Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Permintaan Dika


__ADS_3

Dika tertunduk diam, dia tak tau harus menjawab apa atas semua permintaan Melisa yang mendesaknya


Melisa tak salah, dia hanya meminta hak dan pertangnggung jawaban atas harapan yang dia berikan,


Dialah yang salah...


Sebagai laki laki Dika tak bisa memberikan kepastian pada seorang wanita, Dika membiarkan Melisa menanggung semua nya sendiri


Dika terlalu cupu... terlalu penakut untuk mengambil langkah, dia mengorbankan hati Melisa hanya karena ketakutan nya


" Mel..."


Melisa enggan lagi mendengar ucapan Dika, dia ingin segera ke kamar nya, merebahkan tubuhnya yang amat lelah, lelah menanggung hinaan sendirian, kepalanya tiba tiba berdenyut hebat, mata nya terasa panas, dan lidahnya pahit, Melisa merasa hidung nya mengeluarkan cairan merah yang terus menetes hingga ke lantai, wajahnya makin pucat, namun dia tetap beranjak bangun dari duduknya


Melisa sempoyongan


" Mel.. kamu kenapa Mel..." Dika kawatir, apalagi melihat hidung Melisa mimisan dan wajah nya pucat


" Mel kamu mimisan..."


Tangan Melisa dingin, dan...


Bruuuuggghh


Melisa jatuh tak sadarkan diri


" Astaga sayang....!!!! sayang bangun sayang... kamu kenapa...!!!" Dika panik, langsung membopong tubuh Melisa naik ke kamarnya


Badan Melisa dingin, bibir nya biru


Dika makin kawatir dengan kondisi Melisa saat ini, dia pasti amat sangat tertekan makanya sampai pingsan seperti ini


Dika segera keluar, mencari info ke tetangga dokter terdekat, karena malam begini mau membawa Melisa kerumah sakit agak susah pikirnya


Setelah berhasil menghubungi seorang dokter dan meminta nya untuk datang ke kobtrakannya memeriksa Melisa, Dika segera kembali ke kontrakan, menunggui sang dokter sembari memberikan pertolongan pertama agar Melisa segera siuman


" Bangun sayang... jangan buat aku takut seperti ini... maafkan aku... aku memang jahat... aku terlalu penakut..." sesal Dika sembari mengolesi minyak angin ke bagian hidung dan telapak kaki Melisa


" Cepet bangun sayang..kamu denger aku kan..."


Tak lama dokter datang, Dika langsung membawanya naik ke kamar Melisa dan mempersilahkan dokter memeriksa kondisi Melisa yang masih dalam keadaan pingsan.


" Kondisi istri anda sangat drop mas... pikiran berat yang tengah membebani nya membuatnya drop total....mohon kerja samanya untuk tidak membuat beban pikiran yang terlalu berat dan memicu stres... karena akan mengganggu kesehatan Mbak Melisa..." terang dokter setelah memeriksa kondisi Melisa


" Sebagai suami yang baik harus bisa menjaga suasana hati istri mas... lebih banyak sabar... lebih banyak mengalah... dan tentunya selaku membuat istri happy..."


" I...iya dok... terimakasih sarannya..." sahut Dika gugup, sebab yang membuat Melisa stres bukan karena dia tak sabar atau tak bisa membuat Melisa nyaman, tapi karena Dika masih plin plan belum berani memberi kepastian soal hubungan mereka


" Tapi istri saya gak papa kan dok...???" mau tak mau dia harus mengakui Melisa istrinya


" Dia baik baik saja, saya sudah suntikkan obat multivitamin... nanti tinggal mas tebus resep obatnya...sama banyak banyak mengonsumsi buah..." saran dokter


" Iya dok sekali lagi terimakasih... malam malam sudah mau datang ke tempat kami..."


" Sama sama mas...itu sudah jadi tugas dan tanggungjawab saya sebagai dokter... kalau begitu saya permisi... sebentar lagi mbak nya siuman kok..." dokter pun pamit


Dika mengantar dokter sampai keluar gang kontrakan nya, lalu segera kembali ke kontrakan memastikan kondisi Melisa

__ADS_1


Rupanya Melisa sudah siuman,


Dika langsung mengambilkan air putih dan menyandarkan Melisa ke dinding dialasi bantal


" Minum dulu sayang.."


Melisa meneguk setengah gelas air putih yang disodorkan Dika, kerongkongan nya rasanya haus sekali, bahkan kering kerontang


" Gimana udah mendingan...????" tanya Dika penuh perhatian


" Masih pusing..." bisik Melisa pelan


" Jangan banyak pikiran dulu ya... kamu jadi stres..."


" Maaf ya mas... aku jadi ngrepotin kamu..."


" Ngomong apa sih...yang penting kamu baik baik aja aku udah lega... jangan pingsan pingsan lagi ya mas jadi khawatir..."


" Iya mas..."


Dika langsung menyandarkan kepala Melisa ke pelukannya, diusapnya lembut


" Sayang kamu tau kenapa mas nggak terlalu rela kamu tinggal kos sendirian... salah satu nya ini... mas pernah lihat kamu tiba tiba pingsan di bengkel mas dulu... dan sekarang tiba tiba mimisan lalu pingsan... mas kawatir dengan kondisi kamu... coba bayangin kalay kamu pingsan dan gak ada orang yang lihat...mengerti ya sayang...."


" Bukan mas mau terus menggantungkan hubungan kita... memanfaatkan tubuh kamu... tapi sungguh mas peduli dan sayang sama kamu... jangan selalu dengarkan apa kata orang... mereka hanya bisa menghakimi tanpa tau apa yang kita jalani...aku sayang kamu... sangat sayang... aku gak mau sampai kamu seperti ini lagi..."


" Ku mohon... jangan buat stres pikiran mu dengan beban yang berat..."


Melisa hanya menangis, mungkin dia juga salah, dia hanya mendengarkan penghakiman dari orang orang, menyudutkan Dika, mengatai Dika lelaki tak bertanggungjawab, Melisa hampir terhasut...


Ini memang berat, tapi keadaan ini pun tak bisa dipaksakan,


Memang iya kalau pun belum sanggup nikah resmi minimal nikah siri


Tapi bukan kah nikah siri itu harus tetap ada wali dari pihak perempuan...???


Lalu apakah ayah Melisa mau menjadi wali...


Dan... jika Melisa berani menapakkan kaki nya kembali ke rumah apa dia tidak sedang menyerahkan dirinya pada Gani...


Apa orang diluaran sana yang menghakimi nya tau soal itu...??? tau soal resiko yang akan dihadapinya


Jika ada yang bilang, mending sama Gani meskipun disiksa tapi suami sah,


Ya Tuhan... disiksa dipukuli itu bukan perkara yang ringan, itu juga menyiksa diri dan pikiran...


Mas Dika benar, kenapa kita harus mendengarkan apa kata orang...


Sedang orang diluaran sana tau apa soal hifup yang kita hadapi


Melisa memejamkan matanya, mencoba berdamai dengan hatinya sendiri


Dia tidak bisa begini... tidak bisa selalu mendengarkan apa kata orang yang sama sekali tak tahu menahu soal hidupnya


" Masih pusing...???" tanya Dika lagi


Melisa hanya mengangguk, memang kepalanya rasanya masih mau pecah saja, memikirkan jalan hidup dan kenyataan yang sangat menguras energi nya

__ADS_1


Rasanya Melisa tak ingin lagi melihat hari esok, dia tak ingin lagi bertemu dengan orang orang yang hanya bisa menghakiminya semau pendapatnya saja


Dia lelah... dia ingin bersandar di bahu Dika selama mungkin, karena hanya disinilah tempat ternyaman baginya


" Jangan banyak pikiran lagi ya... tenang kan hati mu... biar gak sakit..." Dika membelai rambut Melisa lembut


" Oya mas ke apotek besok pagi aja ya buat nebus obat mu.. ini udah larut malam...besok istirahat dulu... gak usah masuk kerja dulu... biar mas yang mengijinkan sama bang Gondrong...kamu perlu banyak istirahat soalnya..."


" Tapi mas... kalau aku tiba tiba nggak masuk apa kata temen temen di restaurant yang hari ini sudah mempermalukan ku...mereka pasti semakin menjadi jadi menghinaku mas..." ujar Melisa memikirkan tentang hinaan Hani Titin Cs


" Kamu butuh istirahat sayang... lagi pula peduli apa mikirin omongan mereka..."


" Nggak papa mas aku tetep kerja aja... aku udah mendingan kok hanya pusing aja... paling nanti dibawa tidur juga sembuh..."


" Mel...." panggil Dika setelah beberapa saat terdiam


" Apa kita nikah siri aja...???" tawar Dika dengan suara pelan, sepertinya dia juga ragu menyampaikannya


" Kamu serius mas...???" tanya Melisa lebih ragu


" Demi kamu... supaya kamu nggal kepikiran soal omongan orang lagi..."


" Tapi mas bukan nya nikah siri itu harus ada wali dan saksi...??? aku gak mau mas kalau aku melangsungkan pernikahan tanpa bapak menjadi wali..."


" Kalau begitu temui bapak mu... minta dia untuk bersedia menjadi wali..."


" Kamu yakin...??? kita tidak sedang mencari mati dengan mas Gani kan...??? kita sudah jauh jauh nyampe sini mas menghindar sejauh mungkin dari mereka... mengapa kita sendiri yang menyerahkan diri..."


" Gani urusan ku... urusan mu... temui bapak mu... supaya dia mau menjadi wali kita..."


Melisa terdiam, kali ini dia malah yang ragu


" Aku coba pikirkan dulu mas... kita gak bisa gegabah mengambil keputusan bukan... bukannya itu kata mu..."


" Hmmmm... tapi aku lebih minta kamu jangan stres... jangan terbebani dengan sesuatu yang membuat mu tak tenang... tertekan... aku lebih peduli kesehatan mu... senyum kamu... bukan tangis mu..."


Melisa tersenyum haru, hatinya tersentuh mendengar ungkapan Dika yang begitu manis, perlakuan Dika yang lembut memperlakukan nya bah Ratu... Melisa bahagia dibuatnya


" Iya... aku janji gak akan kepikiran dan stres lagi..."


Bersambung~


Segala sesuatu yang mau dilakukan harus dipikirkan dulu baik baik ya guys...


Jangan sampai gegabah membuat planning mu berantakan...


Hihihi


Jangan lupa kasih Vote yang banyak yaaaa


Dukungan kalian sangat membantu dalam pengembangan dan kemajuan novel ini


Terus ikuti perjalanan Melisa dan Dika ya guys...


Sampai mereka bisa happy ending kaya Akbar dan Rere hihihiii


Happy Reading...

__ADS_1


__ADS_2