Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 118 — Void Tahap Lima


__ADS_3

Adu ketahanan terjadi antara Rigel dan Lucifer. Keduanya tidak menunjukkan indikasi untuk mengalah. Saling menatap dengki dan tersenyum gila, napas terasa sesak dan membakar paru-paru yang menginginkan oksigen.


Tangan Kanan Rigel, Void untuk pertama kalinya di dorong sampai ke tahap Rune-nya memudar dan berdenyut-denyut. Bukan karena kekuatannya habis atau menghilang tetapi tubuh Rigel yang tak lagi mampu menerima beban lebih dari ini.


“Matilah ... Luci, fer-!” Rigel mengutuk namun lebih seperti sebuah rintihan.


Lucifer tak berbicara, dia mengayunkan kakinya dan menendang-nendang perut Rigel dalam upaya membuatnya lengah dan mengalah karena rasa sakit.


Jika hanya rasa sakit maka itu cara yang lemah untuk menggertak. Sudah sejak lama Rigel menerima rasa sakit secara artifisial. Dikhianati, membunuh rekannya dengan kedua tangannya sendiri, dan apa yang akan terjadi selanjutnya. Sudah cukup banyak rasa sakit yang dia terima, ini sudah cukup.


“Sudah cukup ... mari akhiri—” Rigel memecah kekuatannya, awalnya dia hanya memfokuskan diri menggunakan Void namun kali ini dia akan menggunakan sesuatu yang lain.


Kekuatan yang bukan Void, bukan juga Necromancer ataupun Kekuasaan Poseidon.


Tangan Rigel yang mencekram leher Lucifer bercahaya keemasan. Lucifer mulai memilih firasat tidak enak yang datang dari ketidaknyamanan lehernya.


“Apa yang coba ... kamu lakukan?!” Lucifer kini menendang semakin kuat karena firasatnya memburuk, tak lama dia menyerah mencekik Rigel dan mencoba melepaskan tangan kiri Rigel.


Rigel batuk darah dan segera tersenyum kepada Lucifer, “Tahukah kamu, bahwa Creator bukanlah kekuatan yang membuat benda hebat, sihir tanpa batas, senjata-senjata kuat ... Creator adalah—”


Tangan yang mencekram leher mulai melukainya seakan ada energi menghancurkan dari dalam. Lucifer menyadari bahwa jika tidak melepaskan tangan Rigel dari lehernya dia akan mati.


“Hentikan ini ... bajingan!” Lucifer kembali mengumpat, sesaat dia ingin memotong tangan Rigel, tangan yang mencekiknya semakin kuat dan mengangkat tubuhnya.


Lucifer nyaris tidak bisa bernapas dan kehilangan tenaganya. Tangan Rigel tidak hanya melukaiku tetapi juga menyerap kekuatan Lucifer.


“Creator adalah ... kekuatan yang menciptakan MASA DEPAN!!”


Tangan Rigel meledakkan bola energi yang memenggal kepala Lucifer, ledakan besar terjadi. Gelombang besar yang menghancurkan tanah dan menimbun banyak mayat di bawahnya.


Para Iblis tercengang karena Pilar Iblis dan tuan mereka, Lucifer telah gugur dalam medan perang. Ada berbagai hal yang tidak bisa dijelaskan, termasuk kemarian Seraphim sepenuhnya.


Pasukan manusia menatap tercengang, mereka hendak berteriak penuh kemenangan dan rasa haru, tetapi mereka tidak boleh melupakan satu hal mendesak.


“JANGAN SENANG DULU, BAJINGAN!”


Bukan dari pihak iblis yang mengatakan hal demikian, malaikat juga mustahil menyampaikannya. Perkataan penuh marah dan gemetar tersebut berasal dari manusia.


Semua orang memfokuskan dirinya kepada si pembicara. Altucray yang berteriak, meski terdengar marah namun dia menangis seperti anak kecil hingga air keluar dari hidungnya.


“Perang belum berakhir sampai kita melenyapkan sisa-sisa dari mereka!” Altucray kembali berteriak


“Perjuangan belum berakhir!” Asoka menegaskan dengan tangisan yang sama.

__ADS_1


Mereka bahagia, siapa yang tidak bahagia? Akhir dari sesuatu yang mereka nantikan sejak lama. Puncak dari peperangan ini telah selesai. Semuanya akan lengkap ketika sisa pasukan lenyap.


Para Pahlawan mendekati Rigel dengan riang dan air mata, mereka bersuka cita atas kemenangan.


“Akhirnya kisah yang panjang ini ... akan berakhir?” Takumi tak sanggup menahan air matanya.


“Pengorbanannya tidak sedikit ... nyawa mereka yang hilang tidak sia-sia!” Hazama menangis membawa mayat yang telah dibungkus kain putih.


Kematian yang dibutuhkan tidak sedikit. Rigel tahu dengan betul bahwa kemenangan ini tidak bisa disebut kemenangan dengan banyaknya nyawa melayang.


Rigel diam menatap langit dan berkata, “Akhirnya ... kedamaian ... .”


Tak lama kemudian Rigel merasakan sesuatu mendekat, dia terkejut dengan apa yang dia lihat.


“Apa yang kamu lakukan ... Priscilla?” Rigel tidak berharap gadis itu akan datang menemuinya.


Seharusnya tak ada tempat bagi pria bernama "Amatsumi Rigel" di dalam ingatannya. Rigel telah yakin menghapus ingatannya bersama dengan penghuni hutan peri. Kemunculan Priscilla di sini jelas janggal.


Priscilla terengah-engah, dia diam dan saling bertatapan dengan Rigel. Melihat pria itu memanggilnya, maka benar apa yang menjadi keresahannya.


“Jadi benar ... kamu mengenalku ... mengapa kamu menghapus ingatanku?”


Priscilla sejak awal memikirkannya, kejanggalan tentang ingatannya yang seakan-akan berkurang. Hilang ingatan memang hal biasa, tetapi mustahil seseorang melupakan ingatan yang sangat berharga untuknya.


“Menghapus ... ingatan? Apa maksudnya, Rigel?” Takumi terkejut bukan main, dia melepaskan diri dari Yuri dan berjalan mendekati Rigel, “Apa kamu berniat ... membuat kami melupakanmu?”


“ ... .”


“Jawab aku ... Rigel.” Takumi terus melangkah mendekati Rigel yang diam membatu.


“Aku ... .”


Ketika Rigel hendak menyampaikan sesuatu, Takumi membelalakkan matanya karena sosok iblis api dengan tanduk besar muncul.


Tangan kiri dari iblis tersebut bersiap menusuk Rigel, Takumi hendak berteriak dan menyelamatkan Rigel namun dia tidak akan sempat. Angin kencang kemudian melewatinya, dengan cepat sosok itu mendorong Rigel dan menggantikannya.


“Pris, cilla?” Rigel tak memahami apa yang baru saja terjadi.


Dia melihat Priscilla tersenyum kepadanya, darah keluar dari mulutnya karena dadanya yang berlubang ditusuk tangan kiri Lucifer.


“Matilah kau ... Rigel!!” Sosok Lucifer yang terbakar api muncul dan berniat mendekat.


Rigel terengah-engah dan melemparkan kekuatan Void untuk melenyapkannya sekali serang. Dia berjalan dengan lambat, kemudian meraih Priscilla yang kehilangan darahnya.

__ADS_1


Dengan sentuhan diantara keduanya, sebagian ingatan Priscilla akan kembali. Rigel membaringkan Priscilla dalam pelukannya selagi jatuh berlutut.


“... Mengapa ... mengapa kamu melakukannya?”


“... Itu karena ... aku tak ingin ... kamu mati ... .”


“Lalu pantaskah kamu menukar nyawaku dengan milikmu?! Bahkan jika aku tertusuk, aku tidak akan mati!” Rigel berteriak marah, rasanya sedih namun tak ada air mata.


Rigel mencoba menutup lubang di tubuh Priscilla dan menyembuhkannya meski tahu tidak akan berguna apa-apa.


“Nah, ingatkah kamu ... ini sama persis dengan waktu itu.”


Rigel tahu apa yang dimaksud Priscilla. Itu ketika mereka berada di Labyrinth Neraka, ketika tahap akhir pelatihannya Rigel membantai semua penduduk dan rekan-rekannya. Itu ingatan usang yang ingin dia lupakan namun takkan bisa karena sudah menjadi kutukan untuknya.


“Jangan bicara lagi ... tolong jangan jadikan ini kali kedua ...” Rigel memohon dengan sedih, dia ingin menangis tapi apa daya, air mata tak mau menunjukkan dirinya.


“Ha ha ha ... maafkan aku karena memberimu kenangan tidak menyenangkan ... kedua kalinya ... karena itu, maafkan aku. Aku ...—”


—mencintaimu. Perpisahan diucapkan dengan mulus di dunia yang tak lagi tulus. Rigel meletakkan tubuh Priscilla yang mendingin di tanah dan menutup matanya.


Menatap Takumi dan yang lainnya dalam diam, pengelihatannya mulai mengabur perlahan. Di momen tersebut Rigel menemukan sosok orang yang berdiri jauh di belakang para Pahlawan. Orang yang tidak seharusnya ada di sini.


Karena itu, untuk terakhir kalinya, Rigel mengaktifkan kekuatannya, “Void Tahap Lima—”


Rune Void mulai menyebar ke seluruh tubuhnya, empat garis rune menyebar dengan cepat sementara terdapat satu rune tambahan yang benar-benar baru.


Takumi dan yang lainnya terkejut dengan tindakan Rigel yang tidak mereka mengerti sama sekali.


“Apa yang akan kamu lakukan ... Rigel?” Takumi bertanya dengan suara yang kesepian namun Rigel hanya tersenyum dengan kesedihan.


Meski tanpa kata, Takumi merasa bahwa dirinya tidak akan pernah bertemu lagi, seakan-akan Rigel akan menghilang dari dunia ini.


Rigel mengulurkan tangan kanannya dan mengarahkan telapak tangannya ke tanah, sekali lagi dia melafalkan, “Void Tahap Lima—”


“Jangan pergi, Rig—”


Dengan suara gemetarnya, Rigel berharap bisa menyelesaikan kalimat terakhirnya dengan benar, “—Kehancuran Dunia-!”


Cahaya biru menyelimuti dunia dengan cepat. Semua suara benturan sihir, pedang, teriakan para pejuang dan teriakan kematian menghilang. Dunia berubah menjadi tempat yang sunyi. Hal yang Rigel lihat hannyalah dunia kekosongan. Dengan cahaya kebiruan samar jadi pijakan, dan langit hitam tak bersinar, cuma berhiaskan cahaya kecil nan redup.


Di depan Rigel yang tertunduk dengan sedih dan menelan pahit kenyataan, berdiri seorang pria yang menggunakan jubah tuk menutupi tubuh dan wajahnya. Pria itu melepaskan tudung yang menutupi separuh wajahnya dalam diam.


“Pada akhirnya semua berakhir sesuai keinginanmu ... Azartooth.”

__ADS_1


Sosok yang tidak pernah diharapkan akan muncul lagi, sang Dewa yang memberikannya kekuatan.


__ADS_2