
“Apa yang dia katakan adalah seorang pria datang membawa perubahan besar. Pria yang menanggung segala dosa, apa yang dia kasihi dan sayangi akan melebur menjadi satu. Menyisakan seorang pria menangis dalam kehampaan.”
Priscilla menjelaskan kejadian awal pertemuan pertamanya dengan Azartooth ketika datang ke Labyrinth Neraka.
Perkataannya tak terlupakan, membekas begitu dalam di otaknya seakan sudah perintah untuk tak melupakan. Awalnya dia menganggap perkataan itu omong kosong. Namun kian dia mendalami perlahan memahami. Dan tatkala dia memahami serta mengenal orang yang dimaksudkan, dia menangis.
“Jadi dia datang menemuimu, memerintah membangun Serikat Penaklukan Region.” Rigel merasa semua sudah direncanakan dengan matang untuk alasan tertentu.
Dia tak memperhatikan wajah sedih Priscilla. Dia sibuk dengan pemikirannya yang bertumpuk, pertanyaan berserakan tanpa jawaban, teka-teki dengan potongan tak lengkap, sejarah yang hilang ditelan waktu.
“Kumohon larilah Rigel.” Perlahan mengambil langkah, tangan memeluk dengan wajah terbenam di dada Rigel, “Ke manapun, larilah sejauh mungkin. Itu terlalu menyedihkan untuk ditanggung olehmu. Beban itu tak harus kamu yang menerima. Tak akan ada yang menyalahkanmu untuk lari dari kenyataan.”
Ketika kamu tak sanggup menghadapi nasib sial, kehilangan orang yang disayang. Manusia dengan alami mengalihkannya dan melarikan diri dari kenyataan, mereka menolak takdir dan menjalani.
Ketika sakit hati manusia memabukkan dirinya dengan alkohol. Ketika marah manusia menghancurkan sesuatu untuk memuaskan diri. Ketika kehilangan orang yang dia cintai manusia mencari penggantinya. Dan tatkala mereka terus melarikan diri, kenyataan yang mengekor takkan putus.
Dia tak tahu sejauh mana Priscilla tahu. Namun dia tahu bila Priscilla tahu bagaimana akhir di ‘hari itu’, sebuah akhir dari manusia bernama Amatsumi Rigel.
“Sekarang masih sempat, ada waktu untukmu pergi. Tinggalkan tempat ini, mari lari sejauh mungkin bersamaku!” Air mata besar membasahi pipi, segera meresap ke pakaian Rigel.
“Apa yang akan kuraih jika melarikan diri?”
“Kebahagiaan, kamu takkan kehilangan segalanya. Kesedihan seperti itu takkan terjadi, hidupmu akan lebih berwarna.”
“Apa yang akan terjadi bila aku menelantarkan dunia?”
“Kehancuran mungkin terjadi dan takkan terhindari. Meski begitu kuyakin kita akan baik-baik saja, sampai akhir akan kutemani kamu hingga hari tua nanti!”
“Apa yang akan terjadi kepada manusia bila aku meninggalkan mereka demi kebahagiaanku?”
“Memenangkan perang tanpamu pasti akan sulit, dengan kacaunya mana alam tanpa kehadiran Ratu peri juga akan bencana. Meski begitu tidak akan ada yang membencimu bila mencari kebahagiaan, manusia hidup untuk menemui arti dari kehidupan. Pergilah bersamaku Rigel.”
__ADS_1
“Di dunia yang hancur kamu yakin ingin hidup bersama?”
“Tentu, kita pasti bisa melaluinya. Dunia ini bermula dari kekosongan. Kemudian terisi oleh kehidupan dan akan kembali kepada kekosongan. Di dunia yang hancur, kebahagiaan bisa dibentuk, kita bisa membangun semua dari nol sekalipun manusia hancur.”
Tak ada lagi pertanyaan, semua jawaban yang terjawab cepat membungkamnya. Bukan tak ada lagi kata tapi tak ada lagi hal yang bisa menyangkal betapa besar keegoisannya. Tatkala seekor singa membusungkan dada menyatakan yang terkuat di alam rimba, singa tersebut tak menyadari ketinggian langit.
“pilihlah Rigel ... Lari menelantarkan dunia bersamaku, atau berjuang dan ditelantarkan dunia?”
Dia jelas tahu apa yang akan terjadi kepada Rigel, keegoisannya jelas memiliki maksud untuk kebaikan Rigel. Akhir yang dia tuju bukanlah sesuatu yang indah, bukan pula sesuatu diselimuti kegelapan. Dan tatkala bukan cahaya atau kegelapan, kekosongan akan diraih.
“Tawaranmu ... sungguh bagus. Aku tak perlu lagi berjuang untuk dunia yang bukan milikku atau tempat asalku. Dunia ini asing beserta orang-orangnya. Penduduk dunia lain sepertiku tidak memiliki hak untuk memperjuangkannya namun—”
Dia tak berkewajiban untuk melindungi dunia beserta seisinya, takkan ada yang memiliki hak menyalahkan penduduk yang menculik manusia dari dunia lain untuk berperang melawan takdir. Meski begitu ...
“—ada orang yang ingin aku lindungi.”
Mendengar kata penuh arti dengan senyuman lembut yang tampak kosong, air mata besar membanjiri pipi.
“Semua orang akan mati. Bahkan Sylph yang tak terikat umur mati. Namun setidaknya aku bisa memberikan kematian mereka di dunia yang indah.”
Kehidupan dan kematian adalah siklus, sementara masa depan adalah sesuatu yang berubah-ubah setiap waktunya. Jika dunia hancur maka masa depan tak tertolong namun bila terselamatkan maka masa depan kan penuh kehangatan.
Rigel bukan orang dengan rasa kekeluargaan yang tinggi. Dia bukan orang yang penuh akan kasih sayang namun setidaknya dia tahu apa yang harus dia lindungi, apa yang harus dia tekuni dan jalani.
“Itu, apa kamu tak tahu jalan yang kamu ambil akan menuju akhir seperti itu?! Tak penting bagaimana kamu menelaahnya, perkataan Dewa itu menunjukkan akhir yang tidak sesuai dengan tujuan mulia yang kamu miliki!” Priscilla yang menangis mulai mencengkram kerah Rigel.
Sontak hal tersebut membuat Rigel menatapnya dengan tajam, “Aku tahu. Aku tahu masa depan yang kulihat.”
Sontak perkataannya membungkam Priscilla. Bukan tentangnya yang tahu hal tersebut, tetapi bagaimana dia masih mau menjalani meski tahu bagaimana akhirnya.
“Mata yang diberikan Takumi memberikan pengelihatan masa depan. Ada dua yang kulihat. Pertama kematian Sylph. Kedua, akhir dari perjalanan dan juga awal.” Rigel mengidahkan tangan Priscilla dari kerahnya dan menyuguhkan perkataan, “Tak peduli apa yang dikatakan Dewa kepadamu, takdir itu labil. Tergantung bagaimana aku bertindak dia akan berubah. Seperti halnya Creator yang adalah Pahlawan terlemah kini menjadi yang terkuat.”
__ADS_1
Dia takkan ragu menyebut dirinya terkuat diantara 12 Pahlawan. Kendatipun Ozaru mungkin jauh lebih kuat, dia telah jatuh ke tangan Rigel dan mustahil ditentang olehnya.
Mempercayai omongan tanpa bukti adalah palsu, mempercayai pengelihatan yang tak begitu pasti hanyalah omong kosong. Rigel takkan gentar dengan apa yang dia lihat yang belum tentu akan terjadi.
“Aku sangat berterima kasih karena dirimu mempedulikanku. Namun perasaan tersebut tidak diperlukan.”
Rigel diam-diam mengakses sesuatu yang tak pernah dia gunakan di setiap kesempatan sampai lupa bahwa itu masih ada. Hal yang jarang dia gunakan, Index yang membusuk difungsikan. Dia menyelam ke lautan skill yang tak terpakai, hingga akhirnya menemukan hal yang dia perlukan.
Dengan saling menatap mata satu sama lain, Skill Hipnotis digunakannya, “Apa kamu melihat ada ketakutan dalam tatapanku? Tentu tidak, kan. Aku tak takut menentang takdirku, tidak sedikitpun. Karena itu—”
Skillnya sangat sederhana hingga bahkan Priscilla terperdaya dengan mudah. Rigel segera mendekati wajahnya dengan Priscilla, mulut mereka terbuka seakan hendak berciuman. Namun pada suatu kesempatan Rigel mengaktifkan Void.
‘Maaf saja Priscilla, ingatan itu tak kamu perlukan, maka lupakanlah.’
Mata dan mulut Rigel mengeluarkan cahaya samar kebiruan, segera Priscilla memiliki cahaya yang sama. Bibir mereka tak saling bersentuhan namun cahaya emas campur biru ditarik keluar dari mulut Priscilla.
Potongan ingatan tentang apa yang dikhawatirkan Priscilla lenyap, ada bagian yang tak bisa diambil namun cukup mudah menyegelnya.
Priscilla segera terbaring lemah dan tertidur. Rigel menangkapnya dan mendekapnya di dada, dengan wajah datar.
“Akhir itu takkan datang kepadaku. Apa yang kamu sebut menyedihkan tidak akan terjadi, Priscilla. Tidak akan ada hal menyedihkan jika tidak ada yang menangisinya, kan?” Rigel menatap sesuatu yang jauh dengan senyuman tipis di bibirnya.
Akhir sedih tidak akan ada jika tak ada air mata, masa depan seperti itulah yang akan dia raih sesuai janji yang dia buat.
...*******...
**Note Author:
Pada bagian ini akan ada sebuah rute yang menceritakan bagian bila ‘Seandainya’ Rigel menelantarkan dunia dengan lari bersama Priscilla ke ujung dunia. Tidak dipastikan kapan saya mempublikasikannya namun pasti akan dilakukan karena saya begitu tertarik melakukannya.
Dan maaf karena terus menerus menghilang hingga bahkan menurunkan mood untuk membaca. Saya tidak janji namun mulai dari pertengahan atau mungkin akhir januari akan ada episode setiap harinya. Untuk sekarang ini saya hanya akan mengungkap misteri yang belum dipecahkan, terutama asal-usul batu ramalan.
__ADS_1
Apakah itu diciptakan Dewa seperti dalam legenda? Atau mungkin seorang bajingan membuatnya dan membuat semua legenda di masa lalu menyimpang pada jalurnya**?