Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Nama Ibu Melisa


__ADS_3

Hampir sore hari dihari berikutnya Dika dan Melisa baru tiba di desa tempat yang katanya makam pak Sasmito bapak kandung Melisa.


Cukup sulit juga mencari alamat yang gak banyak orang tau daerah itu, karena daerah terpencil dan cukup sulit medan jalannya


" Mas... kayaknya itu rumah nenek aku dulu... aku ingat halaman yang luas dan rumah papan..." tunjuk Melisa pada sebuah rumah yang terletak dipaling pojok desa,


Rumah sendirian disampingnya sudah kebun yang sekarang tengah ditanami cabe


" Kamu yakin...???" tanya Dika memastikan


" Sepertinya mas... soalnya aku juga lupa lupa ingat...tapi kita coba aja kesana mas...."


Mereke segera bergegas kerumah yang Melisa maksud,


Melisa segera mengetuk pintu rumah yang terbuat dari kayu papan yang mulai rapuh


" Kulonuwun....." ucap Melisa sedikit berteriak


Pintu rumah dibuka pelan, seorang perempuan sekitar umur 50 han keluar dengan wajah yang bingung


" Sinten nggeh...???" tanya nya dengan logat Jawa yang kenthel


" Ini bener rumah nya nenek... eee... nenek..." Melisa bingung, dia bahkan lupa nama neneknya dulu


" Pokoknya ibu nya pak Sasmito..." lanjut Melisa yang mengingat nama mendiang bapak kandungnya


Wanita itu makin tertegun, guratan diwajahnya makin terlihat jelas, seperti nya wanita itu cukup heran dan kebingungan


" Kalian ini siapa...???"


" Tolong buk jawab dulu..nanti akan kami jelaskan..." pinta Melisa yang sudah tak sabar lagi


" Iya betul... ini rumah Mbah Sutini ibu dari Sasmito... tapi baik Mbah Sutini maupun Sasmito sudah lama meninggal nak... mbah Sutini sekitar 4 tahunan... saya tetangga sebelah yang sejak mbah Sutini sakit membantu merawatnya... karena beliau tak punya sanak saudara... satu satunya anak nya Sasmito sudah meninggal terlebih dahulu... dulu ada mantan istri Sasmito dan anak perempuannya beberapa kali pernah kesini... tapi setelah itu tak ada lagi kabarnya..." sahut ibu itu panjang lebar


Melisa tak kuasa lagi membendung air matanya, bahkan satu satu nya keluarga harapannya sudah meninggalkan nya juga, memang terakhir Melisa kesini waktu dia mau masuk kelas empat SD...dan sampai hari ini baru datang kesini lagi


" Saya Melisa buk... anak pak Sasmito..." ucap Melisa pelan sembari menahan isak tangisnya


Bu Fatimah terkaget,


" Anak Sasmito betul...???" tanya nya memastikan

__ADS_1


" Iya buk... kami datang kemari untuk mencari makam pak Sasmito..." Dika menyela membantu menjawab, sebab dilihatnya Melisa sedang tak baik baik saja


" Ayooo masuk nak... ya Alloh maaf ya ibu gak tau... pangling juga soalnya kamu udah segede ini... mana cantik banget lagi..."


" Nenek sakit apa buk..." tanya Melisa setelah mereka duduk dikursi rajut peninggalan mbah Sutini


" Sakit tua nduk... kasihan dia gak ada yang ngurus....kalian tak pernah lagi menjenguknya..." sahut bu Fatimah


" Bu boleh saya tanya sesuatu....??? apa ibu tau soal ibu kandung saya...???" tanya Melisa penuh harap,


Yahhh..


Dia berharap ada secerca informasi soal asal usul dirinya, atau mungkin dia bisa tau alasan kenapa ibu kandungnya sampai tega meninggalkan nya


" Ja...jadi kamu baru tau...???"


Melisa mengangguk


" Saya perlu tau buk... saya mohon kasih tau saya jika ibu tau soal cerita itu..." pinta Melisa lagi


Dika hanya menggenggam tangan Melisa erat, mencoba memberi ketenangan


" Ibu mu namanya Resinda... dia adalah gadis Jakarta yang dibawa Sasmito pulang dan tinggal di kampung...Resinda adalah anak dari salah satu konglomerat di Jakarta... katanya sihh keluarga nya pemilik pertambangan batu bara di daerah Kalimantan..." bu Fatimah memulai cerita


" Malam itu... datang sekelompok orang menggunakan mobil yang mewah nduk... mengkilap mobil nya... rupanya kenyataan yang paling mencengangkan membuat geger keluarga Sasmito... Resinda ternyata telah menikah dan memiliki 3 orang anak... dua laki laki dan satu perempuan...!! pokoknya yang ibu tau mereka berantem hebat Resinda di tarik paksa untuk kembali ke Jakarta bersama suami pertama nya..."


" Tapi Resinda mati matian menolak... dia tetap mau hidup bersama Sasmito apalagi dia sedang hamil anak pertama mereka..!! ibu gak tau pasti setelah itu apa yang terjadi... pokonya Sasmito dipukuli sampai babak belur... baru mereka pada pergi..."


" Ibu juga gak tau alasan kenapa Resinda memilih pergi dari suami pertama nya yang kaya raya itu... dan meninggalkan anak anaknya... sampai dia mau bohong pada Sasmito... atau mungkin Sasmito sudah tau dan yang salah siapa ibu juga gak tau pasti nak... ibu hanya tau soal itu...karena setelah ibu mu melahirkan mu... sekitar tiga bulan... Resinda di jemput paksa oleh orang orang memakai seragam hitam hitam ber jas...lalu sampai sekarang dia tak pernah kembali kesini lagi...meninggalkan Sasmito yang waktu itu sudah kaya orang gila... dan singkat cerita ketemu sama Murni yang mau merawat anak bayi nya yaitu kamu..."


Selesai bu Fatimah bercerita, air mata Melisa rasanya sudah habis kering, dia tak henti hentinya menangis menangisi nasib hidupnya...Kenapa malang nian nasib nya ini...!!!


Tetapi ada secerca harapan kecil untuk nya sekarang... setidak nya dia sudah tau nama ibu kandungnya yaitu Resinda, mungkin seorang istri dari pengusaha kaya raya yang memiliki tiga anak


Hanya dia tak tau dimana sekarang ibu kandungnya tinggal


" Terimakasih info nya buk... saya sangat berterimakasih... setidaknya saya tau sedikit asal usul diri saya ini..." ucap Melisa


" Sama sama nak....hanya itu yang ibu bisa katakan karena ibu tak tau pasti cerita yang sedetailnya... karena itu bukan urusan ibu jadi ibu gak mau ikut campur...." jawab bu Fatimah sembari tersenyum, iba juga melihat Melisa yang sebatang kara dan dipermainkan oleh kenyataan hidup


" Oya... nduo kalau kamu mau tau lebih lengkap soal dirimu dan ibu bapakmu... coba kamu datang kerumah mbah Martinah... dia adalah adik dari nenek mu....rumahnya ada di gang depan... hanya saja mungkin keluarga nya tak akan ramah atau malah tak mau menganggapmu keluarga... karena memang sejak dulu mbah Martinah tak pernah mau menganggap mbah Sutini itu mbakyu nya..."

__ADS_1


" Kenapa buk...???? apa salah keluarga ku yang pernah dilakukan...? mungkin aku bisa memperbaiki nya..." tanya Melisa


" Alasannya simple... karena nenek mu orang miskin... dan mbah Martinah kebetulan nikah sama juragan... jadi mereka tak mau menganggap mbah Sutini sodara..."


Lagi lagi harapan Melisa pupus, dia seperti wayang yang tengah dimainkan dalang dalam sebuah kontes drama


Hidupnya layaknya drama yang konyol namun menyakitkan, seperti sedang dijajah namun tidak ada satupun kompeni yang menawan nya...


Hidup memang kadang se drama ini...


" Saya akan coba kesana buk... saya hanya butuh sedikit informasi..." sahut Melisa lemah


" Oya buk saya boleh minta tolong satu lagi...???"


" Apa nduk...??? kalau ibu bisa ibu pasti bantu..."


" Antar saya ke makam bapak ya buk... saya mau ziarah.... saya pengen kenalan sama bapak..."


" Besok pagi mungkin buk... ini udah sore... Melisa sepertinya butuh istirahat... kondisinya juga sedang kacau balau..." potong Dika


" Iya nduk.. mas..besok pagi ibu antar kalian ke makam Sasmito... sekarang istirahatlah dirumah mbah mu ini... rumah ini selalu bersih karena setiap hari ibu rawat... karena pesan mbah Sutini... kalau cucu nya tak pernah lagi kesini maka rumah ini jadi hak milik saya..."


" Gak papa buk... saya hanya numpang mampir kalau kesini... sekedar numpang untuk tempat tujuan dan bermalam....tohhh ini memang hak ibu karena ibu sudah mau merawat nenek... saya yang berterimakasih... karena ibu sudah sudi merawat nenek... "


" Jangan sungkan nduk... mbah Sutini itu orang baik... saya dulu sering ditolongnya juga..." bu Fatimah tersenyum ramah


" Oya... mas sama gendhuk ini sudah menikah apa...???" tanya bu Fatimah yang melihat Dika amat perhatian dengan Melisa


" Iya buk... rencana nya bulan ini kita mau menikah... hanya ada kejadian seperti ini saat kami mau mencari wali untuk Melisa... rupanya pak Marjo yang selama ini di kira ayah kandung Melisa rupanya bukan siapa siapa... makanya kami kesini mau cari tau asal usul Melisa..." jelas Dika singkat agar tak menimbulkan banyak pertanyaan


Berbicara dengan ibu ibu harus singkat padat dan jelas agar tak menimbulkan pertanyaan lain yang makin menjebak


" Ohhh gitu... yaudah ibu pulang dulu ya... disini ada dua kamar kalian bisa istirahat di kamar masing masing... jangan dulu sekamar ya... kan belum muhrim..." goda bu Fatimah


" Kalau ada apa apa atau butuh sesuatu rumah ibu di sebelah..."


" Iya buk makasih...."


Bersambung~


Jangan lupa Vote nya ya guys.....

__ADS_1


Happy Reading....


__ADS_2