Cinta Setelah Perceraian

Cinta Setelah Perceraian
Diawali Dengan Segelas Milo


__ADS_3

Langkahku sudah sampai di kamar tidur ketika aku ingat kalau aku enggak punya stok Milo. Bukan enggak punya juga sih, memang kan aku jarang minum Milo. Dulu nyetok karena Leo suka.


Dengan malu-malu aku kembali lagi ke ruang tamu.


"Kenapa balik lagi?" tanya Leo.


"Hmm... Aku mau beli susu Milo dulu ya di warung Pak Husin."


"Enggak usah!" Leo menyerahkan plastik lain yang Ia bawa. "Aku udah beli. Sengaja buat stok."


Aku menerima plastik yang Leo berikan. Isinya susu kental manis dan satu kardus Milo ukuran 1 Kg.


"Banyak banget."


"Kan aku udah bilang. Buat stok. Jadi kalau aku mau minum Milo tinggal ke kontrakkan kamu aja." ujar Leo sambil mengganti-ganti channel TV sesuka hatinya.


Aku masih diam mencerna perkataan Leo. Kalau Leo mau minum Milo tinggal minta dibuatkan sama aku. Kok kayak ada yang janggal ya?


Jadi... Jadi maksudnya tuh aku kayak Starling alias Starbuck Keliling yang biasanya naik sepeda muter-muter area GBK sambil bawa termos air panas gitu? Oh My God!


"Kenapa malah bengong? Udah cepetan bikinin. Nanti martabaknya dingin nih!" ujar Leo membuyarkanku yang asyik dengan pikiranku sendiri.


"Iya... iya..." ujarku bersungut-sungut namun tetap saja kukerjakan.


Aku pergi ke dapur dan membuatkan Milo kesukaan Leo. Sisa Milo kumasukkan ke dalam Tupperware agar tidak disemutin. Sementara susu SKM aku masukkan ke dalam kulkas.


Aku kembali ke ruang tamu dengan membawa nampan berisi susu Milo untuk Leo, piring kosong untuk martabak dan juice kemasan rasa lecy untukku.


"Nih. Sesuai request." aku meletakkan mug berisi susu Milo kesukaan Leo.


"Nah gitu dong. Kalau suami request dibuatin." jawab Leo cengengesan.


"Mantan yes... Bukan suami lagi. Tapi udah mantan." ralatku.


"Ah bentar lagi juga jadi suami lagi." sahut Leo penuh percaya diri.


"Sok tau. Emang kamu dukun, bisa tahu masa depan?" Aku membuka plastik pembungkus martabak dan menaruhnya diatas piring. Biar rapi dan menggugah selera. Kalau di kotaknya kadang membuat kurang selera makan karena terlihat benyek.


Leo mengambil mug dan menyeruput susu Milo sedikit karena masih panas. "Panas."


"Namanya juga air baru matang. Ya panaslah." jawabku.


"Sengaja banget sih! Kasih aku susu Milo pakai air panas biar aku lama ya pulangnya." goda Leo.


Baru saja aku mengikat sampah kardus martabak dalam plastik. Mendengar perkataan Leo membuatku reflek melempar plastik sampah tersebut ke arahnya.


Melihat reaksiku Leo tertawa terbahak-bahak. "Pundungan banget sih?"


Leo mengambil sepotong martabak rasa cokelat dan memakannya. Entah kenapa kalau Leo makan sesuatu siapapun yang melihatnya langsung ikut tergoda untuk makan juga.


Aku lalu mengambil martabak rasa keju. Leo memang biasa membeli martabak dua rasa. Setengah keju dan setengah lagi cokelat. Sesuai selera kami yang berbeda. Aku suka keju dan Leo suka singkong, loh kok kayak lirik lagu? Maksudnya Leo suka cokelat gitu.


"Kenapa malam-malam begini datang kesini? Enggak ngapel aja di rumah Ana. Enak loh anak perawan diapelin malam-malam! Keluarganya pasti seneng deh kedatengan calon mantu."


Padahal niatku hanya mau nanya kenapa datang malam-malam namun mulutku nyerocos tak karuan. Malah membuat Leo mengu lum senyumnya.


"Tau dari mana Ana masih perawan? Kalau kata aku mah udah enggak perawan lagi! Perawan kok agresif banget kayak enggak bakalan laku aja!" jawab Leo santai sambil menyeruput susu Milo.


"Hush! Sok tau! Jangan ngomong negatif gitu ah. Nanti jatuhnya fitnah!" omelku.


"Bukan sok tau. Aku kan pernah ngambil keperawanan kamu, May. Jadi aku bisa bedain mana gadis yang masih perawan mana yang enggak. Kalau masih perawan tuh malu-malu kayak kamu dulu. Ciuman aja belum pernah. Lah ini si Ana ngebet banget pengen aku anterin pulang. Eh ternyata di rumahnya enggak ada orang, gak tau deh ngerencanain apa tuh anak. Aku langsung cabut aja."


"Yang bener?" tanyaku tak percaya mendengar pengakuan Leo.


"Bener. Di rumahnya gelap enggak ada orang. Dia bilang orang tuanya lagi ke Jawa. Dia maksa aku mampir. Aku langsung pulang aja." jawab Leo dengan jujur.


"Iya. Takut khilaf ya?" sindirku.


"Enggaklah. Ana mah bukan type aku. Kalau kamu tuh kayak gitu udah aku sikat!"


"Sikat... Sikat aja emangnya aku WC apa?"


"Ha...ha...ha..." Leo malah tergelak mendengar perkataanku.


"Terus Ana pasrah aja gitu kamu langsung pulang? Enggak mancing-mancing gimana gitu?" tanyaku penasaran.


"Ya masih usaha lah May. Alasannya temenin sebentar soalnya takut sendirian. Cih mana aku percaya?"


"Iyalah Buaya Buntung mau dikadalin. Mana mempan ya gak?" sindirku.


"Ha...ha...ha... Sebentar lagi kamu yang baper nih. Dari tadi nanya-nanya padahal mah dalam hatinya jealous berat. Bener gak?"


"Enggak tuh. Biasa aja." kataku jaga gengsi.


"Maca cih? Tadi buktinya agak males pulang sama Aldi. Maunya dianterin aku, iya kan?" ledek Leo.


"Ih ge er. Males aja ganti-ganti Kang Ojek." kataku beralasan.


"Soalnya Kang Ojek yang pertama lebih ganteng ya?"

__ADS_1


Aku membuang pandanganku karena tak tahan menahan senyum. Susah loh sok cool padahal dari tadi udah melayang ke langit ke tujuh karena di gombalin Leo.


Aku mengambil martabak keju kedua dan memakannya. Ternyata martabaknya enak... hiks... mureh banget ya aku sama martabak aja luluh...


"Tadi kenapa pegang tangan aku?" tanya Leo. Kali ini dengan nada serius enggak cengengesan seperti biasa.


"Nahan sakit perut." kataku beralasan.


"Bohong!"


"Bener." aku masih tak mau ngaku.


"Kalau mules tuh pegang batu bukan tangan aku. Hayo ngaku! Bohong kan?"


"Enggak. Beneran mules kok." masih aja aku bohong.


"Masih bohong juga aku cium nih"


"Ih anceman macam apa itu?"


"Ya makanya jujur. Jangan ada yang diumpet-umpetin lagi!"


Aku maju mundur mau jujur atau tidak. Di satu sisi aku gengsi, di sisi lain rasanya harus mencurahkan isi hati.


"Aku... lagi kepikiran aja."


"Kepikiran apa?" tanya Leo sambil mengambil sehelai tissue dan mengelap tangannya yang berminyak sehabis makan martabak.


"Kepikiran kamu."


Reflek Leo menatap wajahku. "Beneran?" tanyanya dengan wajah berbinar-binar.


Aku mengangguk yakin.


"Serius kamu May? Kamu beneran mikirin aku?" tanya Leo lagi tak percaya. "Bukan karena sakit perut?"


"Iya. Enggak percayaan bener sih. Aku udah jujur tau gak! Ngeselin deh!" mulai ngegas kan aku.


"Sorry... sorry... Bukan enggak percayaan. Tapi ini keajaiban aja bagiku."


"Memangnya aku enggak punya pikiran apa? Aku juga mikirin keadaan kamu tau!" gerutuku sebal.


"Bukan gitu Maya Sayang.... Kamu mikirin aku kenapa?" tanya Leo dengan nada lembut. Membuat aku enggak jadi ngambek deh.


"Aku selama ini ngerasa kalau aku tuh udah paling berat masalahnya. Udah paling menderita. Tapi setelah tadi ke rumah kamu aku baru sadar sesuatu. Kalau yang punya masalah dan penderitaan bukan aku aja, tapi kamu juga,"


"Aku selama ini udah menganggap kalau aku yang paling menderita. Aku yang paling banyak masalah. Menganggap kalau cobaan karena kehilangan Adam sudah paling berat tapi ternyata ada kamu yang lebih berat lagi penderitaannya."


"Tapi masalah kamu lebih berat. Papa kamu dipenjara, Mama kamu nuntut cerai, Kakak kamu ditangkap narkoba, istri nuntut cerai dan anak.... anak kamu meninggal. Itu bukan triple masalah lagi. Dan aku selama ini terus saja mengutuk kamu karena kehilangan Adam, padahal kamu enggak tau kalau Adam udah enggak ada. Aku udah egois. Egois banget!" kataku sambil sesegukan karena air mata tak bisa kubendung lagi.


Leo mendekatiku dan menarikku dalam pelukannya. Rasa nyaman yang sangat kurindukan. Aku pun merekatkan pelukanku makin erat.


Biarkan.... biarkan aku bersandar kali ini aja. Biarkan aku melepaskan semua penatku...


"Sst.... Jangan begitu. Aku enggak apa-apa kok. Semua masalah yang menimpaku memang sudah jalan takdirku. Kamu enggak perlu menyalahkan diri sendiri." ujar Leo menenangkanku.


"Tapi-" belum sempat aku menyalahkan diri sendiri Leo sudah menghentikanku.


"Sudah ya... Jangan nangis lagi. Aku udah janji di depan makam Adam kalau aku enggak akan buat kamu menangis dan menderita lagi karena aku. Jangan sampai aku mengingkari janji yang kubuat sama Adam ya."


Aku menganggukkan kepalaku. Aku melepaskan pelukanku dan mengambil tissue untuk menghapus air mataku. Sebenarnya aku masih mau dipeluk sama Leo sih tapi mau gimana lagi? Harus jaga image dong!


"Senyum dong!" pinta Leo.


"Orang habis nangis disuruh senyum, gimana sih!" keluhku sambil memanyunkan bibir.


"Kan ada lagunya, habis nangis ketawa makan martabak keju."


"Bukan gitu. Habis nangis ketawa makan gula jawa!" koreksiku.


"Ha...ha...ha... Itu tau." ujar Leo sambil tertawa.


"Ih iseng banget deh!" ujarku sambil memukul pelan dada Leo.


"Ih pegang-pegang! Nanti pengen loh!" ledek Leo lagi.


"Enggak. Siapa yang pengen?" elakku tapi wajah memerahku pasti enggak bisa disembunyikan deh karena Leo kembali tertawa melihat reaksiku.


"Pengen apa emangnya?"


"Au ah!"


"Tuh ngambek lagi kan? Jangan ngambek dong Maya Sayang.... Maksud aku tuh pengen meluk aku gitu."


"Bodo ah. Udah minum Milonya nanti dingin!" kataku seraya menunjuk mug Milo yang masih banyak dan sekarang sudah tidak panas lagi seperti tadi.


"Iya. Nanti nambah ya Milonya."


"Memangnya aku tukang jamu, kalau kurang bisa nambah?"

__ADS_1


"Bisa aja Neng Maya ngeledek Abangnya." ledek Leo di sela menyeruput Milonya. Bukan menyeruput kopi loh tapi nyeruput Milo!


Sedang asyik ledek-ledekkan aku mendengar suara Hp-ku berbunyi.


"Sebentar ya aku ada telepon."


"Iya."


Aku masuk ke dalam kamar dan mengambil Hp-ku yang berbunyi. Penelponnya adalah Ibu. Wah beneran kontak batin nih Ibu sama aku. Tau aja anaknya lagi sama Leo.


Aku : Hallo, Bu.


Ibu: May, kamu lagi apa? Enggak pulang ke rumah?


Aku : Lagi ngobr- maksudnya lagi nonton TV, Bu.


Ibu : Sama siapa?


(Tuh kan feeling seorang Ibu kuat banget! Jangan diremehin loh!)


Aku : Ada Bapak, Bu?


Ibu : Enggak ada. Bapak lagi nongkrong di Kantor RW. Ada apa nanyain Bapak? Ada yang mau kamu ceritain sama Ibu?


Aku : Hmm.... Iya.


Ibu : Kamu lagi dimana? Beneran di rumah lagi nonton TV?


Aku : Bener, Bu. Aku lagi di rumah nonton TV.


Ibu : Sama siapa?


(Tuh kan ketebak lagi. Harus jujur ini mah!)


Aku : Sama.... Leo.


Ibu : Ap... Kamu beneran sama Leo?


Aku : Iya.


Ibu : Kamu ketemuan lagi sama Leo?


Aku : Bukan ketemuan. Tapi kami satu kantor, Bu.


Ibu : Yaudah kamu berhenti kerja saja dan pulang ke rumah!


Aku : Bu... Dengerin dulu...


Ibu : Ibu enggak mau kamu menderita lagi May kayak dulu.


Aku : Aku enggak ada hubungan apa-apa sekarang Bu sama Leo.


Ibu : Iya. Sekarang memang tidak ada hubungan apa-apa, tapi nanti? Sudah sejauh apa hubungan kalian?


Aku : Kami cuma temenan, Bu. Dan Leo... Ternyata Leo enggak tau tentang Adam, Bu. Leo enggak pernah ninggalin Maya seperti yang Maya pikir selama ini. Leo... Maya.... Kami hanya salah paham selama ini, Bu.


Ibu : May, dulu Ibu ngijinin kalian menikah karena berpikir Leo akan membahagiakan kamu. Tapi kenyataannya? Kalian malah bercerai dan kamu sampai keguguran. Ibu sulit untuk menyetujui hubungan kalian lagi, May!


Aku menghela nafas. Air mataku kembali menggenang dan mulai menetes tanpa di komando.


Ibu : Jangan sampai berbuat dosa lagi kayak dulu, May!


Aku : Enggak, Bu. Ibu enggak usah khawatir. Maya enggak akan mengulangi kesalahan Maya yang dahulu lagi.


Ibu : Dan jangan sampai Bapak kamu tahu, May. Kamu sudah tahu kan bagaimana marahnya Bapak kalau mendengar tentang Leo?


Aku : Aku tahu, Bu. Tolong percaya sama Maya ya Bu. Maya enggak akan mengecewakan Ibu sama Bapak untuk kedua kalinya.


Ibu : Ibu memang belum merestui kalian. Tapi Ibu tahu kalau kamu amat mencintai Leo. Dua tahun lebih Angga mendampingi kamu dan tak pernah hati kamu tergerak sama sekali untuk menerima cintanya. Tapi kini kamu bertemu lagi dengan Leo dan kamu semudah itu memaafkan Leo. Kamu benar-benar mencintai Leo, May.


Aku : Bu.... Maya dan Leo udah selesai dan kami hanya berteman saja. Ibu percaya ya sama Maya.


(Terdengar suara Ibu menghela nafas panjang)


Ibu : Ibu percaya kamu, May. Pengalaman sudah mengajarkan kamu arti kegagalan dan kedewasaan. Dan kamu jujur sama Ibu berarti memang kamu percaya sama Ibu. Tapi ingat, jaga diri baik-baik. Jangan mengulang dosa yang sama.


Aku : Iya, Bu. Maya akan ingat pesan Ibu.


Tak lama Ibu pun menutup teleponnya. Lumayan lama juga aku berbicara di telepon.


Leo. Aku menepuk jidatku. Bagaimana bisa aku melupakan keberadaan Leo? Apakah Leo sudah pulang tanpa pamit denganku.


Aku menaruh Hp diatas nakas dan berjalan ke ruang tamu. Kulihat Leo sedang tertidur lelap diatas karpet.


Bagaimana ini? Leo pasti kelamaan nungguin aku teleponan deh. Kasihan sekali.


Bagunin apa enggak ya? Tapi tidurnya terlihat pulas sekali dan aku enggak tega membangunkannya.


Aku melirik ke depan rumah. Motor Leo terparkir di depan rumahku. Aman sih kalau di lingkunganku. Tapi apa kata tetangga ya kalau tahu ada yang nginep di rumahku?

__ADS_1


Ah jadi bingung nih aku harus ngapain?


__ADS_2