
" Nduk... ibu nganter sampai sini aja ya... kalau mau masuk ke rumah mbah Martinah agak gimana gitu... ibu gak terlalu sreg sama si Marwoto anak tertua nya..." ujar bu Fatimah begitu mereka sampai didepan pagar besi rumah mbah Martinah
Rumah satu ini terletak di pertigaan tengah Desa, rumah mencolok karena satu satu nya rumah mewah gedong megah berlantai dua dan dipagar besi
" Iya buk gapapa biar saya dan Melisa yang masuk ke dalam... makasih udah nganterin..." sahut Dika karena Melisa masih melamun belum menjawab
" I..iya buk... ibu balik aja gak papa... makasih udah nganter nganter kita hari ini... maaf kita jadi ngrepotin..." sahut Melisa juga
" Udah gak usah sungkan... nanti pulang dari sini langsung balik rumah ya... ibu siapin makan..." bu Fatimah pamit
" Makasih buk..."
" Mas...kita masuk...???" tanya Melisa pada Dika meminta persetujuan
Dika mengangguk
" Kita harus tau cerita yang sebenarnya, hanya mereka satu satunya keluarga mu yang paham cerita itu..."
" Tapi kalau mereka menolak kita gimana...??? mereka kan gak pernah nganggep keluarga nenek..." Melisa ragu
" Kita belum coba sayang.. jangan mudah menyimpulkan sesuatu dulu...ayooo mas temenin... kamu pasti bisa..."
Melisa komat kamit baca doa sebelum pencet bell yang ada di tiang gerbang,
Udah kaya orang gedhongan beneran keluarga mereka, pantas kalau gak mau ngaku nenek pikir Melisa
Think thuk thiiink thuuunkkk
Bunyi Bell yang menggema di dalam rumah, tak selang beberapa menit keluar seorang perempuan berpakaian daster biasa sembari tergopoh gopoh membuka gerbang
" Cari siapa ya mbak sama mas ini..???" tanya perempuan itu yang sepertinya pekerja disini,
" Eee maaf buk apa bener ini rumah nya mbah Martinah...???" tanya Melisa ragu, dia bingung mau memperkenalkan diri sebagai siapa
" Kok tau ndoro putri.,...???" tanya perempuan itu lagi
" Eee...anu..ee saya..."
" Kami saudara nya dari jauh... tolong antar kami ketemu mbah Martinah ada hal penting yang harus kami sampaikan..." potong Dika
Mas Dika ini gercep juga menyela disaat Melisa kebingungan
" Kok saya gak pernah lihat kalian ya...!!!" ibu itu mulai curiga
" Nanti akan kami jelaskan di dalam... tolong ijinkan kami ketemu mbah Martinah..." pinta Dika sedikit memaksa
" Siapa Nas...!!!!" tanya seorang laki laki yang suaranya terdengar berat, lelaki itu mendekat ke gerbang dengan wajah yang terlihat tak ramah sama sekali
__ADS_1
" Ini den... ada mbak sama mas yang katanya saudara jauh ndoro putri... mereka mau ketemu ndoro putri katanya..." jelas ibu itu yang ternyata namanya Nastiti
" Siapa kalian...!!!!" hardik laki laki itu dengan nada tajam, wajahnya yang coklat kehitaman tampak makin sangar
" Saya Melisa... anak pak Sasmito... saya mau ketemu mbah Martinah..." sahut Melisa memperkenalkan diri
Laki laki itu cukup tercengang mendengar pernyataan Melisa, dia mengamati Melisa lekat lekat
" Mau ngapain kamu ketemu ibu ku...!!! minta warisan...!!!!" cibir lelaki itu setelah beberapa saat
Sepertinya lelaki ini namanya Marwoto anak tertua mbah Martinah
" Bukan...!!! saya hanya mau menanyakan sedikit tentang orang tua saya... sebab hanya mbah Martinah dan keluarga nya yang paham cerita itu... tolong om ijinkan saya masuk..." Melisa memohon memanggil nama lelaki itu dengan sebutan om
" Ibu ku gak bisa diganggu...!!!!"
" Tolong om... sebentar aja... saya janji setelah itu saya akan pergi dan gak akan menganggap kalian keluarga lagi... seperti keluarga kalian yang sedari dulu tak menganggap keluarga ku..."
" Nastiti... buka kan gerbang... suruh mereka nunggu diteras... jangan disuruh masuk..." Marwoto memerintah Nastiti
" Baik Den...!!"
" Makasih om..." ucap Melisa sambil tersenyum begitu mereka dipersilahkan masuk
" Angkuh banget lelaki ini... kalau gak inget lagi butuhin informasi dari emakny... udah gue tonjok dia...!!!! " umpat Dika mbatin
Dika menatap Marwoto dengan tatapan tak bersahabat, namun dia hanya diam dengan segala arogan dan keangkuhan laki laki itu, posisi nya saat ini mereka sedang membutuhkan keluarga nya untuk informasi soal ibu Melisa, Dika harus bisa menahan sabar
Tak apalah ketimbang hanya disurug menunggu di pagar rumah..
Emang keluarga angkuh mereka ini
merasa paling kaya dan harus dihormati disini
Tak lama Marwoto kembali keluar bersama seorang perempuan yang lumayan sepuh, rambutnya sudah banyak yang putih beruban, pipinya keriput dan mengendur tetapi jalan nya masih tegas dan tatapan tajam nya menandakan beliau sangat angkuh dan tinggi hati, lirikannya yang selalu menganggap rendah orang lain tergambar jelas diwajahnya
Melisa terdiam dengan mata berkaca kaca melihat perempuan tua itu,
Wajah mbah Martinah sangat mirip dengan neneknya, hanya mbah Martinah terlihat lebih tinggi dan putih bersih meskipun sudah menua
" Mbahhh..." Melisa mengulurkan tangan untuk mencium tangan perempuan tua itu
Dengan terpaksa mbah Martinah memboleh kan Melisa mencium tangannya
Dika hanya diam, dia jadi ikutan angkuh melihat keluarga sombong didepan nya ini
" Katakan apa mau kalian kemari..." ucap Mbah Martinah dengan digin, wajahnya nampak tegas
__ADS_1
" Saya Melisa mbah.. anak pak Sasmito...cucu...da.."
" Saya sudah tau...!!!" potong mbah Martinah cepat
" Katakan saja apa tujuan mu kemari....!!! kalau kamu mau tinggal di rumah ku... atau kau mau ku anggap keluarga kau salah...!!! sejak nebek mu masih hidup aku dan yu Sutini tak pernah akrab... tak sudi aku menganggap keluarga pada anak keturunan dan yu Sutini sendiri... malu... punya keluarga miskin...!!! gembel...!!! paling hanya menyusahkan dan suka ngutang..."
Dika makin geram, ingin rasa nya langsung membalas makian wanita keriput ini, tapi ditahan nya demi Melisa
Dengan hati yang sakit, Melisa mencoba tersenyum menanggapi nya
" Mboten mbah...saya datang kesini bukan may numpang tinggal... bukan mau ngrepotin... bukan juga minta di akui saudara...selama ini saya sudah terbiasa hidup sendiri... bersama suami saya..." jawab Melisa
" Saya datang kesini... hanya mau menanyakan soal ibu saya.... saya pengen tau semua cerita yang sebenar benar nya terjadi... kenapa bapak sama ibu bisa menikah... sedang ibu sudah menjadi istri orang dan memiliki tiga anak... lalu apa yang menjadi alasan ibu pergi ninggalin saya sama bapak padahal katanya ibu sangat menyayangiku..." jelas Melisa lagi dengan gamblang dan lugas,
Mbah Martinah diam sejenak, menatap Melisa dengan tatapan yang sulit diartikan
" Itu masalah kan sudah lama sekali... untuk apa kamu baru nyari sekarang...!!! mau nyari ibu mu...??? ibu mu sudah bahagia dengan keluarga nya yang kaya raya...bukan kere dan mblangsak kaya bapak mu itu...!!! bisa jadi dia sudah lupa dengan mu...!!!" Marwoto berujar mematahkan harapan Melisa membuatnya makin sakit hati pada kenyataan
" Kenal atau lupa atau mungkin tak mengakui lagi itu hak dia om...saya hanya mau tau kejelasan apa yang sebenarnya terjadi... karena saya baru tau kenyataan ini...saya perlu tau asal usul keluarga saya... berhubung kalian adalah kerabat saya yang tersisa jadi saya datang kesini hanya mau minta tolong untuk menjelaskan itu semua... " sahut Melisa lugas, selalu menunduk mengalah dengan tipe orang orang seperti ini hanya akan makin di injak injak dianggap tak berani
" Mbah... saya mohon... saya hanya mau tau kebenaran nya saja... tak lebih..." pinta Melisa memelas
" Baiklah aku akan ceritakan apa yang ingin kamu ketahui...tapi selebihnya pergilah... dan tak perlu lagi anggap kami kerabat mu..." sahut mbah Martinah setelah beberapa saat, nampak nya dia iba dengan Melisa namun sikap angkuhnya sudah terlalu mendarah daging sehingga membuatnya menutup mata dan tak perduli
" Iya mbah... tak perlu khawatir... saya tak akan menganggap kalian keluarga ataupun kerabat...bahkan kenal saja tak perlu..." jawab Melisa tegas
Diam diam Dika bangga dengan keberanian Melisa, tapi kenapa selama ini dia tak mau berani pada orang tua nya dan Gani soal pemaksaan itu...!!!
Mungkin Melisa ini tipe gadis yang takut membantah orang tua...hanya sayang nya dia harus ketemu dengan orang tua angkat macam pak Marjo dan bu Murni yang tak punya belas kasihan sedikitpun...pikir Dika menilai Melisa
Bu Nastiti keluar membawa nampan berisi cangkir minum,
" Mangga diminum dulu neng..." ujar bu Nastiti menyuguhkan dengan ramah
" Makasih buk..." sahut Melisa dengan senyum hangat nya
" Minumlah dulu... setelah itu kuceritakan semua nya tentang Resinda dan Sasmito...juga yu Sutini..."
Bersambung~
Luk mane kance...
Sejauh ini mengikuti cerita dan perjalanan Melisa dang Dika
Apa tanggapan kalian dengab novel ini...???
Kasih saran dan tanggapan kalian yaaahhh...di komen
__ADS_1
Jangan lupa Vote nya yang banyak supaya makin berkembang dan maju lagi buat author berkarya...
Happy Reading...