Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Rumah Nenek


__ADS_3

Perjalanan menuju kampung bapak cukup melelahkan, tapi lelah yang tak dirasa bagi Melisa, yang ada di pikiran nya saat ini adalah rasa bahagia, dia telah memenangkan masalahnya, dia bisa melewati semuanya dengan baik, hingga saat ini dia bisa kembali ke kampung ini dengan senyum kegembiraan, rasa haru yang tak bisa di jelaskan dengan kata kata


Bu Resinda juga merasa perasaan nya kini sedang terkoyak, dia bagaikan sedang menjumputi masa lalu yang sudah puluhan purnama di tinggalkan nya, kenangan manis saat hidup bahagia bersama laki laki yang sangat mencintai nya, mas Sasmito....


Lelaki hebat yang mau menghabiskan seluruh waktu hidupnya hanya untuk menunggu Resinda kembali, menanti Resinda datang dan menggendong anak gadisnya lagi, namun sampai Sasmito menutup mata, istri kesayangan nya tetap tak datang membiarkan anak nya hidup sebatang kara ditengah keluarga yang sama sekali tak menyayanginya


Resinda menyeka air mata sedihnya, dia sudah berjanji untuk tak lagi menangis, terlalu meratapi kenangan masa lalu nya, ada hati yang harus ia jaga, ada perasaan yang harus ia hormati...Resinda memilih diam... membiarkan angan angan nya terbang jauh bersama kenangan...


Sedang tuan Hermawan....!!!! entahlah..dia juga sedari tadi hanya diam sambil focus menyetir, Entah di tahun kapan di waktu silam, tuan Hermawan pernah kesini membawa banyak anak buah nya, untuk menyeret Sasmito keluar dari rumah dan memukuli nya ramai ramai, hanya karena tak terima Resinda istri yang ia sia siakan lebih memilih hidup bersama laki laki miskin itu ketimbang dirinya yang jelas mapan, berhelimpangan harta....


Tetapi saat ini dia sudah berdamai dengan kenyataan, dia sudah mengubur dalam dalam luka hati yang pernah ternganga itu.... bertahun tahun dia menendam nya malah akhirnya menjadikan sebuah penyakit....!!! Tuan Hermawan sudah mulai melupakan semuanya..


Mereka saling diam, kalut dengan pikiran nya masing masing, sampai tuan Hermawan bertanya pada Melisa ketika tiba di persimpangan kampung


" Mel kita kemana...??? langsung ke makam...!!!" tanya Tuan Hermawan dengan sangat lembut


" Eeee mampir ke rumah dulu gimana tuan... eehhh papa maksudnya...kita juga kan belum ada persiapan bunga buat ziarah.." sahut Melisa spontan, kayaknya doi kaget dengan tiba tiba di tanya padahal lagi asyik ngelamun


" Oke....!!!" Tuan Hermawan mengemudikan mobilnya menuju rumah sederhana yang masih terlihat kokoh dan rapi karena selalu dirawat dengan baik sama bulek Fatimah


Bu Resinda terdiam tanpa bergeming, tatapan nya menatap lurus rumah yang mungkin 18 tahun yang lalu adalah rumah kenangan nya, bersama seorang laki laki bernama Sasmito, hidup sederhana, Resinda meninggalkan semua kemewahan yang di berikan suami pertamanya, lalu melahirkan seorang bayi cantik buah cinta mereka


Disinilah kebahagiaan nya yang sesungguhnya, meski pada akhirnya harus hancur berantakan, Resinda menitikkan air mata dengan perasaan yang teramat dalam, rasa yang hanya dia sendiri yang tau


Hermawan juga menatap rumah sederhana itu dengan mata teduh, belasan tahun yang lalu dia datang ke rumah ini dengan benci dan dendam, menggunakan kekuasaan nya untuk mengintimidasi Sasmito, menghajarnya sampai babak belur....


Dan yang lebih menyakitkan waktu itu ketika melihat Resinda istrinya, perempuan yang masih berstatus istri sah itu menggendong anak bayi anak nya dengan Sasmito, hampir saja Hermawan lupa diri membunuh Sasmito dengan tangan nya sendiri


Pada Akhirnya Hermawan mengambil paksa istrinya, mengancam Sasmito dan menghancurkan hidup nya.....Kali ini dia kembali datang kesini mengantarkan istri dan anak Sasmito.... entah perasaan yang seperti apa yang berkecamuk di benaknya saat ini


Melisa mengawali langkah mereka, turun terlebih dahulu dari mobil, lalu segera menghampiri bu Lek Fatimah yang berdiri di halaman dengan bingung, sepertinya bulek Fatimah habis bersih bersih rumah nenek dan kebetulan melihat mobil mewah parkir di halaman rumah


" Bu lek...." sapa Melisa begitu keluar dari mobil, langsung menyalami dan mencium tangan nya


" Oalaaahhh nduk.... iku kamu to.... bu lek kira siapa....???" sahut bu lek Fatimah dengan haru, lalu menciumi pipi Melisa bergantian

__ADS_1


" Karo sopo kamu kesini.... kok sekarang udah bawa mobil aja..."


Melisa hanya tersenyum sambil menoleh ke mobil, berharap ibu langsung turun


Tak selang lama pintu mobil terbuka, seorang perempuan anggun keluar dari mobil, seketika bu lek Fatimah menatap nya kaget, hampir tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini, belasan tahun setelah kejadian itu... perempuan ini tak pernah lagi datang... tapi hari ini dia kembali datang bersama anak gadis nya


" Assalamungalaikum...." ucap bu Resinda sambil tersenyum


" Wangalaikumsalam.... mbak... mbak Resinda....!!!!" sahut bulek Fatimah terpekik


" Iya ini aku Fat... gimana kabar mu....???" sahut ibu dengan akrab


" Duuuhhh Gusti... nduk....!!! kamu berhasil menemukan ibu mu... kamu berhasil bawa ibu mu pulang...." bulek Fatimah terharu dan bangga dengan apa yang dilakukan Melisa


" Iya bu lek.... setelah dari sini waktu itu aku sama mas Dika langsung nyari ibu... Alhamdulillah... Alloh ngasih kemudahan jalan aku bisa bertemu ibu dan hari ini bisa datang kesini untuk ziarah dimakam bapak.... sesuai keinginan terakhir bapak...." sahut Melisa


Tuan Hermawan turun dari mobil, senyum merekah di wajah bulek Fatimah seketika langsung hilang, dia malah berdiri kaku dengan ekspresi wajah yang sulit di jelaskan, yang jelas mungkin kaget, syok dan bingung


" Res... i... itu kan...." tunjuk nya sambil menatap bu Resinda


" Jangan heran.... anak ku ternyata mampu meluluhkan hati mas Hermawan dengan kebaikan dan ketulusan nya... hingga mas Hermawan mau membuka hati mengijinkan aku datang kesini lagi...."


Bu lek Fatimah tersenyum lega, Melisa langsung di peluknya erat


" Kalau nenek mu masih ada sampai sekarang dia pasti akan sangat bangga punya cucu sehebat kamu nduk.... nenek selalu menunggu mu... selalu berharap kamu mau tinggal bersama nenek diusia senja nya...." pernyataan bulek Fatimah malah langsung membuat Melisa sedih dan merasa bersalah


" Maafkan Melisa bulek... dulu Melisa gak tau kalau nenek adalah nenek kandung ku... bu Murni dan pak Marjo gak pernah menceritakan nya pada Melisa... Melisa pikir itu hanya nebek nenek saudara sepupu mereka..." jawab Melisa sedih


" Eeehhh kalian kok malah pada ngobrol di luar... apa gak bisa masuk... bukan kah sepertinya rumah ini selalu di rawat...!!!" tanya tuan Hermawan sambil berjalan mendekati mereka


" I... iya pah ini mau masuk tapi nunggu papa dulu..." jawab bu Resinda


" Kenalin ini Fatimah yang membersihkan dan merawat rumah ibu...."


" Ohhh iya aku masih ingat... kau yang rumahnya di sebelah Sasmito kan...!!!" sahut tuan Hermawan yang sepertinya masih mengenal jelas Fatimah

__ADS_1


" I... iya tuan...." sahut Fatimah takut takut


" Jadi bagaimana... mau masuk dulu atau kita langsung ziarah...????" tawar tuan Hermawan


" Masuk saja dulu tuan... kalian kan habis perjalanan jauh istirahatlah dulu... biar semuanya saya siapkan.... ayoo mbak ajak tuan masuk dulu..." bulek Fatimah mempersilahkan mereka masuk, rumah yang tadinya mau dia kunci langsung di buka nya lagi


Tuan Hermawan masuk terlebih dahulu


" Bolehkah aku minta tolong buatkan aku Wedhang jahe....????"


" Ohhh tentu tuan... tunggu sebentar saya akan buatkan dirumah saya saja sebab barang barang disini sudah lama tidak dipakai...." Bu lek Fatimah segera pamit ke rumah nya untuk membuat minuman dan jamuan pada tamunya


Melisa masih berdiri di depan pintu, masih kepikiran dengan ucapan bu lek Fatimah tadi, bawaan orang lagi hamil muda emang sensitif dan gampang baperan


" Mel... sudah jangan di buat sedih... itu bukan salah kamu...." hibur bu Resinda yang paham betul apa yang mengganjal di pikiran Melisa


" Tapi bu... nenek pasti kecewa karena aku gak pernah lagi njenguk nenek bahkan sampai nenek meninggal... bukan kah aku satu satu nya keluarga nya....!!!" Melisa merutuki dirinya sendiri


" Aku pikir dulu nenek bukan siapa siapa ku buk... makanya aku gak pengen datang kesini lagi kalau gak sama mereka... padahal andai aku gak bodoh nenek sangat baik pada ku sangat perhatian dan memanjakan ku dibanding Riki....!!!"


Resinda memeluk Melisa memberi ketenangan


" Ingat apa kata ibu... itu bukan salah mu... nenek pasti sangat mengerti itu... nenek juga pasti gak bakalan marah apalagi kecewa... percaya nenek itu adalah wanita yang sangat baik dan pengertian... dia sangat mengerti anak anak nya.... termasuk kamu....jadi sudah ya jangan di pikirin lagi... kamu harus jaga kesehatan ingat kalau kamu stres nanti cucu ibu ikutan stres looohhh...."


" Hmmmmm.... aku harus minta maaf sama nenek buk...."


" Iya sayang... besok kita ziarah ke tempat bapak sekaligus ke makam nenek juga.... ibu juga pengen jenguk nenek...!!!"


Bersambung~


Jangan lupa kasih Vote yang banyak yaa Readers


Mampir juga di kolom komen dan like


Happy Reading....

__ADS_1


__ADS_2