Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Resepsi-2


__ADS_3

Aku sedang leyeh-leyah sambil menunggu henna yang dipakaikan di tanganku kering ketika Mama Lena datang dan minta dipakaikan henna juga.


"Mama mau juga May." dengan nada manjanya Mama Lena meminta padaku. Ya, sejak hamil Mama Lena memang jadi lebih manja dan kekanakkan. Kami positif thinking saja, menganggap itu bawaan bayi.


"Mbak, Mama tolong dipakaikan juga ya." aku meminta Mbak yang tadi memakaikanku henna.


"Baik."


Sambil menunggu henna kering, aku pun ketiduran. Kamarku masih seperti dulu. Masih sangat nyaman.


Udara yang sejuk membuatku tertidur. Tak tahu berapa lama aku tertidur. Seingatku Leo tadi sudah berangkat solat jumat saat aku tidur.


"Sejak hamil Maya jadi lebih mengantuk, Bu. Biarkan saja. Dia enggak ngidam macem-macem kok. Mungkin tadi mau manja saja sama ibu." sayup-sayup kudengar suara Leo sedang berbicara dengan Ibu.


Aku pun membuka mataku dan bangun dari tidurku. Sudah jam 2 siang. Lama juga aku tertidur.


"May, makan dulu. Kamu belum makan siang. Kalau hanya makan karedok saja nanti perut kamu maag, May."


"Iya, Bu. Maya solat dulu. Nanti baru makan." aku beranjak bangun menuju kamar mandi.


"Yaudah, nanti makanannya di depan ya. Ajak Leo juga. Belum makan dia nungguin kamu bangun tidur."


"Iya, Bu."


Selesai solat aku dan Leo hendak makan. Rupanya sudah dibuat prasmanan di depan. Banyak yang membantu resepsi jadi Ibu harus menyediakan makan untuk semuanya.


Ternyata sudah mulai rapi. Bunga hidup mulai menghiasi singgasana pengantin. Karpet merah juga sudah digelar menutupi halaman rumah Bapak yang luas.


Ini sih bukan nikah di kampung namanya. Mewah dan megah begini. Aku mengajak Leo berkeliling. Melihat suasana yang lain.


Panggung acara dangdutan sudah mulai diisi sound system. Seperti yang Bapak mau, bukan hanya sekedar organ tunggal namun ada gendang dan alat musik lain di dalamnya.


Gubukan pun lengkap. Ada nama-nama makanan yang tertulis diatasnya. Sate ayam, zuppa soup, tape uli, spageti, bakso, soto mie, es krim, es doger, es selendang mayang, kambing guling dan soto ayam. Lengkap kap kap kap....


Dan yang terpenting dari acara hajatan ini adalah layar putih besar yang terbentang lebar. Layar tancep. Hiburan rakyat yang sudah hampir punah.


Bapak bilang, dulu Ia bercita-cita mengadakan hajatan dengan memakai layar tancep. Namun apadaya berhubung uangnya pas-pasan maka diadakan sederhana.


Saat Kak Anton menikah juga sederhana karena bertepatan dengan aku masuk kuliah. Uangnya untuk biaya kuliahku. Sekaranglah kesempatan untuk mewujudkan mimpinya.


Malam hari diadakan acara selametan. Bertujuan mendoakan kelanggengan rumah tanggaku dan Leo juga agar acara besok berlangsung lancar tak ada aral merintang.


Karena aku sudah melangsungkan akad nikah maka aku didandani agak siang. Acara resepsi dimulai pukul 10 pagi, aku baru dirias jam 6.


Biasanya kalau dilakukan akad nikah diriasnya subuh karena akad nikah biasanya dimulai jam 8 atau 9 pagi. Aku selesai di make up dan mengenakan kebaya jam setengah 9 pagi.


Hasil tangan MUA yang Mama Lena rekomendasikan benar-benar luar biasa. Pangling tapi terlihat natural. Tidak menor. Sampai aku sendiri tidak mengenali wajahku.


"Kamu cantik banget, Sayang." puji Leo saat melihatku.


"Masa sih? Jadi makin cinta dong?" pancingku.


"Iyalah. Makin...makin... makiiiiiin cinta selalu."


"Beneran?"


"Iya dong."


Kulirik MUA yang menatap kami sambil menaikkan satu alisnya. Perpaduan antara eneq dan geli mendengar pasangan di depannya.


Aku keluar kamar dengan menggandeng tangan Leo. Bagaikan sepasang raja dan ratu sehari. Semua mata menatap kami dengan penuh takjub dan senyum di wajah.


Kami pun berdiri di singgasana spesial untuk hari ini. Musik dangdut sudah mulai mengalun. Lagu yang dinyanyikan masih dangdut yang normal dan berhenti saat MC memulai acara hari ini.


Dimulai dengan pembacaan doa lalu sambutan dari pihak keluarga yang diwakili Bapak dan pihak besan yang diwakili Papa Dibyo. Bapak terlihat gagah dengan setelan jas. Selama ini seragam kerjanya hanya kaos oblong dan celana training eh dipakein jas kelihatan keren banget rasanya.


Ibu yang mendampingi Bapak juga terlihat cantik. Tak kalah saing dengan Mama Lena. Bedanya Ibu wajahnya Indonesia asli jadi terlihat lebih cantik alami.


Setelah sambutan, kami melakukan sesi foto keluarga. Seluruh keluarga besar ikut foto bersama. Lalu beberapa foto saat aku berdua dengan Leo.


"Cie... cie... " ledek keluargaku saat pose kami berdua terlalu intim sesuai arahan fotografer.


"Aduh enggak kuat nih lihat kamu cantik banget." bisik Leo di telingaku.


"Jangan rese deh! Malu nih banyak keluarga."


"Baby utun kangen Papa enggak? Kalau kangen nanti malam Papa tengokin deh." ujar Leo sambil mengerling jahil.

__ADS_1


"Mulai deh. Kita harus siap-siap nih. Tamu hari ini pasti banyak." aku menunjuk ke rombongan ibu-ibu pengajian yang datang sambil membawa baskom. Biasanya berisi beras yang nanti diisi kue oleh pihak yang punya acara.


Dan tamu pun mulai berdatangan. Satu persatu menyalamiku dan mendoakan kebahagiaanku dan Leo. Tak lupa memuji kecantikanku yang dibilang manglingi.


Entah pangling karena aku jarang make up atau memang karena lagi hamil. Orang bilang kalau sedang hamil suka keluar auranya. Jadi kelihatan lebih cantik gitu. Entahlah....


Saat tamu mulai berdatangan banyak dan sedang menikmati hidangan yang disediakan, MC yang berasal dari group dangdut membuka acara.


"Selamat pagi menjelang siang semua. Terima kasih sudah datang di acara pernikahan Maya dan Leo. Perkenalkan saya Miku yang akan membawakan acara dangdut hari ini," MC yang berpakaian seksi berwarna merah maroon dengan belahan rok panjangnya yang mencapai setengah paha membuat seluruh perhatian tertuju padanya.


"Selamat menikmati hidangan yang disediakan. Untuk menghibur sang mempelai dan tamu undangan tentunya, saya akan memanggilkan bintang tamu kita yang fenomenal dan mampu menggoyang blantika musik dangdut tanah air. Kita panggilkan.... Trio Macan, eh salah sodara-sodara. Kita panggilkan.... TRIO SINGA!"


MC pun mempersilahkan tiga orang penyanyi dangdut yang Ia bilang sudah menggoyang blanyika musik dangdut tanah air. Wow... Enggak kalah seksi dari MC ternyata. Dengan baju atasan kuning dan celana gemas warna hijau. Tema apa ini? Kok agak gonjreng ya?


"Mari kita perkenalkan satu persatu personil Trio Singa! Mbak yang rambutnya belah pinggir yang berdiri juga di pinggiran silahkan memperkenalkan groupnya!" MC pun memberikan Mic satu persatu untuk para personil Trio Singa.


"Selamat siang semua! Kami dari...."


"Trio Singa." jawab ketiganya kompak.


"Saya Jasmin."


"Saya Dewi."


"Saya Vio."


"Akan menghibur anda semua. Siap menghentak panggung dangdut acara hajatan super megah ini! Jangan lupa, siapkan uang saweran anda!" ujar Jasmin.


Perhatianku teralih pada Ibu. Ia terlihat sedang menghadang jalan Bapak. "Bapak mau kemana?"


"Mau ikutan nyawer lah Bu. Seksi-seksi itu penyanyinya. Enggak salah pilih deh Bapak. Mantap pilihan Bapak."


"Eh awas ya coba-coba! Bikin malu di acara Maya nanti puasa sebulan!" ancam Ibu.


"Yah... sebulan. Seminggu aja Bapak bingung. Yaudah deh Bapak joged disini aja." Bapak pun kalah dengan ancaman Ibu.


Aku menyunggingkan seulas senyum melihat ulah Bapak. Tak jauh beda di sisi lain Papa pun sedang bertengkar dengan Mama Lena. Papa sepertinya juga mau ikutan nyawer tapi Mama Lena ngambek dan akhirnya membatalkan niatnya.


"Kenapa? Mau ikutan nyawer juga?" aku menatap tajam pada Leo.


"Ya enggak lah. Aku mah sukanya musik jazz. Mana suka dangdut. Sorry lah ya." aku bisa bernafas lega karena Leo enggak ikut-ikutan seperti mertua dan Papanya. Huft...


"Baiklah. Mari kita sambut Trio Singa yang akan membawa lagu berjudul Jagung Rebus."


Tepuk tangan penonton riuh saat musik dangdut mulai menggema. Ketiga penyanyi dangdut itu berjoget lincah bak bola bekel.


🎶Ketika dibuka bajunya, kelihatan bulunya


Idih, idih, terlihat pula bijinya


Bentuknya ada yang panjang, juga ada yang pendek


Idih, idih, tapi banyak yang suka


Bang, boleh dong, aku nyobain bang


Bang, boleh dong, ku pengen ngerasain


Ketika dibuka bajunya, kelihatan bulunya


Idih, idih, terlihat pula bijinya


Kayanya sih enak betul


Kayanya sih sedap betul


Apalagi dikasih


Duh abang, terima kasih


Kumau yang itu saja


Masih segar dan masih muda


Masih manis rasa di lidah


Jagung rebus, aduh enaknya🎶 *

__ADS_1


"Lagu apaan itu?" tanyaku yang memang belum pernah mendengarnya.


"Tadi kata penyanyinya sih Jagung Rebus. Bisa ya bikin lagu jagung rebus dengan lirik kayak gitu ha...ha...ha..." Leo tertawa mendengar lirik lagu yang terdengar nyeleneh itu.


Aku hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Apalagi saat melihat Bapak dan Papa yang ikutan berjoged di tempat. Hadeh...


Aku tak bisa melihat lebih lama acara dangdut yang heboh itu, karena tamu undangan kembali berdatangan. Malah semakin banyak.


Suara musik yang kencang membuat para tamu ingin melihat langsung artis dangdut ibukota yang terkenal itu. Joged pun makin hot saja. Ada yang jongkok dibawah sebagai kuda-kuda sedang yang lain menaruh satu kakinya diatas tubuh temannya yang jongkok sambil bergoyang uget-uget bak ulet bulu.


Mataku menatap seseorang yang baru datang namun belum menyalamiku sudah berjoged duluan ke depan panggung. Dengan baju tunik warna pink Ia maju dan mulai berjoged.


Ya, siapa lagi kalau bukan Bu Sri si Duo Julid. Kalau ada Bu Sri pasti ada Bu Jojo juga. Mereka berdua asyik berjoged padahal belum bersalaman denganku. Dangdut benar-benar mengalihkan perhatian duo ibu-ibu itu.


Kalau ada Duo Julid pasti ada sahabatku tersayang, Adel. Dan benar saja, Adel sedang berjalan menghampiri singgasanaku.


Ia mengenakan kebaya dan rok pendek batik. Rambutnya di kepang di sisi kiri dan kanan lalu diikat ke tengah. Sederhana namun terlihat cantik.


Adel jauh lebih kurus sejak terakhir kami bertemu. Atau mungkin saat bertemu di Majestyk dulu aku tak memperhatikan karena Ia mengenakan jaket besar?


"Maya." Adel tersenyum ke arahku. Menyalami Mama dan Papa Dibyo terlebih dahulu baru menghampiriku dan memelukku erat.


"Adel... Ya ampun kamu kurus banget. Diet ketat nih pasti!" aku langsung mengomeli Adel. Itu adalah bentuk kasih sayangku padanya dan Ia tahu itu.


"Enggak kok. Kecapekan aja makanya enggak nafsu makan." jawab Adel beralasan. Adel lalu menyalami Leo. "Selamat ya Yo. Jangan sia-siain sahabat aku lagi ya. Semoga ini menjadi pernikahan terakhir kalian dan awet sampai maut memisahkan aamiin."


"Aamiin. Tenang aja Del. Dalam hati Leo hanya ada Maya seorang." gombal Leo.


"Iya... Iya.... Tau deh. Pokoknya jagain baby utun ya. Harus sehat baby utunnya." Adel mengusap lembut perutku. Kok dia bisa tahu ya kalau aku hamil. Sejak di Majestyk Ia sudah tau kalau aku hamil. Heran.


Saat Adel hendak turun aku menghentikan langkahnya. "Tunggu sebentar Del. Tuh ada Kak Rian." aku menunjuk Kak Rian yang berdiri sedang menatapku dan Adel. Kak Rian melambaikan tangannya.


"Iya. Tadi aku sempat melihat Kakak kamu. Masih jutek aja kayak dulu." Adel hendak turun lagi namun aku cegah.


"Tunggu sebentar. Aku kenalin dulu sama Kakandaku. Kan aku udah janji. Tuh Kakanda lagi bawain aku minum. Perhatian dia orangnya."


Richard membawa beberapa air mineral gelas dan membagikannya pada kami yang diatas singgasana. "Kakanda, kenalin. Ini teman Maya. Adel."


"Richard. Panggil aja Icad." Kakanda mengulurkan tangannya.


"Delima. Panggil aja Adel." Adel menyambut uluran tangan Kakanda.


Perhatianku terhadap Adel dan Kakanda terpecah manakala Bu Sri dan Bu Jojo menyalamiku lalu memelukku penuh kasih sayang. Ah.... Aku juga sayang mereka. Tanpa mereka aku tak tahu bagaimana hidupku jadinya.


Tamu pun datang silih berganti. Datang dan pergi. Tanpa terasa sudah menjelang malam. Dangdut pun dihentikan. Penyanyi dangdut yang super heboh itu sudah pulang dengan banyak uang saweran.


Malam hari waktunya layar tancep. Sudah ada anak-anak kecil yang duduk sambil menggelar karung atau koran bekas. Semua duduk rapi menanti hiburan rakyat yang sudah jarang sekali itu.


Film Benyamin Biang Kerok pun diputar. Film yang legend namun tak pernah bosan dilihat sepanjang masa. Terdengar beberapa kali penonton tertawa akan cerita tersebut. Aku tersenyum melihat kebahagiaan semua yang hadir.


Tamu mulai berkurang. Aku pun kembali ke kamar. Melepaskan sanggul yang membuat kepalaku pegal.


Mandi air hangat membuatku terasa lebih segar. Aku mengganti bajuku dengan baju yang lebih nyaman dipakai. Tak ingin keluar kamar lagi. Pegal.


Tak lama Leo yang sudah selesai mandi pun membaringkan tubuhnya di sampingku. Ia juga terlihat lelah dengan prosesi hari ini.


"Alhamdulillah ya... Walau kita sempat kandas namun kita masih saling cinta setelah perceraian kita yang menyakitkan itu. Semoga kita akan terus saling cinta sampai maut memisahkan. Aku sayang sama kamu May. I love you." Leo mencium keningku dengan lembut.


"Aku juga sayang kamu, I love you too." aku balas mencium pipi Leo. Dan kami pun tertidur dengan Leo yang memelukku erat.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=TAMAT\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*****


Terima kasih semuanya sudah setia menemani novel ini sampai tamat. Hatur nuhun thank you so much....


Terima kasih kepada semua yang dukung aku baik dari vote, like, komen, hadiah dan tips tentunya. Love banget sama kalian....


Cinta setelah perceraiannya Leo-Maya dan Dibyo-Lena sudah selesai tapi nanti aku buat bonus chapternya.


Untuk cerita Adel-Richard-Rian kita pindah ke novel aku judulnya Delima ya kayak gini;



Masih ada Duo Julid dan Trio Buntungers disana. Dont worry ya.


Baca juga karya aku yang lain. Yang udah tamat dan enggak pindah tempat lain ya. Ada Namaku Ayu, Pernikahan Keduaku, Warm your heart, Bermuka dua dan Insidious versi real (Ini memang belum kelar ya, males he...he..he...)

__ADS_1


Sekali lagi makasih banyak semuanya. Geng jagung, teman teman aku yang vote, pokoknya makasih semuanya... Love you..... 😘😘😘


__ADS_2