
Beberapa waktu sebelum eksekutif bergerak, Britannia, tempat yang kini menjadi sunyi menyisakan pelayan dan beberapa prajurit baru yang menjadi tentara sukarelawan untuk melindungi kerajaan dan negara mereka di saat para pejuang pergi berperang.
Meskipun hanya kekhawatiran semata namun akan tetap ada orang-orang acuh terhadap perang dan mengambil kesempatan tersebut untuk meraih kekayaan dengan cara kotor. Salah satunya adalah dengan merampok dan semacamnya.
Diantara para sukarelawan tersebut ada juga keluarga bangsawan yang ditempatkan di beberapa wilayah sebagai bentuk bantuan dan kecintaan mereka terhadap tanah air. Mereka juga mungkin kesal karena tidak bisa memberi kontribusi di medan perang namun tidak sedikit yang bersyukur tidak ikut perang.
Sementara di kerajaan yang sepi tersebut, wanita yang terbaring lemah selama ini membuka matanya. Pandangannya berkunang-kunang dan dia butuh usaha kuat untuk bisa duduk di tempat tidurnya. Memegang kepala, Tirith memandang sekitar dan menyadari dirinya ada di kamar.
“Eh? Bukankah aku ada di taman?” Tirith membenahi pikirannya dan kembali mengingat.
Ingatannya tidak seharusnya salah karena dia memang berada di taman untuk memandang langit yang merah tersebut. Tirith berasumsi karena terlalu lama di sana dia tanpa sadar ketiduran dan seseorang yang mungkin Ayahnya atau Pahlawan membawanya ke kamar. Mungkin juga pelayan khusus yang sudah bersamanya sejak kecil.
Karena tidak mungkin bagi pelayan atau prajurit lain menyentuhnya sembarangan, jika itu terjadi esok harinya mereka sudah ada di tiang gantung.
“Ugh, kepalaku ...” Tirith berusaha mengambil air yang telah disediakan namun tak sengaja dia menjatuhkan gelasnya.
Pelayan pribadinya yang menjaga di depan pintu masuk dengan tergesa-gesa dan membersihkan kekacauannya dan mengambil gelas baru. Tirith meminumnya dengan perlahan dan tak lama kehadiran seseorang masuk ke kamarnya. Para pelayan memberikan hormat terlebih dahulu sebelum meninggal ruangan.
Tirith menatap pria yang sudah tua namun masih sangat perkasa dengan sedih. Dia menggunakan satu set armor abu-abu dengan ukiran pedang emas di dadanya, pedang Excalibur yang menjadi lambang kesatria Britannia.
“Apa Ayah akan pergi berperang sekarang?” Tirith bertanya dengan khawatir, kepada Ayahnya, Altucray.
Satu-satunya keluarga yang tersisa dari keluarga Britannia dan satu-satunya keluarga yang dimiliki Tirith. Dia tahu kondisi saat ini cepat atau lambat akan mendorongnya pergi ke medan perang namun tetap saja dia ingin Ayahnya tidak pergi.
“... Ya, peperangan mungkin sudah mencapai puncaknya. Semua eksekutif termasuk Kaisar Surgawi sudah mempersiapkan diri. Semua tentara akan dikirim ke medan perang.” Altucray tanpa emosi saat mengatakannya, dia duduk di kasur Tirith, “Ayah ingin menemuimu sebelum berangkat.”
“Ini tidak seperti biasanya. Meski aku tahu ini bukan peperangan biasa namun Ayah bukan orang yang akan mengatakan perpisahan, kan?” Tirith tersenyum lembut namun cukup jelas bahwa Altucray melihatnya gemetar.
__ADS_1
Ada sedikit penyesalan dan hati yang tercabik-cabik di dadanya, Altucray menyesal telah bertindak atas keegoisannya tanpa pernah tahu bahwa sesungguhnya Tirith kesepian.
“Aku sudah sangat tua, dan tampaknya benar bahwa semakin tua seseorang semakin ingin dia menghabiskan waktu bersama keluarganya. Ayah ingin terus di sisimu, meski manusia akan mati namun aku janji tidak akan mati di peperangan ini. Kamu tidak usah khawatir, Putriku.” Altucray mengusap kepala Tirith dengan penuh kasih sayang.
Tirith merasa lega dan untuk beberapa hal dia menyilangkan tangan, membusungkan dada lalu tersenyum bangga selagi sedikit mendengus.
“Hmpfh! Lagi pula tanpa perlu Ayah turun tangan, para Pahlawan sangatlah kuat sampai-sampai bisa memenangkan perang tanpa pasukan. Dengan teknologi canggih dari Region kekuatan tempur tentara menjadi sangat kuat. Lalu ada juga orang yang sangat kuat, dia juga yang membawa teknologi itu, orang itu—”
Tirith bersemangat saat menceritakan kekuatan hebat yang dimiliki umat manusia namun wajahnya menjadi kaku dan rumit di saat-saat terakhir. Dia memegang kepalanya, ada sesuatu yang benar-benar mengganggunya.
“Ada apa?” Altucray bertanya dengan sedikit kekhawatiran ketika melihat wajah Tirith demikian rumit.
“Orang itu ... Siapa? Siapa dia yang menciptakan benda-benda hebat itu dan sangat kuat?” Tirith bertanya kepada dirinya sendiri dan mulai menggali ingatannya.
“Eh? Ah, ada apa ini. Aku, seakan-akan ada hal yang hilang dari ingatanku.” Tirith memegang kepalanya dengan penuh makna, dia memegang dadanya yang juga terasa aneh.
“Baiklah. Aku hanya penasaran apakah bisa melihat Petelgeuse ataupun Sirius di langit.”
“Sirius? Petel- apa?” Altucray memiringkan kepalanya dan bertanya, dua nama itu sangat asing di telinganya.
“Sirius dan Petelgeuse. Itu nama-nama bintang yang sangat terang di langit malam. Seseorang memberitahuku, dia ... Siapa? Siapa dia yang mengajarkanku tentang bintang, eh? Ada apa ini.” Tirith merasa semakin aneh kepada dirinya.
Seolah-olah ada kabut yang menutupi kepalanya saat ini sehingga dia tidak memiliki hal-hal jelas di tempatnya. Altucray menyaksikannya dengan sedih kemudian menguatkan diri untuk bertanya.
“Mengapa kamu menangis, wajah cantikmu akan pudar, Putriku.”
“Eh?” Tirith tertegun karena tidak pernah menyadari bahwa air mata mengalir ke pipinya. Dia mengusapnya namun air mata tidak pernah berhenti, sama seperti dadanya yang terasa sangat sakit.
__ADS_1
Tirith tidak merasa sedih atau berduka kepada apapun namun hatinya merasa telah kehilangan sesuatu yang benar-benar penting untuknya.
“Mengapa hatiku sakit? Mengapa ingatanku kacau seolah ada yang hilang? Seolah-olah aku telah kehilangan sesuatu yang sangat berharga untukku. Aku tidak mengerti ini. Lalu, bagaimana caranya agar air mata ini tak lagi mengalir?” Dia bergumam kepada dirinya sendiri.
Saat itu juga Tirith mendengar bisikan— lebih tepatnya potongan ingatan yang samar-samar. Potongan ingatan tersebut menggambarkan seseorang menyentuh dagunya dan mendekatkan diri. Tirith tak mampu melihat wajah orang tersebut seolah-olah sengaja di gelapkan. Orang tersebut mendekatkan bibir kemudian berkata:
"Aku mencintaimu, Tirith. Selamat tinggal."
Saat itu juga kenangan berakhir dan dadanya menjadi semakin sakit. Tirith tak pernah memahaminya sampai akhir tentang apa yang terjadi kepada dirinya sendiri.
“Tampaknya kamu sangat lelah hari ini. Sebaiknya beristirahat dan jangan khawatirkan perang, karena manusia pasti akan menang.”
Altucray membaringkan Tirith yang terlihat menyedihkan dan segera dia izin undur diri. Ketika berada di depan pintu, dia berhenti sejenak tepat di sisi pelayan yang senantiasa menjaga Tirith.
“Jangan biarkan dia keluar. Kamu juga tidak diizinkan menjawab apapun pertanyaannya, cukup jawab ‘Tidak tahu’.”
“Saya mengerti.” Pelayan itu membungkuk dengan hormat saat Altucray mulai berjalan pergi.
Saat berada di tengah jalan Altucray berhenti sejenak dan menatap langit, dia mengepalkan tinjunya dengan sangat kuat dan meneteskan air mata.
“Kamu benar-benar menepati janji. Kamu benar-benar akan melakukannya? Membiarkan keberadaanmu lenyap dari dunia ini ...”
Altucray sudah mendengar niat Rigel saat membahas janjinya untuk melepaskan belenggu Tirith. Dia mendengar rencana Rigel untuk menghapus ingatan putrinya sehingga Tirith tidak akan ingat kalau dia mencintai pria bernama Amatsumi Rigel.
Rigel tampaknya berencana melakukannya kepada Tirith dan Ratu Peri saat ini, ketika itu terjadi, Altucray meyakini bahwa Rigel akan menghilang pergi ke suatu tempat di mana orang-orang tidak akan menjangkaunya.
“Penyesalan selalu di akhir. Jadi begini rasanya menyesal. Aku merebut kebahagiaan Tirith yang sangat mencintainya. Mohon maafkan aku karena gagal menjadi seorang Ayah untuknya. Jika itu kamu, apa yang akan kamu pilih, Elizabeth?” Altucray bergumam kesepian dan merindukan orang yang tidak lagi hadir di dunia ini.
__ADS_1