Cinta Tanpa Status

Cinta Tanpa Status
Ziarah


__ADS_3

" Istirahat dulu lah sayang... kondisimu sedang gak bagus gini... takutnya malah kamu sakit...rencana kita jadi berantakan nanti..." ucap Dika pada Melisa dengan lembut


" Aku pengen kerumah mbah Martinah mas... aku mau tau soal keluarga ku..."


" Sabar sayang... kamu denger sendiri kan kalau keluarga dari adik nenek mu itu kurang baik dengan keluarga mu...takutnya malah kamu makin emosional... tenangkan hati dan fikiran mu dulu... pulihkan mental dan tenaga mu... baru kita bertindak lagi..." saran Dika penuh perhatian sembari mengelus elus pipi mulus Melisa, tak lupa mencium bibir merahnya lembut


" Mas kangen bibir ini lohhh... apa lagi suara desyahan manja kamu..." bisik Dika menggoda Melisa


" Mas... nakal...!!!" balas Melisa salting


Dika tersenyum


" Yaudah geh istirahat dulu... mas buatin teh hangat... kayaknya bu Fatimah abis masak air deh..."


" Kok masak air disini... emang ditempati...???" tanya Melisa heran


" Mungkin aja...!!! kan tradisi orang Jawa rumah yang ditinggal meninggal pemilik nya tak boleh dikosongkan harus ada yang nempatin meskipun hanya sekedar buat tidur dan dibersih kan aja..."


Melisa manggut manggut paham,


" Yaudah... aku kamar dulu ya mas... aku kamar yang belakang... mas pakailah yang depan..."


" Gak sekamar aja...??? udara disini dingin loh..."


" Inget pesan bu Fatimah tadi gak boleh sekamar belum muhrim...!!;"


Dika hanya diam merengut, padahal di ubun ubun kepalanya sudah tak bisa tertahan lagi.


***


Pagi itu mereka sudah ditunggu bu Fatimah untuk pergi ziarah ke makam pak Sasmito bapak Melisa, setelah menyiapkan bunga untuk Ziarah, mereka segera berjalan kaki menuju makam,


Tempat makam di kampung dengan di kota besar seperti Jakarta sangat berbeda,


Di kampung makam harus melewati dulu pohon bambu yang rindang, sedikit jauh dari pemukiman, kemudian masuk ke kawasan tanah makam yang di tanami banyak pohon kamboja dan entah pohon pohon yang lain Melisa kurang paham,


Aura nya jadi terasa horornya, apalagi udara disini cukup dingin, menambah kesan seram, untung ini bukan genre horor hehehe


Mereka tiba di sebuah makam yang sepertinya memang tak terawat, banyak daun daun liar tumbuh kecil kecil disekitar nya, makam usang yang hanya di plester pakai semen dengan asal, bahkan nama nisan sudah tak jelas lagi


" Ini makam Sasmito nduk.... makam nya memang gak terawat... maklum hanya di bersihkan oleh warga waktu salapanan..." ujar bu Fatimah memberi tahu


Salapanan adalah hari perhitungan tiga puluh lima hari dalam bahasa jawa, biasanya dihitung tiap hari jum'at kliwon untuk bersih bersih makam,


Melisa diam dengan hati pilu, air mata nya tumpah lagi, lagi lagi dia harus dihadapkan dalam kenyataan yang menyayat hati


" Bapak...." ucap Melisa pelan

__ADS_1


" Kalau makam mbah Sutini di ujung sana... emang sama warga gak di dekatkan... soalnya tempat pemakaman bapak mu sempit..."


" Bapak ini Melisa anak bapak..." ucap Melisa lagi sembari bersimpuh di tanah dekat makam yang sudah usang dimakan waktu


Melisa mengusap nisan yang sudah penuh dengan lumut


" Bapak... terimakasih... sudah bertanggungjawab... memberikan tempat terbaik buat Melisa hingga Melisa bisa merasakan kasih sayang keluarga... Melisa baru tau kalau bapak adalah bapak kandung Melisa...bapak Melisa rindu.. pengen sekali dibelai rambut nya sama bapak... tidur diselumuti... Melisa sendirian pak... ketakutan... dunia ini sama sekali tak ramah... langkah kecilku selalu tersandung sandung pak... penuh darah berceceran....hiks hiks hiks..."


" Bapak disana baik baik ya... Melisa bakalan sering sering kesini jenguk bapak..." Melisa memeluk nisan bapak, seakan sedang memeluk bapaknya yang bahkan dia tak tau seperti apa bentuk wajahnya


Seperti ada sesuatu yang amat dingin menyentuhnya, mengusap rambutnya dan menghapus air matanya, sesuatu yang begiti dingin layaknya es membalas pelukannya


Melisa seakan menyadari ada sesuatu yang juga begitu rindu padanya, hatinya makin sendu tangisnya makin terasa dalam


" Udah Mel....kita harus kuat... yang terpenting kita sudah ketemu makam bapak... jadi kita bisa sering sering kesini..." ujar Dika mengingatkan karena Melisa makin hanyut dalam tangisnya


" Aku pengen peluk bapak mas... aku pengen dibelai bapak... aku butuh sandaran ternyaman..."


" Sabar ya nduk... berat memang buat kamu... tapi kamu harus tau ini sudah bagian dari takdir dari Gusti Alloh..." bu Fatimah ikut menenangkan,


" Yang terpenting sekarang adalah mendoakan bapak mu..."


" Buk... boleh anter ke makam nenek...???"elusa bangkit dari pelukannya,


Mencoba menguatkan hatinya kuat kuat, dia harus bisa melewati cobaan ini...!!! Melisa adalah Gadis yang kuat...,!!!!


" Ayooo ibu anter... ada disebelah sana..."


Dan mereka pun menuju makam mbah Sutini


" Nenek....!!!!" Melisa kembali jongkok ke makam mbah Sutini neneknya, makam mbah Sutini kondisinya gak separah bapak, nisan nya masih jelas terukir nama disana, hanya rumput rumput liar banyak tumbuh mengelilingi makam


" Nenek maafin Melisa nek... Melisa gak pernah lagi jenguk nenek bahkan sampai nenek sakit dan pergi... kalau Melisa tau nenek adalah keluarga Melisa satu satunya yang Melisa punya... Melisa pasti mau tinggal sama nenek... maafin Melisa nek dulu gak mau tinggal disini... Melisa pikir Melisa takut ninggal ibu.... nanti ibu gak sayang lagi... hiks hiks..."


Ada secerca penyesalan dihati Melisa saat mengingat dulu terakhir dia datang menhenguk nenek, mbah Sutini merengek meminta Melisa untuk tinggal bersama nya, namun Melisa kecil yang tak tau menahu hanya bisa menolak sebab dia takut jauh dari ibu dan nanti ibu akan lebih sayang sama Riki dan melupakannya


padahal nyatanya ibu yang dia sebut ibu adalah ibu kandung Riki saja, bukan dirinya...


Sesaat Melisa menangis di pusara mbah Sutini, menyesali semua keadaan yang tak pernah ia tau selama ini


Dia seperti orang buta, dungu dan pincang


Dia tertatih tatih sendirian menapaki kenyataan, kenyataan yang pahit bah simalakama


" Sayang udah ya..jangan nangis terus... pikirkan juga kesehatan mu... masih banyak hal yang harus kita selesaikan...!!!" ujar Dika sembari mengelus rambut Melisa dan mengusap air matanya


" Kamu nggak sendirian ada mas... mas akan selalu ada disamping mu... kita lewati ini sama sama ya..." Dika mencoba menguatkan

__ADS_1


" Saran ibu nduk.... sehabis ini datang lah kerumah mbah Martinah... kamu berhak tau semua yang terjadi... setelah mendapat penjelasan dari adik nenek mu itu... ibu menyarankan untuk kamu bisa cari Resinda ibu mu... ibu yakin dia pasti sangat mencintaimu... dia pasti merindukan mu selama ini... ibu mu orang baik... sangat baik... hanya keadaan nya mungkin yang membuatnya seperti ini..."


" Tapi ingat...!!! kalau kerumah mbah Martinah harus sabar sabar ya nduk... jangan nglawan kalau mereka memaki atau mengata ngatai mu...biarkan saja tak perlu kamu hiraukan...jangan sampai kamu terpancing emosi...."


" Apa ibu masih ingat aku...???" gumam Melisa meradang


" Ibu yakin... Resinda pasti merindukan mu nduk... dia sangat sayang padamu..."


" Kalau sayang kenapa ibu tega ninggalin bapak dan aku buk... sampai aku harus mengalami seperti ini...!!!!"


" Jangan salahkan ibu mu nduk...!!! makanya ibu saranin kamu tanya pada mbah Martinah... karena beliau pasti tau semua cerita yang sebenernya... sebab beliau lah kerabat mu yang masih ada... meski mbah Martinah tak baik pada mbah Sutini tapi ibu yakin dia akan memberitahumu yang sebenarnya..."


" Sayang... kita coba ya... jangan dulu menyimpulkan keadaan yang kita sendiri belum tau... kita harus cari tau yang sebenar benarnya... agar semua nya jelas... ingat sayang... bu Resinda adalah keluarga mu satu satunya yang kamu punya.... mas akan temani dan bantu kamu sampai ketemu ibu mu..."


Melisa mengangguk


" Baiklah kalau menurut kalian itu yang terbaik...jujur aku sudah buntu... aku lelah.... aku gak siap jika harus menerima kenyataan pahit lagi..."


Dika menggenggam tangan Melisa erat


" Ada aku...!!! aku akan selalu ada buat kamu..."


" Nenek... Melisa pamit ya... Melisa bakal coba cari ibu...doain Melisa ya nenek...supaya kuat menjalani semua ini.... Melisa sayang nenek..." pamit Melisa setelah menaburkan bunga dan berdoa untuk mbah Sutini


Lalu dengan langkah lesu Melisa meninggalkan makam, meninggalkan dua cinta nya yang harus ia ikhlaskan pergi


" Tuhan.... aku percaya akan ada pelangi setelah badai... tapi kenapa badai ini tak juga berhenti Tuhan.... aku sudah terbang tak berharga layaknya dedaunan tua....aku mau lihat pelangi itu Tuhan... ku mohon...."


Bersambung~


Haiiii Guys...


Aku minta maaf banget ya... sekarang jadi gak konsisten Up novel ini


Kadang itu kondisi gak bisa memungkinkan, sehingga harus menunda nulis...


Kadang juga sedih...


Ternyata novel yang banyak penggemar, banyak masuk rangking hanya novel novel yang isinya tentang CEO


Huhuhuuu


Tapi ya sudah lah...


Yang penting kalian yang masih setia mengikuti perjalanan Dika dan Melisa


Happy Reading ya....

__ADS_1


__ADS_2