
Lama tak ada sahutan, Dika mengakhiri panggilan nya, sebenarnya dia juga bingung andaikan laki laki yang ditelpon nya mengangkat panggilan nya, entah kata apa yang akan dia mulai untuk membuka percakapan, Dika merasa malu... bersalah... berdosa... menyusahkan mereka... mengecewakan mereka... dan menghancurkan impian Melisa istrinya...
Di sisi lain Wawan baru saja pulang mengantar Melisa cek kandungan ke dokter, usia kandungan nya sudah masuk ke lima bulan, detak jantung anak nya sudah bisa didengar, Wawan merasa haru saat dia ikut mendengarkan detak jantung anak Melisa, air mata nya ikut menetes haru membayangkan betapa bahagia nya malaikat kecil pembawa kebahagiaan akan segera hadir diantara mereka
Sayang nya... anak itu bukan anak nya, dia hanya di titipi Dika untuk menjaga Melisa dan anak nya, entah sampai kapan Wawan akan menjaga nya, mungkinkah seumur hidupnya...??? Wawan jadi dilema saat mengingat apa yang sudah terjadi, dia khawatir Dika tak bisa kembali menemui Melisa, dia lebih khawatir jika Dika benar benar meninggalkan Melisa dan anak nya...
" Mas... kok ngalamun...???" tanya Melisa lembut pada Wawan, tangan sebelah kirinya mengelus perutnya yang sudah buncit
" Hehe gak Mel... lagi membayangkan anak kamu aja... aku kok gemeteran tadi dengerin detak jantung nya... rasanya hati aku bergetar haru Mel...." jawab Wawan jujur
" Hihihiii... aku juga ngerasa bahagia banget mas... Tuhan sudah menitipkan anugerah Nya di rahim aku... supaya aku jaga, aku rawat... aku yakin dia akan menjadi sumber kekuatan dan kebahagiaan baru buat aku mas...." Melisa tersenyum penuh haru saat menceritakan anak dalam kandungan nya
" Dia anak yang hebat... dia pasti yang akan menuntun ayahnya untuk kembali.... mas Dika pasti merasakan panggilan halus nya..." tambah Melisa
Wawan hanya tersenyum pahit, getir rasanya mendengar harapan Melisa yang tak tau kapan berujung
" Yaudah tinggal istirahat gih.... obat nya jangan lupa di minum ya...." suruh Wawan lembut
" Mas Wawan belum makan lhoo... mau aku buatin makan dulu..." tawar Melisa
" Gak usah lah udah malem kamu harus banyak istirahat... aku gampang biar nyari nasi goreng aja didepan...!!!" tolak Wawan
" Kamu harus jaga kesehatan Mel... jaga kondisi kamu harus tetep stabil, happy dan gak banyak mikir yang berat berat.... aku bakalam selalu ada pokoknya siaga apapun yang kamu butuhkan..." pesan Wawan mengingatkan
" Makasih ya mas Wawan... aku udah banyak ngerepotin mas Wawan.... dari semenjak mas Dika pergi sampai aku hamil mas Wawan yang terus bantu aku dalam apapun... malah jadi mas Wawan yang repot gegara aku hamil padahal bukan bapak nya...."
" Tak perlu sungkan Mel... jangan mikir juga ngerepotin... aku gak pernah ngerasa kamu repotin... aku seneng bisa bantu kamu... Dika itu udah bukan sekedar temen Mel buat aku... udah kaya saudara... kita dari kampung berjuang bareng susah seneng bareng...jadi kamu juga udah aku anggep adik ku... saudaraku... jadi udah sepantasnya sebagai kakak membantu adiknya..."
" Mas Wawan sungguh baik... aku gak tau gimana balas kebaikan mas Wawan...."
__ADS_1
" Udah lah gak usah dipikir... aku balik dulu ya... cepet istirahat udah malem..."
" Iya mas makasih ya..."
Wawan segera menutup pintu bengkel dan berlalu meninggalkan Melisa yang sudah di duruhnya istirahat di kamar, Karena terlalu lapar Wawan gak sempet nge cek siapa yang tadi menelpon nya, dia langsung pergi ke tukang jual nasi goreng memesan nasi goreng pete yang puedes dan es teh yang membuat makin mantul, doi makan dengan lahap
***
Faizal buru buru mencari Dika, doi iseng buka ponsel dan melihat berita terbaru membuatnya panik dan makin ketakutan
" Mas Dik.... mas Dik....!!!" panggilnya membabi buta, tapi tak ada sahutan di dalam gubuk dia sendirian, Faizal makin panik, segera keluar menuju pinggiran danau
Dika masih duduk termenung di tempat yang gelap, segelap dan sesuram hatinya saat ini, dia bagaikan sudah mati rasa, dia tak peduli lagi dengan dirinya sendiri
" Mas Dik....!!!" panggil Faizal sambil berlarian menghampiri nya
" Iz.. kau mencari ku...??? maaf aku sedang menikmati gelapnya malam disini... kenapa apa kau lapar...???" tanya Dika balik
" SEORANG ANGGOTA MAFIA MENGHABISI KOMPLOTAN NYA SENDIRI, DI DUGA SANG BOS DAN KEDUA TANGAN KANAN NYA TEWAS DI MARKAS...."
Deadline yang dibacanya, Wajah Dika menegang kaku, ketakutan dan kekhawatiran yang luar biasa menghantui nya saat ini, selama hidupnya... sepanjang perjalanan hidupnya baru kali ini Dika dihadapkan dengan masalah yang benar benar sangat membuatnya takut, Mafia telah menjerumuskan nya kedalam lembah hitam pekat, menghancurkan kehidupan nya dan kini membuatnya menjadi buronan kelas berat, entah hukuman seperti apa yang akan diterimanya jika polisi berhasil menemukan persembunyian nya ini
" Iz... matikan ponsel mu... bila perlu buang kartu mu.. jangan sampai polisi berhasil melacak kita..." perintah Dika pada Faizal
" Mas Dik... kamu sudah dalam buronan... lihat sudah banyak iklan yang menyebarkan foto wajah mu mas... kita dalam bahaya besar...." ucap Faizal dengan segala ketakutan nya
" Tenang lah Iz... aku yakin tidak ada satupun orang yang bisa menemukan kita disini... persediaan makanan disini juga cukup untuk kita makan dalam jangka waktu yang panjang... kau tak perlu khawatir..." sahut Dika menenangkan kepanikan Faizal
" Nanti... jika memang kondisi sudah membahayakan dan kita terdesak... lari lah sejauh mungkin selamat kan dirimu... dan aku...." Dika mengeluarkan secarik kertas yang pernah ditulisnya sebelum semua ini terjadi
__ADS_1
" Aku titip ini... berikan pada istri ku Melisa... kau harus selamat dan sampai bertemu dia... agar pesan ku ini sampai ke tangan nya...." Wanti wanti Dika
" Kita hadapi semua ini sama sama mas... aku juga bertanggung jawab atas masalah yang kamu hadapi sekarang..."
" Gak Iz...!!! ini salah ku... ini adalah tanggungjawabku... kau tak perlu lagi mengorbankan hidupmu untuk ku... ini sangat berbahaya... kau harus menyelamatkan hidupmu... aku mohon..." pinta Dika
Faizal hanya diam menunduk
Dika menyalakan ponselnya, melihat banyak nya notifikasi dari anggota Mafia yang mencarinya, isi pesan nya semua nya adalah berupa ancaman yang menakutkan, terlebih anak buah Rick yang sudah bergerak mencari nya, Dika tak peduli....
Bos besar Mafia dan kedua orang kejam di samping nya sudah mati di tangan nya, dendam nya sudah terbalaskan, orang yang selama ini mengancamnya membuat hidupnya dan Faizal terus dibawah tekanan nya sudah berhasil dia eksekusi, bukankah ajaran bos Reyden siapapun yang sekira nya membahayakan dan berpotensi mengancam dan membuat mereka dibawah tekanan nya harus di tumpas...!!! Dika sudah menjalankan perintahnya bukan....!!!! jadi impassss....
" Masuk ke gubuk lagi Iz... angin malam tak bagus disini... nanti malah kita sakit... masih banyak hal yang harus kita selesaikan...." ajak Dika pada Faizal untuk kembali ke persembunyian nya
" Mas Dik yakin... tidak akan ada orang yang bisa menemukan kita disini....!!!!" tanya Faizal penuh ke khawatiran
" Aku yakin...!!! sebab pulau ini tak pernah ada yang mengunjungi... pulau ini adalah pulau yang pernah dibuat sembunyi bos Reyden dari ancaman musuhnya... hanya si Jo dan Rick yang tau... bukan kah mereka sudah mati bersama bos Reyden...??? jadi tak ada satupun yang tau tempat ini bukan...!!!" sahut Dika menjelaskan
" Asal sementara matikan semua akses yang bisa memicu orang dapat melacak kita Iz.... karena aku lihat anak buah Rick sudah bergerak mencari ku..."
" I.. iya mas... habis ini aku bakalan buang nomor ponsel ku...!!!" sahut Faizal patuh
Dika menepuk bahu Faizal menguatkan
" Aku janji akan menyelesaikan semua ini dengan baik....!!! aku akan membantu mu pulang kembali hidup normal seperti dulu....!!!!"
Bersambung~
Maaf ya sekarang author gak bisa konsisten Up karena banyak nya hal dan kegiatan yang harus di selesaikan
__ADS_1
Jangan lupa Kasih Vote yang banyak ya Readers
Happy Reading....