Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Kos Untuk Melisa


__ADS_3

Kriiiiingggg


Bunyi telpon dari ponsel Dika memecah kesunyian malam, semua sudah tidur, Melisa tidur diatas dan Dika bersama Wawan Faisal dibawah


Sembari menepis kantuk Dika melirik layar ponselnya, nama bos Reyden menunggu respon nya, Dika buru buru berlari keluar, sejauh mungkin menghindar dari Wawan dan yang lain


" Haloo bos..." sahut Dika setengah berbisik, setelah doi merasa aman tak ada orang yang mendengar percakapan nya


" Kamu dimana...??? kenapa urusan belum selesai sudah tidak ada ditempat...!!!" tanya bos Reyden dengan suara marah dari ujung telpon


" Maaf bos .. saya ada urusan mendadak..." sahut Dika sekenanya


" Jangan sembarangan kalau mau bekerja sama dengan ku anak muda...!!! jangan mempermainkan tugas yang saya percayakan kepada mu...!!!!"


" Maaf... maaf bos... saya janji tak akan mengulangi lagi..." Dika takut sekali di gertak bos Reyden, bagaimana pun dia sudah ada ikatan kontrak yang tidak bisa sembarangan dilanggar, urusan nya bakal panjang


" Oke...!! kali ini bakal aku maklumi.. besok kamu sudah ada di sana lagi... jangan berani mengelak apa lagi beralasan pada ku... atau nyawa mu akan jadi taruhan nya...!!!!"


" Baik bos...!!! saya mengerti..." Dika segera menyudahi obrolan nya dengan bos Reyden


Dia tau resiko berada di dalam klan mafia


Dika segera kembali ke kontrakan, untung Wawan maupun Faisal masih tidur pulas, mungkin mereka kecapean juga makanya tidur nyenyak


Dika duduk disudut kamarnya, memikirkan kembali keadaan hidupnya yang tak sebebas dulu, saat ini...


Uang mungkin bisa didapatnya dengan mudah, bos Reyden gak nanggung nanggung kalau ngasih bonus jika dia berhasil menyelesaikan tugas, tapi....


Sekali Dika berulah atau bertindak yang tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan, dia akan menjadi buronan yang lebih mengerikan dari pada seorang ter**is,


Dia juga harus menjadi orang yang kejam, tak punya hati dan buta mata, jika ada didalam klan mafia yang berhianat tugasnya adalah mengeksekusinya, atau mungkin partner yang merugikan bos, maka dia orang yang harus membasminya


Dosa demi dosa ditumpuknya hanya karena sebuah ambisi sesaat, Dika sadar atau tak sadar sudah memasukkan hidupnya dalam kehidupan kejam tak berperasaan


Semua sudah terlanjur... mau mundurpun tak bisa semudah itu


Satu satunya tindakan yang bisa dilakukan adalah, mencari keuntungan atas resiko yang dijalaninya


" Biarlah sekarang seperti ini dulu... kalau nanti uang ku sudah banyak... aku sudah jadi orang kaya... aku bisa mundur dan berhenti dari dunia mafia... aku akan memulai hidup baru yang lebih baik... entah bersama Je ataupun bersama Melisa..." gumam Dika menguatkan hatinya, intinya rencana itu yang bisa dibuatnya sekarang


Ngumpulin duit dulu yang banyak, baru nanti akan keluar secara baik baik dari bos Reyden, dipikirnya sama dengan seorang partner bisnis


Dika mau naik ke kamar Melisa, lama juga dia tak memeluk tubuh gadis itu, menciumi bibirnya yang merah manis, dan menikmati kehangatan permainan nya, tapi hasrat itu segera diurungkan nya


Saat ini ditempat kontrakan nya juga ada Wawan dan Faisal, ditambah sepertinya hubungan nya dengan Melisa lagi kurang baik, gadis itu pasti akan menolaknya


Ketimbang dongkol, Dika lebih memilih kembali tidur, menghimpun tenaga untuk tugas besok yang cukup menguras tenaga, ada si kerikil yang sepertinya akan menggulingkan roda bos Reyden dan tugas nya adalah menghilangkan kerikil itu agar tak menyadung laju mereka


" Kalau Melisa ku tinggal masih bersama Wawan dan Faisal sepertinya aku gak rela... lagi pula Melisa minta tinggal sendiri... bukan kah itu lebih mempermudah jika aku ingin datang ketempatnya...!!! besok pagi sebelum aku berangkat aku mau menyempatkan dulu untuk mencarikan nya kos kosan...." gumam Dika lagi


Banyak sudah rancangan planning di otak nya, tinggal ngumpulin tenaga untuk merealitakan nya besok..


***


" Sayang....!!!" panggil Dika dengan nada lirih, begitu dilihatnya Melisa sudah selesai mandi

__ADS_1


" Mas udah bangun..??? mau ngopi apa sarapan...??" tawar Melisa


" Ng...gak...!!! buruan ganti baju aku mau ngajak kamu keluar sebentar..."


" Pagi pagi gini...!!!! mau kemana...???" tanya Melisa heran,


" Udah... buruan ganti baju nanti mas jelasin..."


Melisa segera naik ke kamarnya ganti pakaian lalu segera menghampiri Dika yang sudah menunggu nya dibawah


Dika segera menggandeng tangan Melisa keluar kontrakan


" Hari ini mas harus pergi lagi... karena urusan kemarin kan belum selesai..." ujar Dika begitu mereka sampai di parkiran motor


" Langsung pergi...??? emang gak bisa kalau ditunda... aku kan masih kangen mas..." Melisa bergelayut manja di lengan Dika


" Gak bisa sayang... mas harus segera balik ke tempat kerjaan.. kalau udah kelar semua baru mas bisa pulang..." terang Dika dengan nada lembut sembari mengusap kepala Melisa


" Makanya mas pagi pagi ini mau ngajak kamu nyari kos kosan... kamu bilang kan kamu mau ngekos sendiri... jadi mas pikir ada baiknya begitu ketinbang kita tinggal bareng sama Wawan dan Faisal..."


" Sementara mas sering pergi kamu tinggal sendiri dulu... kalau mas balik kan bisa bareng..." lanjut Dika


Melisa hanya mengangguk setuju


" Mau nyari dimana...???" tanya Melisa


" Deketan sini aja biar kalau mas pulang gak terlalu jauh kalau mau ke kosan kamu..."


" Gak nyari di daerah pasar aja mas...kan deket sama bang Gondrong....kemarin kata bang Gondrong banyak kosan murah bagus di daerah sana..." usul Melisa


Seketika wajah Dika langsung berubah masam, entah kenapa dia jadi sensi kalau Melisa menyebut nama Gondrong diantara mereka


" Jangan salah sangka gitu donk... bang Gondrong itu udah kaya abang aku sendiri mas... kapan aku butuh bantuan kan bisa gampang..." Melisa memberi pengertian


" Lagian bang Gondrong aja sekarang udah punya gebetan kok... ngapain kamu jellouse..."


" Tumben...!!! dapet dimana...???"


" Panjang Ceritanya..." sahut Melisa singkat


" Yaudah buruan naik kita cari kos kosan dulu sekarang... waktu mas gak banyak soalnya..."


Melisa segera nangkring di boncengan senbari memeluk Dika erat, tubuh kekar itu dengan segala kehangatan nya, sepertinya sudah lama Melisa tak memeluknya, bersandar di dada bidang nya, akhir akhir ini banyak jarak yang terjadi diantara mereka, padahal tempat ternyaman Melisa sebenarnya adalah berada di pelukan Dika


" Mas... kayaknya itu kosan... itu ada tulisan "Terima kos..." Melisa menunjuk sebuah rumah yang banyak pintu pintu kamar


" Kayaknya itu terlalu ketat peraturan nya... nanti mas malah gak boleh main...!!! nyari yang lain dulu ya..."


Mereka kembali menelusuri jalanan pagi yang masih cukup dingin namun sudah mulai bising, Namanya juga Jakarta, kapan manusia udaj pada melek ya segala aktivitas sudah beroperasi


Semua daerah disekitar mereka, sudah di telusuri, tapi sepertinya Mereka belum menemukan kosan untuk Melisa yang cocok, ada bagus cocok tapi harga nya cukup mahal, mikir bajet juga donk... ini bukan soal gengsi tapi soal kenyamanan tempat tinggal, ada yang bajet nya pas tapi tempatnya kurang cocok


Jadi segala sesuatu nya perlu di perhitungkan


" Gimana kalau agak deketan sama bang Gondrong...??? kita minta bantuan dia aja buat nanya nanya..." usul Melisa lagi

__ADS_1


" Gak perlu libatin orang lain yang bukan siapa siapa kita...!!!" balas Dika ketus


Melisa mau protes, Gondrong itu bukan orang lain dia adalah abang Melisa seibu, tapi segera diurungkan nya, kayaknya saat inj bukan waktu yang tepat untuk Melisa menceritakan semua, apalagi ini di tempat umum banyak orang, takut sesuatu yang tidak disadari akan terjadi


" Hmmmm itu kayaknya juga kos kosan... depan nya gak di gerbang... tapi kataknya nyaman.. coba kesana" Dika menunjuk sebuahh rumah yang ada di sebrang jalan


Mereka menghampiri rumah itu


Kalau dilihat lihat cukup nyaman, rumah kosan berlantai dua, dan sepertinya cukup luas dalam nya


Dika menghampiri seorang perempuan yang kebetulan sedang turun dari tangga sambil bawa jemuran


" Misi mbak mau tanya..." sapa Dika pada perempuan itu


" Iya gimana..." sahut si mbak dengan ragu ragu


" Ini kos kosan ya...??? apa masih ada kamar kosong..." tanya Dika


" Ohhh iya kamar kosan...kayaknya sih masih...." sahut si mbak dengan tersenyum


" Kira kira sebulan berapa mbak kalau disini...???"


" Kamar cukup luas mas... bisa buat kasur dan ruang tamu... juga ada dapur mini dan kamar mandi dalam... tempatnya juga bersih... sebulan satu jutaan..." jelas si mbak


" Mau buat suami istri...???" tanya nya lagi


" Eeee... calon istri..." sahut Dika, tumben doi gak memperkenalkan Melisa istrinya mungkin trauma dengan cibiran tetangga kek nya


" Oohhh...coba aja nanya langsung sama bapak kosan... itu rumahnya..." si mbak ngasih tau rumah bapak kos yang berada di samping kosan


" Oke mbak makasih..." sahut Dika sembari kembali menghampiri Melisa yang menunggu nya di motor


" Kamu mau gak kalau tinggal disini sayang...???" tanya Dika


" Kata mbak nya ruangan cukup luas, bisa buat kasur sama ruang tamu, terus ada dapur mini dan kamar mandi dalem... tempatnya juga strategis, pinggir jalan deket sama mini market juga..."


" Sebulan berapa mas...???"


" Sekitar satu jutaan katanya... sepadan lah sama tempatnya... dan yang paling penting kayaknya disini gak terlalu disiplin dan ketat... jadi kalau mas kangen mas bisa langsung kesini kapan aja..."


" Aku langsung pindahan hari ini...???"


" Ee... iya.. mas habis ini langsung berangkat soalnya... nanti kamu beberes sendiri ya... mas gak bisa bantu..."


" Iya deh gpp... tapi pulang nya jangan lama lama ya... aku kan masih kangen sama mas..." Melisa manyun manja, bikin Dika makin gemes aja seeehhh...


" Iya.... mas usahain begitu urusan selesai langsung pulang...yaudah kita cari bapak kosan dulu yuk...."


Mereka segera berjalan kaki menuju rumah besar yang ada disebelah rumah kosan


Tanpa mereka sadari, dari kejauhan sepasang mata mengawasi mereka dengan jeli sedari tadi, mata itu memperhatikan dan menandai titik tempat Melisa


Bersambung~


Jangan lupa Vote nya ya readers

__ADS_1


Kasih Vote yang banyak untuk dukung karya author


Happy Reading....


__ADS_2