Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Perjanjian dengan Mama


__ADS_3

Aku berlari menaiki anak tangga menuju kamarku yang terletak di lantai atas. Aku masuk ke dalam kamar lalu ku kunci pintu kamarku.


Kulemparkan tas ransel ke sembarang tempat lalu kurebahkan tubuhku diatas tempat tidur. Air mata kesal, malu dan kecewa menetes dari pelupuk mataku.


Masih terbayang di benakku wajah mama dan Om Hans yang sedang dibudaki oleh nafsu setan. Suara erangan Mama membuatku makin merasa jijik dengan wanita yang sudah melahirkanku tersebut.


Kenapa aku harus dilahirkan dari rahim seorang wanita hina seperti itu? Kenapa aku enggak bisa memilih dari keluarga mana aku dilahirkan?


Seakan punya saudara jahat saja belum cukup, papa kejam dan suka main tangan, lalu mama yang lebih hina dari siapapun. Teganya Mama melakukan hal hina itu di rumah. Bahkan di kamarnya dan papa.


Apakah hubungan Mama dan Om Hans sudah berlangsung lama? Apakah Papa tidak mencurigainya?


Om Hans adalah salah seorang tangan kanan Papa di perusahaan. Papa mempercayakan Om Hans mengurus beberapa anak perusahaannya. Tapi apa yang Papa dapatkan? Hanya pengkhianatan.


Aku masih ingat bagaimana Om Hans terlihat begitu baik dan penurut di depan Papa. Apa jadinya kalau Papa sampai tahu kalau Om Hans itu ternyata sudah berselingkuh dengan istrinya sendiri?


Tak lama seperti yang sudah aku duga datang menghampiri kamar ku. Ia mengetuk pintu kamarku berkali-kali tak juga aku bukakan. Menyahutinya saja tidak aku lakukan.


"Leo... Tolong dengarkan Mama Nak. Please..."


Lagi-lagi aku hanya diam. Aku tak sudi untuk mendengarkan wanita yang sudah melakukan tindakan yang hina menurutku.


" Leo... Mama tahu kalau Mama salah. Mama juga nggak mau melakukan hal ini. Tapi, papa kamu yang memulai semuanya. Papamu yang membuat Mama berubah."


Aku masih diam saja mendengarkan Mama berbicara. Tak ada niat ku untuk keluar dan membicarakan semuanya secara langsung.


Mama lalu melanjutkan perkataannya. Nampaknya ia sudah lelah mencoba membujukku untuk keluar namun tak kunjung kulakukan.


"Om Hans adalah mantan pacar Mama sebelum mama menikah dengan Papa. Seperti yang kamu tahu, Mama dan Papa dijodohkan oleh orang tua kami masing-masing. Awalnya, Mama berusaha menerima Papa sebagai suami Mama. Mama mulai membuka hati Mama dan kami menjalani rumah tangga yang berbahagia apalagi setelah Richard dan kamu lahir."


"Segalanya mulai berubah ketika Papa mulai serakah dengan harta dari kakek kamu, Kakek Kusumadewa. Papa mulai berambisi menguasai semua harta kekayaan kakek kamu. Bahkan, Papa tega membuat perusahaan orang tua Mama goyang dan akhirnya Ia membeli sebagian besar saham dari perusahaan mereka. Tujuannya adalah untuk membuktikan kepada kakek kamu kalau Papa adalah orang yang layak untuk meneruskan perusahaannya. Kemampuan Papa mengambil alih saham perusahaan orang tua mama dianggap sebagai nilai plus oleh kakek kamu."


"Karena perusahaan orang tua Mama sudah semakin habis sahamnya, Mama pun enggak bisa berbuat apa-apa. Mama seperti sudah tidak ada kekuatan untuk melawan Papa kamu. Makin lama Papa kamu makin tidak menghargai mama."


Aku mendengar suara Mama mulai bergetar. Sepertinya Ia mulai menangis kembali.


"Kamu tahu sendiri kan, Papa bahkan tega memukuli Mama di depan kalian anak-anak Mama? Hal itulah yang membuat perasaan cinta di dalam hati Mama hilang."


"Kamu mungkin bisa bilang kalau Mama egois dan mementingkan perasaan Mama sendiri. Tapi pernahkah kamu ada di posisi Mama? Mama adalah korban kekerasan dalam rumah tangga. Dan apa yang Papa lakukan? Papa selalu menutupi semuanya dengan rapat agar kedua keluarga kami tidak mengetahuinya."


"Setiap kali Papa kamu melakukan kekerasan pada Mama, esoknya Ia akan meminta maaf dan meminta ampun atas kesalahannya. Ia akan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lalu Papa pun mencoba menarik hati Mama dan membaik-baiki Mama. Biasanya Papa memberikan Mama uang untuk Mama pakai shopping. Kamu lihat sendiri kan Mama amat sering shopping. Apa artinya? Artinya Papa kamu habis melakukan kekerasan terhadap Mama."


Cukup lama Mama terdiam. Hanya terdengar suara Isak tangisnya yang terasa memilukan hati.


Suara hatiku pun berontak. Aku tidak tega melihat mama mengalami semua ini. Aku bukan Papa yang kejam terhadap Mama.


Aku lalu berjalan ke arah pintu kamar dan membukakan kunci pintu. "Masuklah!"

__ADS_1


Mama lalu cepat-cepat berdiri dan mengikutiku masuk ke dalam kamar. Ia pun menutup pintu kamarku agar bisa berbicara hanya berdua saja tanpa ada orang lain yang mendengar.


"Papa masih sangat sering memukuli Mama? Bukan hanya di depan kami saja tapi juga dibelakang?"


Mama mengangguk.


"Sangat sering dan mama sudah memfoto semua yang Papa lakukan." Mama lalu menunjukkan foto yang Ia simpan dalam handphonenya. Kalau di depan kami, Papa memukuli Mama hanya sekedar menampar. Ternyata di belakang kami yang Ia lakukan lebih parah lagi.


Aku pikir Ia tidak akan lagi melakukan hal seperti itu. Ternyata hal tersebut masih berlangsung sejak terakhir kali aku mengintipnya dari balik lemari.


"Lalu alasan ini Mama pakai agar Mama bisa berselingkuh dari Papa? Kenapa Mama tidak menceraikan papa lalu menikah saja dengan Om Hans?" kataku dengan sangat pedas dan kasar.


"Mama tidak bisa Leo. Kalau Mama bisa sudah Mama lakukan sejak dulu, tentunya Mama akan mengajak kamu dan Richard ikut serta. Tapi Mama nggak bisa. Papa kamu yang sudah memiliki sebagian besar saham perusahaan orang tua mama, mengancam akan membuat bangkrut perusahaan orang tua Mama jika Mama meninggalkannya."


Alasan yang masuk akal. Pantas saja Mama begitu takut pada Papa. Semua karena baktinya terhadap orang tuanya. Ia tidak mau perusahaan yang sudah susah payah orang tuanya rintis dari awal karena keegoisannya akan hilang dalam sekejap.


"Kamu pikir Mama nggak pernah melawan? Mama sudah sering melawan Papa. Dan apa yang Mama dapat? Selain rasa sakit karena dipukuli, Papa semakin banyak mengancam Mama." Mama mengambil tisu dari atas nakas di kamarku dan mulai membersihkan hidungnya yang mulai tersumbat karena terlalu banyak menangis.


Mama pun melanjutkan lagi ceritanya. "Yang Mama lakukan selanjutnya adalah hidup dengan kepura-puraan. Mama mengikuti semua kemauan Papa. Mama lebih memperhatikan Richard dibanding kamu karena Papa amat membanggakan Richard di depan semua kolega bisnis nya dan juga keluarga besarnya. Mama menjadi istri yang penurut di depan Papa."


"Takut Mama akan terpengaruh dan melawan karena kita tinggal tidak jauh dari keluarga Mama, Papa lalu mengajak kita semua pindah ke kota ini. Mama lagi-lagi menurut. Tapi apakah kamu tahu kalau batin Mama selama ini amat tersiksa? Papa kamu membelikan Mama barang-barang mewah lalu Dia menyakiti hati Mama lagi. Begitu seterusnya. Mau sampai kapan? Apa Mama harus mati terlebih dahulu baru Papa akan sadar?"


"Lalu sesuatu yang tidak terduga-duga terjadi. Saat Mama sedang disuruh Papa mengantarkan dokumen ke kantornya Mama bertemu dengan Om Hans. Ia adalah mantan pacar Mama sebelum Mama dan Papa dijodohkan. Kami bertukar nomor handphone dan akhirnya kami janjian untuk bertemu di suatu tempat. Kehadiran Om Hans membuat Mama memiliki semangat hidup yang sebelumnya sempat hilang."


"Cinta yang udah terkubur selama lebih dari 15 tahun lamanya kembali menyusup ke dalam hati kami. Mama merasakan lagi kebahagiaan yang sudah lama hilang dalam hidup Mama. Kami lalu mulai bercita-cita untuk menyatukan kembali cinta kami berdua. tapi bagaimana caranya? jika kami berdua sampai ketahuan papa, Om Hans dan Mama pasti tidak akan ada di dunia ini lagi. Papa pasti akan menyuruh orang untuk membunuh kami berdua."


"Mama tahu Leo. Mama tahu. Mama memang salah. Tapi karena kehadiran Om Hans lah yang membuat Mama masih hidup sampai sekarang. Kamu tahu, Mama bahkan mengkonsumsi obat anti depresi setiap hari. Mama mohon sama kamu, tolong ampuni Mama kali ini. Mama janji Mama nggak akan melakukan hal ini lagi sama Om Hans. Kamu mau kan mengampuni Mama kali ini?" pinta mama dengan wajah yang amat minta dikasihani.


Aku tahu Mama juga manusia biasa yang memiliki hati dan perasaan. Dibalik sikapnya yang sering shopping, ternyata Ia menyimpan beribu luka dalam hati. Ternyata bukan aku saja yang hidup tertekan di dalam rumah ini, Mama juga dan mungkin Richard juga. Semua karena ulah Papa. Semua karena keserakahan Papa.


"Baiklah aku tidak akan bilang sama Papa. Tapi aku enggak mau melihat Mama sama Om Hans melakukan hal yang menjijikan kayak tadi lagi. Kalau sampai kalian lakukan itu dan ketahuan sama aku, maka Aku pastikan Aku akan bilang langsung sama Papa." kataku penuh dengan ancaman. Mama tahu aku kalau sudah mengatakan seperti itu maka aku akan melakukannya.


"Iya sayang. Mama janji sama kamu Mama nggak akan melakukan hal itu lagi. Terima kasih kamu sudah melepaskan Mama kali ini. Mama janji suatu hari nanti Mama yang akan membantu kamu." Mama pun tersenyum senang. Matanya terlihat amat berbinar-binar karena rasa bahagia.


"Ya udah. Sekarang keluar dari kamar Leo. Leo lelah. Dan bilang sama Om Hans, jangan menginjakkan kakinya di rumah ini lagi!" ancamku.


"Iya. makasih ya Sayang." Mama lalu terburu-buru keluar dari kamarku.


Aku langsung menutup dan mengunci pintu kamarku lalu duduk di tempat tidur. Aku termenung memikirkan apa yang sudah terjadi dan apa yang aku lakukan.


Apakah perbuatan yang aku lakukan sudah benar? Aku bahkan membiarkan Mama dan Om Hans untuk berselingkuh. Dan aku hanya mendiamkannya seakan tidak ada yang terjadi.


Terlalu lelah berpikir lama kelamaan Aku mengantuk. Aku tertidur dan baru bangun keesokan harinya.


Suara dering handphone mengganggu diriku yang sedang tertidur. Aku ambil handphone di atas nakas lalu melihat kalau bidadari cantikku yang menelpon. Ternyata Maya mengingatkanku untuk berangkat kuliah.


Aku lalu bangun dan bersiap untuk kuliah. Saat aku turun, kudapati Mama dan Papa sedang sarapan di meja makan sambil tertawa-tawa.

__ADS_1


Ini yang aku tidak suka. Semua orang memakai topeng. Berpura-pura bahagia, padahal menderita.


"Leo." panggil Mama. "Ayo sarapan dulu Sayang."


Sayang? Lagi-lagi Mama bermulut manis terhadapku. Aku muak mendengarnya. Aku membiarkan Mama tapi bukan berarti aku memaafkan perbuatannya.


"Leo mau langsung berangkat aja. Udah siang. Leo pergi dulu Ma, Pa."


Aku pergi kuliah mengendarai motor Vixion kesayanganku. Sampai di kampus aku bertemu bidadari hatiku, Maya. Senyum Maya amat cantik dan membuat siapapun terpukau.


Sebelum berpacaran dengan Maya, aku sering mendengar anak-anak cowok membicarakan tentang Maya. Mereka banyak yang menaruh hati pada Maya.


Mereka bilang, Maya tak pernah menanggapi perasaan mereka. Maya hanya menganggap mereka sebagai, teman tidak lebih. Hal itu makin membuat para mahasiswa berlomba-lomba untuk mendapatkan Maya.


Ternyata, Maya memilihku dibanding mahasiswa yang lain. Betapa bangganya aku mendapatkan Maya.


Aku melihat Maya dari kejauhan. Bukan hanya aku yang melihat Maya, melainkan beberapa mahasiswa lain yang sedang nongkrong di kampus. Pesona kecantikan Maya begitu terpancar membuat kami para kaum Adam sulit untuk menolaknya.


Aku mengagetkan Maya dan Ia pun tertawa. Manis sekali. Rasanya aku tidak mau kuliah dan hanya ingin menghabiskan waktu saja dengan Maya.


Aku pun mengajak Maya untuk bolos kuliah. Awalnya Maya menolak. Berbagai alasan Ia kemukakan. Namun pada akhirnya Maya pun mengikuti ajakanku. Aku senang sekali bisa menghabiskan waktu dengan Maya sang Primadona kampus.


Maya mengajakku ke kosannya. Begitu lugunya Ia bahkan mengajak laki-laki kedalam kosannya tanpa merasa takut.


Tiba-tiba rasa takut mulai menghinggapiku. Aku takut Maya akan pergi dan meninggalkan aku. Aku takut ada laki-laki di luar sana yang yang lebih baik daripada aku dan membuat Maya berpaling akan cintanya padaku.


Yang paling berharga dalam hidupku saat ini adalah Maya. Aku enggak mau kehilangan Maya, hanya Maya yang benar-benar mencintaiku dan menyayangiku sepenuhnya.


Aku menceritakan tentang permasalahan keluargaku hanya pada Maya seseorang. Selama bercerita, Aku terus memandangi Maya yang entah mengapa hari ini terlihat sangat cantik dibanding hari biasanya. Aku ingin memiliki Maya seutuhnya. Maya hanya milik aku.


Aku memberanikan diri untuk mencium bibir Maya nan ranum. Bibir yang selama ini begitu menggodaku.


Betapa senangnya hatiku saat mengetahui kenyataan bahwa aku adalah orang pertama yang mencium Maya. Ini adalah bukti kalau aku laki-laki pertama dalam hidup Maya.


Rasa serakah mulai menguasaiku. Aku menginginkan yang lebih dari sekedar ciuman. Meskipun awalnya sempat ragu gua, Maya akhirnya mengikuti keinginanku. Kami pun mulai berbuat di luar batas.


Aku memastikan bahwa akulah yang sudah merebut keperawanan Maya. Aku bangga akan hal itu. Maya adalah milikku seorang.


Aku dan Maya mulai berubah cara berpacarannya. Kami sudah bukan lagi anak muda yang di mabuk cinta. Yang aku lakukan dengan Maya lebih ke arah nafsu.


Aku merutuki perbuatan tercela Mama dengan Om Hans tapi aku juga melakukan perbuatan kotor. Aku tidak lebih baik daripada mereka.


Sampai akhirnya Maya memberitahukan aku akibat dari perbuatan kami selama ini. Maya hamil. Dan aku harus bertanggung jawab.


***


Hai semuanya! maaf ya kalau ini ceritanya agak flashback, jadi aku tuh mau menceritakan dari sudut pandangnya Leo. Apa yang terjadi selama hidupnya dia dan bagaimana jalan pikirannya Leo. Aku percepat kok nggak langsung aku ceritakan mendetail ceritanya tapi yang pasti nanti akan nyambung menjadi satu kesatuan cerita ya. Tetap ikutin novel ini dan jangan lupa untuk like dan vote. Makasih 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2