Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Saran Bu lek Fatimah


__ADS_3

Sampai menjelang sore Melisa tak juga keluar kamar, doi masih diam menangis dikamar sampai matanya membengkak, jujur saat ini dia tak tau apa yang harus dilakukan


Meneruskan hubungan nya dengan Dika...??? meminta lebih cepat lagi untuk dinikahi meskipun hanya nikah siri dulu...atau... atau mengakhiri Cinta yang tanpa status kejelasan ini, dia malu... malu pada keadaan... malu pada dirinya sendiri...


" Sayang....!!!" panggilan Dika membuyarkan lamunan nya


" Makan yuk... udah sore nihh... nanti magh kamu kambuh loohhh...!!! harus jaga kesehatan ingat... hal yang harus kita selesaikan masih banyak..."


Melisa tak bergeming, dia tetap diam duduk di sudut ranjang,


Bahkan ***** makan saja tak lagi dirasakannya saat ini...pikirannya sedang benar benar kacau


Tiba tiba perutnya berbunyi,


Aaahhh rupanya cacing cacing perut sudah protes padanya, mereka tak mau tau soal ***** makannya,


" Huuuhhh... segimana pun malasnya makan...perut gak bisa diajak kompromi...protes aja minta diisi..." gerutu Melisa senbari memegangi perutnya yang makin perih dan lapar


Badannya mulai gemeteran dan sedikit berkunang kunang, dia harus makan...!!!!


Melisa akhirnya memutuskan untuk keluar kamar, dilihatnya Dika duduk diam disofa ruang tamu mungkin menunggunya dengan resah, terlihat memang Dika sangat menghawatirkan dirinya


" Jadi makan kita...!!!" ajak Melisa sambil memaksakan bibirnya tersenyum, seolah dia baik baik saja, padahal hatinya sedang bergejolak luar biasa


" Syukurlah... akhirnya kamu mau keluar juga buat makan... mas beneran khawatir sayang... takut kamu sakit karena gak mau makan..." sahut Dika dengan wajah sumringah


" Ayooo buruan kerumah bu Fatimah... beliau udah 3 kali nyamperin kita kesini ngajak makan..."


" Waaahhh lumayan juga ya sampai 3 kali di panggil hihihiii..."


Dika memperhatikan mata Melisa yang bengkak,


" Kamu habis nangis seharian...????" selidik Dika


" Udaaahhh... ayuuukk makan aku udah laper berat ini..." Melisa langsung menarik tangan Dika berusaha menghindarkan dirinya dari pertanyaan Dika yang nantinya akan merembet ke banyak pertanyaan lain


Dirumah bu Fatimah mereka sudah ditunggu


Bu Fatimah tinggal bersama keluarga nya, ada dua anaknya yang sudah besar besar, anak pertama nya mungkin seumuran Melisa, saat ini masih duduk di bangku SMA sedang anak yang kedua masih SMP, suami bu Fatimah kerja merantau di perkebunan sawit didaerah Kalimantan, begitu kira kira sekilas cerita yang Melisa tau dari bu Fatimah


" Kalian udah ibu tunggu dari tadi looohhh... ini makanan nya udah ibu panasi udah sampai dingin lagi..." ujar bu Fatimah begitu mereka tiba di rumahnya


" Mau ibu panasi lagi...???"


" Nggak usah buk... kita langsung makan aja..." balas Dika yang gak enak kalau harus merepotkan bu Fatimah lagi


" Oohhh ya sudah...langsung makan aja pasti udah laper kan...???"


" Mbak Melisa ketiduran ya...?? kecapean apa gimana...!!!"


" I...iya buk... lelah terus ngantuk... jadi tadi sepulang dari rumah mbah Martinah langsung ketiduran... malah bablas sampai jam segini..." dusta Melisa, padahal nyatanya sepulang dari rumah mbah Martinah tadi dia hanya menangis tak henti

__ADS_1


" Yaudah ndang di makan...."


Dika dan Melisa makan dengan lahap, seharian ini baru sekali ini perut mereka diisi dengan makanan, sampai semua penghuni perut sudah berdemo dengan anarkis minta keadilan dan kesejahteraan sosial hihihiiii


" Waduhhh bu makanan nya enak pisan ini udah sampai mau habis ini sayur nya..." puji Melisa saat menyadari betapa rakusnya dia menghabiskan semua hidangan di meja


" Kamu itu laper apa doyan sihhh....!!! di borong aja semua makanan...!!;" komen Dika yang nelihat Melisa seperti orang kelaparan tujuh hari tujuh malam


Heheheee...


Melisa hanya nyengir menanggapi komenan Dika,


" Nggak papa ibu malah seneng kalau kalian mau ngabisin masakan ibu...biar nanti buat makan malam gampang ibu bisa masak lagi... malah gak mubadzir looohhh..." balas bu Fatimah dengan senyum ramah


" Makasih ya bu kita jadi ngrepotin terus..."


" Nggak usah sungkan... ibu seneng bisa bantu kalian..."


" Eee bu... boleh gak kalau mulai hari ini saya panggil ibu dengan sebutan bulek...???? umur ibukan lebih muda dari bapak... selain itu yaahhh... biar saya disini ada yang dianggap saudara gitu buk... ini kan tanah kelahiran ku... bapak sama nenek juga disini... udah pasti aku akan sering kesini..." pinta Melisa penuh harap


" Apa ibu bersedia jadi bulek ku...???"


Bu Fatimah tampak terharu mendengar permintaan Melisa, anak malang ini membuat jiwa keibuan nya tersentuh, tak bisa ia bayangkan andai kejadian ini terjadi pada anaknya,


" Dengan senang hati nduk... bulek seneng kamu anggap saudara....aggap saja seperti adik bapak mu... bulek seneng nduk..." balas bu Fatimah dengan tangan terbuka


Melisa langsung berhambur memeluk bu Fatimah erat


" Makasih bu lek... makasih udah mau jadi saudara Melisa...."


" Sama sama nduk sama sama..."


Sesaat mereka terhanyut dalam suasana yang sendu,


" Oh ya gimana tadi dirumah mbah Martinah...??? kalian sudah dapat informasi soal Resinda...???"


" Udah bu lek...bahkan mbah Martinah sudah menceritakan semua yang terjadi dulu..." sahut Melisa lesu


" Bu lek... ternyata bapak sama ibu dulu tinggal serumah tanpa status ya bu lek...???"


" Kata siapa tanpa status... mereka saling cinta... mereka juga sempat menikah..." ralat bu Fatimah cepat


" Nikah siri kan...???" kejar Melisa


" Awalnya ia... mereka belum bisa melangsungkan pernikahan secara resmi karena ibu mu Resinda... masih ada urusan dengan keluarga nya dulu..."


" Iya... karena ibu masih istri sah dari suami nya yang pertama... dan bapak membawa ibu pergi dari suaminya...!!!"


" Bukan membawa pergi nduk....jadi Resinda itu sering dipukuli suaminya, sering diperlakukan kasar...makanya ibu mu kabur dari rumah, dia meninggalkan anak nya yang masih kecil waktu itu karena tak sanggup lagi dengan perlakuan suaminya....sampai Resinda bertemu bapakmu Sasmito... dan ternyata mereka saling jatuh cinta...ibu mu meminta bapak mu memboyongnya ke desa memulai hidup baru...mereka hidup bahagia..."


" Tapi hubungan mereka bukan kah sebuah Cinta yang tanpa status bu lek...??? makanya ibu diambil lagi sama suami pertama nya dan meninggalkan aku dan bapak...!!!"

__ADS_1


" Kalau itu ibu kurang tau nduk... yang jelas pasti ada alasan kuat kenapa ibu mu memilih meninggalkan bapak mu dan bayinya dan kembali pada suami pertama nya yang galak dan kasar itu.... sedangkan ibu mu sangat mencintai bapakmu... bu lek tau itu..."


" Apa karena ibu nggak tahan diajak bapak hidup susah...???" tanya Melisa ketus


" Bu lek rasa tidak... ibu mu orang baik... sangat tulus mencintai bapak mu... menerima bapakmu dan nenek dengan apa adanya... bahkan selama ini bu lek belum pernah lihat ada menantu yang memperlakukan mertuanya dengan selembut itu... hanya ibu mu..."


Melisa terdiam, kali ini hatinya kembali gamang, kenapa seolah cerita demi cerita yang didengarnya mengalami selisih dan perbedaan sudut pandang dari masing masing si pengucap cerita...!!! siapa yang sebenarnya benar... cerita yang seperti apa yang sebenarnya terjadi...


Apakah Melisa harus menemukan ibu nya baru dia akan tau cerita yang sebenarnya...???


Atau biarkan cerita ini seperti ini saja sesuai persepsi masing masing yang mengetahui...cukup dia kubur rapat rapat tentang ibu nya...!!!!


Melisa makin tak tau harus berbuat apa


" Nduk...." panggil bu Fatimah lembut, beliau tau Melisa sedang berdebat dengan hatinya sendiri


" Saran ibu kalau kamu mau pakai... cari ibu mu nduk....temui dia... sampaikan jika kamu anaknya anak yang sangat dicintainya... ibu mu pasti senang... bu lek yakin selama ini dia pasti mati matian menahan rindu... dia pasti kawatir akan dirimu... dia pasti berusaha menekan keinginan nya untuk bertemu kamu nduk... ibu mu pasti juga tersiksa..."


" Tapi bu lek...bukan kah kalau aku menemui ibu hanya akan membuat nya teringat masa lalu nya...kesalahan nya...??? kedatangan ku hanya akan mengusik kebahagiaan ibu... mengganggu ketenangan ibu..."


" Jangan buruk sangka nduk... ibu mu tak sepicik itu... percaya sama bu lek... ibu mu juga sangat tersiksa jauh dari mu dan tak bisa bertemu kamu...datang lah... cari ibu mu..."


" Tapi dimana bu lek...??? aku saja tak tau wajah ibu seperti apa...!!!" protes Melisa


" Bu lek yakin ibu mu di Jakarta... hanya mungkin tempat nya sudah pindah dari rumah nya dulu...karena ibu yakin suaminya gak bakalan ijinin ibu mu berhubungan lagi dengan bapakmu..."


" Cari foto ibu mu di album kamar bapak mu... dilaci kalau gak salah... disitu ada nama, alamat dan segala sesuatu yang berhubungan dengan ibu mu... siapa tau bisa membantu mu menemukan nya..."


Melisa tergugah, wajahnya sedikit lebih lega dari sebelumnya, seperti ada secerca harapan pada dirinya saat ini, harapan yang membuatnya kembali bersemangat,


Yaahhh Melisa harus menemukan ibu nya, sebelum dia menikah dengan Dika


Dia harus meminta restu ibu kandungnya


" Benarkah bu lek...??? aku coba cari nanti..."


" Cari lah... kamu harus ketemu ibu mu... !!!!"


Bersambung~


Kadang dalam hidup


Kita tak tau hal yang akan terjadi pada kita..


Manusia hanya menjalani skenario yang sudah ditulis Tuhan untuk umatnya


Jadi yang harus kita lakukan adalah


Terus maju dan tetap berfikir positif pada setiap masalah atau keadaan tersulit pun...


Dengan kita bertawakal maka langkah ini akan semakin ringan untuk memijaki kehidupan...

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2