Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Kak Rian Is The Best


__ADS_3

Aku masih mau bermain tarik ulur sebenarnya, namun sifat Leo sepertinya memberikan ultimatum padaku. Aku harus tegas memutuskan sikap dan pilihanku.


Awalnya aku masih tidak menyadari apa itu arti cemburu. Bukan tidak tahu sama sekali, aku sering mendengar cerita-cerita di novel, di sinetron yang Ibu sering tonton, dan juga sering mendengar dikala Adel sahabatku waktu kuliah dulu sering bertengkar karena pacarnya cemburu.


Aku enggak benar-benar memahami apa artinya cemburu. Yang aku tahu hanya nggak suka aja melihat sang kekasih sedang berjalan dengan orang lain. Hanya itu aja. Karena dulu juga Adel berantemnya karena pacarnya Adel cemburu saat Ia jalan sama salah seorang cowok. Itu pun hanya karena ada tugas kampus bukan benar-benar karena ada hubungan khusus.


Bagiku cemburu itu hal yang kekanakan dan terkesan norak. Maka saat Leo mengatakan kalau selama ini aku cemburu terhadap kedekatannya dengan Lidya aku mulai meragu.


Melihat Leo yang biasanya tidak mudah akrab dengan lawan jenis tiba-tiba jadi sering tertawa saat bersama dengan Lidya.


Ada rasa sakit yang tiba-tiba menusuk di dadaku melihat ada orang lain yang bisa membuat Leo tersenyum selain aku.


Ada perasaan sedih ketika perhatian Leo bukan hanya tersita untukku.


Ada perasaan marah, amat marah ketika Leo diapit oleh dua wanita yang mengejar-ngejar dirinya tepatnya saat makan siang tadi.


Ingin rasanya aku menarik tangan Leo. Membawanya menjauh dari kedua wanita yang sepertinya kecentilan dan berebut untuk mendapatkan perhatian Leo.


Aku baru menyadari saat Leo menghampiriku di ruangan. Perasaan sakit, sedih, dan marah itu adalah rasa cemburu yang selama ini tak pernah aku rasakan.


Apakah aku sebegitunya tidak tahu apa itu perasaan cemburu? Iya, aku tidak tahu. Aku hidup sebagai anak perempuan satu-satunya yang dianugerahi limpahan kasih sayang oleh kedua orang tuaku. Semua keinginanku pasti dituruti kecuali masalah menikah dengan Leo tentunya.


Aku tak pernah merasakan iri hati karena menginginkan sesuatu dan tidak izinkan oleh orang tuaku. Banyak anak lain yang memiliki rasa cemburu terhadap saudaranya sendiri. Aku tidak seperti itu.


Kak Anton mungkin memiliki rasa cemburu yang besar terhadapku, karena Ia terus mengalah terhadap semua keinginan yang aku inginkan.


Perkataan Leo sedikit-banyak seperti menamparku. Membuatku harus sadar diri kalau aku bukan tuan putri yang bisa mendapatkan semua keinginannya layaknya di negeri dongeng.


Pangeran berkuda yang aku pikir sangat mencintaiku ternyata juga banyak dicintai oleh wanita di luar sana. Dan aku enggak terima itu.


Saat Leo mengatakan kalau dia tidak terima mendengar aku dihina oleh keluarga Angga di situ aku menyadari kalau Leo mencintaiku dengan tulus. Ia hanya menginginkan aku diterima dengan status apa adanya.


Air mataku langsung tak kuasa untuk kubendung lagi. Aku menyadari kesalahanku. Aku yang salah- dalam perceraian kami.


Aku bukan istri yang penurut dengan perintah suami. Aku tidak menjaga nama baik suamiku dan pergi dengan laki-laki lain tanpa seijinnya.


Aku mengerti kalau saat itu Leo cemburu seperti rasa sakit yang aku rasakan saat ini. Cemburu yang amat menyiksa.


Dan aku seperti sedang meneteskan air lemon di atas lukanya yang sedang basah. Terus-menerus membahas tentang Angga padahal hatinya sangat sakit melihatku pergi dengan Angga.


Kenapa aku baru menyadarinya sekarang? Apakah aku sudah sangat oon dan bodoh sampai tidak bisa menyadari kalau apa yang aku lakukan sudah membuat orang lain teramat terluka.


Aku hanya bisa menangis. Mengucapkan maaf pun aku merasa diriku tak pantas. Sakit sekali rasanya hati ini.


Saat Leo memintaku untuk merenungkan bagaimana tempat dia dalam hatiku jawabannya hanya satu, Leo tak akan tergantikan.


*****


Aku hanya diam sambil menikmati pemandangan dari jendela mobil Kak Rian. Pagi-pagi sekali Kak Rian sudah menjemputku dan mengajakku pulang kampung bersama.


Rencana awalnya sih pulang kampung hari jumat malam, tapi Kak Rian mengabarkan kalau Ia sangat capek setelah meeting seharian dan meminta diundur jadi sabtu pagi.


Aku menurut saja apa perkataan Kak Rian. Penumpang mah ikut aja apa kata supir. Namun sepanjang perjalanan aku malah asyik menikmati pemandangan dan hanya menjawab sesekali saat Kak Rian bertanya padaku.


"Kamu mikirin apa sih May? Kamu tuh nggak biasanya murung kayak gini. Biasanya tuh kamu gacor, ngobrol terus, ngoceh terus, nggak berhenti-berhenti kayak burung beo. Ini malah diem aja kayak lagi mikirin sesuatu."

__ADS_1


Kak Rian seperti memiliki ikatan batin denganku. Tahu aja ya kalau adiknya sedang ada masalah. Sedang bimbang.


"Tentang Angga?" tanya Kak Rian.


"Aku dan Angga hanya teman biasa. Dan aku nggak mau bahas tentang Angga hari ini."


"Lalu tentang siapa dong? Jangan bilang kamu ketemu lagi sama Leo!"


Nah kan ada ikatan batin antara aku dan Kak Rian? Bagaimana coba dari sekian banyak hal Kak Rian langsung menebak apa yang ada dalam pikiranku? Memangnya di keningku tertulis tulisan 'Sedang mikirin Leo tersayang', enggak kan?


"Jadi benar kamu ketemu sama Leo? Dimana? Leo gangguin kamu lagi enggak?" Kak Rian ibarat polisi yang menginterogasi aku bagaimana pelaku kejahatan yang kutemui.


"Leo enggak tau Kak kalau aku keguguran." jawabku sambil menghela nafas dalam. Kak Rian yang satu kubu saja susah menjelaskannya apalagi Bapak dan Kak Anton?


Inilah yang membuatku sulit untuk membuka hati sepenuhnya dengan Leo. Sulit untuk memulai hubungan lagi dengannya. Aku tahu aral rintangan kami jauh lebih sulit dibanding sebelumnya.


Dulu kami tak direstui namun ada sedikit harap saat Adam lahir ke dunia ini hati Bapak akan sedikit luluh. Namun takdir berkata lain, Adam meninggal dan aku bercerai dengan Leo. Kini aku bahkan tak tahu diri mau balikan sama Leo, apa Bapak enggak akan semakin murka nantinya?


Murka itu levelnya jauh diatas marah. Marah saja nyeremin apalagi murka? Aku langsung merinding membayangkannya.


"Leo tau atau enggak masalahnya dimana? Kakak tanya sekarang sama kamu May, dimana Leo saat kamu terbaring di rumah sakit dan hampir gila karena kehilangan anak kamu? Enggak ada May! Sadar! Cinta tuh jangan bikin kamu jadi bodoh!"


Baru kali ini Kak Rian memarahiku dengan keras. Kak Rian si Super Hero yang selalu membelaku, yang selalu menjagaku.


Aku hanya bisa menunduk dan memainkan ujung bajuku. Mau menjawab pun takut. Namun aku butuh sekutu yang akan menjadi kubu yang membelaku di depan Bapak nantinya.


Kak Rian sekutu yang kuat. Ia pribadi yang mandiri dan bisa mempertanggungjawabkan keputusan yang Ia ambil. Bapak pun akhirnya luluh dengan keteguhan hatinya karena Ia bisa membuktikan ke Bapak konsekuensi dari keputusan yang diambil tersebut.


Kak Rian yang sukses dengan pekerjaannya berhasil membuat Bapak bangga dan akhirnya berpikir kalau keputusan yang Kak Rian ambil itu adalah keputusan yang tepat.


Bagaimana kabar Bapak saat tahu kalau aku ingin kembali ke pelukan Leo? Bisa makin emosi beliau mendengarnya.


"Leo sibuk ngurusin Papa, Mama dan Kakaknya." aku sengaja memberi celah untuk Kak Rian memarahi dan mengeluarkan unek-uneknya padaku baru menjelaskan lagi nanti.


"Memangnya Papa, Mama dan Kakaknya anak kecil apa yang harus diurusi? Rumah tangganya saja enggak becus dia pimpin eh sok-sokan mengurus keluarganya yang lain!" kata Kak Rian dengan penuh emosi.


"Papanya dipenjara. Mamanya sibuk menggugat cerai Papanya dan Kakaknya tertangkap karena mengkonsumsi narkoba dan harus direhabilitasi. Leo sibuk dengan semua itu dan menunggu bertemu denganku saat mediasi namun aku tak kunjung datang. Sementara Ia harus mengurus perusahaan Papanya yang terancam bangkrut. Leo datang ke rumah namun tak menemuiku. Ia beberapa kali datang ke rumah berharap bertemu denganku tapi aku sudah di Bandung dan dia tidak tahu sampai akhirnya jatuhlah putusan cerai kami."


"Alaaah... Itu kan cuma alasan dia saja May. Laki-laki itu punya banyak bujuk rayu May. Kamu jangan mau terperdaya dengan bujuk rayu dia May! Pintar sekali dia menarik simpati kamu dengan menjual kisah hidupnya!" kata Kak Rian dengan sinis.


Baru di tahap ini saja aku sudah mau menyerah rasanya padahal ini adalah level terendah. Belum pawangnya.


Aku menghela nafas berat. Seharusnya aku mengajak Leo biar dia yang menghadapi Kak Rian. Biar bonyok sekalian tapi beres. Ini menghadapi logika Kak Rian yang pintar sangat sulit bagi aku yang oon ini. Eh kok aku ngaku oon ya?


"Awalnya aku bersikap seperti Kakak. Menolak segala alasan yang Leo berikan. Bahkan tidak mengijinkan Leo menemui Adam. Leo terus berharap bisa melihat anaknya. Ia tidak tahu kalau anaknya meninggal. Di hari kami bertengkar hebat Papanya ditangkap KPK."


Aku membuka Hp dan mencari berita tentang Dibyo Kusumadewa yang tertangkap KPK. "Kita berhenti di rest area dulu Kak sebentar."


Untunglah aku melihat rest area tak jauh dari lokasi kami. Kak Rian pun menurut karena berpikir aku mau ke toilet sebentar.


Aku bukannya turun untuk ke toilet tapi malah menyerahkan hasil browsingku. "Ini. Tanggal yang sama seperti tanggal aku kehilangan Adam."


Kak Rian mengernyitkan keningnya. Awalnya bingung dengan perkataanku tapi tetap menerima Hp yang kuberikan. Ia membaca berita di salah satu portal berita online yang kuberikan.


"Dibyo Kusumadewa? Jangan becanda kamu May! Apa hubungannya Leo dengan Dibyo Kusumadewa?" tanya Kak Rian.

__ADS_1


"Leo Prakoso Kusumadewa. Anak bungsu dari Dibyo Kusumadewa dan Lena Wijaya. Tak menyangka ya Kak kalau aku dulu menikah dengan seorang Kusumadewa yang terkenal itu?" aku tersenyum sinis.


"Kakak masih tidak percaya! Kamu pasti telah dibohongi sama Leo!"


Aku menyunggingkan seulas senyum. Reaksi Kak Rian sama seperti reaksiku saat diberitahu kalau Leo adalah Mr. So. Pantas saja Richard tertawa terbahak-bahak. Aku keliatan sangat bodoh.


Aku mengambil Hp dan mencari berita tentang Lena Wijaya yang menggugat cerai suaminya saat suaminya tertangkap KPK.


Aku membaca awal berita: Hanya berselang beberapa hari setelah suaminya tertangkap, Lena Wijaya mengajukan gugatan cerai pada suaminya. Lengkap dengan wajah Leo yang memakai masker sedang menunduk di belakang Mamanya.


"Ini. Ada muka Leo juga walau pakai masker. Kakak pasti bisa mengenali kalau itu Leo kan?" aku memberikan lagi Hp milikku pada Kak Rian.


Kak Rian membaca berita yang kuberikan lalu menzoom wajah Leo. Ia terlihat menggelengkan kepalanya tak percaya.


Kak Rian menyerahkan Hp kembali padaku. Ia terlihat menyandarkan kepalanya di kursi pengemudi sambil menghela nafas berat. Pasti sedang berpikir.


Aku kembali browsing mencari berita tentang Richard Kusumadewa yang tertangkap polisi mengkonsumsi narkoba dan berakhir dengan menjalani rehabilitasi selama hampir 2 tahun lamanya.


"Ini berita tentang Kakaknya Leo." Aku menunjukkan Hp milikku pada Kak Rian yang hanya melirik sekilas dan kembali menghela nafas berat.


"Kakak udah liat beritanya. Semuanya sudah Kakak liat karena saat itu sangat ramai dan semua membicarakan keluarga yang malang tersebut."


Aku kembali browsing tentang kepemimpinan baru di Kusumadewa Group.


Penerus Kusumadewa Group yang sampai saat ini tidak pernah diketahui seperti apa wajahnya berhasil membuat Kusumadewa Group bangkit bahkan semakin berkembang pesat dengan ide-ide miliknya yang brilian.


"Ini berita tentang Leo. Tapi jangan sampai ada yang tahu kalau Leo adalah orang di belakang semua kesuksesan Kusumadewa Group."


Lagi-lagi Kak Rian tidak mengambil Hp milikku dan hanya melirik sekilas. "Kakak juga sudah baca itu. Kusumadewa Group adalah rekanan bisnis di perusahaan Kakak. Bahkan Kakak pernah video call dengan Mr. So meskipun Ia tak pernah menampakkan wajahnya saat meeting besar kami."


"Lalu? Leo enggak bohong kan Kak? Kalau saja Kakak bisa melihat saat Leo menangis meraung-raung di makam Adam. Kakak pasti yakin kalau Leo sudah menyesali perbuatannya."


"Tapi bukan berarti kamu semudah ini untuk balikkan dengan Leo, May! Keluarganya tidak menerima kamu!"


"Papa dan Kakaknya menerimaku. Kalau Mamanya aku belum ketemu." jawabku.


"Tapi bagaimana dengan keluarga kita? Bapak akan menentang keras keputusan kamu May!"


"Aku tahu Kak. Aku sangat tahu itu. Dan aku butuh bantuan Kakak untuk kedua kalinya."


Kak Rian menatapku tak percaya. Ia akan bersekutu denganku dan melawan Bapak untuk kedua kalinya. Disaat Bapak sedang bangga padanya.


"Please Kak...." Aku memasang wajah tanpa dosa yang selalu bisa meluluhkan hati Kak Rian.


Kak Rian menghela nafas berat. Pandangannya dialihkan ke depan. Terlihat sedang berpikir berat.


"Nanti saat kita pulang ke Jakarta suruh Leo ketemu sama Kakak!"


Aku langsung tersenyum lebar dan memeluk Kak Rian. "Kakak memang yang terbaik. Maya sayang sama Kakak!"


"Sudahlah ayo kita lanjutkan perjalanan lagi. Jangan cerita dengan siapapun dulu di rumah. Kalau sama Ibu boleh tapi tanpa sepengetahuam yang lain ya!"


Aku mengangguk. Setetes air mata berhasil lolos di pelupuk mataku. Kak Rian beres selanjutnya yang lain. Ibu masih bisa aku handle namun Bapak dan Kak Anton biar Leo yang saja hadapi.


Eh tunggu deh, aku udah meminta restu Kak Rian memangnya Leo sudah mengajakku untuk balikan? Bodo ah. Pasti Leo akan ngajak balikan deh. Aku yakin!

__ADS_1


__ADS_2