
Aku dan Maya langsung diam seribu bahasa. Freeze, membeku tanpa tahu harus berbuat apa ketika kami tertangkap basah sedang bercanda dengan Pak Johan, atasan kami di divisi audit.
"Hmm... Habis main ledek-ledekkan Pak eh Maya malah ngelemparin pensil ke arah saya." jawabku dengan jujur.
"Bohong, Pak. Leo duluan tuh usilin saya makanya saya lempar pensil aja biar enggak jahil lagi!" adu Maya.
Pak Johan tersenyum melihat ulahku dan Maya. "Kalian ini cocok loh sebenarnya jadi sepasang kekasih. Feel nya dapet gitu."
"Ih... Enggak lah Pak. Leo playboy. Males banget saya sama Leo. Semua cewek dimodusin. Pegel Pak kalau jadi pacarnya." keluh Maya menyuarakan isi hatinya dengan jujur.
"Justru saya yang enggak mau sama Maya, Pak. Cemburuannya gede banget. Enggak kuat saya!" balasku sambil menjulurkan lidahku pada Maya yang Maya balas dengan memelototiku.
Pak Johan mengu lum senyum. "Sudah... Sudah... Lanjutkan pertengkaran kalian nanti. Siap-siap ya. Pak Dibyo mau datang. Beliau mau melihat-lihat kantor."
"Baik, Pak." jawabku dan Maya kompak.
Papa mau datang? Ngapain? Kenapa enggak ngabarin? Semalam kayaknya enggak bilang apa-apa deh. Kenapa tiba-tiba saja mau datang ke kantor? Aneh!
"Pagi pagi Pak." sapa Kak Anggi dan Kak Fahri yang baru saja datang.
"Pagi. Kalian berdua siap-siap juga. Pak Dibyo mau datang untuk inspeksi. Apa mungkin Pak Dibyo mau bertemu Mr. So ya?" Pak Johan terlihat sedang memikirkan kata-kata yang keluar dari mulutnya sendiri.
"Mr. So tangan kanan Pak Dibyo, Pak? Yang suka tiba-tiba berkas di tanda-tangani dan ditolak tanpa kita tahu kapan dikerjainnya?" tanya Kak Fahri memastikan.
"Iya. Saya juga heran. Siapa sebenanya Mr. So tangan kanannya Pak Dibyo? Dia bisa tau loh keadaan perusahaan. Kayak Dia tuh ada di perusahaan ini gitu." ujar Pak Johan mengungkapkan isi hatinya.
Aku memasang telinga kuat-kuat. Mendengarkan namaku disebut-sebut.
"Leo kali Pak yang sebenarnya jadi Mr. So!" celetuk Kak Anggi seenaknya.
"Hah? Saya? Mr. So siapa ya Kak?" tanyaku berpura-pura tidak tahu. Biasa, junior harus pura-pura bodoh depan senior kalau tidak mau dianggap belagu.
"Mr. So aja dia enggak tau, Gi. Gimana mau jadi Mr. So? Ah kamu mah ada-ada aja!" gerutu Pak Johan. "Udah pokoknya kalian siap-siap. Takutnya Pak Dibyo sidak ke tempat kita."
"Iya, Pak." jawab kami berempat kompak.
Aku lalu merapihkan meja dari kertas dan barang-barang tak penting lainnya. Memunguti botol hand body dan pencil milik Maya yang tadi Ia lemparkan padaku lalu mengembalikan kepada pemiliknya.
"Nih, punya kamu!" kataku sambil menaruh hand body dan pencil milik Maya di mejanya. "Aku yang dilempar, aku juga yang balikkin!"
Maya mendelik mendengar ucapanku barusan. "Aku lempar lagi nih!" ucap Maya tanpa bersuara yang langsung membuatku tersenyum. Ekspresinya Maya itu loh, bikin gemas rasanya.
"Apa?" tantang Maya masih tanpa suara, hanya isyarat bibir saja.
"Kalian ngapain sih?" tanya Kak Anggi yang heran melihat ulahku dan Maya. Seperti sedang gencatan senjata istilahnya.
"Itu si Maya dan Leo dari tadi main lempar-lemparan pensil, Gi. Untung aja saya masuk, kalau enggak udah jontok-jontokkan." Pak Johan yang menjawab pertanyaan Kak Anggi.
"Masa sih Pak? Berantem beneran apa becanda nih? Kalau beneran saya mau pasang taruhan. Saya pegang Maya!" Kak Anggi menepuk bahu Kak Fahri. "Kamu pegang siapa, Ri?"
"Pegang Leo lah. Masa sih laki-laki kalah sama perempuan?" ujar Kak Fahri ikut mengompori suasana.
"Eh apaan sih malah pake taruhan segala? Udah bubar! Siap-siap! Kerjain kerjaan kalian!" instruksi Pak Johan membubarkan kami kembali ke meja masing-masing.
Aku mengerjakan laporan yang Kak Fahri berikan sedangkan Maya mengecek file di bantex. Sebenarnya aku sambil nyambi membaca email yang masuk sih untuk Mr. So. Jadi double job gitu. Nanti saat jam istirahat aku tinggal minta OB kepercayaan Papa untuk bawa berkasnya untuk aku tanda-tangani.
Suara ketukan di pintu mengagetkan kami semua yang sedang fokus bekerja.
"Pagi!" sapa Papa di depan pintu masuk.
Semua yang melihat ke arah pintu langsung kaget dan reflek berdiri untuk menyambut kedatangan orang nomor satu di Kusumadewa Group ini.
Papa memakai setelan jas dengan kemeja warna abu-abu dan dasi warna senada. Penampilannya masih sangat berwibawa, meskipun saat sedang bermain PS The Sims tidak keliatan keren sama sekali.
"Pagi, Pak!" jawab semua yang ada di ruangan dengan kompak.
Papa ditemani dengan Pak Bambang sekretaris pribadinya yang sudah lama bekerja untuk Papa. "Ini ruangan audit, Pak." ujar Pak Bambang menjelaskan padanya.
Papa mengangguk-angguk paham, seolah baru tahu padahal jelas-jelas ada anaknya disini tapi masih saja berakting. Ah jago sekali Si Gamers Mania ini!
"Ini, Kepala bagian audit. Pak Johan namanya." Pak Bambang memperkenalkan Papa pada Pak Johan.
Pak Johan memperkenalkan dirinya pada Papa. Yang disambut dengan anggukan kepala oleh Papa.
__ADS_1
Ah Si Gamers ini benar-benar jago aktingnya. Padahal jelas-jelas Ia bilang kalau Pak Johan salah satu yang Ia curigai yang telah melaporkannya ke KPK.
"Ini anak buah kamu?" tanya Papa pada Pak Johan.
"Iya, Pak. Ini Anggi dan Fahri yang sudah lama di bagian audit dan yang di belakang Leo dan Maya, anak baru yang kita pekerjakan menggantikan karyawan sebelumnya yang di mutasi ke Bali." ujar Pak Johan menjelaskan.
Tanpa disangka Papa menyalami semua anak buah Pak Johan. Aku tahu Ia melakukannya untuk bisa mengenal Maya lebih dekat. Jadi agar tidak mencurigakan Ia menyalami mereka semua.
"Gimana selama bekerja disini? Bisa mengikuti?" tanya Papa tertuju langsung pada Maya.
"Bisa, Pak. Masih dalam tahap belajar." jawab Maya dengan suara gugup.
Ah May, andai kamu tau, Si Gamers ini yang udah bikin aku ninggalin kamu saat keguguran dulu....
"Bagus! Belajar yang giat. Saya yakin kamu pasti bisa kok!" ujar Papa.
"Baik, Pak." jawab Maya sambil menyunggingkan senyum grogi.
Papa hanya melihatku sekilas dan menepuk bahuku pelan.
"Lanjutkan lagi pekerjaan kalian. Saya mau melihat bagian yang lain dulu. Selamat bekerja!" ujar Papa sambil berjalan meninggalkan ruang audit.
"Baik, Pak." jawab kami berlima kompak.
Setelah Papa pergi meninggalkan ruangan aku melihat Maya terduduk lemas di kursinya.
"Huffffttt.... Hampir saja!"
Kak Anggi dan Kak Fahri hanya tersenyum melihat ulah Maya. "Deg-degan ya May?" tanya Kak Anggi.
"Iya, Ka. Kayaknya selama ini cuma lihat di TV aja eh ternyata ada di depan mata. Ngajak aku ngobrol lagi. Ah... amazing banget rasanya." ujar Maya tak bisa menyembunyikan kekagetannya.
"Anggep aja lagi ketemu calon mertua May." celetukku seenaknya yang disambut gelak tawa Kak Anggi, Kak Fahri dan Pak Johan.
"Ih apaan sih? Tuh kan Pak, Leo ngeledekkin terus! Aku lempar pake pembolong kertas nih!" ancam Maya lagi.
"Wuidih.. Mainnya lempar-lemparan. Sadis. Itu besi May. Kalo kena Leo enggak masalah. Lah kalo nyasar ke saya bisa berabe juga!" ujar Kak Fahri meledek Maya.
Tepat jam 12 aku dan Maya langsung menuju kantin. Maya yang masih sebal denganku tak mau berjalan sejajar denganku. Setiap aku sejajari, Ia langsung mempercepat langkahnya.
Lucu juga sih melihat ulahnya yang sejak tadi menggemaskan. Makin semangat aku untuk menjahilinya.
Menu makan siang hari ini bertema masakan Padang. Ada rendang dan ayam bakar serta sayur berkuah santannya. Benar-benar menggugah selera makan dengan menu seperti ini.
Terlihat di kejauhan Papa dengan Pak Bambang sedang makan siang di kantin. Tidak biasanya Papa ikut makan di kantin. Apa sidaknya masih berlanjut?
Papa melihatku dari jauh dan menggerakkan alisnya memberi kode. Aku mengacuhkannya dan berjalan menuju Ana yang sudah melambaikan tangannya sejak tadi.
"Leo... Sini duduk di samping aku." ujar Ana dengan suara manjanya.
Aku menuruti keinginan Ana dan duduk di sampingnya. Kulihat Maya langsung cemberut dan diam saja tidak seceria biasanya. Maya lalu memilih duduk didepanku bersebelahan dengan Aldi.
"Kalian semalam lembur ya?" tanya Aldi memulai percakapan.
"Iya. Pak Johan ngasih kerjaan sebelum jam pulang kantor ya mau enggak mau harus dikerjain sampai selesai." jawabku menggantikan Maya menjawab.
"Kamu pulang sama siapa May?" tanya Aldi lagi. Tampaknya Aldi kurang puas jika belum mendengar jawaban dari Maya.
"Aku yang nganter Maya pulang." sambarku lagi-lagi sebelum Maya sempat menjawab pertanyaan Aldi.
"Kenapa enggak bilang sama aku May? Kan aku bisa anterin kamu pulang." ujar Aldi.
Oh jadi Aldi mulai terang-terangan nih PDKT sama Maya? Oke, lewati dulu mayatku Di kalau kamu bisa!
"Ya kalau sama kamu mah jauh Di. Lebih baik bareng sama aku. Searah." jawabku yang langsung membuat Maya menendang kakiku dengan kencang.
"Awww!!!" jeritku karena tendangan Maya mengagetkan dan cukup terasa sakit di tulang keringku.
"Kamu kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ana penuh perhatian.
Aku mengusap kakiku yang mulai berdenyut sakit. Nih Maya kayaknya sering main bola kali ya, tendangannya ngalahin tendangan Si Madun kayaknya.
"Enggak apa-apa kok, Na. Cuma ada banteng lagi nyeruduk aja. Seenaknya aja nendang kaki orang!" sindirku.
__ADS_1
Maya tetap saja asyik makan tak memperdulikanku yang meringis kesakitan. Ana sepertinya paham apa yang terjadi karena Ia melihatku sejak tadi pagi bertengkar terus dengan Maya.
"Kamu nendang kakinya Leo, May?" tanya Ana langsung.
Maya memutar bola matanya sebal. "Oh kamu kena ya Leo? Aduh maaf ya kaki aku tiba-tiba kram. Enggak sengaja ketendang kamu ya?"
"Hati-hati dong, May. Kasihan kan Leo sampai meringis kesakitan begitu!" omel Ana.
Maya tidak bisa menyembunyikan wajah sebalnya pada Ana. Entah sebal atau cemburu, entahlah. Yang jelas aku suka melihat ekspresi Maya yang seperti itu.
"Maya kan enggak sengaja, Na. Jangan terlalu galak ah Na sama Maya." bela Aldi.
Ih ini kenapa sih sama Aldi dan Ana? Kenapa mereka berdua mencari perhatian aku dan Maya terus sih?
"Udah...Udah... Aku enggak apa-apa kok. Maaf ya Leo. Tuh aku udah minta maaf. Kita anggap clear ya." ujar Maya menengahi agar Ana dan Aldi tak ikutan bertengkar juga.
"Iya. Aku juga udah enggak sakit lagi kok. Kamu beneran enggak sengaja kan May?" aku mulai menggoda Maya lagi.
Maya menghembuskan nafas kesal sambil tersenyum terpaksa. "Aku beneran enggak sengaja kok Leo yang baik hati. Kaki kamu enggak apa-apa kan? Atau perlu aku bawa ke dokter?"
"Enggak perlu. Kamu baik sekali sih May. Ah jadi pengen aku jadiin istri deh." ucapanku langsung mendapat tiga pasang mata yang mendelik kesal ke arahku.
"Ha...ha...ha... Santai Bro.... Santai... Just kidding!" kataku sambil tersenyum jahil.
"Enggak lucu!" seru mereka bertiga kompak.
Aku makin tertawa melihat ekspresi mereka bertiga. Apalagi ekspresi Maya yang benar-benar sebal dengan ulahku. Kerjain lagi ah...
Kami pun mulai melanjutkan makan kami lagi. Aku mulai melancarkan aksiku lagi.
"Eh tapi kalau aku dan Maya pernah menikah gimana ya?"
"Uhuk... Uhuk...." Maya langsung tersedak.
Dengan sigap Aldi menepuk punggung Maya sebelum aku sempat bangun untuk menolongnya. Ah aku nyesel ngerjain kayak gini. Kan Aldi jadi punya kesempatan megang-megang Maya.
Walau sudah bukan istriku lagi tapi aku tak rela rasanya ada yang menyentuh Maya selain diriku.
"Apaan sih kamu Leo? Becandanya enggak lucu tau!" ujar Aldi kesal.
"Maaf... Aku kan cuma mau ngerjain Maya aja. Jangan diambil hati dong." jawabku.
Maya mengangkat tangannya dan meminta Aldi menghentikan menepuk punggungnya karena Ia sudah tidak tersedak lagi. "Makasih, Di."
"Kalian tuh ya bertengkar terus. Udah sekarang enggak pakai bertengkar lagi ya!" Ana menengahi perselisihan diantaraku dan Maya. "Ayo baikkan!"
Aku yang mengulurkan tangan pertama kali untuk bersalaman lalu Maya akhirnya menjabat tanganku karena melihat Ana memelototinya jika tidak mau memaafkanku.
"Maaf." ujarku dan Maya bersamaan.
"Wah lagi lebaran ya? Kok pakai salam-salaman segala?" suara Papa terdengar dari belakang punggungku. Membuatku reflek menoleh dan mendapati Papa sedang berdiri tepat di belakangku.
"Siang, Pak." ujar Maya, Ana dan Aldi kompak.
Aku yang masih kaget melihat kehadiran Papa yang tiba-tiba tak mampu berkata apa-apa. Ini lagi Papa ngapain sih? Dari tadi caper banget!
"Hmm.... Leo sama Maya lagi baikkan ya?" tebak Papa.
"Em... Kita cuma habis becanda aja kok Pak," jawab Maya gelagapan. "Iya kan Leo?" tanya Maya meminta dukungan dariku.
"Iya Paa...k." ups... hampir saja aku keceplosan!
"Wah Bapak bisa hapal nama saya dan Leo padahal baru pertama kali bertemu." puji Maya dengan penuh keberanian.
Nih anak ya enggak tau apa yang dihadepin tuh raja rimba? Jangan dicolek Papa mah May. Bandel banget sih!
"Wah jelas saya hapal dong. Yang paling menyita perhatian saya pasti harus saya hapal tentunya." ujar Papa membuat Maya tak bisa membalas ucapannya tersebut.
****
Hi semua! Jangan lupa tetap vote ya yang request crazy up. Sesuai janji kalau masuk 10 besar aku crazy up, berhubung belum masuk kita 1 episode dlu aja ya. Aku mau nulis Bermuka Dua dulu ya. Follow IG : Mizzly_
maacih semuanya 🥰🥰🥰
__ADS_1