
" Mas bangun... ini udah aku siapin sarapan..." Melisa menepuk nepuk wajah Dika lembut
Laki laki yang masih kelelahan akibat subuh tadi bergulat dengannya menggeliat dengan manja
" Jam berapa sayang...???"
" Hampir jam 7 ayo bangun..."
" Teman aku yang kemarin sudah kesini...???"
" Belum... tapi tadi aku sempat ketemu di tukang nasi uduk, dia mau nunggu mas disana aja katanya... makanya buruan bangun sarapan mandi..."
" Sarapan...??? kamu punya duit beli sarapan...???" tanya Dika heran
" Hehe uang mas Dika yang semalem diiasihkan aku masih sisa... cukup lah buat beli sarapan kita berdua..." balas Melisa sambil tersenyum manis
Dika segera bangun mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi,
Selang beberapa menit dia sudah kembali dengan wajah yang lebih fresh dan makin terlihat tampan
" Sarapan dulu mas..." Melisa menyodorkan sepiring nasi uduk kehadapan Dika
" Hari ini mas Dika mau ngamen lagi...???" tanya Melisa disela sela sarapan mereka
" Nggak nyari kerja lain aja gitu..."
" Mau nya sih gitu sayang tapi di Jakarta nyari kerja nggak gampang... dari pada nganggur nggak ada pemasukan... gak apalah ngamen dulu... halal ini..." balas Dika
" Kenapa kamu gengsi...???"
" Kok gengsi sih... justru aku nggak tega sama mas... demi aku sampai rela ngamen ngamen kaya gini..."
" Udah... nggak usah terlalu dipikirkan... kita kan udah sepakat mau memulai hidup baru... jadi kita harus siap memulai nya dari nol..."
" Aku juga pengen nyari kerja mas... suntuk juga kan kalau dirumah terus... yahhh siapa tau bisa bantu bantu ngringanin mas Dika kan..." usul Melisa
" Mau kerja apa emangnya...???"
" Yahhh apa ajakan yang penting halal..." balas Melisa menirukan gaya Dika bicara
" Hari ini istirahat dulu aja dirumah... beberes dulu kemarin kan belum selesai beberesnya... siang ini kalau mas dapat duit banyak kita beli peralatan masak..."
" Bosen....aku ikut mas Dik aja ya...." Rengek Melisa manja
" Jangan lah... terlalu beresiko.. mas itu ngamen naik turun bis atau di lampu lampu merah... itupun berebut dengan pengamen lain... nggak usah lah ikut... kamu dirumah aja banyak banyak doa..."
Melisa merengut, tapi tak mau lagi membantah perintah Dika
Selesai sarapan Dika langsung berpamitan
Tinggalah Melisa sendiri di kosan nggak tau mau ngapain
Hari ini adalah hari pertama dari segala awal perjalanan hidupnya, memulai hidup baru mencoba mengubur dalam dalam tiap serpihan kenangan yang menyakitkan
Walaupun dia masih bagaikan debu jalanan yang terombang ambing ditengah tengah lalu lalang manusia, tapi setidaknya ada selembar daun yang mau dihinggapinya agar tak terinjak oleh kaki kaki si pejalan kaki, atau roda roda yang melintas dengan gagah nan bangga
" Aku sudah memberikan nya... ku harap inilah awal hidup bahagia ku..."
thookkk thoookkk
Sebuah ketukan pintu membuyarkan kesedihan nya, Melisa segera membuka pintu terlihat bu Mutmainah istri pak Santo berdiri sambil tersenyum didepan pintu kontrakannya
" Mbak Mel... ini bude ada bikin ketoprak..." ujarnya sambil memberikan nampan berisi dua piring ketoprak
" Waahhh makasih bude... baik banget..." balas Melisa girang,
Iya lah dikasih rejeki masa judes
__ADS_1
" Mas Dika nya udah pergi ee..."
" Oalah... yaudah buat sarapan mbak Mel aja ya... kalau butuh minum atau apa misal dirumah belum ada galon ke tempat bude aja nggak usah sungkan....atau kalau jenuh sendirian mau nonton tv juga bisa..." ajak nya bersahabat
" Iya bude makasih..." jawab Melisa rikuh, dia sebenernya bukan tipe orang yang suka merepotkan orang lain
Di tempat lain
Dika dan Gondrong sebenarnya nama aslinya entah siapa karena dia tak mau menyebutnya, dia lebih nyaman dipanggil Gondrong, sesuai dengan rambutnya yang gondrong malah cenderung lebih gimbal,
Mereka baru saja mengeksekusi dua bis, suara Dika yang lumayan merdu, serta mainan gitarnya yang bagus membuat banyak orang menyukai pembawaannya, ditambah si Gondrong memang terkenal bengis dan disegani banyak pengamen lain membuat mereka tak ada hambatan saat mengais rejeki uang recehan yang tak kepakai orang, mereka kumpulkan untuk menopang hidup mereka sehari hari
" Jadi lu sama dia belum nikah...???" tanya gondrong blak blakan saat mereka sedang istirahat di emperan toko
" Iya belum..." jawab Dika pelan
" Tapi lu mau bertanggungjawab penuh sampai lu jual semua yang lu punya, lu rela ngamen kek gini buat dia... salut banget gue..."
" Gue sayang sama dia... dia itu gadis yang baik, tulus, hanya nasib yang tak baik padanya..."
" Hari gini emang udah lumrah si... tinggal bareng tanpa status pernikahan, yahhh modal cinta dan kepercayaan aja... jadi nggak perlu banyak ribet... asal lu sama dia saling cocok, bahagia..."
Dika hanya tersenyum, senyum yang entah gondrong tak paham maksudnya,
Mungkin hidup di jaman bebas seperti sekarang, tinggal berdua seorang laki laki dan perempuan asal beralasan Cinta adalah sudah hal biasa, banyak orang yang menganggap hal lumrah, maklum atau lain sebagainya
Begitupun yang saat ini Dika dan Melisa lakukan, yang penting mereka nyaman, saling cocok dan bahagia tak peduli ada atau tidaknya status yang mengesahkan mereka
Kalau dibilang salah, mereka juga sadar ini adalah salah, takut... jelas takut dan was was tapi ***** mengalahkan segalanya
Apalagi beralasan keadaan... semua tampak biasa biasa saja
" Ada bis kearah kontrakan... ayo naik sekalian kita pulang... " ajak Gondrong bersemangat
" Baru jam berapa pulang..." protes Dika
" Nggak papa...??? bukannya sudah ada tempatnya masing masing..."
" Tenang aja... selama lu sama gue semua bakal aman... gue yang menguasai daerah daerah didekat kita... kagak bakal ada yang berani ngeganggu kita..."
" Waaahhh jawara keknya lu ya..." puji Dika kagum, pasalnya badan gondrong lebih terlihat cungkring dan kaya kurang tenaga begini ditakuti banyak preman juga
" Nanti gue ajari caranya biar kita kagak ditindas orang... sekarang lu ikutin gye dulu..."
" Oke lah..."
Mereka bergegas naik ke bus dan kembali menyanyikan beberapa lagu untuk mengiringi perjalanan para penumpang.
Receh demi receh dikumpulkan Gondrong di plastik bekas bungkus permen yang dibawanya setiap hari.
Sembari basa basi busuk mendoakan para penumpang yang dermawan, mereka segera turun dari bus dan menuju pasar
Baru dua putaran pasar, gondrong mengajak Dika kembali beristirahat, rupanya lelaki ini memang lumayan malas dan tak terbiasa kerja keras, dia juga gampang puas dengan hasil yang didapat, sangat berbeda jauh dengan Dika yang hidupnya tertata dengan jelas, punya tujuan yang tepat dan terbiasa terkonsep dengan baik, pengusaha banget...
Gondrong menyuruh Dika membelikannya rokok dan minuman dingin, sedang doi duduk di pinggiran toko sembari menghitung uang hasil mereka, memang kurang ajar si gondrong mentang mentang bos minta enaknya aja..
" Nihhh minum lu..." Dika menyodorkan sebotol minum dingin dan rokok pesanan gondrong
Tiba tiba
" Tolooooonggg..... toloooongggg jambretttt....!!!!" treak seorang perempuan debgan histeris, dia berlarian kalang kabut mengejar seseorang ditengah keramaian
Anehnya banyak orang ysng cuek dan pura pura tak melihatnya, padahal jelas perrmpuan itu meminta tolong
" Toloooonggg....!!!!"
Si Gondrong juga diem aja sok nggak peduli,
__ADS_1
" Ada ibu ibu minta tolong...kayaknya di jambret..." ujar Dika memberi tahu Gondrong
" Biarlah...palingan ibu itu berdandan terlalu mencolok makanya jadi incaran copet copet receh..." jawab Gondrong cuek
" Kenapa nggak ditolong... kasihan..."
" Ini Jakarta bro...!!! urusi aja urusan lu nggak usah terlalu baek ama sekitar... kalau kagak menguntungkan kita..." gondrong menasehati
Namun hati Dika menolaknya, apalagi saat melihat ibu itu histeris sambil terus melolong minta tolong tanpa dihiraukan orang, hati kecilnya tergerak, dia tak tega melihatnya
andai itu terjadi pada Melisa, sungguh sangat tak bisa dia berdiam diri
Tanpa menggubris omongan gondrong, Dika langsung berlari mengejar si pencopet yang masih berusaha menghindari kerumunan
" Mau kemana lu...!!! heeehhhh...Dik...!!!" treak gondrong
Dika tak menggubrisnya lagi, langsung menarik punggung baju si pencopet dan menghajarnya
" Aahhh sok baik... udah dibilang belajar jadi orang bodo amat... ini Jakarta bukan kampung lu..." gerutu Gondrong saat Dika sudah melesat jauh dan berhasil mencekal si jambret
Perkelahian pun tak bisa di hindarkan, bela diri si jambret boleh juga mungkin karena sudah terlatih dengan setiap hari menantang bahaya jadi mental nya lebih siap, namun bukan Dika sang superhero Melisa jika tak mampu melumpuhkan jambret ecek ecek itu
Bahkan gondrong sampai melongo lihat kepiawaian Dika dalam bela diri,
Dihajarnya si jambret tanpa ampun
" Sini tas nya...!!!"
Buuughhhh
Dika menarik tas hasil jambretannya sambil meninju wajah jambret itu lagi
" Ini peringatan buat lu ya... jangan sekali kali nyari duit dengan cara merugikan orang lain seperti ini... cari rejeki halal biar berkah..." lanjutnya menceramahi
" Iya bang.. ampun bang..." si Jambret menohon ampun
bougghhh boughhh
Dika masih memukulinya supaya jera
" Sekali lagi gue liat lu dipasar atau dimana pun nge jambret gue patahin leher lu...!!!" ancam Dika
" Iya bang gue janji gue nggak bakal nglakuin ini lagi...ampun bang..."
" Udah sono pergi...!!!!"
Si jambret langsung kocar kacir menjauh dari Dika takut di bogem dan dipatahin lehernya beneran, jagoan satu ini hebat nian soalnya
" Ini tas ibu..." Dika menyerahkan tas milik Ibu yang tadi histeris itu
" Iya makasih mas..."
" Lain kali hati hati ya buk...jangan terlalu berdandan mencolok biar nggak jadi inceran jambret jambret disini..."
" Plok plok plok... hebat jagoan gue ini....!!!!" puji Gondrong
" Ampun suhu...."
Bersambung~
Menulis hanya sebagai penyaluran hobi, meski karya yang tak seberapa ini
Besar harapan author untuk mendapat dukungan positif dari teman teman readers semua
Terutama Vote dan rate nya
Happy Reading....
__ADS_1