
Di tengah kekacauan medan perang, pasukan malaikat datang bagai ombak. Mereka yang berada di sekitar Gunung Es menatap tempat tersebut dengan perasaan yang tak dimengerti, bukan rasa takut, melainkan perasaan yang mendekati sebuah kekaguman, sulit dimengerti bagi siapa pun.
“Apa-apaan itu ... Pasukannya terlampau banyak.”
“Ya. Itu bahkan tampak lebih banyak dari pasukan Sparta. Jika mereka masih memiliki lebih banyak, tampaknya ada dua kali dari jumlah manusia.”
“Apa kita akan bertahan di peperangan ini? Bahkan meski aku rela mati, apa kemenangan bisa diraih?”
“Itu ... tampak mustahil. Belum lagi dengan adanya iblis, kemenangan semakin jauh.”
Harapan seolah-olah padam, saat memahami kondisi medan perang terkini mereka tahu bahwa tidak ada kesempatan besar bagi manusia untuk menang. Memang kenyataannya keberadaan Pahlawan Creator dan senjata yang dia bawa mampu memutar balikan keadaan peperangan.
Kekuatan tempur manusia meningkat pesat berkatnya, tetapi sampai kapan hal tersebut akan berlanjut? Ada batas di mana kekuatan Pahlawan Creator bisa membantu. Sisanya adalah tergantung bagaimana masing-masing dalam menjalaninya.
“Jangan pupus harapan!”
Teriakkan penuh tekad dari suara yang terdengar tua. Berbalik mereka menemukan orang yang setiap helai rambutnya memutih berbicara. Dia adalah Alexei yang mengumpulkan kekuatannya untuk mencoba menyelamatkan Pahlawan Ray.
“Harapan masih ada. Seputus apa pun situasinya, tidakkah kalian sadar bahwa para Pahlawan masih meletakkan harapan dan doa kita di pundak mereka?”
Semua terdiam mendengar ucapannya. Para Pahlawan tidak melarikan diri sekalipun, mereka pastinya tahu bahwa berperang di sini akan membuat mereka menderita dan kehilangan nyawa, berita tentang lumpuhnya Pahlawan Petra telah menyebar.
Hal tersebut mendorong kemarahan orang-orang dan semangat juang untuk tidak membiarkannya sia-sia. Tentunya semua orang yang ada di sini bukannya menyerah, mereka hanya kehilangan harapan untuk memenangkan.
Dari pada mati di bawah kekuasaan ras lain, lebih baik mereka mati di medan perang dan telah berusaha membuat perdamaian bagi mereka.
Para Pahlawan tidak menyerah, walau kemenangan kecil kesempatannya nyatanya mereka masih berdiri tegak di garis depan. Lalu apa yang mereka khawatirkan? Apa tekad mereka terguncang hanya karena melihat jumlah pasukan yang gila tersebut? Tidak, bukan itu.
“Dunia ini memang sudah gila, tak ada hal lain yang bisa memperburuknya. Di waktu titik balik yang akan menentukan masa depan, harapan tak boleh musnah. Sampai akhir, jangan pernah berhenti berharap. Harapan manusia itu tidak ada habisnya!”
Semua tentara segera menyingkir pemikiran mereka. Mengacungkan senjata, menggertak gigi juga tersenyum, hati membara dan kegelapan rasa takut akan kematian terhapuskan.
“Manusia pasti akan mati, karena dunia ini selalu menuntut sebuah perpisahan. Rekan-rekanku sekalian, tunjukkan tekad kalian, buktikan bahwa masih ada harapan!”
Mengatakan itu Alexei segera memfokuskan diri kepada Ray yang membeku di tengah gunung Es Abadi. Dia takkan pernah berhenti berharap, dia juga tidak boleh membiarkan semua orang kehilangan harapan.
‘Kekuatan ini bergantung pada banyaknya harapan. Semakin kuat yang mereka miliki, besar kemungkinan aku menarik Pahlawan Ray keluar dari dunia batin. Dia tidak tahu apa yang terjadi di sana, yang pastinya Pahlawan Ray pasti sedang bertarung melawan Regulus.
‘Ini bukan pertarungan miliknya seorang, aku juga akan bertarung!’ Alexei meyakinkan diri dan ingin membuktikan bahwa generasi tua tak patut diremehkan.
***
Di tempat yang tak terjangkau orang lain, dunia yang sepenuhnya abu-abu. Tanpa suara, tanpa warna, tanpa kehidupan. Hanya ada gambaran dari sebuah tempat yang penuh dengan es. Tanpa udara dingin, tanpa pernah menggigil.
Tempat beku yang tidak memiliki dampak apa pun, menatap sana-sini namun tidak menemukan keberadaan siapa pun. Tanpa kehidupan, tanpa kehadiran.
__ADS_1
“Di mana ini?” Ray berkata dengan datar, tatapannya mengembara untuk mencari apa pun yang bisa menjadi petunjuk.
Kekecewaan tidak lama datang karena hanya ada es sejauh mata memandang. Dunia tanpa warna, suara, dan kehidupan amatlah menakutkan. Ray mencoba mencari jalan keluar dan berjalan selama beberapa waktu, tetapi tidak menemukan apa pun.
Dia terus melalui dan melihat tempat yang sama seolah berputar-putar di satu titik. Ingatan terakhir yang dia miliki adalah sedang bertarung sengit dengan Regulus. Alasan mengapa dia tiba di tempat ini masih abu-abu dalam ingatannya.
“Sial! Jika ini terjadi begitu saja, maka kemungkinannya hanya satu—”
—Regulus yang membawaku kemari, begitu pikirnya.
Jika begitu adanya maka pasti Regulus ada di sini, di suatu tempat yang mana Ray harus temukan. Sebelum meneliti lebih jauh tempat ini dan mencari, Ray mengidentifikasi hal-hal pada dirinya.
“Index masih berjalan namun aku tidak mampu membuka penyimpanan. Senjata Pahlawan dan senjata asliku masih bersama.”
Ray bersyukur bahwa meski penyimpangan tidak bisa diakses untuk alasan tak diketahui, setidaknya kedua senjata pentingnya masih bersama. Akan buruk jadinya jika dia kehilangan senjata. Ray begitu payah soal sihir sehingga jika terjadi pertarungan dia hanya bisa mengandalkan tangan kosong.
Dia mulai duduk dan mengistirahatkan dirinya dari pada berjalan tanpa tujuan dan hanya berputar-putar. Memegang es di bawahnya, tidak ada rasa dingin apa pun. Dia hanya merasa memegang sesuatu yang keras, rasanya seperti memegang debu yang mengeras.
“Tidak ada hangat atau dingin. Apa benda ini tidak memiliki suhu apa pun?” Ray mencoba menghancurkannya dengan senjata Pahlawan.
Meski menimbulkan kerusakan namun selebihnya tidak ada hal khusus yang bisa menjadi petunjuk. Ray berpikir untuk melancarkan serangan secara asal untuk memancing keluar Regulus, tetapi risiko nyata dia akan kelelahan sebelum pertarungan.
‘Perasaanku tidak menyenangkan jika terlalu lama di sini. Bahkan jika tidak memiliki dampak apa pun padaku, aku cukup khawatir, begitu keluar dari tempat ini, waktu sudah berlalu cukup lama.’
Jika dia berada di tempat ini selama setahun, bukannya mustahil seratus tahun sudah berlalu dan Ragnarok telah berakhir. Ray takut hal seperti itu, di dunia yang baru, baik hancur atau tidak, dia akan sendirian.
“Sebaiknya aku coba dulu.” Ray duduk bersila dan menarik napas dengan tenang.
Dengan dunia tanpa suara sangat mudah bagi Ray menyatu dengan alam. Segera dengan hanya kesadarannya dia mampu merasakan daerah sekitarnya. Gambaran garis-garis putih muncul dalam benaknya. Garis-garis tersebut adalah bentuk dari objek yang ada di tempat ini.
Ray menemukan keganjilan bahwa semuanya adalah sihir dan tidak ada benda yang benar-benar nyata. Lebih mudahnya apa pun yang Ray lihat semuanya hannyalah sesuatu yang diciptakan oleh sihir.
‘Tempat ini seperti ruang persegi namun tidak akan pernah bisa bagiku mencapai ujungnya. Setiap kali mendekati ujung ruangan ini, aku akan kembali ke tengahnya.’
Alasan dia terus berputar-putar sejak tadi adalah karena memang tidak mungkin pergi dari sini. Cara kerja perpindahan tersebut sama halnya seperti gerbang spatial ada di mana-mana dan akan membawa kembali ke tengah.
“Tidak salah lagi, ini adalah jebakan Ruang dan Waktu.”
Ray memang tahu bahwa sihir ruang masih ada. Teleportasi dan Spatial milik Natalia termasuk ke dalam sihir ruang, tetapi sihir waktu sulit dipercaya. Dia hanya tahu dua orang yang mungkin menggunakannya.
Dia adalah Lucifer dan Pahlawan Creator, Amatsumi Rigel. Saat saling berhadapan di depan Gerbang Dunia Bawah, Lucifer menggunakan kemampuan yang memungkinkannya bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Dari luar tampak seperti dia memiliki kecepatan luar biasa atau mampu berteleportasi, tetapi kenyataannya Lucifer mampu bergerak di zona waktu yang lambat.
Hal tersebut terungkap saat Rigel membongkarnya dengan menggunakan kekuatannya dan menggagalkan upaya Lucifer membunuh Pahlawan lain. Kisah yang sulit dipercaya tetapi lebih sulit membayangkan Rigel berbohong tentang hal tersebut.
‘Aku tidak bodoh untuk terperangkap oleh jebakan. Namun lain halnya jika ada suatu keadaan yang membuatku tidak bisa bergerak. Seperti ... Aku berusaha memenggal Regulus, dan di waktu itu dia menggunakan kekuatan yang menjebak kamu berdua di ruang ini.’
__ADS_1
Hal ini mungkin mirip dengan Territory yang juga termasuk sihir ruang. Namun ada perbedaan yang sangat jelas dari keduanya. Sihir Teritory masih mungkin untuk keluar-masuk dengan mudah namun tempat ini membuat keluar menjadi tidak mungkin. Selain itu Teritory masih memiliki waktu yang sama dengan jalannya dunia, berbeda dengan ruangan aneh ini.
Ray memutuskan untuk menyatu lebih dalam dan mencari keanehan lain dari ruangan ini, untuk sekarang sebaiknya memanggilnya dengan Sub-dimensi.
Dengan menyelam lebih dalam Ray akan mampu melihat hal-hal yang tidak bisa dia lihat dari luar. Dalam.waktu singkat pemandangan yang muncul di dalam benaknya berubah menjadi warna-warna putih sepenuhnya.
Dia melihat cahaya putih di sekelilingnya dan menemukan satu cahaya yang memiliki warna lain. Cahaya itu ada tepat di bawahnya, jauh di dalam tanah. Cahaya dengan warna ungu yang menyala dengan jelas.
‘Maka hanya ada satu jawaban.’ Ray membuka matanya dan menemukan cara untuk keluar.
“Tidak peduli sekuat atau sehebat apa pun sihirnya, pasti akan ada yang menjadi sumber tenaganya.”
Sihir tidak langsung begitu saja ada. Seperti seseorang yang berusaha menyalakan api tanpa sihir. Mereka perlu mengumpulkan dedaunan kering dan menggesek batu atau membenturkan besi agar menciptakan percikan api untuk menyalakannya.
Segala fenomena apa pun termasuk sihir membutuhkan asal-usul dan tidak terkecuali Sub-dimensi ini. Cahaya keunguan tersebut pastinya alasan dari keberadaan ruangan aneh ini. Ray tidak memiliki keraguan akan hal itu namun masalahnya adalah lokasinya jauh di dalam.
“Keahlianku adalah memotong dan bukan menggali. Seandainya Aland ada di sini, tidak sulit menggalinya.”
Lokasinya sangat jauh di bawah tanah dan begitu terpendam. Meski Ray bisa mencapainya namun akan membutuhkan waktu dan banyak usaha untuk melakukannya.
Sebelum membuat keputusan untuk menggali, Ray berpikir untuk menghancurkan Sub-dimensi namun hal itu juga akan sia-sia dan mungkin serangannya akan menuju dirinya sendiri.
Ray memegang dagunya dan mengingat-ingat apa yang bisa dia lakukan. Mengakses Index dan menyelam ke banyak skill yang tidak bisa seutuhnya dia ingat, Ray menemukan sesuatu yang unik.
“Ini ... memang skill yang kuat untuk menyerang, aku terus menyembunyikannya sebagai truf, tetapi apa ini bisa melakukannya?”
Ray skeptis dengan skill yang dia temukan. Memang kekuatannya sangat hebat dan tidak menguras banyak energi, karena itu sangat cocok untuk disimpan sampai saat terakhir. Dia tidak tahu apakah menggunakannya sekarang itu bijak atau tidak, tetapi jika dia ingin keluar maka segala cara harus dicoba.
“Aku harus melakukannya.” Ray berdiri dan mengeluarkan dua pedangnya, dalam waktu singkat dia mengerahkan seluruh tenaga dan melompat tinggi ke langit.
Dia terjun bebas, menggunakan belati yang dibuat daro taring Hydra dalam posisi miring dan terulur, sementara menyejajarkan senjata Pahlawan dengan wajahnya. Memejamkan mata, Ray mengalirkan kekuatan, Belati Pahlawan bersinar putih terang dan begitu Ray membuka matanya, cahaya putih digantikan dengan keemasan.
“Pertama —Destruction!” Dia menggunakan belatinya dan menimbulkan keretakan besar di tempatnya mendarat. Segera dia mengulurkan Belati Pahlawan, menancapkan ujungnya dengan kuat ke es putih tersebut, “Dagger of Arion!”
Cahaya tersebut terserap ke dalam tanah dan membentuk bilah lurus. Bilah tersebut menembus tanah putih dan akhirnya membelah kristal yang bersinar ke unguan di dalam tanah. Sub-dimensi mulai terbelah bersama hancurnya kristal tersebut.
Dunia yang pucat menghilang menjadi putih seutuhnya, sebelum digantikan oleh kegelapan pekat. Ray membuka kembali matanya dan menemukan langit sore. Berpikir telah kembali, tetapi dia kembali disadarkan fakta bahwa dirinya masih terperangkap.
“Tak aku sangka kamu berhasil keluar dari sana.”
Suara yang cekikikan geli menyadarkan Ray bahwa cara sesungguhnya untuk keluar dari ruangan tanpa akhir ini adalah dengan mengalahkan penggunanya. Dia memandang sekeliling dan menemukan dirinya berada di dunia es ungu. Di depannya terdapat ratusan anak rangga yang menuju sebuah kursi dari kristal es ungu, yang diduduki oleh Pilar Iblis Regulus.
Ray menunjukkan senyuman kemarahan dan mengambil ancang-ancang kuat, “Aku akan membunuhmu dan keluar dari sini!”
“Coba saja. Dunia ini milikku, tak ada yang bisa keluar tanpa izinku. Daripada keluar, sebaiknya pikirkan apakah kamu yakin bisa hidup di dunia yang berjalan sesuai kehendakku.”
__ADS_1
Seolah baru saja mendapatkan tantangan, Ray mengirimkan empat tebasan cahaya dan memulai kembali pertarungannya.