Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Antara Papa, Mama dan Maya


__ADS_3

Flash Back


Aku terlalu sibuk mengurusi urusan papa dan ***** bengek persidangannya. Bolak-balik ke pengadilan dan menjadi saksi, kadang juga menemani Mama. Aku sudah berhenti kerja saking aku tidak ada waktunya karena sibuk mengurusi Papa.


Berulang kali Papa memintaku datang untuk menjenguknya. Ada saja yang Ia minta. Entah Ia mau makan ini, minta dibawakan itu, dan berbagai alasan lainnya agar aku terus datang mengunjunginya. Kenapa aku? Kenapa bukan Mama? Atau Richard anak kesayangannya?


Jawabannya adalah baik Mama maupun Richard tidak ada yang mau. Mama beralasan kalau Dia takut, karena Ia sedang mengajukan gugatan cerai.


Lalu bagaimana dengan Richard? anak kesayangan papa itu malah tidak mau sama sekali menjenguk papa. Richard bilang Ia malu punya Papa yang seorang tahanan.


Semenjak mendapat surat gugatan cerai malam itu, aku kesal. Aku pergi lagi dari rumah kontrakan kami dan pulang ke rumah Papa. Rumah Papa nan megah ini sangat sepi. Hanya tinggal beberapa pembantu dan aku saja di dalamnya.


Aku terus memandang surat gugatan cerai itu. Kemarahan demi kemarahan terus melingkupi dadaku bahkan sulit untuk aku redam.


Aku pergi ke ruang olahraga dan aku tumpahkan semua kemarahanku dengan memukul samsak tinju. Aku tidak mau lagi membanting-banting barang seperti waktu itu. Aku memukul terus samsak tinju sampai akhirnya aku jatuh kelelahan.


Aku bahkan tertidur di ruang olahrag tanpa aku sadari aku. Aku bahkan sampai terbangun keesokan harinya. Tenggorokanku terasa kering, mungkin aku dehidrasi terlalu kelelahan dan kurang cairan.


Aku pergi ke dapur dan kulihat Richard baru pulang. Langkahnya gontai karena Ia dalam pengaruh alkohol. Ia tak mengindahkan keberadaanku seperti biasa dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


Aku mengambil sebotol air mineral dan meneguknya sampai habis. Aku lalu ke kamar dan melihat Hp ku terus berdering. Nomor yang tidak aku kenal.


Aku mengangkat teleponnya dan ternyata Papa yang menelepon. Ia memintaku membawakan baju ganti dan makanan dari restoran Chinese Food kesukaannya.


Awalnya aku tolak karena memang aku tidak punya uang. Papa lalu menyuruhku mengambil uang di brangkasnya. Ia memberitahu letak brangkas tersembunyi miliknya.


"Passwordnya adalah tanggal lahir kamu, Leo." kata Papa.


Deg..... Tanggal lahir aku jadi password brangkas kesayangan Papa? Apa artinya aku selama ini berarti di mata Papa?


"Pakailah uang disana untuk membeli apa yang Papa suruh. Kalau kamu perlu untuk keperluan kamu juga pakai saja. Tapi emas batangan dan surat-surat kepemilikan lainnya kalau bisa jangan. Itu untuk masa depan kamu dan Richard nanti." kata Papa diujung telepon sana.


Aku pun mengunjungi Papa di tahanan khusus koruptor. Aku menunggu Papa dipanggilkan. Aku membawa 12 box chinnese food yang Papa request.


Papa datang dengan memakai baju tahanan. Ia terlihat agak kurus dan sayu. Mungkin Ia banyak pikiran di dalam sana.


Aku memberikan pesanannya. Ia mengambil satu dan sisanya Ia berikan pada penjaga dan teman -temannya yang lain.


Papa lalu makan di depanku. Ia makan dengan lahap seakan belum pernah makan sebelumnya.


"Papa laper banget ya?" tanyaku iba.


Papa mengangguk. Ia asyik menghabiskan makanannya sampai tak ada satupun yang tersisa.


"Papa enggak suka makanan disini. Enggak cocok sama lidah Papa." jawab Papa.


Aku menatapnya dengan iba. Walau Papa keras dan pilih kasih tapi biar bagaimanapun Papa tetaplah orangtuaku.


"Pa, sebenarnya Mama-" aku hendak menceritakan tentang Mama namun Papa memotong ucapanku.


"Mama mau gugat cerai Papa dan menikah dengan Hans mantan pacarnya dulu kan?" tebak Papa.


"Jadi Papa sudah tau?" tanyaku.


Papa mengangguk. "Papa tahu. Karena itu Papa mengambilalih semua saham perusahaan orang tuanya. Papa enggak mau Mama kamu meninggalkan kalian, setidaknya sampai kalian dewasa."

__ADS_1


"Lalu kenapa Papa biarkan Om Hans jadi asistern pribadi Papa?" tanyaku bingung. Papa bukannya malah membuat mereka ada celah untuk berselingkuh?


"Untuk mengenal siapa Hans. Ternyata Hans tidak jahat sama Papa. Kamu tahu, kadang kita harus membiarkan musuh terbesar kita ada disisi kita. Agar kita tahu saat Ia mau menyerang. Karena itu pula Papa tahu Hans yang mengurusi perceraian Mama dan Papa. Biarkanlah. Papa sudah mengekang Mama terlalu lama. Kalau Ia mau pergi silahkan. Toh kalian sudah besar. Papa sudah selesai memberikan tanggung jawab sebuah keluarga yang utuh untuk kalian berdua."


Mendengar perkataan Papa membuatku sedih. Ia memang ringan tangan tapi ternyata Ia menyimpan lukanya sendiri. Aku kasihan dengan Papa. Kenapa kedua orang tuaku harus seperti ini?


"Bercerailah dengan Mama, Pa. Mungkin itu keputusan yang terbaik. Percuma kalian terus bersama tapi kalian hidup dengan topeng." kataku dengan bijak.


"Nah, kamu tahu itu. Enggak sia-sia Papa usir ya kamu makin dewasa." puji Papa dengan entengnya.


"Kalau Leo dewasa, Maya mungkin tidak akan menceraikan Leo Pa." jawabku sedih.


"Ap- apa? Maya juga nyerein kamu? Ha...ha...ha.... Sama dong status kita jadi calon duda? Ha...ha...ha...." Papa pun tertawa puas.


"Please, Pa. Leo tuh lagi ada musibah malah Papa tertawa." kataku dengan sebal.


"Ya jangan ceramahin Papa kalau kamu juga enggak bisa menjaga rumah tangga kamu sendiri!" sindir Papa.


"Iya sih. Papa benar." kataku sedih.


"Kenapa minta cerai? Selingkuh juga?" tebak Papa yang ternyata benar adanya.


"Yoi. Kenapa ya tuh wanita-wanita demen banget selingkuh?"


"Kamu yang apes. Enggak semua wanita kayak gitu." celetuk Papa.


"Ya istri Papa juga begitu. Sama." celetukku balik.


Aku dan Papa saling menatap. Kami pun tertawa bersama.


"Lalu rencana kamu apa?" tanya Papa.


"Lanjutkan hidup kamu. Kuliah lagi. Urus perusahaan Papa. Eh tapi nanti dulu deh. Perusahaan Papa biar kedua om kamu yang urus. Kamu kuliah aja dulu yang bener nanti mulai kerja di perusahaan dari bawah. Enggak ada yang ngenalin kamu jadi kamu aman kalau memulai dari awal. Nanti Papa suruh asisten Papa mengurusnya. Paling Papa dipenjara cuma setahun. Kamu sering kesini bawa makanan. Bisa tambah kurus Papa kalau kayak gini terus."


"Iya... iya... "


Sepulang menjenguk Papa aku lalu kembali ke kontrakkan. Niatku mau ke rumah Maya mencari tahu semuanya sebelum sidang nanti.


Tak sengaja aku berpapasan dengan dua teman Maya, Bu Sri dan Bu Jojo yang baru turun dari mobil mewah. Tak lama Angga si selingkuhan Maya juga turun sambil membantu Bu Sri dan Bu Jojo menurunkan bawaannya.


Aku mendengar dari balik pagar apa yang mereka bicarakan. Mereka tidak tahu ada aku di situ. Mereka tidak melihat aku sedang berhenti di warung dan membeli kebutuhanku.


"Makasih ya Angga kamu udah ngajak kita ke rumah Maya. Malah kita dibawain oleh-oleh begini nih sama keluarganya Maya. Memang ya kamu tuh cocok banget sama Maya. Serasi." kata Ibu Sri.


"Iyalah cocok. Udah direstuin juga sama keluarganya Maya. Kamu lihat sendiri kan Ibu dan Bapaknya Maya tuh baik banget sama Angga. Wah ini mah calon jalan mulus deh buat kalian berdua." kata Ibu Jojo mengompori.


"Ah bisa aja nih ibu-ibu. Tapi makasih ya udah nemenin saya ke rumah Maya. Nanti kalau misalnya saya ada waktu lagi kita main lagi ya. Eh tapi kan saya mau buka kantor di tempat baru jadi saya mungkin jarang ketemu sama kalian." kata Angga.


"Cie....cie....yang mau buka kantor di tempat baru. Bisa ketemuan terus dong sama Maya. Wah kalian nih. Mungkin kalian itu memang jodoh yang tertunda kali ya." kata Ibu Sri sambil tertawa-tawa.


"Sudah ah. Saya mau pulang dulu. Pokoknya makasih banyak ya semuanya. Dah..." Angga lalu pergi meninggalkan dua ibu-ibu itu yang juga bubar dan pulang ke rumahnya masing-masing.


Aku mencengkram buku jariku dengan kencang. Tanganku sampai memerah menahan marah.


Cih... Mereka bahkan sudah direstui orang tua Maya. Sudahlah mungkin memang aku satu nasib dengan Papa.

__ADS_1


Aku lalu masuk ke dalam rumah kontrakkanku dan merapihkan barang-barangku. Surat nikah milikku ada disini tapi surat nikah Maya tidak ada. Jadi benar kalau Maya memang niat bercerai sampai sempat balik ke rumah untuk mengambilnya dulu.


Aku hanya bisa menggelengkan kepala karena baru menyadari sifat Maya yang ternyata lebih licik dari yang kupikir. Matre, licik dan tukang selingkuh. Lengkap sudah. Bodoh sekali dulu aku tergila-gila sama Dia sampai mau melakukan segalanya.


Aku teringat bagaimana aku bekerja seperti orang gila. Bekerja dan terus bekerja hanya untuk memenuhi keinginan Maya yang enggak pernah ada puasnya.


Mungkin begitulah kalau cewek matre. Semua yang aku kasih itu kurang dan sekarang, Dia bisa bahagia sama Angga yang dari keluarga kaya. Mana mau Dia sama aku? Tak sudi Dia mendapatkan kan mangsa yang kere.


Tapi lihat aja, aku bakalan belajar untuk bisa menguasai perusahaan Papa. Papa sendiri yang ngasih tahu aku tadi, kalau aku belajar dengan sungguh-sungguh aku bisa menguasai perusahaannya. Kita lihat saja siapa yang lebih kaya, aku atau Angga selingkuhan kamu?


Saat aku mengemasi barang-barangku sebuah buku catatan Maya terjatuh. Foto hasil USG anakku juga ikut terjatuh.


Aku mengambilnya. Air mataku yang sejak tadi bisa kutahan akhirnya jebol juga. Aku memikirkan anakku. Anakku yang akan hidup bersama laki-laki lain.


Apakah Angga akan menyayangi anakku kelak? Bagaimana kalau Angga membeda-bedakannya dengan anak kandungnya dengan Maya nanti?


Tidak... aku tidak akan biarkan. Aku memang sedang jatuh. Aku tidak punya apa-apa saat ini. Tapi nanti.... nanti aku akan datang dan mengambil anakku kembali.


Lihat saja! Aku akan buktikan kalau aku berhak mengurus dan merawat anakku. Aku akan buktikan kalau aku tidak seperti Papa yang kasar. Aku akan mendapatkan hak asuh atas anakku nanti.


Aku mengambil foto tersebut dan menyimpannya dengan rapi di dompetku. Akan aku bawa kemanapun aku berada. Sebagai pengingat kalau masih ada hutang yang harus aku tagih pada Maya.


Aku kembali ke rumah Papa. Kulihat di dalam sana Richard sedang marah-marah. Beberapa barang terlihat dibanting dan pembantu di rumah sedang berpelukan karena ketakutan melihat majikannya yang ngamuk seperti itu.


Leo melihatku datang sambil membawa barang-barangku. Ia pun menghampiri aku.


"Leo, kamu pasti tahu kan di mana uang simpanan papa? Semuanya gara-gara Papa! Sekarang rekening aku diblokir! Bagaimana aku bisa menjalani hidup? Aku tuh ada party nanti malam." tanya Richard mengintrogasiku.


"Aku nggak tahu. Aku juga lagi nyari duit buat bisa bayar kuliah lagi." kataku sambil membawa tas berisi barang-barangku dari kontrakkan.


"Lalu bagaimana nanti malam aku bisa mengadakan party? Aku udah janji! Aku bisa dicap sebagai pembohong!" Richard melampiaskan emosinya pada aku.


Aku tenang saja menghadapinya. Hidupku udah hancur. Aku udah enggak peduli dengan Richard lagi. Bagiku Richard sekarang bukan masalah terbesar dalam hidup.


"Kamu temui saja Mama sana! Mama bilang, kalau kamu udah butuh duit nanti juga kamu akan menghampiri Mama. Mama udah siap kok menanti kedatangan kamu di rumahnya." kataku menyampaikan pesan mama.


"Mama? Mama punya rumah? Dimana rumahnya?Pantas saja Ia tidak pernah pulang sejak Papa ditangkap!" Richard sekarang sudah mulai lebih tenang. Ia sudah tidak emosi lagi seperti tadi.


"Telepon aja Mama. Nanti Dia akan share lokasinya kok." Aku lalu meninggalkan Richard dan kembali ke kamarku. Sebelumnya aku berpesan kepada pembantuku untuk membereskan bekas kekacauan yang Richard buat.


Aku langsung merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Lelah. Bukan lelah fisik saja tetapi lelah batin. Terlalu banyak kekacauan dalam hidup aku. Aku harus siap menghadapi sidang gugatan cerai Maya.


Hari-hari selanjutnya aku sibuk bolak-balik mengantarkan Papa makanan, mengurus kuliah, mendatangi rumah mama dan yang pasti mengurus sidang perceraian aku. Mama sudah menyewakan seorang pengacara untuk mendampingiku selama di persidangan.


Aku berharap aku dapat melihat Maya setidaknya sekali di dalam persidangan. Setidaknya aku bisa bertanya bagaimana hubungannya dengan Angga yang sebenarnya. Aku bisa bertanya pada Maya apakah Ia memang sudah tidak mencintaiku dan lebih memilih Angga? Kalau memang Maya seperti itu, aku bisa kok melepaskannya dengan ikhlas.


Namun lagi-lagi harapan hanya tinggal harapan. Dalam beberapa kali sidang, Maya tak juga menampakan batang hidungnya. Kenapa Aku nggak ke rumah Maya? Untuk apa? Sudah jelas yang dibilang oleh kedua temannya kalau keluarganya lebih memilih Angga dibanding aku.


Kalau aku datang, aku datang bawa apa? Pekerjaan aku nggak punya. Orang tuaku berantakan dengan permasalahan dan perceraian mereka juga. Kuliah belum lulus. Apakah mereka akan mengijinkan aku membawa anaknya untuk kedua kali hanya untuk dibuat menderita?


Jadi aku putuskan untuk bersabar dan menanti kedatangan Maya di meja sidang. Sampai keputusan dari sidang perceraianku dijatuhkan, aku tak juga menemukan Maya. Dengan berat hati aku pun setuju untuk bercerai dengan Maya.


Aku menjadi seorang duda dan aku akan melanjutkan hidupku lagi. Aku meneruskan kuliahku dan berencana melanjutkan perusahaan Papa seperti rencana awal.


POV Leo End

__ADS_1


*****


Hai semua! Semoga POV Leo cukup membuat kalian mengerti posisinya Leo ya. Bukan hanya sekedar masih muda dan labil, Leo juga banyak tekanannya. Next kita mulai POV Maya lagi. Jangan lupa like dan vote sebanyak mungkin ya. Maacih 🥰🥰🥰


__ADS_2