Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Album Kenangan


__ADS_3

Dika sudah tertidur pulas di ranjang, mungkin dia kelelahan setelah pergulatan hebat tadi bersama Melisa, yang pertama diranjang lalu dilanjut dikamar mandi,


Aahhh bikin hareudang readers aja mereka ini hihihiiii


Melisa masih tak bisa terpejam, fikirannya saat ini masih bercabang, lagi lagi dia merasa salah setelah melakukan itu dengan Dika, mereka belum ada status apapun... tapi kenapa Melisa tak mampu menolak tiap ajakan Dika, bahkan Melisa menikmati tiap inci permainan itu


Hatinya bergejolak ingin protes ingin marah... tapi tak bisa ia lakukan


Apakah ini termasuk seperti Jala**....!!!!


Melisa segera bangkit dari pembaringan nya, ketimbang dia terus menangisi keadaan nya sedangkan dia sendiri menikmati nya, lebih baik dia focus kan untuk mencari foto bapak dan ibu nya, kata bulek Fatimah album itu ada dikamar nenek dilaci meja paling atas


Melisa segera keluar kamar meninggalkan Dika yang sudah mendengkur halus dalam lelapnya


Melisa membuka kamar nenek, ada aroma pandan menyerbak menusuk hidungnya, seperti sosok nenek tengah menyambutnya dikamar


" Punten nenek... cucu mu mau ijin nyari foto ibu sama bapak... pengen tau wajah mereka..." Melisa meminta ijin


Dengan langkah pelan Melisa masuk ke kamar nenek dan tempat pertama yang ia tuju adalah meja rias jaman dulu yang terletak disudut sebelah ranjang,


Meja rapi dan bersih, mungkin hampir tiap hari bulek Fatimah membersihkan kamar nenek


Melisa duduk dikursi usang, mulai membuka laci dan menilik isi dalamnya


Ada banyak sisir, jepit rambut, karet ikat punya nenek, banyak juga bekas rambut berubam yang digulung gulung, itu pasti rambut nenek


kenapa tidak dibuang...??? malah disimpan di laci...??? pikir Melisa heran


Rupanya setelah dia membongkar semua isi laci meja rias, dia tak menemukan album atau foto apapun, sepertinya bukan di meja ini pikirnya, Melisa memperhatikan sekeliling, disamping pintu ada meja ukuran sedang dengan diatasnya ada lampu, mungkin meja ini semacam meja yang biasa digunakan nenek untuk mengaji ataupun membaca buku


Melisa mendekati meja itu, meja yang sama sekali tak berdebu, benar benar rajin dan rapi bulek Fatimah merawat rumah nenek, pantas jika rumah peninggalan nenek menjadi hak miliknya


Melisa membuka laci paling atas, seingatnya bulek Fatimah bilang album itu nenek simpan di laci paling atas


Dan benar saja, ada sebuah album usang dengan corak gambar bunga seperti bunga matahari, Melisa membuka nya lembar demi lembar foto di album,


Di lembar pertama ada foto nenek memakai kebaya warna hijau tua dengan jarik kebanggaan nya, nenek terlihat sangat cantik dengan riasan sanggul sederhana


Ini khas wanita Jawa


Lembar berikutnya adalah foto seorang laki laki memakai baju kemeja lengan pendek dengan celana cekak diatas lutut serta memakai caping, tak lupa ada putung rokok di bibirnya


Apakah ini kakeh...???? hihihiiii Melisa bahagia bisa melihat wajah kakek, meskipun hanya di foto saja


Lembar berikutnya foto janur kuning yang dibentuk dua kembar mayang serta janur yang dihias dengan buah buahan, ini seperti dekorasi untuk acara resepsi pernikahan jaman dulu...


Lembar demi lembar Melisa buka sampai pada lembar sebuah foto pernikahan, seorang laki laki dan perempuan yang nampak cantik anggun duduk berjajar disebuah kursi yang dihias dengan dekor janur kuning, lengkap dengan kembar mayang dan janur berisi buah buahan, Lelaki itu tengah tersenyum lebar seakan menggambarkan sebuah kebahagiaan diwajahnya, laki laki berkulit sawo matang yang kelihatan nya berperawakan tinggi, hanya tubuhnya sedikit kerempeng,


Sangat kontras dengan perempuan yang bersanding di sebelahnya, putih bersih badan proposional ideal, dan kelihatan lebih elegant meski dengan riasan sederhana


Namun yang membuat Melisa merasa aneh adalah.... saat dia mengamati lebih detail wajah si lelaki difoto itu, wajahnya sangat mirip dengan nya, bentuk hidung, kelopak mata mirip sekali dengan nya, hanya rahang nya saja yang lebih lebar,


Bentuk bibir si wanita itupun mirip dirinya, bahkan perawakan nya sama persis dengan nya, andai Melisa ada diantara sepasang pengantin itu mungkin dia adalah belahan dari dua pasangan itu

__ADS_1


" Ya Tuhan...apa... apakah ini bapak dan ibu kandungku...!!!!" gumam Melisa setelah menyimpulkan dan mengira ngira sendiri soal kemiripan nya dengan kedua foto itu


Melisa membuka lembar berikutnya, menampakan foto sesi suap suapan nasi kuning, lalu tarik menarik ingkung


Melisa fokus menatap wajah mereka


Bahkan di foto foto selanjutnya yang menampakkan pose mereka sedang bermesraan ala ala pengantin, Melisa semakin yakin bahwa dirinya mirip dengan kedua nya


" Benarkah ini bapak dan ibu ku...????"


Di halaman lembar belakang ada sebuah tulisan yang menjadi titik kesimpulan dari segala duga praduga nya


Melisa membaca nya dengan tangan yang gemetar menahan sesak didadanya


Kami yang berbahagia


Sasmito & Resinda


Sepasang suami istri yang saling mencintai dan mengasihi, yang berjanji akan sehidup semati selalu bersama, tidak akan pernah berpaling atau meninggalkan satu dan lainnya, yang akan berjanji bersama apapun yang terjadi....


Menua menimang anak cucu bersama....


Melisa menutup album sembari menangis terisak, dia seperti merasakan sakit yang dialami orang tuanya kala mereka harus dipaksa berpisah


Ibu pasti sangat berat dan tersiksa meninggalkan anak bayi nya dan suami yang sangat dicintai nya... bahkan ibu tak pernah lagi diberi kesempatan untuk bertemu dengan anak nya...


Sedang bapak...


Bapak menangis sepanjang hari mengharapkan ibu kembali dan menyusui bayi nya...


Bapak frustasi... bapak hancur...!!!


Hiks hiks hiks....


Melisa hanya bisa tersedu sedu, hatinya seperti disayat sayat sembilu... sakit sekali....


Ini bukan salah bapak... ini juga bukan salah ibu.. ini adalah bagian takdir yang harus mereka jalani,...


" Resinda istriku....


Apa kau tak rindu putri kecil kita...???


Dia setiap malam menangis kehausan... meminta dipeluk dan disusui kamu sayang...


Apa kau tak ingin menggendongnya... menyuapinya... atau mengganti popoknya...."


Tulisan bapak pertama yang ditemukan nya


" Resinda istriku....


Anakmu sudah bisa merangkak sayang.... bahkan dia sudah bisa memanggil mu dengan kata " mama"...


Apa kau tak ingin mendengarnya...???

__ADS_1


Apa kau tak rindu untuk menggendongnya...???


Apa kau tak bisa kembali barang sejenak untuk sekedar menengoknya...???


Dia butuh kamu sayang....


Dia mencari mu...."


Dan masih banyak lagi tulisan tulisan bapak saat menangisi kepergian ibu


Semua rindu dihatinya, rasa sakitnya, kehilangan, amarah.... bapak curahkan dalam tulisan tulisan nya...


Sampai pada bapak yang menyerah...


Demi anak nya...demi anak bayinya bisa merasakan kasih sayang seorang ibu... bapak rela menyanggupi syarat dan mahar yang diminta oleh keluarga Murni sebelum bapak menikahi Murni dan meminta Murni merawat anak bayinya


Akhirnya bapak terlilit hutang yang membuat hidupnya semakin sengsara dan kesulitan....


Sampai disitu saja tulisan bapak


Mungkin setelah itu bapak mulai sakit sakitan dan tak bisa lagi untuk menulis


Tetapi...


Di akhir lembar album yang diisi surat surat bapak yang mungkin juga dikumpulkan nenek, bapak menuliskan kata kata


Resinda istriku...


Pulang lah sebentar....


Waktu ku sudah tak lama lagi... aku hanya ingin bertemu dengan mu sekedar memberi setitik air pada dahaga rindu ini...


Anak kita sudah semakin tumbuh... sebentar lagi sudah mau bisa jalan...


Tetapi aku tak bisa lagi menemaninya...aku tak bisa mengantarkan nya sampai dia dewasa...


Pulang lah istriku... lihat lah anak mu


Aku rindu....


" Bapak....!!!! hiks hiks hiks... betapa besar nya bapak mencintai ibu....aku janji pak... aku janji akan cari ibu.. aku akan memberikan tulisan tulisan ini pada ibu... agar ibu tau betapa bapak kehilangan ibu... betapa bapak tersiksa saat ibu pergi dan tak kembali lagi.... Melisa janji pak Melisa akan bawa ibu kesini ke makam bapak...Melisa sayang bapak....hiks hiks hiks...."


Melisa mendekap erat album foto itu, dia duduk menunduk sembari menangis, tangisan yang amat pilu,


Dia merasakan bagaimana rasanya cinta yang tak bisa bersatu, cinta yang dipisahkan secara paksa...


Kadang cinta itu memang egois... cinta memang membutakan akal dan logika...


Tapi cinta menjadikan sebuah kekuatan pada orang yang tulus memberikan cinta...


Entah berapa lama Melisa menangis sampai akhirnya dia kelelahan sendiri dan terlelap dalam tangisannya,


Melisa tertidur sembari memegangi foto album penuh kenangan itu....

__ADS_1


__ADS_2