
" Mbak Mel... mas Dika nitip surat ini buat mbak Melisa... ini mas Dika tulis waktu kami lagi bingung bingungnya... mas Dika setiap malam menangis... memikirkan mbak Melisa... ada ketakutan yang aku gak bisa pahami saat itu... mas Dika nitip surat ini dan berpesan untuk memberikan nya diwaktu yang tepat... aku pikir inilah waktu yang tepat mbak Mel..." ujar Faizal sembari memberikan sepucuk surat yang Dika titipkan pada nya
Melisa sesenggukan, mengambil surat itu dari tangan Faizal
" Makasih Iz..." ucapnya sembari menyeka airmatanya yang jatuh tanpa henti
" Mbak... aku harus pulang... mas Dika berpesan untuk aku dan keluarga ku pergi jauh dari kota ini... mbak Mel... aku mau pamit... mbak Mel jangan sedih terus ya... aku akan sering sering mampir nengokin mbak Mel sama Valdi... kalaupun mbak Mel harus ke Jakarta... aku akan usahain sering main..." pamit Faizal
" Iyahh Iz.. aku minta maaf.. kondisi ku memang belum stabil... aku belum bisa mengontrol diriku sendiri...aku minta maaf kalau mengabaikan mu ya..."
" Aku paham mbak Mel... tidak perlu di pikirkan... yang aku pengen mbak Mel harus cepet bangkit, harus tetep kuat dan tegar seperti mbak Mel yang selama ini ku kenal... tetap kuat meskipun berulang kali diterpa kejatuhan...."
Melisa tersenyum hambar mendengar ucapan Faizal, mungkin maksudnya memberi semangat tapi kata kata nya yang kurang tepat malah terdengar sedang melawak
" Salam buat keluarga mu ya..."
" Iya mbak Mel nanti ku sampaikan... aku mau pamit...!!!" Faizal pamit pulang, sesuai instruksi Dika, Faizal jangan sampai terlalu lama berkeliaran di kota itu untuk sementara waktu ini, takutnya masih banyak anak buah klan mafia yang mengintainya, bagaimanapun Faizal pernah andil didalam nya
Sekepergian Faizal Melisa kembali duduk terdiam seorang diri di kamar, dia kembali menangisi suami nya, berat untuknya melewati kenyataan ini saat ini, bagaimana pun Melisa sangat mencintai dan bergantung pada suaminya
Melisa membuka lipatan surat yang diberikan Faizal pada nya, carikan tulisan Dika yang terlihat ditulisnya dengan tergesa gesa, terkesan tidak rapi dan berantakan
Sebelum membaca surat terakhir dari suaminya, Melisa memeluk surat itu dengan erat terlebih dahulu, seakan ingin merasakan kehadiran mendiang suaminya, dia ingin sekali mendapat kesempatan sekali lagi untuk merasakan hangat nya tubuh suaminya, lembutnya ciuman nya seperti pelukan dan ciuman terakhir sebelum peluru panas itu menembus jantungnya, merenggut cinta Melisa yang akhirnya memisahkan mereka untuk selamanya
" masss.... aku kangen...!!! aku pengen peluk kamu... aku pengen bersandar di bahumu mas... seandainya aku boleh memilih... aku lebih memilih menangis karena kamu belum bisa melupakan mantan mu... kamu membandingkan aku dengan mantan mu daripada aku menangis karena kehilangan mu... dipisahkan oleh takdir... kau meninggalkan aku kealam yang berbeda... mas Dika... aku kangen... bisakah kau datang dan peluk aku sebentar....hiks hiks hiks...!!!"
Di luar Resinda dan Juwita hanya ikut perih mendengar rintihan Melisa, mereka juga tai bisa berbuat banyak untuk menghibur Melisa
" Aku pengen ketemu kamu mas... datanglah sebentar...meskipun dengan wujud apapun... aku tak peduli yang penting itu kamu aku tidak peduli mas... aku hanya ingin mencurahkan rindu ini... rindu yang terlalu menyiksa ku...!!!!"
Langit tak mendengar bumi pun tak mendengar, orang yang sudah kembali ke pelukan sang Pencipta tak mungkin akan kembali walau sebentar, tugas dan tanggungjawabnya sudah berbeda... mungkin hal yang dilakukan pun sudah berbeda...manusia memang rapuh saat kehilangan tetapi manusia tidak bisa melawan kehendak Penciptanya...
__ADS_1
Dengan gemetar Melisa membuka surat yang sedari tadi dipeluknya erat, memberanikan diri untuk membacanya
...*Dear Istriku.......
Mungkin ketika kamu membaca surat ini aku sudah pergi jauh.... Yahhh entah kenapa aku merasa aku akan pergi jauh dari mu... mungkin pergi yang tak kunjung kembali... entah ketika saat ini atau setelah nanti sempat bertemu dengan mu...
Sayang....
Kau tau bukan aku sangat mencintai mu...??? apa kau yakin kalau aku benar benar mencintaimu...!!!
Maaf jika ku sering membuatmu ragu... sering membuat mu tak yakin... maaf jika aku sering menyakiti hatimu mempermainkan cinta mu...
Mel... ketika kita sudah tidak bisa bertemu lagi... aku mohon jangan terus terpuruk menangisi ku... kamu harus bangkit... lanjutkan hidupmu... aku telah gagal membuat mu bahagia... jadi ku mohon jangan biarkan aku menyesali karena melihat mu menangis...
Dengarkan aku sayang... menikahlah dengan Wawan... dia bisa membahagiakan mu... dia bisa mencintai anak kita seperti anak nya sendiri... selama ini kau sudah merasakan kasih sayang nya kan...???
Tidak sulit sayang asal kau mau membuka hati untuknya... aku yakin dia akan mencintaimu seperti aku mencintai dirimu....
...*Dari laki laki yang akan selalu mencintai mu...
Andhika*....
Melisa kembali menangis tersedu sedu, sesak dan menyakitkan, sepertinya disaat Dika menuliskan surat ini dia sekan sudah merasakan akan ada hal buruk yang terjadi...Tetapi kenapa harus menikah dengan Wawan...!!!!
Melisa meremas surat Dika, meraung raung sendirian di kamar, dia sampai tak bisa mengontrol dirinya, terlalu menyakitkan...
Gondrong yang mendengar tangis adik nya makin kencang langsung berlari panik masuk ke kamar Melisa, apalagi mendapati Melisa bersimpuh sembari menangis tanpa pikir panjang Gondrong langsung memeluk Melisa
" Lu kenapa Mel...???"
Melisa hanya menyerahkan surat Dika pada Gondrong, Gondrong membaca nya dengan teliti, setelah paham apa yang di inginkan Dika Gondrong kembali memeluk Melisa menenangkan
__ADS_1
" Udah ya tenangkan dulu diri lu... jangan terus nangis menyiksa diri kek gini... gue gak bisa ngliat lu kel gini Mel... kasih tau gue apa yang bisa gue lakuin buat bantuin lu...!!!"
Melisa hanya menggeleng sambil mengeratkan pelukan nya lebih erat ke tubuh Gondrong, mungkin saat ini dia hanya butuh seperti ini saja, biarkan dia menangis sampai puas, Gondrong mengelus rambut Melisa penuh kasih sayang, adik nya sedang rapuh... sedang dalam kesedihan yang cukup dalam
" Mel... boleh gue bertanya...????" Melisa hanya mengangguk
" Apa jawaban lu dari surat Dika...???"
" Apa bang Gondrong setuju dengan permintaan mas Dika...!!!" tanya Melisa balik
" Gue gak bisa katakan gue setuju atau tidak...!!! tapi gue juga pernah denger waktu Dika meminta hal itu ke Wawan... gue gak tau pasti apa maksud Dika...tapi mungkin Wawan adalah orang yang tepat yang bisa Dika titipin buat jagain lu...!!!"
Melisa melepas pelukan Gondrong mematap Gondrong dengan mata sembab kemerahan, rambut nya yang acak acakan benar benar memperlihatkan dirinya yang sedang kacau
" Cinta bukan suatu permainan bang... aku mencintai mas Dika tulus tanpa menuntut apapun...."
" Gue tau Mel... dan gue paham itu... kita semua gak ada yang maksain lu apapun... semua kembali ke lu... pilihan lu... lu yang bakalan jalanin... tapi mungkin Dika nulis itu karena dia percaya Wawan orang yang tepat buat lu...!!!"
" Apa mas Wawan mau...???" tanya Melisa
" Wawan menolaknya... tapi Dika terus mendesak, bahkan sesaat sebelum penembakan itu terjadi... pas Dika pamit ke kita semua... Dika juga sempet meminta nya lagi ke Wawan..."
" Mas Dik... sangking cinta nya kamu ke aku... sampai kamu menitipkan aku ke sahabatmu seperti ini... apa kamu gak percaya aku bisa jaga diri aku... aku akan baik baik aja mas....hiks hiks hiks...."
" Ada banyak hal yang mungkin gak bisa Dika sampaikan ke kita Mel... gue paham dia pasti dalam kondisi tertekan...tapi saran gue... lu jangan ambil ini semua dengan sisi negatif, lu marah dan lu gak terima... kata kata lu bener mungkin sangking cinta nya Dika ke lu sampai ketika dia merasa dia bakalan ninggalin lu dia udah nitipin lu dengan bener bener ke orang yang tepat yang bisa dia percaya yaitu Wawan..."
" Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang bang...???" tanya Melisa pasrah
Bersambung~
Jangan lupa Kasih Vote yang banyak ya Readers, dukungan kalian semua berarti buat author...hihihi
__ADS_1
Happy Reading..