
Dika melajukan motornya kearah rumah Faisal,
Rumah teman nya itu berada di ujung kampung masuk gang kecil, rumah sepetak dengan serabutan barang barang yang tak tersusun rapi,
Maklum Faisal tinggal bersama ibu, ayah nya yang sakit sakitan menahun, dan ada dua adik nya yang masih kecil, rumah dengan anyaman bambu yang dibuat seadanya kadang banyak dinding yang bolong di tambal pakai plastik, tanpa jendela dan hanya ada dua pintu, pintu depan dan belakang
Kondisi yang memprihatinkan.
" Ini rumah nya mas...???" tanya Melisa begitu mereka sampai
" Iya... ini rumah Faisal... makanya aku pengen kesini nyamperin dia... karena aku kawatir dengan dia setelah dipecat sama Gani..." bapas Dika
Dika mengetuk pintu rumah Faisal pelan, setelah menunggu beberapa saat terdengar sahutan pelan dari dalam, dan pintu rumah terbuka
" Mas Dika...!!!" suara renta itu tampak begitu girang bertemu dengan Dika, ibu Faisal yang sangat bangga akan sosok Dika, karena beliau merasa Dika adalah penolong anaknya yang kelantungan tak ada kerjaan
" Ya Alloh mas..m ibu seneng banget bisa ketemu mas Dika lagi... kata Faisal mas Dika udah pergi jauh entah kemana... sampai bengkel di jual dan Faisal dipecat dari sana..." cerita ibu dengan haru
Dika menyalami tangan ibu Faisal dan disusul Melisa mengikutinya
" Ini siapa cantik sekali...??? istri mas Dika apa...???"
" Iya buk... calon istri.." sahut Dika sambil tersenyum
" Ayooo masuk mas masuk... aduuuhhh ibu sampai lupa nyuruh masuk... sangking senengnya ketemu mas Dika..."
" Faisal kemana buk...???" tanya Dika setelah duduk dikursi kayu yang digeletak begitu saja diruangan yang memang hanya satu satunya itu, samping nya kamar tidur yang hanya dibatasi dengan dinding anyaman kayu dan dikasih pintu dari kelambu
" Faisal sekarang jualan asongan mas... di terminal terminal... sejak di pecat dari bengkel... susah nyari kerja buat orang yang gak punya ijazah jaman sekarang...." sahut ibu
Dika menghela nafas panjang, ada rasa bersalah atas keputusan nya melepas bengkel itu, dia mematikan mata pencaharian orang lain, dan membuatnya semakin susah
" Kenapa sih mas bengkel harus dijual bengkel nya...??? padahal Faisal sangat seneng bisa kerja di bengkel mas Dika... mau menerima dia yang gak berijasah... dan mau ngajarin dengan sabar sampai bisa... setelah bengkel mas diambil alih... Faisal tak punya lagi kerjaan mas..."
Melisa menunduk, ingin rasanya menangis, ini semua karena nya, dia tak hanya membuat Dika kehilangan bengkel tapi juga menyulitkan orang lain, mematikan mata pencaharian orang
" Iya buk...doakan saja aku segera punya modal lagi biar bisa buka bengkel yang lebih mewah..." sahut Dika yang tak mau menceritakan keadaan sebenarnya, itu urusan privasi soalnya
" Yaudah buk aku mau pamit kerumah Wawan dulu... nanti kalau Faisal udah pulang aku kesini lagi..." pamit Dika setelah dirasa cukup untuk sekedar basa basi
" Iya nak Dika... Faisal pulang Asyar nanti..."
" Yaudah buk Asyar nanti aku kesini lagi...kami pamit dulu ya buk..."
" Pamit ya buk Asalamaungalaikum..." Melisa mengucap salam
" Wangalaikum salam..."
__ADS_1
***
Dika tiba dirumah sahabat karibnya Wawan, lelaki jangkung sedikit lebih kurus itu baru pulang dari kebun
" Wan....!!!!" panggil Dika dengan mata berbinar binar
Wawan langsung menoleh menatap Dika dan Melisa penuh haru
" Ya Tuhan... Dik.. kamu balik lagi... aku pikir aku gak bisa ketemu kalian lagi..." balas Wawan sambil memeluk Dika ala teletubbies, berpelukan....
" Ayooo masuk... aku baru pulang dari kebun salak ini..."
" Mas Wawan tani salak sekarang...???" tanya Melisa
" Iya Mel... belum dapet kerjaan lain semenjak keluar dari bengkel... ketimbang nganggur kan...."
Melisa kembali tertotok, lagi lagi karena Dika berkorban untuk nya ada orang lain yang dirugikan atas keadaan ini
Dika dan Wawan berbasa basi bernostalgia melepas rindu mereka, mau gimana lagi Wawan dan Dika adalah teman baik sejak mereka sama sama sekolah di STM
" Wan... aku kan kerja di bengkel juga di Jakarta... kebetulan aku juga dikasih kepercayaan buat megang tuh bengkel... gimana kalau kamu sama Faisal ikut kerja bareng...???" tawar Dika pada Wawan
" Kamu yakin Dik kita bisa diterima...???"
" Kebetulan bengkel kita cukup ramai dan emang lagi butuh montir baru yang sudah menguasai....nanti sementara kamu tinggal bareng kita dulu..."
Melisa langsung menoleh kearah Dika, tinggal bareng kita...?? itu artinya kontrakan sekecil itu dihuni ramai ramai
" Aku sama Melisa juga mau nikah... cuman mau nikah siri dulu rencana nya..." tambah Dika lagi menjelaskan
" Makanya kita balik kesini... selain aku mau ngajak kalian kerja juga mau nyari wali buat Melisa..tapi karena ada kendala jadi belum pakai wali kayaknya..."
" Syukurlah kalau kalian udah mau serius dengan hubungan kalian itu... aku sebagai temen cukup seneng dengernya..."
" Gini aja Wan... aku sama Melisa masih ada urusan... nanti sore Asyar aku kesini lagi sekalian kita nyamperin Faisal..."
" Oke lah kalau gitu..."
Dika pamit dari rumah Wawan
" Kita kemana mas...???" tanya Melisa setelah mereka kembali menelusuri jalan raya
" Nyari makan sayang... emang kamu gak laper...???" sahut Dika
" Laper sihhh...." balas Melisa cengengesan
" Yaudah makanya mas ajak kewarung makan...dipikirnya gak butuh tenaga menghadapi kenyataan..."
__ADS_1
" Hihihiii iya sih mas... apalagi kenyataan paling pahit yang tadi pagi baru aku denger... kalau keluarga yang selama ini ku kira keluarga ku ternyata bukan siapa siapa ku..."
" Udahhh gak usah di inget inget lagi... yang penting kamu justru sudah tau identitas kamu yang sebenernya... tinggal besok kita cari makam bapak kamu..."
" Mas tuhh kalau jujur sebenernya rada curiga sama pak Marjo dari dulu... sejak mas pertama ketemu dia dirumahnya..."
" Curiga kenapa mas...???" tanya Melisa penasaran
" Kok ada seorang bapak yang tega meniadikan anak gadis nya jaminan hutang... se buas buas nya macan... gak mungkin makan anak nya sendiri...." ujar Dika
" Aku juga dari dulu mas kadang suka mikir... kok bapak galak banget sama aku... beda jauh sama Riki... bapak suka mukul... aku sering kadi pelampiasan marah bapak kalau bapak lagi kalah judi... apalagi kalau aku buat salah... udah gak ada ampun..."
Melisa menghela nafas panjang melanjutkan ceritanya
" Ku pikir dulu mas karena aku anak gadis makanya harus lebih ekstra cara ngedidik nya..."
" Ibu juga kadang pilih kasih antara aku sama Riki... malah ibu lebih terlihat sayang sama Meyke anak sepupu ku ketimbang aku anaknya... hahahaa ternyata aku hanya anak tirinya yang sudah ditinggal meninggal bapak..."
" Kita senasib Mel... aku juga sejak kecil ditinggal ibu gak tau kemana... aku dibesarin bapak sama nenek... tapi belum aku bisa apa apa mereka udah pergi duluan... mau gak mau aku harus mandiri dan didewasakan dengan keadaan seperti sekarang..." balas Dika sembari mengenang masa masa kecilnya yang tak begitu menyenangkan
Ditinggal kan orang orang yang amat berarti itu Berat
" Makanya kadang aku masih labil... masih egois... masih jadi cowok yang kurang bertanggungjawab...mungkin karena sedari kecil gak ada yang mengarahkan... gak ada yang membimbing... beda dengan orang lain yang punya keluarga utuh..."
" Udah mas... gak usah bersedih lagi... udah kelewatan berapa warung makan gegara asyik ngobrolin kesedihan masing masing..."
" Nyari nasi langganan mas dulu aja... sekalian nostalgia sama mbak mbak warungnya..."
" Pasti cantik...!!!;"
" Gak masih cantikan kamu... tapi dia yang banyak hahahahaaa..."
Melisa mencubit pinggang Dika gumush
Bersambung~
Nungguin yaaahhh....
Hihihiii
Jangan lupa kasih Vote nya dong Guys...
Masih sepi aja nihhh suport dari kalian...
Novel ini masih butuh dukungan dari kalian semua untuk perkembangan dan kemajuan novel
Tetep ikuti perjalanan Dika Melisa yaaahhh
__ADS_1
Sampai mereka menemukan titik bahagia...
Happy Reading...