
“Phoenix Tear.”
Tanah es kini dihiasi oleh api kebiruan yang menyala-nyala meski tidak ada pemicu fisik yang membuatnya untuk tetap terbakar.
Regulus dengan tergesa-gesa melompat keluar dari dalam tanah, selama ini dia selalu berada di sana dan begitu api kebiruan melanda sesuatu yang aneh terjadi.
“Jadi begitu, api tersebut tidak panas namun tidak dingin juga. Api tersebut membakar mana di sekitarnya untuk tetap menyala, sungguh merepotkan sehingga memaksa diriku keluar.” Regulus jelas tidak senang oleh keadaan sekarang ini, dengan api yang membakar mana tersebut dia tidak bisa masuk ke dalam tanah.
Ray tersenyum senang, “Dan tahukah kamu? Dengan keberadaan api ini tidak ada satupun dari kita bisa sepuasnya menggunakan mana. Api ini juga bisa membakar mana-ku. Dan karena itu pertarungan ini menjadi adu ketahanan!” Senyuman Ray berubah yang awalnya lembut menjadi senyuman gila siap mengorbankan nyawanya.
Untuk pertama kalinya Regulus menggunakan kuda-kuda miliknya, kedua tangan diselimuti aura dingin dan es ungu gelap, napasnya menghembuskan asap putih dan tatapannya menjadi dingin namun bibirnya tersenyum.
“Khahaha, ini situasi yang bagus. Tidak buruk, Pahlawan. Sekarang aku akan mengajarkanmu bahwa tidak ada yang lebih dingin selain angin kematian.”
“Mahkluk sepertimu yang belum memahami betapa hangatnya kasih sayang, kemarilah. Akan kuajarkan semuanya.”
Mereka saling bertukar kalimat, sedetik kemudian serangan mereka saling bertemu di tengah-tengah api biru yang berkobar. Senyuman yang sama terukir di bibir yang berbeda, dalam waktu menegangkan tersebut mereka menyuguhkan penghormatan satu sama lainnya.
“Pilar Iblis pengguna Es Abadi, Regulus.”
“Salah satu taring umat manusia, Pahlawan Pisau, Ray.”
Mereka kembali mundur untuk mengambil langkah lalu maju dan bertukar serangan. Dalam waktu singkat ratusan kali benturan mereka lakukan pada pertarungan yang menggunakan ketahanan diro sebagai acuan.
“Heavenly Dagger!” Belati Pahlawan menyala akan warna biru yang dikelilingi partikel cahaya, “Ocean Dagger.”
Di satu lainnya belati yang terbuat dari taring Hydra mulai mengeluarkan cairan biru yang berputar di ujung bilahnya, Ray menyatukan ujung keduanya dan menciptakan sinar terang.
__ADS_1
“Kalau begitu ... Eternal Ice!” Es ungu segera muncul di sekeliling Regulus.
Tangannya yang dingin mulai mengalirkan kekuatan yang membuat cahaya ungu merembes keluar dari tangannya, sontak hal tersebut membuatnya tersenyum lantaran entah kapan terakhir kali dia menggunakannya.
“Matilah Pahlawan!” Regulus mengambil langkah cepat, setiap tanah yang dia injak menciptakan bekas tapak kaki es keunguan.
Di waktu yang sama Ray menerjang maju seperti anak panah yang di tembakkan, dengan dua belati yang ujungnya menyatu dia berbenturan dengan tangan Regulus yang berusaha meraih lehernya.
CTANG!
Benturan besar diantara keduanya menyebabkan angin bergemuruh dan tanah penuh kehancuran, bahkan api biru yang seakan takkan padam bergoyang berkat benturan diantara keduanya
Benturan tersebut sangat hebat hingga menggetarkan medan perang, di tengah pertarungan hebat tersebut getaran lainnya menyusul namun tidak satupun dari keduanya peduli.
“Khahaha ... Ini jadi semakin menarik, Ray! Sebagai hadiah untukmu, matilah di sini!” Regulus menepis belati Ray dan membuat keduanya tertancap di tubuhnya, dia dengan gila tersenyum, kedua tangan dingin tersebut terus maju menuju leher Ray.
Di waktu yang bersamaan dengan Ray menusuk jantungnya, kedua tangan Regulus mencapai lehernya. Napasnya segera tersendat namun dia cukup puas karena berhasil menusuk jantungnya, i sisi lain orang yang jantungnya di tusuk tidak terlihat putus asa.
Dia masih tersenyum dan terlihat senang, di waktu yang menentukan itu es keunguan perlahan tumbuh dari kedua tangan yang mencengkram leher.
“Urgh! Lepaskan—” Ray merasakan firasat buruk dan mencoba untuk lepas akan tetapi Regulus tidak membuatnya jadi mudah.
“Sekalipun aku harus mati ... Kamu akan ikut bersamaku.” Regulus menjadi semakin gila dan semakin liar dari sebelumnya, senyuman di bibirnya semakin gila, “Eternal Ice — Unlimited Prison!”
Dalam sekejap mata gunung es keunguan muncul di medan peperangan, perhatian banyak mahkluk di medan perang terfokus kepada munculnya gunung es tersebut secara ajaib.
Gunung es ungu yang cantik dan tidak terlihat meleleh oleh suhu, hawa dinginnya setara angin kematian, siapapun yang melihatnya akan terpana terutama pemandangan yang ada di tengah gunung es tersebut.
__ADS_1
Pria yang dicekik oleh seorang Pilar Iblis yang tersenyum gila dengan tangan es ungu yang seperti kristal langka, juga pemandangan Pahlawan yang menggunakan dua belati dengan cahaya yang ikut dibekukan sedang menusuk jantung serta dada Pilar Iblis.
“Itu ...” Di tempat lain Priscilla yang menghadapi Rafael terpana akan kemunculan gunung es tersebut.
Tidak hanya dirinya tetapi lawannya, Rafael juga penasaran dengannya. Dia tahu bahwa Regulus memiliki kekuatan es yang patut dihindari namun tidak terbayangkan sesuatu seperti itu dia miliki.
“Es pertama alam semesta yang memberikan dingin tanpa batas, tanpa pernah mencair. Bahkan Phoenix yang memiliki api suci tidak akan mampu memadamkannya, siapapun yang berada di dalamnya sudah berakhir.” Rafael bergumam selagi menatap dengan belas kasihnya.
Priscilla terlihat berkeringat dingin, yang sedang menghadapi Regulus adalah Ray. Dia tidak berpikir Ray berhasil menghindar karena Kekuatan kehidupannya tepat di tengah gunung es ungu tersebut.
“Apa dia ... bunuh diri?” Priscilla yakin tindakan Regulus adalah bunuh diri.
Sekalipun Kekuatan tersebut miliknya namun siapapun yang terjebak di tengahnya tidak akan bisa keluar tanpa terkecuali, dengan artian mereka mati.
“Namun Kekuatan mereka berdua tidak padam, apa artinya ini?” Sangat meragukan disebut mati ketika mereka masih memiliki energi kehidupan.
“Istilah mati memang berlebihan, pada kenyataannya mereka hanya tidur abadi dan tanpa pernah bisa keluar dari sana. Aku sendiri tidak tahu apa yang akan dialami oleh mahkluk hidup jika terjebak di dalamnya.”
Tidak pernah ada yang tahu apa yang akan dirasakan oleh orang yang terjebak, karena mereka yang terjebak tidak pernah selamat untuk bercerita.
Segera dua getaran lain mengikuti, Rafael tampak terguncang dengan getaran tersebut. Dia yakin bahwa Kemuel baru saja menggunakan gerbang surga untuk menahan serangan.
‘Sampai membuat Kemuel menggunakannya, lawannya tentu cukup tangguh.’
Sementara rasa takut lainnya datang dari arah lain. Baik Rafael atau Priscilla tidak senang dengan getaran kedua karena aura kematian kuat yang mengikutinya.
Rafael sedikit banyak pernah merasakan yang serupa, “Ini seperti Kekuatan Samael. Namun ada perbedaan yang sangat nyata.”
__ADS_1
“Apa ini ulah Diablo? Namun dia seharusnya mendekati keputusasaan ketimbang kematian, maka artinya ...” Priscilla merasa tak percaya bahwa pria itu memiliki kemampuan seperti ini, padahal dia pikir hanya Rigel yang memiliki kemampuan atas kematian.