
Sekitar setengah jam sebelum Petra mengamuk dan kabar sampai ke Bellemere, Rigel yang berada di tempat Guren masih melihat benda buatan tersebut dengan takjub.
“Apa yang ingin kamu lakukan dengannya? Kuyakin kamu paham bahwa tak mudah menggerakkannya.” Guren berkata dengan penasaran.
Dia tak tahu bagaimana cara Rigel menggunakannya mengingat benda itu mengkonsumsi energi yang sangat banyak bahkan jika hanya menggunakannya kurang dari satu menit. Guren belum pernah menggunakannya untuk mencoba kekuatannya karena dia takkan mampu. Jika saja dirinya memaksakan diri maka tak akan ada hasil yang bisa dia ketahui.
“Tak pernah ada uji coba apa pun kepada benda ini. Sekalipun aku tidak takut mati untuk mencobanya, pada akhirnya aku takkan pernah tahu apakah berhasil membuatnya.” Guren menggaruk kepalanya dengan kasar juga bermasalah, “Aku akan mati tanpa pernah tahu hasilnya.”
Dari pada membuang nyawanya untuk hal yang tak penting dan tanpa hasil pasti, Guren akan lebih memilih jalan yang lebih baik dengan membiarkannya tanpa berbuat apa-apa. Lebih dari Rigel sendiri, mungkin Guren adalah orang yang menantikan seberapa mengerikan benda hidup yang dia ciptakan.
“Itu memang senjata mengerikan meski saya hanya melihat tampilan luarnya. Tabung itu tampaknya menjaga benda itu untuk tetap di dalam seperti halnya segel, tetapi, firasat saya tiada henti memerintah menjauhinya.” Natalia yang biasanya tenang juga kehilangan sikap di depan benda itu.
Rigel hanya diam dengan acuh tak acuh, dia tak peduli dengan perkataan Guren bahwa benda itu menyerap banyak kekuatan, atau Natalia yang meyakini benda itu jahat seolah terkutuk.
“Aku telah menyiapkan banyak cara sehingga takkan ada kesempatan bagiku kehabisan kekuatan saat menggunakannya. Selain mampu mengisi kekuatanku sendiri, pada kenyataannya ada persiapan yang tidak disadari semua orang.”
Rigel selalu membuat rencana yang amat sederhana namun tak mudah bagi orang lain menebaknya. Seperti halnya Lucifer yang memiliki kebiasaan menutupi niat asli dengan umpan besar, Rigel menyamarkan umpan dan niat asli sehingga sulit siapapun menduga.
“Entah kamu yang bengkok atau dunia yang merubahmu seperti ini ... Yah, tidak peduli yang mana itu, aku yakin kamu berada di kapal yang sama.” Guren terlihat memiliki kepercayaan tertentu kepada Rigel meski baru beberapa menit berjumpa.
Meskipun sikapnya sejauh ini tidak seperti Pahlawan, namun Guren yakin bahwa Rigel sungguh bertarung untuk manusia.
“Sekarang bocah, sebelum kamu membawanya aku ingin pembayaran yang sebelumnya kuminta dikabulkan.” Guren pergi ke belakang, mengambil kantung besar seolah siap meninggalkan rumahnya yang usang ini.
Pembayaran yang diminta Genius Guren adalah dengan membiarkannya membuat benda-benda yang Rigel datangkan dari bumi asalnya ke dunia ini. Tentunya tidak ada kerugian dari pihak Rigel. Justru sebuah keuntungan dengan kecakapan Guren, Region akan menghasilkan banyak hal hebat tanpa campur tangan Rigel. Tidak akan ada kekhawatiran sekalipun dirinya menghilang.
__ADS_1
“Urusan mudah. Natalia bisa mengantarmu, tapi yakin meninggalkan tumpukan itu di sana?” Rigel melirik ke tumpukan emas yang diabaikan. Jumlahnya sendiri cukup banyak untuk membangun sebuah kastil kecil.
“Tidak ada emas yang lebih berharga dari pada ilmu pengetahuan. Kamu bebas mengambilnya, anggap bonus karena membiarkanku belajar.” Dengan ringan tangan Guren memberikan tumpukan emas tersebut.
Rigel hanya mengangguk karena tak ingin membuat banyak keributan, tatapannya beralih ke Natalia yang masih menatap benda hidup, “Natalia, bawa Guren dan tumpukan di sana ke Region, juga awasi keadaan di sana selama beberapa waktu. Aku akan membawa benda ini.”
Rigel menyentuh kaca tipis yang menjadi pemisah antara dia dengan benda yang hidup tersebut. Untuk beberapa kasus dia tak bisa menyimpannya di Infentory karena tabung itu adalah fasilitas dan bukan sebuah item. Jika Rigel mengeluarkan benda itu sekalipun tidak ada jaminan bisa melakukannya, lagi pula benda itu setengah hidup.
“Apa anda akan langsung membawanya ke medan perang?” Natalia bertanya selagi menggunakan Spatial menuju Region.
“Tidak, terlalu dini berperang sekarang ...”
Rigel diam selama beberapa waktu, Guren dan Natalia juga diam menanti jawabannya. Berbalik dengan dramatis, baik Natalia dan Guren sama-sama tak percaya dengan yang mereka lihat. Pahlawan yang terkenal dingin dan tanpa ekspresi, kini sedang tersenyum, dengan alis berkerut, wajah yang terlihat sedih.
“ ... Ada hal-hal yang harus kuselesaikan.” Setelah mengatakan itu Rigel menghilang dari tempatnya dan pergi ke suatu tempat.
“Apa rumor bahwa dia orang yang bahkan tidak memiliki emosi adalah bohong?”
“Saya ... tidak yakin. Setelah melayani Pahlawan Rigel selama beberapa tahun, tak pernah saya melihatnya tersenyum demikian.” Natalia sendiri tidak percaya dengan matanya.
Seharusnya tidak perlu dibesar-besarkan hanya karena seseorang tersenyum tak peduli seberapa langka terjadi. Namun apa yang mereka lihat bukanlah sekedar senyuman belaka.
“Wajah itu senantiasa kulihat diantara para pejuang. Wajah yang siap mengucapkan selamat tinggal, seakan menyerah pada arus sungai.” Guren menatap sesuatu yang jauh, terkadang dia berpikir memiliki umur panjang itu buruk, karena dia harus menyaksikan berbagai kisah menyedihkan dari seseorang.
Natalia yang mendengar tak memahami jelas perkataan Guren namun dia masih bisa menangkap sesuatu, bahwa hal itu merujuk ke sesuatu yang tidak menyenangkan. Tanpa membuang waktu lama lagi keduanya pergi menuju Region.
__ADS_1
Dilain tempat, Rigel telah meletakkan benda itu di tempat yang tak diketahui orang-orang. Saat ini dia tengah berada di hutan-hutan yang indah, sebuah tempat yang ditinggali oleh para peri. Mengingat situasi tidak baik, tak pantas baginya berjalan-jalan ke sini.
‘Mulai dari titik ini ... aku harus melakukannya.’
Dia harus melakukannya sebelum waktunya tiba. Rigel telah memutuskan sesuatu yang sulit bahkan baginya, dadanya terasa sakit setiap kali tahu apa yang akan terjadi mulai dari saat ini.
Meskipun ada kesempatan di mana dia tak perlu melakukannya sendiri, namun keyakinan kuat bahwa mereka bukan orang yang akan dengan mudah terpengaruh. Karena hal itulah Rigel perlu turun tangan sendiri.
“Lama tidak jumpa, Mantan Raja Peri, atau haruskah saya panggil Pahlawan Rigel?” Suara lembut disertai air yang berkumpul membentuk sosok seorang gadis muncul.
Hanya satu peri tingkat tinggi yang menguasai air. Dengan rambut biru yang indah tersebut, dia membungkuk hormat, Peri Air, Undine.
“Tak masalah apa pun kamu gunakan, di mana Priscilla sekarang?” Rigel mengabaikannya dan langsung ke poin utama.
Undine tidak tersinggung lantaran dia cukup mengenal bahwa pria di depannya bukan orang yang suka membuang waktu atas hal tak penting. Dia menuntun Rigel ke tempat Priscilla dalam keheningan, sampai sesuatu keluar dari mulut Rigel.
“Aku ingin meminta satu hal padamu, Undine.”
“Apa pun itu, Tuan.” Ketimbang memanggilnya Mantan Raja atau Pahlawan, menggunakan Tuan lebih baik untuk Undine.
“... Rawat Priscilla untukku.”
Undine menoleh dengan bingung, “Maaf, apa yang anda—”
Begitu dia berbalik Rigel mencengkram wajahnya, menarik sesuatu keluar dari dalam Undine berupa cahaya. Segera setelahnya sosok Undine yang anggun jatuh dengan lemah tanpa siapa pun menyadarinya.
__ADS_1
Rigel memapah tubuh Sylph dan membiarkannya berbaring di bawah pohon. Tanpa membuang waktu lebih lama Rigel segera pergi ke tempat Priscilla yang mungkin tak lagi jauh dari sini.