Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 30 — Reuni Tertunda


__ADS_3

”Mana Hand — Ashura Punch!”


Tangan mana meluncur cepat, Lucifer dengan sayapnya yang mengepak berhasil menghancurkannya dengan mudah. Segera bermanuver, dia melepaskan helaian bulu yang mampu melubangi pohon.


Rigel menghindari beberapa, dia segera menciptakan mesin yang menyemburkan api guna menghemat tenaganya meskipun tidak terbatas selama berada di tahap empat.


Meskipun kekuatannya dapat pulih cepat, tetapi stamina tubuh tetap memiliki batas. Setiap kali dia memaksakan diri, tidak lagi mengejutkan bahwa Rigel akan tertidur selama beberapa waktu.


‘Yang kubenci selama waktu tidur adalah sesuatu seakan hilang di dalam diriku. Dan juga, entah mengapa selalu menangis setiap kali terbangun.’ Pikir Rigel selagi membakar bulu-bulu sayap Lucifer.


Menangis bukanlah hal memalukan karena sudah menjadi perlakuan dasar manusia untuk menangis disaat sedih, bahagia, bahkan kesakitan. Namun bagi Rigel tangisannya ambigu, selain hanya sebelah mata, dia tidak tahu apa yang membuatnya menangis.


Perasaan yang seakan hilang juga mengerikan, barangkali hal itu efek samping dari Void yang dimaksud. Rigel tidak ingin mengambil lebih banyak risiko dengan menggunakan Void lebih jauh.


Rigel menggelengkan kepalanya dan meletakkan semua pemikirannya di tepi. Dia mengejar Lucifer, membuat dua senapan api dan berusaha menembak jatuh Lucifer.


“Kamu benar-benar memiliki kemampuan yang sangat mendukung pengetahuan dari dunia lain.”


Lucifer tampak jengkel dengan peluru timah panas yang ditembakkan ke arahnya. Jumlahnya memang masalah, kecepatannya juga sama merepotkannya. Sekarang dia mulai tertarik dengan bagaimana dunia tempat asal para Pahlawan.


Apakah itu tempat yang damai bak surga, atau terpuruk seperti neraka. Yang bisa dia pastikan dunia tempat asal mereka memiliki banyak senjata aneh dan mengerikan.


Terutamanya senjata yang melenyapkan Dante, jika senjata seperti itu digunakan dalam perang, akan banyak pasukan Iblis yang mati.


Sibuk dengan pemikirannya, segera mereka menyadari sesuatu yang cukup mengerikan. Langit bergemuruh dan tidak lama setelahnya petir emas datang menghujani.


Dari lokasinya tampaknya berasal dari tempat Sylph dan Michael. Firasatnya menjadi buruk, wajahnya berubah gelap. Jika apa yang dia lihat benar sama persis dengan berbagai hal yang dia lihat ketika menggunakan mata dari Behemoth, maka, itu mungkin saja...


“Sylph!” Mengabaikan Lucifer, Rigel terbang cepat menuju medan tempur Sylph dan Michael.


Lucifer tidak berusaha menghalanginya, mengejar juga tidak. Sebuah pemikiran terlintas dalam benaknya, dikarenakan dia sangat tahu petir emas itu.

__ADS_1


“Halilintar Dewa, pastinya Barakiel. Apa mungkin dia juga ada di dunia ini? Tidak, seharusnya tidak mungkin. Ragnarok adalah papan catur untuk hiburan para Dewa, seharusnya tidak akan dimulai sekarang.”


Lucifer sangat tahu kapan waktu peperangan akan tiba.


“Berbeda dengan manusia bodoh yang mempercayai Batu Ramalan sebagai tanda di mulainya perang. Pada kenyataannya, saat siang dan malam tiada, digantikan dengan langit kemerahan maka pertanda awalnya perang.”


Batu ramalan yang dipercayai manusia berasal dari Dewa yang akan menjadi penunjuk dimulainya perang nyatanya tidak seperti itu. Memang benar fakta bahwa batu itu akan bersinar hingga ke langit ketika waktunya tiba.


Yang salah dari legenda diantara manusia adalah asal-usul batu itu sendiri. Lucifer yang meskipun tidak melihat langsung proses pembentukannya, dapat dengan mudah mengetahui dari apa batu itu terbentuk. Batu itu terbentuk dari Pahlawan generasi sebelumnya.


“Mari kesampingkan tentang hal itu. Fakta bahwa Halilintar Dewa milik Kemuel ada di sini, pasti ada hal janggal yang tidak kuketahui tentangnya.”


Lucifer tahu sedikit banyaknya tentang kemampuan Michael, begitu juga sebaliknya. Namun meski begitu bukan berarti dia tahu segalanya, ada bagian dari Michael yang tidak dipahami atau diketahui.


Seperti halnya kekuatan baru Lucifer yaitu Tangan Kiri Hades yang mana kekuatan sebenarnya tidak diungkapkan. Michael pasti memiliki kartu truf lain yang tidak dia ungkapkan. Contohnya saja sesuatu yang terjadi sekarang.


“Hanya ada dua kemungkinan. Pertama dia datang ke sini bersama para Seraphim, yang terakhir dia membunuh semua Seraphim dan mengambil kekuatannya.”


“Zenos! Selain Iblis bangsawan, bawa Pilar lainnya untuk mengikutiku!” Lucifer mengirimkan telepati kepada Zenos, bawahan paling setia miliknya.


Setelah mendapatkan balasan dari Zenos yang melakukan perintahnya, Lucifer terbang dan menyusul Rigel yang sudah jauh meninggalkan Medan tempurnya.


...***...


“Tidak, IBU!”


Priscilla meraih bagian tubuh Sylph yang tersisa. Dia mencoba menyembuhkannya karena sebagai peri, Sylph masih memiliki kemungkinan untuk diselamatkan meskipun sangat kecil.


“Jika aku membantu energi alam kembali ke tubuhnya, Ibu masih bisa dipulihkan.” Air mata bergelimang, Priscilla tidak mampu menahannya.


“Jangan seperti ini, kamu tidak boleh pergi! Selama ini aku merindu, ingin berjumpa denganmu. Bangkit dari kematian, ada banyak yang ingin kubicarakan denganmu, mohon kembalilah, Ibu!”

__ADS_1


Tangisnya semakin jadi ketika tubuh Sylph memudar menjadi cahaya, penyembuhannya tidak berhasil. Pasti karena Warth of Fairyqueen yang menjadi penghalang sihirnya.


Setelah sekian lama merindukan Ibunya, akhirnya ada kesempatan untuk bertemu. Namun apa daya takdirnya seperti ini. Masih ada banyak hal yang ingin dia sampaikan, tetapi maut memisahkan. Bukan Priscilla, tetapi berbalik sekarang Sylph yang mengalami kematian.


Priscilla memeluk Sylph dengan erat, segera tubuh Sylph menghilang menjadi partikel cahaya minor, meninggalkan Priscilla memeluk udara.


“Sungguh perpisahan menyedihkan, hatiku sampai tertawa bahagia, hahaha!” Michael tertawa senang hingga perutnya sakit, menatap rendah Priscilla.


“Beraninya, beraninya kau ... AKAN KUBUNUH KAU!”


Lantaran tak mampu menahan amarahnya, Priscilla berteriak keras. Dua buah bola ungu muncul dari kepalan tangannya, sayap kupu-kupu kemerahan muncul dari punggungnya.


Priscilla melesat cepat bagaikan kilat, tetapi tidak cukup cepat untuk mengejar Michael yang terbang santai.


“Mencoba melawanku? Sadarilah posisimu!” Michael menurunkan lebih banyak halilintar yang sangat kuat.


Priscilla berhasil menghindari beberapa, tetapi ada juga yang mengenai sedikit sayapnya. Sungguh sulit bermanuver di tengah hujan petir, tetapi kemarahan di dadanya tidak membiarkan kepalanya berpikir jernih.


Sayapnya terkoyak berkat hujan petir, tubuhnya terasa kaku karena aliran listriknya mencapai tubuhnya. Tanpa dia sadari petir yang lebih besar dari yang lainnya datang dari depan, dia tidak bisa menghindarinya.


“Kembalilah menjadi kehampaan!” Auman keras terdengar, bergema di medan tempur yang kacau.


Priscilla kembali tersadar dan refleks melihat ke orang di depannya, memeluknya serta menahannya agar tidak terbang lebih jauh.


“Kamu baru saja hidup dan lepas dari segel, jangan menjadi tollol dengan mencari kematianmu!”


Suara yang membawa kehangatan dan nostalgia akan perpisahan terakhir mereka yang menyedihkan, Pahlawan yang mengalami takdir menyedihkan...


“Rigel ...”


Priscilla merasa senang karena dapat berjumpa kembali, tetapi kemarahan akan kematian Ibunya tidak terlupakan. Mengabaikan reuni mengharukan ini, ada hal yang perlu diatasi lebih dulu.

__ADS_1


“Lupakan reuni ini, bagaimana dengan Sylph?!”


__ADS_2