Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Adel


__ADS_3

Senyumnya mengembang kala memanggil namaku. Dua lesung pipinya ikut terlihat, menambah manis saja wajahnya.


Adel, sahabatku sejak kuliah. Namun ternyata aku sudah jauh mengenal dia sebelumnya. Tepatnya saat kami kecil dulu.


"Maya!"


Sambil berlari kecil dan tersenyum lebar Ia menghampiriku. Hampir saja aku terlonjak kegirangan jika tidak ingat pesan Leo untuk hati-hati.


Ya, Leo beranggapan aku hamil. Aku mengamini saja perkataannya. Toh aku juga senang kalau memang aku hamil.


Membayangkan di dalam perutku ada kehidupan lain, rasanya senang. Maka meskipun tadi pagi aku lupa melakukan testpack, aku tetap hati-hati dan berpikir dalam perutku ada nyawa yang harus aku jaga.


Biarlah kali ini Adel yang berlari menghampiriku. "Maya!" Adel langsung menubruk tubuhku dan memelukku erat.


"Adel Sayang.... Enggak nyangka bakalan ketemu kamu disini!" aku balas memeluk Adel.


Bagai Teletubbies yang saling berpelukan. Aku Lala dan Adel jadi Po. Mama Lena sampai heran melihat kelakuan absurd kami berdua.


"Kangen May!" ujar adel setelah melepaskan pelukannya dan menyubit pelan pipiku.


"Aku juga." aku balas mencubit hidungnya yang bangir em kalau bahasa Indonesianya sih mancung.


"Kamu lagi apa disini?" Adel baru menyadari kalau aku tidak pergi sendirian, tapi ada Mama Lena yang menemani.


"Kenalin dulu, Del. Ini Mama Lena. Mama mertuaku." Aku menggandeng tangan Mama dan mengenalkannya pada Adel. "Ma, ini Adel sahabatku."


"Lena."


"Adel."


Dengan sopan Adel mencium tangan Mama Lena sambil menyunggingkan senyum.


"Aku lagi beli bahan untuk baju seragam saat acara pernikahanku nanti." aku menjelaskan tujuanku datang ke Majestyk pada Adel.


"Ih senangnya! Buat aku ada enggak?" Adel menengadahkan tangannya dan kuberikan bahan yang memang sudah kusiapkan untuknya.


"Nih! Pokoknya harus nginep ya di rumah aku sehari sebelumnya!"


"Siap."


"Eh kamu lagi ngapain disini? Sama siapa?" aku celingukan mencari siapa yang menemani Adel hari ini.


"Sendirian aja. Aku mau makan Padang Sepakat di dalam ruko sana." Adel menunjuk deretan ruko di belakangnya.


"Memangnya enak?"


"Enak, May! Makanya aku bela-belain kesini sendirian."


"Boleh tuh May kapan-kapan kita kesini lagi. Kamu ikut juga ya Del." Mama Lena yang sejak tadi hanya menyimak obrolan kami ternyata juga ikut bergabung.


"Siap, Tante." Adel mengacungkan jempolnya. "May, maaf ya aku enggak bisa bantu banyak permintaan kamu. Kalau aku pakai jalur belakang nanti malah lebih bahayain kamu."


Mama Lena mengernyit mendengar percakapanku dengan Adel. Pasti Ia bingung apa maksud jalur belakang yang Adel katakan.


"Enggak apa-apa, Del. Kamu udah cukup membantu kok. Masalah Pak Johan udah selesai tadi pagi. Makanya aku bisa jalan-jalan siang sama Mama Lena kayak gini." kataku dengan bangganya.


"Enak banget May jadi kamu! Walau aku iri tapi aku senang kok melihat kamu bahagia. Doaku untuk kebahagiaan kamu tak pernah lupa kupanjatkan." Adel berkata sambil merapihkan anak rambutku yang beterbangan dan menyisipkannya di belakang telingaku.


"Adel sayang banget ya sama Maya." Mama Lena tersenyum melihat kedekatakanku dengan Adel dan bagaimana cara Adel menyayangiku.


"Sayang banget Tante. Adel mau melihat Maya terus bahagia kayak sekarang." ucap Adel dengan penuh ketulusan.


"Kamu beruntung May memiliki sahabat sepertj Adel." puji Mama Lena.


"Justru aku beruntung Tante bisa kenal Maya." Adel malah balik memujiku.


"Ma, mau punya menantu kayak Adel enggak? Nanti aku jodohin sama Kakanda. Gimana?"


"Ih Maya! Kebiasaan deh kamu! Selalu jodohin aku sama semua orang." cara Adel merajuk begitu menggemaskan. Membuatku mencubit pipinya yang chubby.


"Adelnya mau apa enggak, May? Mama sih setuju-setuju saja!" Mama Lena memang enak diajak kerjasama. Apalagi dalam upaya menjodohkan Kakanda dengan Adel.

__ADS_1


"Tuh Del! Restu Mama udah didapat. Tinggal eksekusi aja langsung. Ketemu sama Kakanda." aku kembali mengompori Adel.


"Maya ih... Udah ah aku sudah harus balik ke kantor. Nanti aku diomelin atasan aku lagi!" Aku dan Adel saling cipika-cipiki sebelum berpisah.


"Aku balik duluan ya Tante. Senang berkenalan dengan Tante. Titip kesayangan aku ya Tante. Kalau nakal nanti Tante jawil saja!" Adel menggamit tangan Mama Lena dan salim padanya.


"Ih aku mah anak baik tau. Enggak nakal lagi!" kataku membela diri. "Kamu hati-hati di jalan."


"Iya. Jagain si Utun keponakanku ya." pesan Adel sebelum menghilang dan masuk ke dalam mobilnya.


"U-Utun? Utun itu apa?" aku tak mengerti apa perkataan Adel.


"Utun itu maksudnya jabang bayi. Memangnya kamu lagi hamil May?" Mama Lena agak kaget mendengar informasi yang baru didengarnya.


"Belum tau Ma. Belum cek. Itu Adel kok bisa tahu ya? Apa dia cenayang? Aku enggak pernah cerita kok tuh anak bisa menduga ke arah situ ya?" kataku sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tak gatal tersebut.


"Gimana kalau kita langsung periksa saja May ke dokter?"


"Periksa apa Ma? Periksa Adel cenayang apa bukan? Memangnya dokter bisa tau gitu Ma?"


Mama Lena menggelengkan kepalanya mendengar rentetan pertanyaanku. "Ck...ck. .ck... Maya... Maya... Periksa kandungan kamu, Sayang. Untuk apa juga Mama periksa teman kamu cenayang atau bukan? Ada-ada saja kamu!"


"He...he...he... Kirain." Baru saja aku mau mempertimbangkan ajakan Mama, dering ringtone menyebalkan itu berbunyi lagi.


🎶 Idih papa genit


suka ciumin mama🎶


"Ya ampun! Kenapa lupa terus ya mau ganti nih ringtone!" aku menepuk keningku.


"Ada-ada aja ringtone kamu, May. Cepat angkat! Takut penting!"


Aku melihat siapa yang menelepon. Ternyata Leo.


"Kenapa Sayang?"


"Sudah jam 1 lewat nih! Kamu kenapa belum balik ke kantor?"


"Iya. Ini mau balik. Tadi aku ketemu Adel dan ngobrol sebentar dengannya. Eh Mama baru saja ngajak aku ke dokter untuk periksa, kamu sudah telepon!"


"Kamu mau periksa apa di dokter? Memangnya kamu sakit?" terdengar nada khawatir dalam suara Leo.


"Bukan untuk itu. Aku mau periksa ke dokter kandungan. Tapi karena kamu nyuruh aku balik ke kantor enggak jadi deh."


"Loh? Kalau ke dokter kandungan aku kasih ijin lah Sayang."


"Enggak usah deh. Aku takut nanti malah jadi rumor. Kamu baru menjabat jadi Mr. So sehari, aku nanti dibilang udah banyak gaya!"


"Siapa yang berani ngomong gitu sama kamu? "


"Belum ada Sayang. Ih kamu belum apa-apa udah emosian aja! Udah ya aku mau pulang dulu. Aku bawain kamu makanan nih. Mau aku antar ke ruangan kamu atau di ruangan Audit aja?"


"Di ruanganku aja. Biar kita bisa mesra-mesraan dulu gitu kayak di film-film."


"Ih apaan sih!"


Ehem.... Suara deheman Mama menyadarkanku kalau ada yang sejak tadi menungguku teleponan dengan Leo.


"Udah ya Sayang. Mama nungguin nih. Luv you."


Aku menutup teleponku dan menggandeng tangan Mama menuju lobby. Tempat Mama sudah menghubungi supirnya untuk menjemput kami berdua.


"Beneran kita enggak jadi mampir ke dokter kandungan nih May?" tanya Mama Lena setelah kami sudah berada di dalam mobil.


"Iya, Ma. Enggak enak sama suasana kantor. Aku takut dianggap pamer, baru saja Leo mengungkapkan jati dirinya eh aku udah seenaknya keluar masuk kantor tanpa memperdulikan jam kerja."


"Ternyata kamu memperdulikan Leo sampai sebegitunya ya May? Wah Mama pikir kamu orangnya cuek loh." Mama Lena mungkin belum mengenalku lebih jauh.


"Aku sama Leo, kita berdua memulai semuanya dari nol, Ma. Aku tahu bagaimana perjuangan Leo agar bisa mendapat kepercayaan Papa seperti ini. Dan sebagai istri yang menyayangi suaminya, aku harus mendukung Leo dan menjaga nama baiknya."


Mama Lena tersenyum dan mengelus rambutku. "Leo beruntung banget ya memiliki kamu, pantas saja sejak dulu Leo begitu keukeuh mempertahankan kamu. Andai Richard juga menemukan jodohnya sebaik kamu, May. Mama pasti akan tenang."

__ADS_1


Sekarang gantian aku yang tersenyum. Aku harus menguatkan Mama dan memberinya dukungan. "Pasti Kakanda akan menemukan jodoh yang baik juga, Ma. Kakanda kan baik."


"Bisa aja kamu mujinya. Ya walau agak sombong, Mama akui kalau Richard tuh anaknya mudah bergaul. Tapi satu ketakutan Mama, Mama takut Ia terjerumus lagi ke obat-obatan. Dua kali rehabilitasi bukan hal yang mudah. Mama takut Ia kembali lagi ke dunianya dan mulai menggunakan obat-obatan lagi." Mata Mama Lena memanas. Ada air mata yang menggenang di pelupuk matanya, yang sejak tadi Ia tahan.


Bagaimanapun Mama Lena adalah seorang ibu. Ia sangat menyayangi Richard. Anak kebanggaannya. Anak pintar peraih banyak medali emas.


Entah sejak kapan hidup Richard mulai melenceng dari jalurnya. Pergaulannya yang bebas. Kehidupan malamnya yang seakan tak ada garis pembatas.


Sampai Tuhan akhirnya memberi cobaan bertubi-tubi kepada keluarga mereka. Papa dipenjara, Mama minta cerai, Leo digugat cerai dan Richard.... semakin terjerumus dalam kegelapan.


"Mama masih khawatir May sampai sekarang. Mama yang dulunya meragukan Leo karena tak sepintar Richard eh sekarang malah banyak berutang budi pada Leo. Dan Richard yang dulu selalu Mama banggakan malah menyia-nyiakan hidupnya." Mama Lena membuang pandangannya. Menatap ke luar jendela dengan nanar.


"Ma, Kakanda sudah lebih baik sekarang. Mama harus memberinya kepercayaan. Dan yang terpenting adalah Mama memberikan Kakanda kenyamanan."


"Kenyamanan?" Mama mengalihkan pandangannya dari jendela dan menatapku penuh kebingungan.


"Iya. Kenyamanan. Mama tau apa yang membuat Richard dan Leo mencari kenyamanan di tempat lain? Leo mencarinya pada diriku dan Richard mencarinya di dunia malam."


Mama menggelengkan kepalanya.


"Karena mereka tidak pernah mendapatkan kenyamanan di dalam rumah mereka sendiri. Leo bercerita kalau pertengkaran Mama dan Papa membuatnya merasa kalau di rumah bagaikan di neraka."


"Tapi Mama dan Papa sudah tidak pernah bertengkar lagi." Mama mengelak perkataanku.


"Maya tau Ma. Karena itu Richard dan Leo kembali menjalankan hidupnya dengan benar. Yang perlu Mama lakukan sekarang adalah menjaga kenyamanan mereka selama di rumah. Maya percaya, Kakanda tidak akan kembali ke dunia gelapnya karena percaya dengan kasih sayang Mama dan Papa padanya. Mama harus mensupportnya. Biarkan Ia memilih jalannya sendiri."


Mama mengangguk. Mengiyakan setiap perkatanku. Bukan aku berniat menggurui. Namun siapapun bisa memberi masukan kan?


Sesampainya di lobby, Mama hanya mendropku dan langsung pulang ke rumah. Alasannya mau memasak makan malam untuk kami makan bersama. Ucapanku ternyata membekas di dalam diri Mama. Setidaknya Mama akan mengurangi hobby shoppingnya dan mulai mengurus keluarganya mulai sekarang.


Aku memasuki kantor dengan pandangan yang berbeda dari setiap orang. Setelah aku melewati biasanya mereka akan berbisik-bisik. Saat berpapasan mereka akan mengangguk hormat.


Sepertinya gosip kalau aku adalah istri Mr. So, pemimpin Kusumadewa Group sudah beredar luas. Pandangan penuh hormat kudapatkan dalam sekejap.


Siapa yang sangka, Maya si kacung kampret yang dulu saat susah pernah nyolong sosis dari anak kecil sekarang menjadi istri dari pemimpin Kusumadewa Group. Rasanya hidup aku jungkir balik bak naik roller coaster.


Aku memutuskan untuk balik ke ruangan terlebih dahulu sebelum menghampiri Leo. Di ruangan Kak Anggi dan Kak Fahri seakan tak peduli jika aku mau datang telat. Siapa yang berani melawan istri Mr. So?


"Maaf Kak aku agak telat." aku masih punya rasa malu. Aku merasa tak enak karena datang telat. Untung saja tadi aku tak menuruti permintaan Leo untuk periksa ke dokter kandungan. Bisa-bisa digosipin orang satu kantor jika aku bertindak seenaknya.


"Enggak apa-apa May. Tadi Pak Leo udah kasih kabar kok. Katanya Maya lagi pergi sama Mamanya Pak Leo. Santai saja May." jawab Kak Fahri.


Justru jawaban Kak Fahri yang bikin aku enggak bisa santai. Kak Fahri kan sekarang atasan aku. Mentang-mentang aku istrinya Leo kesannya aku tidak taat peraturan.


"Hmm... Maya bawa ini buat cemilan. Nanti dimakan ya Kak." aku meletakkan bungkusan berisi kue cubit dan lekker.


"Wah ada lekker! Makanan legend nih! Kamu dari mana sih May?" dengan santainya Kak Anggi mencomot makanan yang kubawa dan memakannya. "Beb, kamu cobain deh. Enak tau."


Beb? Bahkan Kak Anggi cuek saja memanggil Kak Fahri dengan sebutan 'Beb' di ruangan ini. Sepertinya mereka salah satu yang senang dengan lengsernya Pak Johan dari perusahaan ini.


"Enggak usah kaget gitu, May! Jangan anggap saya atasan kamu. Kita tuh satu team. Saya enggak mau kepemimpinan saya otoriter." Kak Fahri mencomot kue lekker sesuai rekomen Kak Anggi.


"Saya tau tadi kamu pergi sama mertua kamu kan? Enggak usah merasa enggak enak gitu. Lagi juga kita masih sepi, jadwal audit belum keluar. Itu buat siapa?" Kak Fahri menunjuk makanan yang ada di atas mejaku.


"Mm... Buat Leo, Kak."


"Yaudah kenapa enggak kamu anterin aja? Nanti kelamaan udah enggak hangat lagi makanannya. Sana samperin suami kamu. Kita juga mau suap-suapan ya Beb. Mumpung belum ada anak baru. Aku masih belum jaim gitu." dan Kak Fahri beneran menyuapi Kak Anggi lekker dengan romantis.


"Kayaknya aku ke ruangan Leo aja deh Kak. Daripada jadi obat nyamuk. Aku pamit dulu ya." Aku membawa kantong plastik berisi kue lekker, pukis dan kebab AB ke ruangan Leo.


****


Hi semuanya....


Kangen ya sehari tanpa Leo dan Maya?


Maaf ya aku lagi agak sibuk. Hari ini aku usahain Up 2 Bab. Jangan lupa kencenging votenya ya. Hmm.. Mau 800 vote boleh 😁???


Ini cara ngevote untuk yang belum tau ya. Jangan lupa follow My Ig : Mizzly_ karena aku akan kasih bocoran tentang sesuatu yang masih rahasia 😁😁😁


__ADS_1


__ADS_2