
Seminggu sudah berlalu
Hari ini Melisa sudah mulai bersahabat dengan keadaannya, sudah tidak lagi menangisi Dika sampai matanya bengkak, sudah mulai terbiasa saat malam malam tiba tiba Valdi terbangun dan menangis tak ujung henti, sudah mulai terbiasa tinggal bersama keluarga ibunya... semua mulai tertata dengan baik
Selesai memandikan Valdi, Melisa berencana jalan jalan keluar sebentar ke taman, selain merileks kan pikiran sepertinya Valdi sudah waktunya mulai di kenalkan dengan alam, todak setiap hari terkurung dirumah mewah itu, Melisa mendorong kereta bayi dengan sangat hati hati sembari bersenandung lirih untuk anaknya...
" Sayang anak ibu... kita sudah sampai di taman...!!! lihat lah nak betapa berwana rupa rupa bunga bunga ditaman ini... bau nya yang harum sampai banyak kupu kupu cantik yang hinggap di putik nya..." ujar Melisa pada bayi nya, seakan tau apa yang dibicarakan ibu nya, Valdi tersenyum dengan mata yang membulat indah, bibir tipisnya merekah manis
" Bunga itu ibarat hidup kita nak...kita akan tumbuh lalu mekar hingga dipandang indah oleh siapapun... akan semerbak harum hingga semua orang ingin memetiknya... namun terik dan hujan yang terus menghampiri... menerpa diri kita membuat yang tadinya harum mulai layu, yang tadinya kokoh mulai rapuh... hingga tiba tangkai kita pun ikut rapuh dan roboh....lalu pergi kelangit sana seperti ayah mu...."
Melisa memetik satu tangkai bunga lalu jongkok didepan kereta Valdi, menatap Valdi penuh kasih sayang
" Nak... lelaki yang hebat adalah lelaki yang bisa menjaga seorang perempuan dengan baik, laki laki yang bisa menghormati dan memuliakan wanitanya... dan sebagai seorang lelaki... kau harus bisa menjadi pelindung dan tempat ternyaman untuk wanitamu...kalau kau menyakiti hati wanita... sama dengan kau menyakiti hati ibu... kau mengerti...!!!"
Valdi si bayi mungil itu hanya mengangkat angkat kaki nya kegirangan... mata indahnya menatap kupu kupu beterbangan, tangan nya menggapai gapai ingin mengambilnya, teriakan riang dengan celoteh yang tak jelas membuat Melisa tersenyum kecil menatap buah hatinya, buah cinta yang masih tanpa status...
" Melisa...!!!!" sebuah suara panggilan mengagetkan lamunan nya
" Mbak Ervina...!!! kok disini...???" tanya Melisa balik dengan senyum manis yang mengambang
" Iya... kebetulan gue lewat daerah sini... wahhh lagi main sama Valdi yaaa..." Ervina langsung nyamperin bayi mungil itu dengan gemes
" Haiii jagoan...!!! wajahmu mirip banget ayah mu yaaahhh...." Ervina membelai pipi Valdi lembut
" Cepet banget kamu gede sih... perasaan kamu baru beberapa minggu lahir hihihi..."
" Oya gimana kabar lu Mel...???"
" Sudah lebih baik mbak..." sahut Melisa sambil tersenyum
" Syukurlah..!! bersedih boleh tapi jangan berlarut larut... menjaga kewarasan juga penting Mel..." nasehat Ervina
" Hehe iya mbak..."
__ADS_1
" Oya Mel mumpung ketemu lu gue ada sedikit yang mau gue tanyain nih ke elu... tapi sebelumnya sorry ya kalau gue ikut campur urusan pribadi lu... yaahhh mau gimana juga gue kan kenal lu kenal Dika juga kenal Wawan..."
Melisa menatap Ervina, kenapa dia juga menyebut nama Wawan...???"
" Kita duduk aja mbak biar enak..." ajak Melisa penasaran, dia ingin tau apa yang mau di sampaikan Ervina, Melisa menarik kereta bayi nya ditaruh di sampingnya, membiarkan Valdi menikmati kupu kupu terbang sembari mengoceh tak jelas dan dia bisa ngobrol bersama Ervina
" Apa ada hal penting yang mau disampaikan mbak...???" tanya Melisa lagi karena sedari tadi Ervina malah diam
" Gini Mel... gue sempet denger dari Delon soal lu Dika dan Wawan... gue juga di ceritain soal permintaan Dika ke Wawan untuk menggantikan dia buat lu.. juga surat yang Dika tulis buat lu..." Ervina mulai menyampaikan maksudnya, Melisa masih diam menyimak
" Sorry Mel... gue gak maksud ikut campur... tapi... gue tau lu sayang banget sama Dika kan... sampai lu bela belain hidup bareng Dika, tinggal berdua walaupun lu tau belum ada status apapun... gue rasa sebagai cewek lu cukup berani mengambil keputusan itu.. dan pastinya tanpa alasan bukan...??? melainkan karena lu sayang, cinta sama Dika..."
" Wawan memang baik, dia perhatian, dia lembut sama cewek, dia yang selama ini ada disamping lu pas lu hamil... tapi.. tapi rasamya gak pas aja Mel.. kek gimana ya... kesan nya tuh lu itu gimana gitu kalau lu tiba tiba udah move on dan langsung nerima Wawan...!!!"
" I..iya gue paham... lu nerima dia bukan serta merta karena lu selama ini emang suka sama dia juga... tapi coba lu pikir baik baik Mel... gimana perasaan Wawan nerima semua ini... dia bakalan ngerasa kalau lu hanya jadikan dia pengganti Dika, dan Wawan menerima lu hanya karena kasihan dan permintaan almarhum..."
Melisa menatap Ervina, kenapa tiba tiba Ervina bisa bicara seperti itu... !!!
" Mel...!!! apa segampang itu lu Move On dari Dika...????" tanya Ervina serius
Melisa meneteskan air matanya
" Mbak... aku sebenarnya bingung... disatu sisi banyak orang yang meminta ku untuk bangkit, untuk cepat melanjutkan hidup... banyak orang yang memberi suport supaya aku memikirkan permintaan mas Dika... aku disuruh mikir Valdi yang pastinya butuh sosok ayah... sampai aku berusaha mati matian membuka hati mencoba memberi ruang buat orang lain....tapi disatu sisi ketika mbak Ervina bicara seperti itu... aku merasa aku ini wanita rendahan... yang dengan mudahnya pindah kelain hati dengan gampangnya... bahkan mengorbankan sebuah pertemanan hanya untuk keinginan ku..."
" Apa mbak Ervina tau seberat apa yang aku rasakan saat ini...!!! aku tertekan mbak...!!!" tangis Melisa
" Coba tanya hatimu Mel... hatimu yang paling dasar... apa yang sebenernya kamu inginkan...!!!!"
***
Melisa langsung pulang, acara jalan jalan nya hari ini sedikit terganggu dengan ucapan Ervina tadi, memang banyak benarnya maksud saran Ervina tadi itu, hanya saja membuat Melisa semakin bingung
" Mel buru buru jalan jalan nya...!!!" sapa Mama yang sedang duduk diruang tv
__ADS_1
" Iya bu... ramai banget di taman jadi aku kurang nyaman..." dusta Melisa
" Ohhh baiklah... duduk sini nak ibu mau bicara sama kamu...Valdi biarkan dikereta dulu sebentar...!!!"
Melisa mengikuti permintaan ibu nya, duduk disebelah Resinda dengan patuh
" Nak... ibu pengen bahas soal kamu kedepan nya seperti apa...!! apa kamu sudah punya jawaban atas keinginan Dika disurat nya...???" tanya Resinda lembut
" Ibu tau berat untuk kamu memutuskan pilihan secepat ini... tapi ibu rasa ini adalah waktu yang tepat nak... Valdi masih bayi... dia belum tau betul siapa bapak biologisnya... kalau kamu menunda waktu... kasihan anak mu dia butuh sosok ayah untuk hidupnya... ibu tidak memaksamu nak... tapi pikirkan ini demi Valdi..."
" Wawan anak yang baik... sedari awal kamu hamil pun yang selalu disamping mu, menjaga mu bahkan membelikan semua yang kamu minta saat nyidam adalah dia... ibu rasa ikatan batin antara Valdi dan Wawan pasti kuat..."
" Bu... haruskah mas Wawan...??? mas Wawan kan sahabatnya mas Dika... masa aku harus menikahi sahabat suamiku bu... apa kata orang menilaiku...??? lagi pula mas Dika juga baru saja pergi... secepat itukah aku harus berpaling...!!!" tanya Melisa yang saat ini berada di jalan buntu
" Karena Wawan adalah sahabat suami mu nak... dan mendiang suami mu pun menginginkan itu... justru andai kamu menolak Wawan dan memilih orang lain... apa pendapat temen temen Dika...!!! lagi pula Wawan sudah mengenal baik kamu... bisa menerima kamu dan pastinya juga akan menerima Valdi...apa kamu tidak mau itu...??? ayooo sayang jangan egois mikirin kata orang... ikuti kata hatimu..."
" Ibu yakin Wawan bisa menggantikan posisi Dika untuk kalian...Wawan akan mencintai Valdi seperti anak nya... bukan kah ini harapan semua ibu...???"
Melisa hanya diam menunduk, dia merasa keaadan seolah memojokkan nya, Melisa merasa serba salah...
Menurut Ervina dia akan egois jika menerima Wawan tapi menurut ibu dan Delon dia akan lebih egois jika menolak Wawan
" Tanyakan pada hati mu apa yang sebenarnya kau mau...!!!"
Bersambung~
Coba bayangin posisi jadi Melisa gimana para Readers...!!!
Jangan memberi saran dari sudut pandang kita tapi coba andai kalian jadi Melisa
Apa yang akan Readers pilih...!!!!
Happy Answering...
__ADS_1