan mendekati Duo Julid dan mengangkat tanganku yang sedang membawa kantong plastik.


"Maya bawa sesuatu nih. Ke rumah Maya yuk!" ajak aku kepada dua orang ibu ibu tersebut.


"Bawa apaan tuh?" tanya Bu Sri dengan semangat.


"Udah ikut aja. Maya punya rezeki nih. Mau gak?" pancing ku.


Benar saja, Emak-emak tuh nggak usah di pancing langsung deh buru-buru menghampiri. Bu Sri dan Bu Jojo cepat-cepat memakai sandal mereka dan berjalan mengikutiku menuju rumah kontrakanku yang mungil itu.


"Ih kamu main rahasia-rahasiaan deh May. Kamu bawa apa sih? Tulisannya Indomaret tuh. Emang kamu punya uang buat jajan?" selidik Bu Jojo penasaran. Ia tidak menunggu sampai kami tiba di rumahku untuk bertanya.


"Tenang dan sabar ibu-ibu. Nanti Maya ceritain semuanya di rumah."


Ibu-ibu itu pun menuruti perintahku. Mereka diam dan tidak banyak bertanya sampai tiba di rumah kontrakanku.


"Tunggu sebentar ya, Maya ambil piring dan sendok dulu sekalian sama minumnya. Kalian duduk aja dulu. Apa mau duduk didalam?" kataku menawarkan.


Lagi-lagi seperti sudah bisa ditebak dua ibu ibu yang penasaran dengan hidupku pun lebih memilih untuk masuk ke dalam rumah.


"Si dalam aja May. Udah sore. Nanti banyak nyamuk." kata Bu Sri beralasan.


Iya sih udah mau jam 5.30 udah lumayan sore, mau magrib malah.


"Yaudah ayo masuk. Maaf ya rumah Maya kecil dan barang-barangnya juga seadanya. Masuk yuk Bu anggap aja rumah sendiri." aku membukakan pintu dengan lebar agar kedua ibu itu ikutan masuk bersamaku.


"Maya ke dalam sebentar ya. Ibu nyalahin aja tv-nya kalau memang mau nonton TV." aku ke dapur dan membawa tiga buah piring dan sendok serta membawa air minum.


"Rumah kamu rapi juga ya May." komentar Bu Sri.


"Karena nggak ada kerjaan aja Bu jadi Maya bersihin semuanya." kataku sambil membawa piring dan air minum. Aku taruh piring dan air minum di atas karpet tempat ibu-ibu sedang duduk.

__ADS_1


"Kamu tadi bawa apaan sih May?" tanya Bu Jojo masih tidak sabaran.


Aku mengambil kantong plastik dan mengangkatnya sambil tersenyum. "Jeng jeng jeng ... Maya punya... es krim!"


"Wow...kamu beli es krim May? Tuh punya uang kamu. Katanya kamu nggak punya uang. Ini kan lumayan mahal May es krimnya." komentar Bu Sri tanpa henti.


"Kata siapa Maya beli? Ini tuh jatah preman namanya." kataku dengan bangga.


"Jatah preman gimana maksudnya? Kamu habis malak ya? Kamu habis ngerampok? Ya ampun sampai segitunya. Jangan gitu lah May, kamu bisa minta kok sama kita berdua, nanti kita patungan buat jajanin kamu. Pokoknya jangan ya May. Kamu masih muda. Jangan sampai ngabisin masa muda kamu dipenjara." ceramah Ibu Sri panjang lebar.


"Siapa yang ngerampok sih Bu? Itu Maya dikasih. Karena kebanyakan, banyak bagi-bagi deh sama ibu-ibu. Soalnya kalau Leo sampai tahu, wah bisa berantem Maya sama Leo."


"Kok bisa berantem? Jangan-jangan ini bukan es krim halal nih." curiga Ibu Jojo.


"Udah jangan mikir yang jelek dulu. Kita makan es krim dulu ya nanti Maya ceritain. Yang pasti es krim ini tuh halal. Orang Maya dibeliin kok. Eh sebelumnya Maya mancing-mancing deh mint dibeliin tapi ternyata beneran dibeliin. Ya jangan salahin Maya deh kalau Maya dapat es krim gratis." kataku dengan bangganya.


Aku menyendokkan masing-masing es krim ke dalam piring dan memberikannya kepada Ibu Sri dan Ibu Jojo.


Sambil menikmati es krim, Ibu Jojo mulai melakukan serangan pertanyaan kepadaku. Rupanya ia tipikal orang yang kalau belum dijawab masih aja nanya.


"Jadi es krimnya dari siapa?" tanya Bu Jojo memulai pertanyaan.


"Dari Angga." jawab ku berterus-terang.


"Angga? Anggara? Anaknya ibu Laksmi?" tanya Bu Sri bertubi-tubi.


Sambil tetap memakan es krim aku menggelengkan kepalaku. "Enggak tahu. Namanya cuma Anggara aja. Maya nggak tahu Dia anak siapa apalagi rumahnya di mana." jawab ku dengan polosnya.


"Kok kamu bisa kenal sih sama Anggara?" tanya Bu Sri lagi penasaran.


"Tadi Angga ngajak Maya kenalan. Awalnya sih Maya nggak mau. Tapi Angga terus-terusan ngajakin kenalan. Ya udah Maya minta aja jatah preman sama Angga jadi kalau mau kenalan Maya minta beliin es krim, cokelat dan Pizza. Eh ternyata dibeliin beneran. Dibawain buat bawa pulang juga lagi. Entah bae apa bodoh deh itu anak. Mau-mauan aja lagi disuruh sama Maya."


"Kamu Beneran nggak kenal siapa Angga?" tanya Bu Jojo.


Aku menggelengkan kepalaku. "Beneran gak kenal Bu. Ibu kan tahu, Maya jarang keluar rumah. Mana Maya kenal orang-orang sini? Ke taman aja baru dua kali sama tadi."


"Kok Angga mau kenal sama kamu sih?" selidik Bu Sri.


"Ya mungkin Angga terpesona sama kecantikan Maya. Biar bagaimanapun Maya kan pernah jadi primadona kampus. Lelaki mana yang tidak terpesona oleh kecantikan Maya" kataku penuh percaya diri.


"Kamu bilang nggak kalau kamu tuh lagi hamil dan udah nikah?" tanya Bu Jojo.


"Bilang kok."


"Terus? Angga masih mau kenal gitu sama kamu?" selidik Bu Sri lagi. Emang ya Ibu Sri tuh kepo-nya akut banget.


Aku mengangguk dengan yakin.


"Ah masa sih sih? Kayaknya nggak mungkin deh. Kamu ngarang ya May?" tanya Bu Sri masih nggak percaya.


"Ngapain sih Maya bohong Bu Nih buktinya. Mana ada uang sih Maya buat beli es krim mahal kayak begini. Kalau beli es krim kayak gini tuh Maya bisa dapat beras karung kecil. Mending buat makan selama seminggu deh daripada beli es krim beginian doang."


"Kayaknya Maya emang jujur deh Bu. Cuma kitanya aja masih nggak percaya kalau seorang Angga mau kenalan sama Maya sampai bela-belain beli es krim segala." kata Bu Jojo membelaku.


"Yaelah. Emangnya Angga itu siapa sih? Perasaan dia cowok gabut deh. Enggak jelas tiba-tiba ngajakin orang kenalan. Sok iye tau gak. Padahal mah masih gantengan suamiku tercinta Ayang Leo tersayang"


"Angga tuh salah satu orang terkaya di daerah sini. Lebih tepatnya orang tuanya sih yang kaya. Tapi Angga itu anak satu-satunya. Jadi tahulah ya Dia tuh pewaris tunggal kekayaan kedua orangtuanya. Jangan bandingin lah sama suamimu si Mas Leo yang ganteng itu. Suamimu emang ganteng kok tapi sayang mokondo." celetuk Bu Sri seenak udelnya sendiri.


"Hush! Bu Sri nih!" omel Bu Jojo.


"Mokondo tuh apa sih?" tanyaku bingung.


"Mokondo tuh artinya modal kon...ci doang ha...ha...ha..." Bu Sri dan Bu Jojo tertawa kompak, membiarkan aku yang tidak mengerti apa yang mereka maksud.


****


Jangan lupa pencet like dan votenya kakak 😁😁

__ADS_1


__ADS_2