
Jam dinding di kamar Leo menunjukkan pukul 11 malam dan Leo masih belum pulang. Kemanakah Leo sampai jam segini belum kelihatan batang hidungnya?
Aku jadi sebal dengan Pak Johan. Seenaknya saja kalau memberi perintah. Setidaknya biarkan saja Leo naik mobil kantor, ini malah nyuruh Leo naik motor ke Cikarang. Memangnya deket apa Cikarang ke rumah? Dari kantor saja jauh apalagi dari rumah?
Aku sudah beberapa kali bolak-balik di dalam kamarnya Leo. Tak tenang rasanya sebelum Leo pulang.
Saat Richard tadi pulang dengan mengendarai motor milik Leo ada sedikit perasaan lega menyelusup di dalam hatiku. Setidaknya Leo naik mobil jadi pulangnya bisa lewat jalan toll.
Aku sudah mengenakan piyama tidur yang kemarin Leo sempat belikan di toko baju branded. Piyama tanpa lengan yang diberikan luaran, jadi kalau dibuka luarannya lumayan seksi. Namun saat keluar kamar terlihat sopan.
Maklum saja, penghuni rumah ini kan cowok, selain Bibi dan aku tentunya. Mama Lena belum tinggal lagi disini. Masih belum menerima permintaan Papa Dibyo untuk rujuk kembali.
Mungkin masih ada luka di hati Mama Lena yang belum sembuh. Jadi teringat saat bertemu kembali dengan Leo setelah perceraian kami. Bagaimana aku begitu membenci Leo, begitupun sebaliknya.
Sekarang kami dipersatukan kembali dalam ikatan pernikahan. Cobaan mulai berdatangan. Contohnya ya Pak Johan ini. Membuat aku dan Leo jadi terpisah jarak.
Suara mobil yang memasuki pintu gerbang membuatku langsung menghambur ke bawah. Aku mengambil luaran piyama dan memakainya sambil berjalan turun menyambut kedatangan suamiku.
"Kamu baru pulang Sayang?" aku mendekati Leo dan mengulurkan tangan untuk salim. Mencium tangan yang lelah mencari nafkah untukku.
"Iya. Dikerjain aku sama Si Johan. Enggak kira-kira ngasih kerjaan. Tunggu saja tanggal mainnya!" Leo sedang meluruskan kakinya yang pegal di ruang makan.
"Aku buatin susu Milo buat kamu dulu ya." tanpa menunggu persetujuan Leo, aku pergi membuatkannya susu Milo.
"Kamu tadi sampai rumah jam berapa? Gimana kerjaan di Kemang?" masih sempat-sempatnya mengkhawatirkanku. Padahal sudah jelas Ia yang lebih capek.
"Jam 5 udah selesai. Aku langsung pulang aja minta dianterin sama supir kantor. Kamu mau makan dulu enggak?" aku meletakkan cangkir berisi susu Milo kesukaan Leo. Sengaja aku tambahkan air dingin agar tidak terlalu panas. Bisa langsung Leo minum sekarang juga.
"Kamu masak memangnya?"
Aku menggeleng. Mana sempat masak? Sudah lelah kayak gini, boro-boro sempat masak?
"Kamu mau aku masakkin?" kayaknya di lemari ada stok mie instan deh. Kalau Leo mau bisa kubuatkan.
"Enggak usah. Lelah banget sampai enggak nafsu makan. Kamu seharusnya langsung tidur saja kalau aku belum pulang." Leo menepuk pahanya memintaku untuk duduk di pangkuannya.
Aku menurut saja. Kulingkarkan tanganku di leher Leo, sesekali sambil memijitnya agar pegal-pegalnya hilang.
"Aku mau tunggu kamu pulang. Enggak bisa tidur kalau kamu belum pulang."
"Enggak ada aromaterapi dari bau acem aku ya? Bau acem aku kan menenangkan he... he... he..." Leo tertawa meledekku. Tangannya jahil mencubit ujung hidungku.
"Bukan bau acem, aku nyebutnya bau maskulin. Perpaduan antara aromaterapi dengan wangi tubuh kamu. Langsung pules deh aku kalau tidur ada bau maskulin kamu." Aku mengambilkan gelas Milo di meja. "Minum dulu. Mumpung masih hangat."
Leo mengikuti apa yang aku suruh. Meminum susu Milo kesukannya. "Enak. Tapi enakkan yang di dekat tahi lalat kamu itu."
"Ih apaan sih! Mesum tau!" gantian aku yang mencubit hidung Leo yang mancung itu. Kalau gemas rasanya mau aku gigit hidungnya.
"Ehem..."
Aku dan Leo menoleh ke suara dehem yang berasal dari tangga.
"Terusin aja mesra-mesrannya. Pangku-pangkuannya. Terus... Terus.... Anggep aja di rumah ini enggak ada jomblo kayak aku dan Papa." sindir Richard.
Aku seperti tertangkap basah sedang berbuat mesum di tempat umum. Reflek aku bangun dan hendak duduk di kursi lain, namun Leo keburu menahanku. Aku pasti kalah tenaga jika dibandingkan dengan Leo.
"Udah santai aja May. Aku cuma mau minum air putih saja. Haus. Tapi kayaknya pakai es batu enak juga buat meredam hawa panas dari tontonan pengantin baru yang mesra-mesraan, enggak kasihan sama jomblo kayak aku."
Richard memasang wajah pundung. Sementara Leo cekikikan sejak tadi. Menertawakan Kakaknya yang iri melihat kemesraan kami berdua.
"Sabar. Nanti juga Kakanda akan ketemu dengan jodohnya. Cuma tinggal tunggu waktunya saja." aku membesarkan hati Richard.
"Iya, May. Kurang sabar apa lagi aku? Cinta.... Deritanya tiada akhir...." Ia kini bersikap puitis bak Tipatkay.
__ADS_1
"Huahahahaha.... Ngenes banget ya jadi jomblo. Udah sana clubbing. Tapi jangan make obat lagi! Nyari pacar aja disana!" ledek Leo.
"Dih! Bisanya ngeledek aja! Enggak inget dulu abis cerai kamu patah hati kayak gimana? Enggak mau makan, enggak mau minum, enggak mau mandi, sampai akhirnya diguyur air sama Mama baru deh kamu mandi." sindir Richard.
"Memang gitu Sayang? Kamu diguyur pakai air atau sampai panggil blambir?"
"Yeh... Malah ikut meledek suaminya! Siapa yang dulu bikin aku patah hati kayak gitu? Masih untung aku enggak guling-gulingan di tanah. Aku tuh cuma lampiasin dengan hibernasi aja. Mama aja yang lebay pake nyiram pake air segala." Leo memanyunkan bibirnya. Kalah skor dia. Awalnya mau meledek Richard eh malah kena kick balik.
"Tetep aja pernah patah hati!" ledek Richard lagi.
"Ih! Udah sana ke diskotek lagi!" perintah Leo.
"Enggak ah." tolak Richard.
"Kenapa?" tanya Leo heran.
"Jangan mau Kakanda!" aku membela Richard dengan mencegahnya ke diskotek.
"Ih kamu juga ngapain larang dia segala?" tanya Leo padaku.
"Tuh istri kamu aja tau aku enggak perlu ke diskotek. Coba kasih tau May apa alasannya aku enggak perlu ke diskotek!"
Lah jadi Richard melempar jawabannya ke aku. Piye toh?
"Hmm... Kalau menurutku sih mencari pasangan itu adalah mencari ibu untuk anak kita. Bagaimana tipikal ibu yang kita harapkan akan mendidik anak kita kelak? Pasti yang baik, solehah, ngerti agama, kalau bisa pintar dan tentunya pergaulannya bagus,"
"Bukan aku menjudge setiap yang ada di diskotek itu enggak baik, tapi jika dibandingkan dengan yang ada di pengajian lebih baik yang mana? Pasti Kakanda akan memilih istri yang baik untuk menjadi ibu dari anak-anak Kakanda kelak kan?"
Richard mengangguk. Setuju saja dengan perkataanku. "Tentu dong."
"Itulah sebabnya kenapa Kakanda enggak mau nyari pacar di diskotel lagi bukan?"
"Yup. Betul sekali Adinda. Makanya Kakanda menunggu jodoh yang solehah untuk Kakanda."
"Dih! Kompak bener?! Yaudah sana cari dimana kek. Biar enggak jomblo akut lagi!" perintah Leo.
"Loh memangnya kenapa? Sudah halal, jadi enggak apa-apa dong!" sanggahku.
"Itu... Suami kamu kan belum mandi! Pasti bau asem! Suruh mandi dulu sana! Baru nanti pangku-pangkuannya di kamar. Inget ya, di kamar! Jangan bikin orang iri!" Richard meletakkan gelas minumnya di tempat cuci piring lalu pergi meninggalkanku.
Namun sebelum pergi Leo sempat nyeletuk. "Ngiri bilang Boss!"
Dan dijawab oleh Richard "Emang ngiri. So what gitu loh?!"
Aku tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan kakak beradik didepanku. Senang karena mereka bisa akur seperti sekarang. Betapa kebaikan akan berbuah kebaikan jika kita melakukannya dengan ikhlas.
*****
Suasana di kantor sudah mulai tidak enak. Dimulai dengan Ana yang memisahkan diri dari geng makan siang kami. Lalu sikap Pak Johan yang semakin menyudutkanku dan Leo.
Pak Johan terang-terangan tidak menyukai hubunganku dan Leo. Apa kabar Kak Anggi dan Kak Fahri ya kalau sampai ketahuan pacaran?
Kami pun ditugaskan ke lapangan. Lagi. Kali ini Ia menugaskan Leo ke cabang Fatmawati. Deket dong dari Pasar Minggu. Tapi.... Ia menugaskanku ke cabang Bogor.
Gila gak sih? Ke Bogor gitu. Hanya dengan supir kantor berdua saja! Bener-bener deh tuh orang.
Leo sempat protes meminta aku dan dirinya bertukar tempat, namun Pak Johan menolak usulan Leo. Ia tetap bersikukuh dengan pendiriannya.
Jadilah aku sekarang sedang bermacet ria sepulang dari Bogor. Sore di hari Jumat, Bogor ramai dan macet. Banyak yang mau menenangkan pikiran dengan menghirup udara Puncak yang masih segar dibanding udara Jakarta yang penuh polusi.
Dan aku hanya ditemani supir kantor dan suara penyiar radio yang sangat ku kenal. Kang Molan. Penyiar favoritku. Suaranya yang kayak orang ganteng serta gurau candanya membuat perjalanan Bogor Jakarta yang macet terasa lebih ringan.
"Mau mampir dulu enggak Neng? Beli asinan Kedung Halang atau Roti Unyil gitu? Siapa tau Neng Maya mau beli buat keluarganya." Pak Supit menawariku untuk mampir ke destinasi kuliner yang terkenal di Bogor.
__ADS_1
"Asinan kayaknya enak deh, Pak. Besok pas banget saya libur dan mau main ke rumah Mama. Kita beli asinan dulu ya Pak." aku memang berencana mau ke rumah Mama Lena. Sekalian menjadi mak comblang Mama dengan Papa.
"Siap, Neng. Saya cuma tinggal belok kiri aja nih." dan benar seperti yang Pak Supir katakan. Tidak jauh sudah sampai.
Aku turun dari mobil dan memesan 8 bungkus asinan Kedung Halang. Aku sudah menghitungnya. Aku akan membaginya dengan Bu Sri, Bu Jojo, buat Papa Dibyo, Richard, Aku dan Leo, Mama Lena dan dua bungkus untuk Pak Supir.
Aku pikir asinannya murah hanya sekitar sepuluh ribu saja atau paling mahal lima belas ribu, ternyata harganya tiga puluh ribu sebungkus. Belum aku khilaf membeli beraneka macam kerupuk. Agak kaget saat membayar lebih dari tiga ratus ribu rupiah.
Berhubung aku orangnya hemat, jadi lebih baik pakai kartu sakti milik Leo saja ha...ha...ha... Enggak mau rugi. Sayang kalau pakai uang gajiku. Toh Leo enggak akan keberatan.
Aku jadi penasaran berapa isi kartu ini. Hmm.... Rasa penasaran itu berbahaya. Harus dipenuhi keingintahuan jika tidak akan kepikiran terus.
Aku melihat ke sekitar dan menemukan ATM di dekat parkiran mobil. Aku menitipkan asinan yang kubeli pada Pak Supir lalu menuju ATM.
Aku memasukkan kartu ATM dan pinnya, yakni tanggal lahir Adam. Aku memilih cek saldo. Aku menunggu sebentar lalu keluarlah saldo di ATM milik Leo. Oh My God.... lima ratus juta? Enggak salah nih?
Leo bilang kalau uang ini untuk uang jajanku dan keperluan sehari-hari. Sedangkan untuk tabungan Leo yang pegang. Lalu berapa uang tabungan yang Leo pegang jika uang yang aku pegang saja sudah lima ratus juta? Aku tak bisa membayangkannya. Pantas saja Leo mau beli mobil dan rumah sekaligus ck...ck...ck....
Aku cepat-cepat memasukkan kembali kartu yang Leo berikan. Takut ada yang melihat dan nekat berbuat jahat. Aku saja sampai gemetar melihat saldonya.
Tanpa mengambil selembar uang pun aku kembali ke mobil. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang.
Sampai depan rumah Papa Dibyo aku memberikan dua bungkus asinan pada Pak Supir yang sudah setia menemaniku sejak kemarin.
"Makasih banyak, Neng. Ya ampun Eneng sampai repot-repot beliin asinan segala. Tadi saya cuma mau kasih tau aja Neng kalau ada makanan yang enak eh malah dibeliin. Jadi enggak enak saya Neng." kata Pak Supir dengan sungkan.
"Ini namanya rejeki, Pak. Rejeki jangan ditolak. Pamali. Makasih banyak udah ditemenin ya, Pak. Saya masuk dulu." sambil menenteng plastik berisi asinan dan kerupuk segambreng aku masuk ke dalam rumah Leo.
Kalau kemarin aku yang menyambut Leo, hari ini sebaliknya. Leo yang menyambutku.
"Akhirnya kamu pulang juga. Aku khawatir takut kemalaman. Tadinya aku mau nyusul tapi takut selisih jalan jadi aku tunggu aja deh kamu pulang." Leo sudah mengenakan baju rumahnya. Celana pendek dan kaos. Membuatnya terlihat awet muda saja.
Aku tersenyum senang karena ada yang mengkhawatirkanku. "Taraaa.... Aku bawa asinan dan kerupuk buat kamu!"
Leo menggeleng-gelengkan kepalanya. "Ck....ck....ck... Dia malah shopping-shopping. Kamu udah makan belum?"
Bener-bener perhatian ya suamiku ini. Tambah sayang deh jadinya. "Belum." jawabku jujur.
"Pas banget. Aku masakkin nih buat kamu. Ayo cuci tangan dulu lalu kita makan malam bareng ya."
Leo masak? Memangnya bisa?
Walau agak heran tapi aku mengikuti saja langkah Leo ke meja makan. Sudah terhidang masakan buatannya. Udang saus padang dan cumi goreng tepung.
"Waaahhh... Ini beneran kamu yang masak?" tanyaku tidak percaya.
"Iyalah. Spesial buat kamu. Aku panggil Papa dan Richard juga ya biar kita makan sama-sama." baru saja Leo berbalik eh sudah ada Papa dan Richard.
"Enggak usah dipanggil. Kita sudah hadir karena mencium wangi masakkan." Richard mengambil piring dan menyendok nasi. "Cobain deh May. Masakkan Leo enak loh!"
"Masa sih? Dulu mana pernah Leo masak untukku. Masak mie aja minta dibikinin." aku mengikuti Richard menyendok nasi dan mencoba masakan Leo. "Hmm... Enak banget. Hebat kamu, Sayang!"
Kuacungkan dua jempol sebagai bentuk penghargaanku pada suamiku tercinta.
"Iyalah. Leo gitu loh. Pinter masak. Pinter kerja di kantor. Pinter ngerjain kamu juga lagi." Leo menaik turunkan alisnya menggodaku.
"Yaelah ... Inget ada dua jomblo nih!" protes Richard.
"Enggak jaga perasaan banget!" protes Papa Dibyo.
Aku dan Leo malah menertawakan ulah dua jomblo ngenes didepan kami.
****
__ADS_1
Yaaahhhh.... Votenya turun nih... Padahal aku sempetin nulis sambil bikin rendang loh.... Ih syedihhh....Ayo yang belum vote, vote sekarang ya! Maacih 😘😘
Jangan lupa follow my IG: Mizzly_