Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 76 — Hal-hal Yang Harus Diselesaikan II


__ADS_3

Butuh sekitar lima menit berjalan kaki sampai akhirnya Rigel menemukan Priscilla yang tengah bersenandung di tepi sungai. Dia tampak riang mengabaikan situasi di luar sedang kacau. Hal tersebut perlu disyukuri karena dia tak lagi berduka atas kematian Sylph.


“Sepertinya kamu baik-baik saja.”


Priscilla menoleh dan tersenyum lebar menemukan kehadiran Rigel, “Kamu juga tampak baik-baik saja, Rigel.”


“Tentu, aku belum melakukan apa pun yang berarti.”


Karena Priscilla melambaikan tangannya dan mempersilahkan Rigel duduk di tepinya, dia tak memiliki pilihan selain melakukannya. Bukannya duduk, dia tetap berdiri memandang pemandangan yang indah itu.


“Aku sudah menanam pohon yang kamu inginkan di sana. Semuanya berjalan lancar karena tak ada yang menyadari kegunaannya.” Priscilla berkata dengan senyuman tipis di bibirnya.


“Begitu, ya. Kerja bagus.”


“Aku tidak tahu apa yang ingin kamu lakukan dengannya, tetapi aku mohon jangan lakukan hal yang merenggut nyawamu.”


“Tentu saja aku bukan orang bodoh yang akan membunuh diri sendiri dengan kekuatanku.”


“Kamu sangat percaya diri, ya?” Priscilla menyeringai seolah mengejek.


“Tak ada yang bisa dipercaya melebihi diri sendiri.” Rigel memberikan tanggapannya. Mendengar hal tersebut membuat Priscilla tertawa dengan geli.


“Ada apa?” Rigel bertanya karena menilai tidak ada hal yang pantas untuk ditertawakan.


“Tidak ada. Aku hanya berpikir kalau pria yang memiliki satu mata dan lengan yang kukenal tidak pernah berubah. Selalu saja memiliki kepercayaan diri yang besar, juga kuat.”


Jika membahas hal tersebut hanya ada satu tempat di mana Rigel memiliki banyak kenangan dengan Priscilla. Tempat yang menjadi titik perubahan besar yang dialami Rigel hingga bisa menjadi dirinya yang sekarang ini.


“Setiap kali mengingat tempat itu, ada kerinduan yang tidak terlukiskan, ya ...” Rigel berkata dengan suara yang seolah kesepian.


Bahkan Priscilla merasakan hal yang sama. Meski ada bagian tertentu yang dia lupakan, setidaknya banyak hal masih berada di tempatnya. Membangun Serikat Penaklukan Region sendirian, menuntun orang keluar dari keputusasaan, bercita-cita menaklukkan Labyrinth, dan akhirnya bertemu dengan Rigel yang terjebak di sana tanpa ingatan.


Pria yang dengan luar biasa menunjukkan kekuatannya melawan Arc Lich dan menjadi petinggi Region dalam waktu yang terhitung cepat. Hari-hari berat yang penuh penderitaan namun juga tali persaudaraan takkan bisa dilupakan oleh mereka.


Bahkan saat ini baik Rigel dan Priscilla seolah mendengar ilusi canda tawa pasukannya yang tengah berpesta sampai pagi. Mereka rasanya sungguh merindukan momen-momen berharga di sana. Meski bukan tempat yang layak, namun dari tempat itu mereka memiliki keluarga.


Rigel tak menyangkal bahwa dirinya merasa paling hidup di sana. Ada berbagai jenis orang di sana namun kebersamaan yang terjalin sangat kuat meski tak memiliki hubungan darah, tali persaudaraan takkan tumpul.


“Aku harap mereka bisa hidup kembali seperti halnya kita berdua. Namun hal tersebut butuh keajaiban yang besar untuk merubahnya menjadi nyata.”


Angan-angan yang tidak akan pernah bisa terwujud, begitu Priscilla menilai. Cara yang bisa diharapkan untuk mereka reuni kembali adalah dengan mengharapkan mereka melakukan reinkarnasi. Meski tak ada ingatan akan hari itu, hubungan mereka takkan bisa diputuskan.


“Mungkin butuh seratus, bahkan seribu tahun untuk itu terjadi. Kala waktunya tiba kamu akan menemui mereka, juga diriku yang lahir dengan wajah dan nama baru.”


Bertahun-tahun ke depan Amatsumi Rigel tidak akan lagi ada dan hanya tersisa kenangan dan hal-hal yang dia tinggalkan. Meskipun dia orang yang kuat sebagai manusia, umur adalah sesuatu yang mustahil dilawan. Priscilla merasakan kesedihan yang samar di hatinya. Dia takut hari di mana tidak ada Rigel. Sekalipun dia bahagia dengan gadis lain, hanya dengan dia tetap hidup sudah menyelamatkan hatinya.


Tak terbayangkan bagaimana rasanya ketika musim perpisahan tiba nantinya.


“Memikirkannya, tak kusangka itu jauh lebih menyakitkan bagiku.”


Membayangkan mereka kembali berkumpul tanpa kenangan pernah mengenal satu sama lain, adalah kesepian dengan level yang benar-benar berbeda bagi Priscilla yang mengingat segalanya. Dengan statusnya sebagai Ratu Peri saat ini, umur takkan menghampirinya.


“Ya, penderitaanmu takkan ada akhirnya, tak peduli seberapa banyak waktu berlalu, penderitaan seseorang akan berakhir begitu mati. Namun dirimu yang terlepas dari umur akan terus melihat orang yang kamu kenal menua dan tumbang.”


Manusia takut akan kematian, namun sebagian dari mereka juga takut hidup abadi. Dengan arti hidup abadi mereka akan melihat kerabatnya menua lalu mati sepanjang hidup keabadiannya. Mengerikan? Tentu, karena itu Rigel menganggap kematianlah yang menjadikan manusia sempurna.


“Apakah ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku? Aku yakin kedatangan dirimu tidak hanya membahas masa lalu.” Priscilla mengganti haluan pembicaraan karena semakin jauh pembahasan tentang masa itu, dadanya semakin sakit.


“Ya, ada hal yang harus kulakukan di sini, denganmu.”


Perkataannya tak dimengerti sampai akhir, Priscilla menoleh dan mencari penjelasannya, “Apa yang ingin kamu lakukan denganku?”


Priscilla berpikir bahwa tidak mungkin Rigel akan melakukan sesuatu yang diinginkan Priscilla, meski dia sedikit berharap akan hal itu. Namun tampaknya memang bahwa sesuatu tersebut berbeda dari yang diharapkan.

__ADS_1


“Pembicaraan tentang masa lalu ini bukan tanpa alasan. Cepat atau lambat perpisahan diantara kita pasti akan tiba.” Rigel menatap Priscilla, alisnya berkerut sedih.


Priscilla berkeringat, dia tak ingin salah menanggapi namun dari suasana sekitar Rigel, apa yang dia takutkan mungkin adalah yang akan terjadi.


“E-eh ... A-apa maksudmu, kamu bilang, tidak mungkin dirimu mengorbankan nyawa ...” Priscilla terguncang dan menatap Rigel, berusaha bangkit namun dihentikan.


“Aku melihat masa depan.”


“Hah?” Priscilla tersedak napasnya sendiri atas perkataan Rigel.


“Aku melihat puncak dari peperangan ini, waktu di mana semua jawaban datang kepadaku. Alasan dari keberadaanku di dunia ini, dan makna Hari Yang Dijanjikan akan tiba. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, namun aku tahu apa yang harus aku siapkan.” Rigel mengulurkan tangannya ke wajah Priscilla, seperti halnya yang dia lakukan kepada Undine.


Priscilla hanya terdiam selagi melihat tindakan Rigel yang tidak dimengerti. Menatap telapak tangan yang terbuka lebar di depannya, perlahan cahaya yang hangat muncul darinya.


“Ini adalah perpisahan Priscilla, selamat tinggal.”


Cahaya terang bersinar dari telapak tangannya, menyelimuti mereka dan keseluruhan hutan peri dalam balutan kehangatan yang berlangsung beberapa detik sebelum menghilang.


Rigel memeluk Priscilla yang tidak sadarkan diri. Tidak hanya Priscilla, tetapi seluruh penghuni hutan peri tidak lagi sadarkan diri berkat cahaya yang digunakan Rigel.


“Ini perpisahan satu sisi, Priscilla.” Rigel yang telah menarik Rune di tangannya berkata dengan sedikit kesepian.


Melakukan perpisahan semacam ini adalah yang paling dia benci melebihi apa pun. Karena dengan melakukan perpisahan ada perasaan menyakitkan tidak enak tertinggi di dada, entah apakah dia masih memiliki hal itu atau tidak, Rigel tetap tidak menyukainya.


Segera membaringkan Priscilla, menyeka pipi dan rambutnya, dia meninggalkan hutan peri yang sepi karena semuanya tidak sadar diri selama beberapa menit.


‘Tersisa satu hal lagi yang harus kulakukan.’ Memikirkannya, Rigel bergegas ke tempat terakhir yang harus dia kunjungi sebelum pergi ke medan perang.


Rigel menjumpai seseorang diawal terlebih dahulu untuk membuat beberapa pengaturan, dan ketika waktunya tiba dia sampai pada gadis yang dikasihi.


“Sedang apa kamu di sini, takkan ada bintang tak peduli seberapa lama kamu mengamati.”


Gadis yang meminum teh di tengah taman dan mengamati langit merah seolah senja selamanya. Aroma teh lemon menggelitik hidungnya, rambut keemasannya selalu tampak cantik dengan mata biru yang begitu indah melebihi permata.


Terlihat damai namun sesungguhnya dia begitu gelisah di dalam hati. Gadis itu— Tirith sangat senang bahwa keadaan buruk tidak menimpa Rigel seperti halnya yang terjadi kepada Hazama dan Nadia.


“Mau teh? Tidak ya, mengingat kamu cukup sibuk.” Dia menarik tawarannya sendiri mengingat Rigel memiliki pertarungan menantinya, “Seandainya bisa aku ingin bertempur, tetapi baik kamu dan Ayah tak mengizinkanku.” Dia tampak kecewa dan hanya tersenyum masam.


Rigel berjalan mendekat dan duduk di sisinya selagi mengatakan, “Kamu adalah sosok yang penting bagi kerajaan ini. Altucray sudah pasti akan ikut berperang, jika dia gugur maka hanya kamu yang pantas menggantikan posisinya sebagai Pemimpin Boneka.”


Secara teknis kerajaan ini sudah menjadi milik Rigel namun tak pernah diumumkan. Dia hanya menarik benang di belakang layar dan memanipulasi banyak hal di kerajaan ini. Jika Altucray gugur, maka tidak ada orang lain selain putrinya sendiri yang cocok memainkan peran boneka selanjutnya. Dan seandainya dia menikahi Rigel, tidak akan ada keraguan bahwa boneka tidak lagi dibutuhkan.


Meski hal tersebut tidak diperlukan lagi karena apa yang ada diakhir adalah tidak tersedianya peran boneka.


“Bukankah terlalu kejam menyamakannya dengan boneka? Meski aku toleran, tetap saja ada hal-hal yang akan membuatku marah jika kamu berlebihan melakukannya.” Tirith menggembung pipinya dan membuang muka dengan “Hmpfh!”


Melihat itu Rigel sedikit tersenyum dan mencubit pipinya dengan sedikit tenaga, “Kemarahanmu hanya lelucon bagiku.”


“Itwu swakit Rigel!” Dia tak berbicara dengan benar karena pipinya di tarik.


Rigel segera melepaskannya dan menatap langit yang sama, “Ini badai yang paling besar dalam hidupku.”


Badai yang dimaksud adalah pengalaman hidup yang tengah terjadi. Pergi ke Labyrinth Neraka, dan menghadapi Malapetaka memang badai yang besar, tetapi Ragnarok adalah badai yang berkali-kali lipat lebih besar dari yang lainnya.


Tak pernah terpikirkan bahwa skala yang terjadi akan seperti ini sampai tiba waktu di mana Rigel ingin mengakhiri semuanya dalam satu kesempatan. Dia mungkin mampu melakukannya, ada banyak hal yang dia pelajari dari kekuatannya selama menunggu Ragnarok.


“Ya, memang badai yang sangat besar. Namun kamu harus tahu, bahwa badai pasti kan berlalu.” Tirith ikut menatap langit yang sama, dia memiliki perasaan bahwa ini bisa jadi kali terakhir mereka mampu melakukan percakapan.


“Pasti berlalu, ya? Kata-kata yang bagus namun akan ada yang hilang terbawa oleh badai besar selama prosesnya.”


Dibutuhkan pengorbanan tidak sedikit untuk menghadapi badai besar ini, umat manusia dengan segenap tenaga berusaha menghentikan badai. Peperangan yang menelan banyak jiwa ini, kapan tepatnya akan berakhir?


Tak ada yang tahu, bahkan Rigel yang sudah melihat melalui masa depan tak tahu pasti kapan peperangan ini akan selesai.

__ADS_1


‘Badai pasti akan berlalu ... ya, itu pasti.’


“Ada apa Rigel? Tidak biasanya kamu terlihat bersedih.” Meletakkan cangkirnya, Tirith membelai lembut pipi Rigel, yang wajahnya berkerut seolah tengah bersedih.


Rigel hanya diam dan menyentuh tangannya, merasakan kehangatan yang dirindukan ... untuk terakhir kalinya.


“Aku hanya memikirkan sesuatu, tentang bagaimana kamu akan menjalani hidup setelah badai berlalu.”


Tirith tampak tidak mengerti, ada bagian yang tidak ingin dia mengerti dari kata-kata Rigel, “Bukan aku, tetapi kita akan bersama! Kamu ... Tidak akan ke manapun, kan? Kamu berjanji tidak akan mati apapun caranya!”


“Aku selalu menepati janjiku, dan aku tidak akan mati.”


Janji tersebut memang sudah usang namun Rigel berpegang teguh hidupnya kepada janji tersebut, apapun yang terjadi dia akan tetap hidup.


Rigel mulai berdiri, Tirith juga demikian dan tangan mereka saling berpegangan seolah hendak menari.


“Lalu mengapa, kamu mengatakan hal-hal seperti itu?” Matanya berkilau, Tirith tampak ingin menangis karena suatu hal.


“Tidak akan ada yang tahu apa yang akan terjadi mulai dari titik ini. Dunia— alam semesta mungkin sedang bergejolak ria karena sesuatu yang mereka nantikan. Berbagai macam situasi bisa saja terjadi, rentetan kekacauan mulai saling bergandengan tangan menuju akhir yang dirindukan.”


Dunia bersatu menuju badai kehancuran yang sedang terjadi, takdir tak melawan arus sungai yang menghantam dan mungkin saja, dunia ini mencapai akhir dari kisahnya. Setiap kisah tentu akan memiliki akhirannya sendiri.


Tentu saja tidak siapapun benar-benar memahami arti ucapannya. Tirith bingung bukan main, dia mulai menangis. Bukan karena tak memahami kata, namun sikap Rigel seolah mengatakan perpisahan.


“Apa yang coba kamu sampaikan, Rigel? Ini tidak seperti dirimu yang biasanya.”


“Aku tetaplah aku, tidak akan menjadi orang lain. Namun aku yang kamu kenal akan menghilang. Tidak hanya secara fisik, tetapi keberadaan dari manusia bernama ‘Amatsumi Rigel’ juga akan lenyap.” Rigel tersenyum meski matanya berkerut sedih.


‘Entah bagaimana wajah ini, namun air mata mungkin sudah mengering? Atau tak pernah lagi ada?’ Rigel sedikit lega karena dia tak menangis yang mana hanya akan memperumit keadaan.


Tirith melepaskan tangan Rigel, menutup mulut selagi menangis lebih deras, mengambil tiga langkah mundur seolah tak percaya.


“Apa-apaan itu, tidak bisa dipercaya. Kamu tidak akan mati, kamu tidak boleh mati. Bagaimana dengan janjimu untuk hidup? Apa kamu akan melanggarnya? Dasar penipu! Jangan pernah mengucapkan perpisahan padaku lagi, Rigel! Apa kamu tak tahu, seberapa menderitanya aku menunggumu, berpikir dirimu telah mati di Jurang Tanpa Dasar ... Aku tidak ingin hal yang sama terjadi lagi.” Dia menangis selayaknya anak kecil yang akan kehilangan hewan peliharaannya.


Rigel pernah jatuh ke jurang, hal itu terjadi saat dia dikhianati oleh Takatsumi dan Altucray. Di waktu itu juga Rigel bertemu seseorang dan dikirim ke Labyrinth Neraka untuk mencari kekuatan. Waktu yang dihabiskan Rigel sungguh lama, namun bagi Tirith dua tahun berlalu.


Dua tahun dia lalui dengan air mata, berharap bahwa Rigel akan kembali dan memeluknya. Mimpi tersebut nyaris dilupakan oleh Tirith namun benar saja, pada suatu waktu Rigel kembali.


‘Seratus tahun yang aku jalani tidak pernah sebanding dengan dua tahun air mata yang terbuang.’ Rigel paham akan hal tersebut, dirinya sungguh tidak adil.


“Katakanlah, Rigel ... Kamu tidak akan ke manapun. Kamu akan tetap hidup. Kamu akan tetap bersamaku di hari-hari damai di mana kita hidup bersama? Katakanlah demikian!” Tirith berteriak, teriakannya cukup keras untuk menggema di taman kerajaan.


Namun antisipasi sudah dilakukan, daerah sekitar taman dikosongkan karena pengaturan yang Rigel buat. Di tempat ini sekarang hanya ada mereka berdua, dan satu orang yang mengamati.


Tirith terus menatap Rigel dan mengharapkan jawaban yang dia inginkan. Akan tetapi, yang terucap dari mulut Rigel terbalik dari apa yang dia harapkan:


“Aku akan pergi ke suatu tempat yang mana kamu, Takumi, bahkan semua orang tidak akan pernah bisa mencapainya.” Rigel mengambil satu langkah mendekat.


“Aku tidak pernah mengingkari janjiku. Seperti yang kujanjikan padamu kala itu, bahwa aku tidak akan mati.” Rigel terus melangkah mendekati Tirith sampai jarak diantara mereka habis.


Membelai lembut pipinya, kedua wajah mendekat dan sebelum saling menyapa Rigel menyampaikan:


“Aku tak pernah berjanji, ataupun berkata kita akan hidup bersama. Dan karena tak ada lisanku mengatakannya, ini adalah perpisahan dariku ... Selamat tinggal.”


“TIDA—”


Tanpa sempat berteriak, Rigel membuka mulutnya namun tidak bersentuhan dengan Tirith. Cahaya kebiruan keluar dari mulut dan kedua mata Tirith, cahaya yang segera Rigel hisap melalui mulut. Mata mereka bersinar kebiruan, angin kencang menerpa taman sekitar dan menyebabkannya hancur.


Tirith segera pingsan dalam pelukan Rigel ketika cahaya yang Rigel serap menghilang. Untuk terakhir kalinya Rigel kali ini benar-benar mencium bibir Tirith, lalu mendekapnya dan membisikkan, “Aku akan mencintaimu sampai akhir.”


Setelah berpuas diri mengucapkan perpisahan, tatapannya beralih kepada orang yang mendekatinya, “Sisanya aku serahkan padamu.”


Seorang pria tua yang menatapnya dengan sedih dan prihatin, Raja Boneka, Altucray.

__ADS_1


__ADS_2