
Pagi itu Akhirnya mereka memutuskan untuk datang kerumah Melisa di kampung
Setelah banyak pertimbangan dan keputusan mereka tak mau menunda lagi untuk menjalani hubungan tanpa status yang jelas ini
Setelah mendapat ijin dari supervisor Melisa tentunya lewat bang Gondrong dan setelah Dika juga meminta ijin dari pemilik bengkel mereka segera berangkat
Kemungkinan akan memakan waktu dua hari semalam untuk sampai kerumah Melisa
Perjalanan yang panjang mereka hadapi meski harus banyak membuang waktu istirahat mengingat kondisi Melisa yang masih demam, Dika tak mau memaksakan nya, memilih lebih banyak istirahat tiap ada rest area yang mereka lalui
Pagi buta mereka tiba di kampung Melisa,
Dika segera meluncur melewati rumah rumah tetangga Melisa yang kebetulan belum banyak yang beraktivitas diluar, karena ini baru selesai waktu subuh, mungkin juga masih banyak yang tidur, karena udara pagi disini terasa amat dingin, mengilukan tulang
Dika dan Melisa menembus dingin pagi, menelusuri jalan kampung
Sesekali berpapasan dengan tetangga Melisa yang mungkin sudah mau kesawah, yahhh disini petani petani yang kerja keras selalu berangkat pagi sehabis subuh kesawahnya, alasan nya apa Dika tak tau karena bukan urusannya
Mereka hanya melihat Melisa dengan aneh, dari mana...?? dengan siapa...??? itu mungkin yang menjadi pertanyaan dibenak mereka
" Assalamungalaikum... " Melisa mengetok pintu rumahnya pelan
Harusnya ibu dan bapak nya udah bangun jam segini, biasa nya mereka sedang mengobrol di dapur sembari meminum kopi
" Assalamungalaikum buk... bapak..." panggil Melisa lagi
Seorang lelaki tanggung mungkin sekisaran umur 13 sampai 14 tahun keluar dari rumah membuka pintu, matanya masih sembab sepertinya baru bangun tidur
Dia Riki adik Melisa
" Rik....!!!" Panggil Melisa girang, entah sudah berapa purnama dia tak bertemu adik nya itu
" Bapak sama ibu mana...???"
" Gak tau... mbak Mel ngapain kesini sih... mana pagi pagi lagi...ganggu orang tidur tau...!!!" sahut Riki dengan bersungut sungut
Deggg
Melisa langsung tertotok hatinya, adik kesayangannya yang sedari dulu dia sering mengalah apapun demi dia, adik yang dirindukannya, teganya bertanya seperti itu saat mereka lama tak bertemu
" Aku kesini mau pulang lah... ini juga rumahku bukan...???" jawab Melisa menahan perih didadanya
Dika mengusap punggung Melisa menenangkan jangan sampai Melisa terbawa kalut, mungkin saja bocah ini kesal karena tidurnya terganggu makanya ngomel
" Ya udah masuk...!!!"
" Bapak sama Ibu kemana...???" tanya Melisa lagi, rumah terlihat sepi tak ada aktivitas hangat seperti biasanya
" Belum bangun..." jawab Riki sembari kembali masuk kekamarnya, meninggalkan Melisa dan Dika diruang tamu
__ADS_1
Melisa ingin langsung mengetuk pintu kamar orang tuanya yang terletak disamping kamar tamu, namun karena takut mengganggu, akhirnya Melisa memilih untuk kembali ke kamarnya, melihat lihat kamar yang menjadi saksi sejarah hidupnya
Kamar itu menjadi pertanda malam pertama yang mengerikan
Melisa membuka pintu kamarnya pelan, Dika mengikutinya
Melisa langsung tercengang begitu melihat isi kamarnya, semua barang barang nya sudah tak ada, semuanya...
Kamar itu sepertinya sudah beralih fungsi menjadi gudang, banyak barang barang yang sudah tak terpakai di simpan di situ, tapi barang barang Melisa satupun tak ada, lemari pakaian, boneka boneka kesayangannya, tas, spatu, buku buku nya... semua tak ada lagi
" Kenapa kamar ku jadi begini...!!!! dimana barang barang ku ibu simpan...!!!" tanya nya dengan nada getir
" Apa ibu sama bapak sudah tak menganggap ku lagi...!!!"
Melisa mulai menjatuhkan bulir bulir air matanya
" Jangan dulu berprasangka buruk... mungkin barang barang mu disimpan ditempat lain..." Dika menenangkan
" Tapi kenapa harus dipindahin mas... dan kenapa kamar ku jadi gudang...!!!" protes Melisa yang tak terima diperlakukan seperti ini
" Yahhh mungkin aja supaya kamar mu tetep dipakai... kan selama kamu tinggal kamar kosong... gak baik kan kalau kamar di biarkan kosong... jadi mungkin sementara dialihkan fungsi dulu..." jawab Dika, sebenernya hati nya pun ragu menjawab itu
Dika khawatir Melisa benar benar sudah tak dianggap lagi oleh orang tuanya
Melisa berjalan pelan menelusuri kamarnya, siapa tau dia masih menemukan barang barang nya yang tersisa
Disibaknya lemari usang yang berpintu kelamju,
Pelan tangan Melisa mengambil baju yang digantung dilemari yang sudah banyak sarang laba laba nya
Seragam putih abu abu nya yang lusuh dan pilu seperti hatinya
Melisa menangis sembari memeluk seragamnya, betapa sakitnya dia saat dipaksa untuk melepas baju itu, diganti dengan setelan kebaya dan duduk dihadapan penghulu bersama laki laki jahat kejam mas Gani
Mimpi nya hancur seketika, masa remajanya direnggut paksa, dia harus menapaki hidup yang sama sekali tak ramah kepadanya, membuat hidupnya berubah seperti sekarang ini
" Hai... seragam ku... kamu lusuh sekali... kamu pasti rindu aku pakai ya... kamu pasti kangen aku ajak bermimpi ya... maaf ya kita harus berpisah dengan paksa... aku sakit jika mengingat mu... tapi waktu tak bisa ku ulang lagi..." gumam Melisa pada seragam putih abu abu nya
Melisa kembali meletakkan seragam nya di dalam lemari, mungkin di dalam sana lebih aman, ketimbang nanti di bakar sama bapak seperti tas dan spatu sekolahnya dulu
Melisa kembali mengecek satu persatu barang barang yang ada dikamarnya,
Sampai dia menemukan foto yang telah usang tertekungkup di lantai penuh debu
Melisa segera mengambilnya
Air mata nya kembali jatuh
Foto penuh kenangan
__ADS_1
Ada dia, Lulu, Angel, Evan dan Rudi sahabat terbaiknya dulu disekolah
Ini adalah foto terakhir mereka sebelum Melisa tak bisa melanjutkan sekolahnya lagi
Sejenak Melisa membayangkan mereka, saat saat penuh tawa bersama mereka,
Dimana mereka sekarang...???
Sungguh Melisa kesepian, merasa sendirian tanpa mereka lagi...
" Haiii kawan... aku rindu kalian... sangat rindu... semoga kalian bisa mencapai cita cita kalian yaaahh... Evan jadi Tentara... Rudi jadi Pilot Lulu jadi Bidan dan Angel jadi guru bahasa Inggris...aku... aahhg aku jadi sampah dunia yang tak berguna..." tangis Melisa sembari mengusap usap foto kenangan
DIka sedih melihat Melisa, kenyataan yang harus diterima gadis itu amatlah sadis, orang tuanya sendiri yang menghancurkan masa depan anaknya
Kasihan Melisa malang sekali nasibnya
" Aku tak akan membiarkan air mara kesedihan mu jatuh lagi sayang... aku janji... aku akan membuatmu setiap hari selalu bahagia... percayalah...." gumam Dika dengan kesungguhan
" Meskipun mungkin saat ini aku belum tau apaakah aku sudah mencintai mu atau aku justru belum sanggup melupakan Je... tapi tang pasti aku punya tanggungjawab untuk melindungi mu, menjaga mu dan membuatmu tak menangis seperti ini lagi..."
Melisa hanyut dalam kesedihannya, dia sedang menjumputi kenangan demi kenangannya yang sudah hancur berserakan, ingin rasanya dia tata ulang kembali, dia rekatkan serpihan serpihan itu tetapi tangan nya tak mampu lagi merengkuhnya, waktu telah berputar jauhhh tak mungkin membawa nya kembali mengulang lagi
Dari luar terdengar pintu kamar orang tua Melisa dibuka, dan suara batuk dari bapak Melisa juga terdengar
Disusul bunyi teplekan langkah mungkin itu dari ibu Melisa
" Sayang .. ibu bapak mu udah bangun...ayo segera temui mereka..." ajak Dika pada Melisa yang masih hanyut dalam kesedihannya
Melisa segera menghapus air matanya, lalu keluar kamar dengan hati yang mantab, dia harus tetap melanjutkan hidupnya, memperjuangkan kebahagiaan nya
Jika bahagia nya kini adalah bersama mas Dika maka kini saat nya ia memperjuangkannya
Bersambung~
Haiii Guys
Aku minta maaf ya kemarin gak sempet Up
Soalnya si Bojo lagi demam, jadi seharian harus ngurusin dia dan anak
Maklum bojo ku kalau sakit jadi manja
Hihihiii
Semoga ini mengobati rindu kalian yaaahhh
Jangan lupa Vote sebanyak banyak yaaaa
Happy Reading...
__ADS_1