
" Ibu...bapak..." panggil Melisa penuh hormat
Ibu bapak Melisa langsung tercengang kaget melihat Melisa dan Dika sudah ada dirumah nya pagi pagi begini
" Melisa udah nunggu ibu sama bapak dari tadi...oya buk kok kamar Melisa jadi gudang... barang barang Melisa ibu taruh mana...???" tanya Melisa segera, sebab dia sudah ingin tau apa alasan orang tuanya menjadikan kamar nya sebagai gudang untuk menaruh barang barang yang sudah tidak dipakai
" Atas ijin siapa kau berani nya masuk kerumah ini...!!!" hardik bapak dengan berkacak pinggang
Dika langsung kaget mendengar ucapan bapak Melisa yang seperti berbicara dengan orang lain bukan anak nya
" Apa urusan mu berani nya kau masuk dan mengecek isi rumah ku...!!!"
" Bapak kok gitu...!!!" protes Melisa tercengang
" Apa bapak sama ibu tidak lagi menganggapku anak.. !!!"
" Anak...!!! sejak kapan aku punya anak sepertimu...!!;" bentak bapak
Melisa langsung menangis, hatinya bagai tersambar petir mendengar ucapan bapak nya
Ini lebih menyakitkan dari apapun
" Apa salah Melisa pak....sampai bapak tega bicara seperti itu pada anak bapak sendiri..." tangis Melisa tersedu sedu
Bapak ingin menyampaikan sesuatu dengan cepat namun ibu segera menghalanginya
Ibu menghela nafas panjang menatap Melisa dengan tatapan yang tak Melisa pahami
" Kamu bukan anak kami..." suara ibu datar, terdengar lembut tapi sangat menyayat hati Melisa
Melisa menatap Mereka tajam seakan tak percaya dengan yang ibu katakan barusan
" M...ma...maksud ibu...????"
" Sini... biar aku saja yang menjelaskan...!!!" bapak segera memotong lagi
" Kau adalah anak dari mantan suami ibu ... waktu ibu menikah dengan bapak mu... Sasmito... bapak mu membawa kau yang masih bayi.... karena di tinggal kabur ibu kandung mu... memilih nikah sama orang kaya..." bapak menjelaskan dengan wajah yang terlihat tak suka
" Bapak mu... menikahi ibu... dan menyuruh nya mengurus mu...karena ibu mu memang suka anak kecil maka dia bersedia mengurus mu dengan suka rela... tapi sial nya...bapak mu itu sakit sakitan... pantas saja istrinya ninggalin dia... dia banyak utang... bahkan sampai mati meninggalkan banyak utang pada Gani... makanya aku menjaminkan kamu sebagai jaminan hutang bapak mu... enak saja dia mati aku yang direpotkan...!!!!"
" Ja...jadi ibu... ibu... sama bapak bukan orang tua ku...???" tanya Melisa getir, sungguh getir sekali kenyataan yang didengarnya barusan
Selama ini wanita yang membelainya dengan tangan nya, membuat Melisa nyaman didekapnya, dan laki laki yang selalu membuat Melisa menggantungkan perlindungan pada nya, ternyata bukan siapa siapanya
Pantas kadang sikap mereka galak, dan suka memukuli Melisa
" Yahhh... kami bukan orang tuamu...!!!" ibu menyahut setelah beberapa saat, ibu menyeka air matanya yang terlihat berat
__ADS_1
" Sasmito membawamu saat kamu masih bayi, aku yang waktu itu menikah dengan nya harus mau mengurus mu... bapak mu meninggal meninggalkan hutang yang sangat banyak...kamu tau sendiri bukan keluarga kita hidup susah... dari mana ibu bisa melunasi hutang hutang bapakmu..." terang ibu
" Ja...jadi aku di gadaikan bukan karena bapak yang banyak judi...???" tanya Melisa gamang, sejujurnya dia lebih memilih kenyataan yang kedua benar ketimbang pernyataan yang pertama
" Aku memang berjudi... tapi hutang ku tak menumpuk seperti bapak mu...!!! sudah penyakitan mati ninggal hutang lagi...!!! enak betul dia tinggal tidur nyenyak di alam kubur..." umpat Marjo kesal, membayangkan wajah Sasmito yang dulu sakit sakitan
Marjo kesal lantaran menunggu Sasmito meninggal cukup lama, padahal dia sudah ngebet pengen nikah sama Murni istri Sasmito.
Hiks hiks
Melisa menangis sejadi jadi nya, kenyataan ini sungguh pahit Tuhan...
Rasanya dia tak rela harus mendengar kenyataan ini, dia lebih memilih tetap menjadi anak kedua orang tuanya walaupun sering dipukuli hanya karena kesalahan kecil
" Aku sudah cukup senang... ku pikir aku sudah mendapat balasan atas mengurus mu... dengan memberikan kamu ke Gani si bandot tua itu... setidaknya itu adalah tempat ku meminta uang dengan mudah... tapi kamu malah kabur... membuat ku harus berurusan dengan si bandot tua itu.... diancam nya berkali kali..." lanjut Marjo dengan sinis
" Tapi kau rupanya cukup cerdas... menggaet laki laki ini... dan dia dengan bodohnya mau memggadaikan bengkel nya untuk menebus mu... hahahaaa... harga bengkel itu lebih besar dari hutang bapak mu pada Gani... jadi aku masih dapat kembalian nya... lihat...!!! kamu lihat kan... dirumah ini banyak barang barang baru...kau ternyata ada untung nya juga ku pelihara...!!!"
" Ibu... ibu dimana makam bapak kandung ku ibu...???" tanya Melisa sembari menggenggam tangan Murni, sebagaimanapun tangan wanita ini adalah tangan yang sudah membesarkannya, tangan yang sangat membuat Melisa merasa nyaman dan tenang
" Jauh dari sini nak..." sahut Murni pelan, dia seperti sedang menahan tangis
" Maaf jika ibu selama ini tak menceritakan yang sebenarnya... karena dulu bapak mu sudah berpesan untuk merawatmu selayaknya anak ibu sendiri... bahkan bapak... mengakui mu sebagai anak nya bukan...????" ujar ibu datar
" Kami menyayangi mu Melisa... hanya kami tak bisa jika harus mensama ratakan antara kamu dan Riki... karena Riki adalah anak kandung kami... anak yang lahir dari rahim ku....yang pasti kami sudah merawat mu dengan baik... membesarkan mu semampu kami..."
" Aku juga rela kerja banting tulang untuk menghidupimu... mencukupi semua kebutuhan mu... dan mensekolahkan mu bukan...!!! jadi salah kalau kau sampai bilang kami tidak mengurus mu dengan baik..." pak Marjo menyela dengan ketus, sepertinya dia tak mau sampai di cap jelek oleh Melisa, padahal aslinya memang jelek
Seperti memberi tanda bahwa mulai hari ini mereka sudah tidak ada hubungan apa apa lagi
" Kami datang kesini sebenernya mau minta restu...!!!" Dika berujar, sedari tadi dia diam menyimak penjelasan orang tua yang termyata orang tua angkat Melisa
'" Kami mau melangsungkan pernikahan..."
" Apapun yang mau kalian lakukan lakukanlah...tak ada lagi hubungan nya dengan kami..." sahut bu Murni tanpa menoleh ke Melisa
" Apa ibu sudah tak mau lagi mengakui aku sebagai anak mu...???" Protes Melisa
" Aku sudah gagal menjadi ibumu...maka tak perlu lagi kau anggap aku ibumu... aku hanya ibu tiri... dan bapak mu juga sudah meninggal... jadi kau bukan siapa siapa ku..." sahut ibu membuat Melisa makin menangis getir
" Tenang kan dirimu sayang... kau harus bisa mengendalikan dirimu..." bisik Dika yang peduli dengan kondisi Melisa
" Ingat kay harus jaga kesehatan... ada aku... aku yang akan terus berada disamping mu..."
Melisa menggenggam erat tangan Dika, seolah meminta kekuatan agar dia bisa berdiri tegak setelah petir menyambar hatinya menjadi keping keping
Inilah patah hati yang sesungguhnya, ketika keluarga yang selama ini adalah tempat ternyaman untuk pulang, rumah untuk berteduh dan bersandar, hari ini sebuah kenyataan yang amat pahit harus Melisa telan bulat bulat
__ADS_1
Keluarga itu bukan lah milik nya, dan dia tak lagi diharapkan disini
" Bu... bapak... aku tetap minta restu pada kalian... restui aku untuk melangsungkan hubungan sama mas Dika..." ucap Melisa pelan
" Kasih tau aku buk dimana makam bapak kandungku..."
" Dekat dengan rumah nenek mu... nenek yang dulu sangat menyayangimu... kau ingat bukan...???" ibu Memberi tahu
" Dia adalah nenek kandung mu dari ibu mu... wanita yang telah meninggalkan mu dan lari dari tanggungjawwbnya... karena bapak mu yang selalu menyusahkan berpenyakitan...!!! aku saja wanita bodoh yang mau menerima lelaki penyakitan dan bayi merah merawat kalian dengan sebaik mungkin...!!! meskipun tak dapat apa apa..."
" Melisa sangat berterimakasih sama ibu dan bapak... selama ini sudah merawat Melisa dengan baik... menganggap Melisa seperti anak kandung....Melisa berhutang budi pada kalian..."
" Kalau kau merasa berhutang budi pada ku... maka sering sering lah kirim uang kepadaku... agar kau bisa membantu membayar hutang budi mu itu..." sahut pak Marjo sinis
" Dan kau laki laki bodoh.... bengkel mu cukup menarik Gani... jadi bandot tua itu mau memberiku uang yang lumayan banyak...jadi tak sia sia aku membiarkan kau tinggal bersama Melisa dan menikmati nya cuma cuma..."
Melisa menggigit bibir bawahnya perih, bapak nya pun sampai tega berucap seperti itu, Ya Tuhan... segini hina nya hubungan cinta tanpa status... tanpa ikatan yang jelas...
" Semoga ibu sama bapak bahagia dengan sedikit pengorbanan Melisa..."
" Boleh juga rupanya kau tubuh mu banyak laki laki yang tergila gila.... tau begitu dari dulu aku jual kau supaya aku tak perlu pusing mikirin hutang bapak mu itu...!!!"
" Cukup pak Marjo... saya rasa semua cukup..." potong Dika yang merasa ucapan pak Marjo sudah keterlaluan
" Jika menurut kalian... Kalian tak mau lagi peduli dengan Melisa... maka aku akan bertanggungjawab penuh atas hidupnya... aku yang akan menjaga dan melindunginya dari apapun... hanya ku minta... jika suatu saat nanti Melisa jadi orang sukses... saya harap kalian juga tak boleh mengganggunya...!!! SEMUA SUDAH SELESAI....!!!!"
" Udah lah pergi sana... bawa kakak yang menyusahkan ini... pagi pagi udah berisik saja dirumah orang...!!!" hardik Riki yang tiba tiba datang, keluar dari kamarnya
" Kau sudah dengar kenyataan soal dirimu kan...!!!!"
" Riki...teganya kamu...!!!" Melisa tak percaya jika adik yang disayanginya rupanya sama saja tak pernah peduli dengan nya
" Sudah sayang... ayo kita pergi... kita cari makam ayah kandung mu...!!!"
Bersambung~
Part ini agak panjang Dikit ya...
Ngobatin hari minggu kemarin yang gak bisa double Up
Author masih sibuk ya kance... masih ngurus suami yang lagi pengen dimanja
Hihihiii
Jangan lupa kasih Vote sebanyak banyak nya
Ini udah hari senin... waktunya boom Vote
__ADS_1
Hihihiii
Happy Reading....