Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 71 — Pesanan Yang Tabu


__ADS_3

Di pelosok kerajaan Britannia terdapat rumah bobrok yang mungkin tertiup angin akan hancur. Pondasinya yang dari kayu tampak keropos di makan rayap, atap dan dinding ditumbuhi lumut dan rumput jalar. Rigel menatapnya dengan aneh, bagaimana bisa orang sehebat ini tinggal di tempat kotor seperti ini?


Dengan bakatnya yang mampu menciptakan benda-benda hebat seharusnya dia bisa hidup tentram dengan uang hasil penjualan barangnya. Salah satu karya hebat yang menarik Rigel adalah cambuk yang digunakan Merial sebelum dia menjadi Pahlawan.


Cambuk yang mampu memanjang dan cukup kuat untuk menahan Hydra bukanlah sesuatu yang dibuat oleh seorang amatir. Dari hal tersebutlah yang memberikan Rigel dorongan untuk bertemu dengannya dan memintanya membuat sesuatu yang bahkan tidak bisa dibuat oleh skill Creator.


“Genius Guren, kerajaan ini jelas mengakui bakatnya dan bahkan bangsawan ternama seperti Ainsworth kerap membuat persenjataan di tempatnya. Jadi mengapa rumahnya begitu hancur? Apa kalian tidak membayarnya dengan benar?” Rigel menatap tajam Natalia di sisinya.


Dikarenakan Rigel ingin menyimpan tenaga dia tidak memilih terbang dan memanfaatkan spatial Natalia adalah solusi terbaik. Dia juga tidak membawa Yuri dan Leo karena benda yang dia ciptakan tersebut bukan sesuatu yang harus dia tunjukkan.


“Untuk itu, tentunya baik keluarga Ainsworth atau kerajaan telah memberikannya kekayaan yang takkan habis tujuh turunan sekalipun mereka menganggur. Namun dia selalu saja menolaknya. Anda akan memahaminya nanti ketika bertemu langsung dengannya.”


Mendengar Natalia yang kompeten terlihat bermasalah oleh orang ini, maka jelas Genius Guren tipikal orang berkepribadian eksentrik seperti halnya Ozaru bodoh yang menyebabkan masalah jika tidak diawasi.


Natalia mengetuk pintu yang bisa hancur kapan saja dengan keras, sampai beberapa menit tidak ada jawaban dan Natalia memukul lebih keras hingga rumah tersebut bergetar. Dalam diam Rigel bahkan berencana meledakkan pintunya karena benci menunggu. Namun hal itu tidak diperlukan karena suara langkah terdengar dari balik pintu.


“Siapa yang datang di jam sibuk brengsek. Lalu tidak perlu mengetuk begitu keras!”


Pintu terbuka dengan suara yang terkesan jengkel mengikuti. Rigel tidak menemukan siapapun di hadapannya dan cukup penasaran akan hal itu. Sebuah tangan terangkat dan meminta perhatian Rigel. Orang itu nyatanya jauh dari yang diharapkan karena tingginya hanya mencapai pinggang Rigel.


“Di bawah sini, dasar brengsek. Kamu wanita bangsawan swot atau apalah itu, apa kedatanganmu untuk benda itu? Dan siapa pemuda tampan yang menjijikan ini? Seingatku suamimu adalah gorila.”


“Mohon jaga lisan anda, Tuan Guren. Saya tidak masalah dengan bagaimana anda memandang suami saya, namun mohon jangan berucap kasar di depan Pahlawan.” Natalia memberi peringatan dengan sedikit mengancam.


“Mau Pahlawan, Dewa, atau naga sekalipun. Pembeli tetaplah pembeli dan aku adalah Rajanya.” Guren berkata dengan acuh seolah hal tersebut paling jelas di dunia ini.

__ADS_1


Rigel sendiri tidak peduli bagaimana dia bersikap karena yang lebih penting adalah bakatnya dalam membuat sesuatu. Rigel melihat kembali penampilan pria tua di depannya.


Tubuhnya mungkin pendek namun dengan janggut lebat dan otot-otot yang mampu terlihat jelas tersebut membuat siapapun akan berpikir orang ini adalah Dwarf. Di dunia ini penampilannya bukan hal yang asing namun sekali lagi Rigel memikirkannya bahwa Dwarf memang agak menjijikkan.


“Tidak kusangka ada Dwarf di sini. Yang lebih mengejutkan lagi adalah tidak ada siapapun yang menjadikanmu budak.” Rigel berucap dengan kejutan meski wajahnya datar.


“Bocah yang tidak sopan, aku ini manusia asli. Hanya karena aku pendek jangan menyamakanku dengan ras kerdil itu!”


Sepertinya dia adalah manusia dengan penampilan Dwarf, lagi pula sangat mirip sampai siapapun akan berpikir demikian. Mendengar cara bicaranya yang tidak berubah Natalia tampak ingin menegurnya namun Rigel segera menghentikannya.


“Aku akan langsung saja, apa kamu sudah menyelesaikan pesananku, Tua Bangka?” Rigel masuk tanpa menunggu Guren mengizinkannya.


Dia hanya melihat kasur, kamar mandi dan meja makan di dalamnya. Awalnya Rigel berpikir dalamnya tidak seburuk luarnya namun nyatanya sampul jelek isinya juga sama.


“Kamu benar-benar bajingan meskipun seorang Pahlawan. Tempatnya ada di bawah. Dan juga hentikan aura mengerikanmu karena membuat wanita itu takut.” Dengan acuh dia menunjuk Natalia yang terlihat berkeringat dingin.


Melihatnya yang tenang menjadi seperti itu Rigel segera menarik kembali auranya. Dia tak memperhatikan sekelilingnya jadi apa boleh buat. Namun tetap saja Guren ini berbeda dari ekspetasinya.


“Kamu tidak takut dengan auraku?” Rigel bertanya dengan sedikit kejutan.


Seharusnya aura membunuh yang dia keluarkan setara dengan malaikat pembawa kematian. Berkat pertarungan melawan Acnologia Rigel telah membunuh banyak monster kuat dan menyerap kekuatan para naga. Tampaknya hal itu juga menyerap aura membunuhnya.


“Hah! Bahkan jika aku mati di sini, aku sudah puas dengan hidupku. Terutama dengan pesananmu yang menakjubkan, jika itu hal terakhir yang aku kerjakan dalam hidup ini maka tidak ada lagi penyesalan.”


Orang yang sudah hidup lama memiliki pengalaman yang banyak, Guren pasti telah merasakan pasang surutnya kehidupan dan mendedikasikan dirinya untuk menempa senjata serta benda lainnya. Rigel cukup kagum dengan ketersediaannya menerima kematian.

__ADS_1


Guren menendang kasurnya dan mengejutkan ada pintu menuju ruang bawah tanah. Dia membukanya dan menuntun Rigel untuk masuk.


Di dalamnya terdapat peralatan lengkap penempaan termasuk tungku untuk membakar besi. Dengan suhu tinggi tersebut cukup mengejutkan bahwa dalamnya tidak begitu panas. Di pojok ruangan juga terdapat tumpuk koin emas yang berdebu.


“Untuk pesananmu tidak perlu membayarnya dengan koin tidak berharga itu. Sebagai gantinya biarkan aku pergi ke tempatmu untuk membuat benda-benda unik yang kamu bawa.” Guren berkata seolah menyadari ke mana Rigel memperhatikan.


Mengenai bayaran yang dia inginkan memang tampak merugikan Guren namun Rigel tidak mempermasalahkannya karena dia akan mendapatkan tambahan pekerja yang berguna.


“Itu masalah gampang. Sekarang di mana pesananku?”


Guren kembali berjalan cukup dalam dan mereka tiba di ruangan yang disinari kristal biru. Di tengahnya terdapat kapsul besar yang Rigel gunakan untuk meletakkan pesanannya.


“Ini benar-benar maha karya yang hanya bisa diciptakan dengan bagian Monster Malapetaka serta banyak kehidupan. Meskipun kamu Pahlawan Creator tampaknya kemampuanmu tidak mampu menciptakan sesuatu seperti ini, ya.”


“Ya begitulah. Kekuatan ini memang serba guna namun memiliki batas-batas yang tidak bisa dilampaui manusia. Meskipun entah bagaimana aku mampu membuat Ciel dengan menyatukan jiwa, namun dengan kehidupan itu mustahil.”


Melihat pesanannya yang sudah siap membuat Rigel tersenyum seperti halnya Guren yang bangga akan ciptaannya. Hanya ada satu orang saja yang tidak tersenyum, dia justru gemetar ketakutan oleh apa yang dia lihat.


“Saya tidak percaya ini ... Benda, tidak mahkluk hidup? Saya tidak tahu harus mendefinisikannya sebagai apa.” Dia berkeringat sangat banyak karena kengeriannya. Mungkin tidak sopan memikirkannya namun dia yakin bahwa Rigel sama buruknya dengan iblis, bahkan lebih buruk.


“Ya, wajar saja karena jika orang luar tahu aku membuat benda yang terbuat dari nyawa manusia dan monster lainnya, tidak mengejutkan aku akan diburu.” Guren melirik Rigel sebentar untuk mengamatinya, “Aku masih tidak percaya seorang Pahlawan sendiri yang menyarankannya.”


“Aku sudah lama membuang gelar konyol itu.” Melihat sesuatu yang dia buat dengan kekejian, hal yang tidak akan mampu dibuat oleh kekuatan Creatornya.


Sesuatu yang tabu untuk diciptakan kini telah terlahir ke dunia ini.

__ADS_1


__ADS_2