
" Gue nggak tau Wan... tapi gue peduli sama dia.. gue nggak tega ngliat dia dijadikan alat untuk menebus hutang bapak nya..." jawab Dika jujur
" Bapaknya aja setega itu... kenapa lu musti sok sok an care..." cibir Wawan
" Jangan jangan lu hanya mau di manfaatin mereka..."
" Apa mbak Mel itu anak pungut kali ya makanya bapaknya tega amat..." celetuk Faisal
" Udah lah Dik jangan hanya karena lu sudah kasmaran ama dia.. lu jadi nggak bisa berfikir waras... lu pikir baek baek lagi... ini mimpi lu.. aset lu...mau lu kasih cuma cuma ke orang..." Wawan terus mencoba menyadarkan Dika
" Tapi keputusan gue udah bulat Wan... gue tetep akan kasih bengkel ini sebagai jaminan kebebasan Melisa... habis itu gue bakal bawa dia pergi jauh... agar dia aman..."
Wawan hanya bisa geleng geleng, keputusan temannya ini tak bisa di ganggu gugat lagi
Apa boleh buat, biarkan Dika menentukan jalan hidupnya.
Selepas Wawan dan Faisal pamit pulang, Dika duduk termenung dikursi panjang tempat biasanya para pelanggan setianya menunggu,
Wawan benar... bengkel ini adalah mimpinya, aset paling berharga dalam hidupnya, tiap sudut bengkel seolah nyawa yang bernafas atas keringat dan tangisnya, perjuangan yang sangat sangat tak mudah untuk sampai dititik ini, mengingat dia dulu harus memulai dari nol, tertatih sendiri dan hanya Wawan sahabat terbaiknya yang selalu mendukung dan mensuport nya
Tapi Melisa...
Dika merasa dia bertanggungjawab atas gadis itu, dia tak rela jika gadis itu hidup dibawah kungkungan lelaki bejad seperti Gani, bandot tua yang tak tau diri
Belum lagi ayah Melisa, mengapa dia setega itu menjadikan anaknya sebagai jaminan hutang nya...
Dika mendengus kesal, keputusannya sudah bulat, dan sebagai lelaki dia akan memegang ucapannya sendiri.
***
Di tempat lain..
Setelah Gani berhasil mengambil kembali Melisa dengan menekan dan mengancam ayahnya, Melisa selalu dipaksanya untuk melayaninya, tapi Melisa selalu menolak dan melawan, membuat Gani makin kesal dan marah padanya
Bahkan Melisa sampai diikat digudang, dicambuk dan tidak diberi makan dan minum, konsisi Melisa cukup memprihatinkan
"Hiks hiks hiks..." tangis Melisa antara kelaparan, haus dan lelah
" Hahahaa...kenapa jal*ng...!!! udah menyerah kamu...!!! tak berani melawan ku lagi..." tanya Gani sangar
" Cepat meminta maaf padaku.. mohon ampun..."
" Nggak sudi...!!! aku lebih baik mati ketimbang harus melayani mu lagi bandot tua...!!!" sahut Melisa berani
" Hahahaaa rupanya kamu masih ingin bermain main dengan ku siput ku... baiklah... akan aku ikuti permainan mu... kamu lebih senang disiksa rupanya ketimbang diberi kenikmatan..."
Entah kenapa selama dua hari ini Gani belum juga bisa memaksa Melisa untuk digaulinya, Gani sudah melakuka. berbagai cara tapi Melisa masih tetap bisa melawan hingga Gani kewalahan dan kesal
Yaahhh seperkasa apapun sibandot tua itu, dengan badan nya yang gempal dan perutnya yang membuncit jelas tenaga nya akan cepat kelelahan apabila Melisa terus menberontak, alhasil Gani akan cepat ngos ngosan dan meninggalkan Melisa dengan diikat di gudang
Tetapi entah sampai kapan ini akan berhasil, sebab tenaga Melisa juga sudah mulai habis, dua hari disiksa, nggak makan dan nggak minum tentu menbuatnya dehidrasi dan kelelahan, jika dia lelah dan lemah maka tamatlah sudah riwayatnya
Gani akan menjadikan nya pemuas ***** bejad nya
Melisa merutuki diri, menghujat hidup yang tak ramah padanya,
Kenapa dia harus kembali ke tempat terkutuk ini... merasakan luka ini lagi...
Padahal kemarin secerca harapannya hampir hidup lagi, saat dia bersama Dika
Ahhh laki laki manis dan lembut itu
__ADS_1
Melisa sangat merindukannya..
Thoookkk tookk
Pintu Rumah Gani di ketok keras, lebih tepatnya seperti di gedor gedor
Gani yang tengah mengisap putung rokoknya menilik dengan bengis
" Gani...!!! Gani...!!!" suara pak Marjo ayah Melisa terdengar memanggil nama si bandot tua dengan tegas
" Marjo... mau apa lagi dia..??? mau minta duit lagi...???" telaah Gani
" Lihat istriku.. ayah mu yang mata duitan itu datang kemari lagi... pasti dia mau minta duit lagi padaku... dengan jumlah yang lebih besar... karena dia pikir kamu sudah kunikmati setiap hari..." cibir Gani pedas
" Maka nya jangan menolak ku kalau aku mau genjot kamu.... anggap saja itu bayaran untuk uang ku yang di makan ayah mu..."
Melisa hanya bisa meratap, menggigit bibir bawahnya nyeri,
Sakit sekali dikatai seperti itu, bagaikan tubuh ini adalah jajanan tak berharga, dan ayahnya yang menjajakan dirinya pada bandot tua ini
" Ayo keluar... hapus air matamu itu...." Perintah Gani sambil melepaskan ikatan di badan Melisa
" Ingat... jangan berani kabur atau Marjo ku bunuh...!!!" Ancam Gani penuh penekanan
Melisa hanya menurut dia tak bisa berbuat banyak untuk menyelamatkan dirinya, atau dia harus mengorbankan ayahnya, lalu segera menyusul Gani menemui ayahnya
" Ada apa lagi Marjo kamu datang mengganggu kesenangan ku saja... apa uang yang kuberikan sudah habis haaahhh..." ucap Gani begitu membuka pintu
Melisa hanya mengintip dari balik dinding
" Kamu tak tau apa kalau anak mu membuatku pusing karena terus melawan ku...!!!!"
Ayah Melisa langsung melemparkan surat surat dan berkas kepada Gani
Gani memicing, melihat surat surat kepemilikan bengkel yang cukup besar itu
" Itu adalah jaminan hutang ku padamu... dan aku akan membawa Melisa pergi..."
Bengkel...!!!
Melisa menatap dengan tajam, pikirannya tertuju pada seseorang
" Boleh juga usaha mu Marjo... lumayan bengkel ini jika ku kelola aku akan untung berkali kali lipat..." ucap Gani bangga
" Ketimbang ngurusi anak mu yang payah itu..."
Dika begitu marah mendengar penuturan Gani barusan, dia masih diam dibalik pintu
" Kau senang bukan... mari bernegoisasi..." ajak Marjo
" Tapi kalau Melisa kau bawa aku tak setuju...!!!" Gani mengelak
Dika naik pitam, langsung menendang pintu sebelah yang masih tertutup
Melisa kaget melihat lelaki nya berdiri menjadi dewa penyelamatnya
" Brengs*k Lu Gani...!!! lu udah ambil Melisa lu siksa dia tak punya hati...!!! sekarang lu nggak mau nyerahin Melisa ke Gue setelah aset bengkel gue kasih...!!!" bentak Dika
Langsung meninju bibir Gani ganas
" Ambil aset gue..makan... dan bernegoisasilah dengan pak Marjo... tapi tidak dengan Melisa..." umpat Dika marah
__ADS_1
" Heehhh santai santai..." Gani menyeka bibirnya yang keluar darah segar
" Dimana Melisa...!!!!" bentak Dika lagi
Melisa langsung berlari memeluk Dika, pelukan pada tubuh yang begitu hangat dan membuatnya merasa aman
" Mas Dik..."
" Sayang... kamu baik baik aja...???" tanya Dika penuh khawatir
" Ayo ikut aku pergi aku akan bawa kamu sejauh mungkin dari orang orang ini..." ajak Dika sambil menggenggam tangan Melisa erat
" Dan lu Gani... urusan lu sama Melisa sudah selesai... Melisa sudah tidak ada sangkut paut hubungan apapun sama lu... jangan pernah ganggu dia lagi...atau gue akan menghajar lu...!!!" ancam Dika memberi peringatan
" Cepat urusi berkas surat Cerai kalian... jangan ganggu Melisa lagi...!!!"
" Pak Marjo... sesuai janji... saya akan membawa Melisa pergi... tolong jangan ganggu dia..."
Melisa sejenak menatap ayahnya, ayah yang sangat dicintainya, yang selalu didoakannya setiap sholatnya, meskipun ayah sedari kecil suka galak, suka memukuli nya tanpa sebab
Tapi hatinya lebih hancur saat ayah menjadikannya jaminan akan kematrean ayah, dan sekarang dia membiarkan Melisa dibawa laki laki yang sama sekali tak ada status apapun dengannya hanya karena uang juga
" Mel... hati hati ya kalau rindu goyangan mas Gani kamu bisa pulang kesini... kamu tetep yang paling mantep kok..." ucap Gani sinis
*Plaaaakkk
Booouuuggghhh*
" Itu ganjaran buat lu yang udah menyentuh Melisa seenaknya...!!!" Dika menghajar Gani lagi
Lalu segera menarik tangan Melisa keluar dari rumah Gani
Melisa masih menatap ayahnya berharap ayah peduli, tapi nyatanya ayah nya tak memperdulikannya sama sekali
Dia langsung sibuk bernegoisasi dengan Gani soal aset bengkel mas Dika
" Mas..."
Dika langsung memeluk Melisa erat
" Tenang sayang... aku akan melindungimu ...tak akan ku biarkan siapapun menyakitimu lagi...aku akan bawa kamu sejauh mungkin dari orang orang gila itu...."
Dika melihat banyak memar memar disekujur tubuh Melisa, bahkan banyak yang membiru
" Gani brengs*kkk...!!!!" umpatnya
" Mau ya ikut dengan ku.. kita tinggalkan tempat ini kita buka lembaran hidup baru kita.. tak kan ku biarkan siapapun menyakitimu seperti ini lagi sayang..."
" Ta..t..tapi..."
" Sssttt...menurutlah..."
Bersambung~
Masih Up tipis tipis ya Readers
jangan lupa mampir Juga ke novel author Bujang Dusun
Masih ada kaitannya dengan novel ini lohhh
Jangan lupa di Like, Vote dan Komen yaa
__ADS_1
Happy Reading...