
Satu Tahun kemudian
Hari ini Melisa bersama Valdi pulang ke bengkel Dika, rencana pertama dia mau ziarah ke Makam suaminya sekaligus memperkenalkan Valdi kalau saat ini anak mereka sudah besar, sudah bisa manggil mama... oma... Valdi tumbuh menjadi anak yang aktif, perasa dan menggemaskan..
Hari hari benar benar Melisa jalani dengan baik, setelah melewati malam yang panjang untuk dia berfikir dan bersahabat dengan diri sendiri waktu itu, akhirnya Melisa memutuskan untuk menjalani dan menikmati hari harinya dengan baik, bersahabat dengan kenyataan, berdamai dengan luka sendiri dan menghapus air mata menjadi senyuman
Keputusan Melisa diterima oleh semua pihak, meski awalnya Delon tidak setuju, tetapi ternyata Wawan malah mendukung keputusan Melisa, Wawan memberi penjelasan pada Delon jika pilihan Melisa adalah tepat, biarkan dia berdamai dengan dirinya dulu, menikmati hari hari nya dan menciptakan kebahagiaan dengan caranya...
Jangan sampai Melisa melakukan sesuatu karena sebuah paksaan... karena yang ada hanya akan membuatnya sulit berdamai dengan luka hatinya..
Hubungan Melisa dan Wawan juga sangat terjalin dengan baik, Wawan menepati janji nya pada mendiang sahabatnya untuk sering menjenguk Valdi, menjadi sosok ayah untuk Valdi dan menyayanginya seperti anak sendiri..
Bagi Wawan begini lebih baik, toh dia masih bisa dekat dengan Melisa tanpa canggung dan keterpaksaan...Menurut Wawan siapa tau dengan kedekatan yang natural seperti ini justru akan membuat Melisa lebih nyaman dan bisa menerima dirinya tanpa kata "pengganti Dika"
Melisa berjalan pelan menelusuri rumput yang basah karena embun, daun daun kamboja berguguran disekitar jalan yang dilalui nya, Melisa seakan menembus luka hatinya ketika datang ke tempat ini hari ini... tetapi senyum bahagia jelas tergambar dibibirnya, Melisa sudah menerima kepergian Dika
" Assalamungalaikum mas....haiii cintaku ayahnya Valdi...!!! apa kabar sayang...???" sapa Melisa ketika tiba di makam suaminya, Melisa duduk mengelus nisan yang masih rapi belum usang
" Kamu baik kan disurga...??? aku dan Valdi baik mas... aku bahagia... kamu pasti seneng kan kalau denger aku bahagia...??? aku kan udah janji sama mas kalau aku pasti akan menciptakan kebahagiaan ku sendiri... kamu lihat kan mas sekarang aku sudah baik baik saja... sangat baik...!!!"
" Mas... ini Valdi anak kita... sumber kekuatan ku ketika melepas kepergian mu... tau gak mas anak kita udah bisa manggil mama... oma.. tapi belum bisa manggil ayah baru yaahh... yahh.. hihiihi...lihat mas anak kita tampan kan...?? matanya mirip kamu cekung bening alis tebal.. tapi hidung dan bibir nya mirip aku...benar benar perpaduan yang sempurna bukan...!!!!"
" Valdi.... Valdi gak kekurangan kasih sayang kok mas... dia gak kekurangan figur seorang ayah... ada bang Gondrong... papa... dan mas Wawan... mereka semua mengajarkan banyak hal untuk Valdi... jadi tugasmu tetap terpenuhi...paling... paling...." Melisa menahan air mata nya agar tidak jatuh dia sudah berjanji tidak akan menangis di makam suaminya
" Paling....hiks hiks.. Valdi gak bisa merasakan lagi uluran tangan dan pelukan mu mas... Valdi gak bisa lagi mendengar suara mu yang merdu untuk menimang nya sebelum tidur...hiks hiks..."
Melisa menyeka air mata nya segera
" Gak papa kok mas... kan kamu masih bisa menjaga Valdi dari atas langit... menjaga aku... dan melihat ku setiap hari....!!!"
Melisa menangis sesenggukan, rupanya sekuat kuatnya dia menahan diri untuk terlihat tegar, dia akan rapuh ketika berada didepan makam suaminya, betapa tidak...!!! sandaran hidupnya kini telah pergi... rajanya telah meninggalkan nya... membuat istana sepi dan ratu ditinggal sendiri... Melisa akan hancur ketika kembali sadar cinta nya kini tak bisa kembali lagi, sekedar mengelus rambutnya pun tak bisa apalagi mendengar suaranya dan merasakan sentuhan lembutnya seperti dulu
__ADS_1
" Hiks hiks hiks.... mas... aku gak sanggup huhuhu....aku gak bisa pura pura tegar mas....aku butuh kamu... aku kangen kamu mas... aku kangen....huhuhu...."
Dari jauh Wawan dan Juwita hanya bisa melihat kesedihan Melisa, mereka sengaja tidak mendekat membiarkan memberikan Melisa waktu untuk berbicara dengan suaminya...
" Mas kangen....!!!"
Semilir angin berembus dengan pelan, menteka pipi dan menyapu air mata Melisa yang tumpah, seakan tangan Dika yang dingin menyeka air matanya lalu mengecup bibir nya lembut
Melisa membiarkan hembusan angin itu menerpa wajahnya, seakan hanyut dan merasakan sentuhan demi sentuhan nya, rindu yang menyakitkan... ketika merindu di dua alam...
" Nak... Valdi... ini ayah sayang... ayah mu... sekarang ayah kita tinggal disini... kalau kamu nanti besar dan rindu ayah datang kesini ya nak... ayah selalu melihat kita dari langit biru, ayah selalu mendoakan kita dari surga..." ujar Melisa setelah beberapa saat bersedih dan kini sudah berusaha tegar
" Ayah mu yang hebat... ayah mu yang pemberani dan ayah mu yang bertanggungjawab... ayah mu yang selalu berambisi besar untuk hidupnya... dan ayahmu yang akan mencintaimu sampai detik kapanpun..."
Seakan mengerti apa yang dibicarakan ibu nya, Valdi si bayi mungil mengoceh tak jelas sembari tertawa lebar, lalu mata beningnya menatap nisan ayahnya, ocehan ocehan yang lebih mirip seperti anak sedang diajak bicara terdengar, bibir tipis Valdi sampai monyong monyong gemes seperti sedang berbicara sesuatu pada seseorang, lalu setelah itu tertawa riang sambil menepuk nepuk tangan nya....
Valdi seakan merasakan kehadiran ayahnya disini.... bocah bayi itu turun dari gendongan Melisa dan beringsut bersimpuh disebelah ibunya, tangan mungil nya menepuk nepuk pusara sambil mengoceh tak jelas, Melisa makin terharu... dia meyakini ikatan batin antara Valdi dan Dika sangat kuat... mungkin bisa jadi saat ini anak dan ayah itu sedang berkomunikasi
" Iya sayang ini ayah... ayah yang hebat... ayah yang sangat sayang sama Valdi... Valdi harus sekuat ayah yaa..."
Juwita mendekat
" Mel... udah mendung kayaknya mau hujan..." ujar Juwita pelan
" Takutnya angin nya kenceng... kasihan nanti Valdi masuk angin... kan dia belum terbiasa udara daerah sini..."
" Mas aku pamit ya...kamu baik baik yahh... tunggu aku... Valdi... bye sama ayah...!!!" pamit Melisa pada makam suaminya sambil menyuruh anaknya melambangkan tangan juga
Valdi terkekeh riang sambil melambaikan tangan, seakan dia benar benar sedang say goodbye dengan seseorang
" Pulang ya mas... kamu aku tinggal lagi... baik baik yahh... aku janji aku akan bahagia... bye mas...!!!"
__ADS_1
Wawan segera membukakan pintu mobil untuk mereka...
Sedikit diketahui... Wawan sudah berhasil nembeli mobil Jepang keluaran terbaru berkat pengelolaan usahanya di bengkel selama setahun ini, bengkel maju cukup bagus sampai Wawan merekrut beberapa montir montir baru untuk membantunya, mobil ini sengaja Wawan beli untuk Fasilitasnya ketika menemui Melisa atau saat Melisa pulang seperti sekarang, selebihnya Wawan akan menggunakan mobil lain yang dibelinya secara secound
Bengkel juga sudah di renovasi, semakin besar dan luas, hanya kamar bagian atas tempat kamar Melisa dan Dika dulu yang tidak pernah Wawan rubah, paling hanya sesekali di bersihkan dan dirapikan
Disanalah tempat semua kenangan manis yang terukir, kamar itulah yang mungkin menjadi awal pertemuan cinta antara Dika dan Melisa, cinta yang masih tanpa status....tetapi Dika pergi dengan meninggalkan buah cinta Mereka yang lucu, pintar dan juga sumber kekuatan
" Eeem mau makan soto dulu...??? kayaknya kalian belum makan kan sedari datang tadi... habis perjalanan jauh pasti laper...!!!" ajak Wawan pada Melisa dan Juwita
" Apalagi kamu Wit yang nyetir mobil dari Jakarta..."
" Boleh deh... makan soto kan seger tuh..." sahut Juwita yang duduk sembari memangku Valdi yang ternyata tertidur, selepas keluar makam tadi Valdi langsung tertidur nyenyak
" Kamu Mel...???" tanya Wawan
" Aku ngikut aja..." sahut Melisa
" Udah donk jangan sedih lagi... kan lu yang mibta ditemenin ziarah... katanya udah gak papa..." rungut Juwita yang gak pengen ngeliat Melisa terus terpuruk dengan kesedihan
" Nggak... aku nggak sedih... aku hanya lagi terharu aja... tempat dan suasana disepanjang jalan ini adalah kenangan antara aku dan mas Dika... saat ini kembali lewat lagi tapi bukan sama dia melainkan bersama potret kecilnya...." sahut Melisa sambil tersenyum hambar
Nyiiiiittt...... kok ngilu kata kata Melisa barusan, serasa menusuk relung hati yang paling dalam
" Oya mas habis makan nanti kamu ada Waktu...??? aku pengen ngomong berdua...!!!"
Bersambung~
Jangan lupa kasih Vote yang banyak ya Readers....
Happy Reading...
__ADS_1