
12 jam sebelum peperangan dimulai, Rigel dan Ray tengah bersama menatap langit yang unik. Bukan malam ataupun siang melainkan langit merah darah tanpa bintang yang mereka temukan.
Bulan dan matahari bersinar di waktu yang sama menunjukkan tentang betapa ganjilnya situasi tersebut.
“Tak terasa perang sudah hanya hitungan waktu, ya.” Ray menatap langit dengan dalam.
“Ya. Pertarungan besar akan segera terjadi mungkin orang yang berdiri bersama kita akan gugur.”
Rigel sudah siap menerimanya bila ada diantara rekan terpercayanya gugur di medan perang, lagipula tak ada peperangan tanpa korban jiwa karena hal tersebut tak bisa dihindari.
Nyawa pasti akan hilang dalam jumlah yang tidak sedikit dan pengorbanan diperlukan untuk membuat tangga menuju hari yang cerah, sejak mereka berani berdiri di medan perang sama artinya berani berkorban.
“Apa kamu tidak punya penyesalan?” Tanya Rigel dengan penuh makna, ada sesuatu yang ingin dia ungkapkan namun masih disimpan dalam tenggorokan.
“Penyesalan ya ... seandainya aku gugur di medan perang satu-satunya penyesalanku adalah tidak tahu akhir peperangan ini ataupun belum membangun keluarga.” Ray menggaruk pelipisnya dan tertawa dengan malu.
Rigel hanya diam tanpa memberikan perkara apapun, dia tak bisa berbuat banyak tentang hal itu. Memaksakan Ray menikah sekarangpun hanya usaha sia-sia untuk dicoba.
Namun meski begitu sesuatu terlintas di dalam benak Rigel, dia ingin mempercayakannya kepada Ray seorang karena hanya dia yang bisa dipercaya untuk menjaganya.
“Ray ...” Rigel memegang dadanya yang entah mengapa terasa sakit, dia tidak biasa memiliki emosi semacam ini sepanjang hidupnya, malah dia pikir hatinya telah mati.
“Ada apa Rigel, apa kamu ingin mengatakan sesuatu?” Tanya Ray dengan bingung ketika Rigel memanggilnya, dia merasakan atmosfer di sekitar mereka menjadi berat.
“Ini hanya permintaan kecil yang egois dariku. Entah bagaimana caramu menjalaninya itu akan menjadi pilihanmu—”
__ADS_1
Rigel tidak berniat memaksanya sejak awal karena hal tersebut bukan sesuatu yang bisa dia perintahkan, namun jika bisa dia ingin Ray menjalaninya sesuai dengan yang Rigel inginkan.
“—jika sesuatu terjadi padaku ... jagalah dia untukku.” Di waktu yang langka Rigel tersenyum lembut dengan tatapan sedih.
Ray merasa tidak enak hati, “Apa maksudmu Rigel, ini seperti ... kamu mencoba mengucapkan perpisahan?” Ray tak percaya bahwa Rigel akan bersikap demikian, lebih apapun dia paling benci dengan perpisahan.
“Apanya yang perpisahan, itu akan terjadi hanya jika terjadi sesuatu padaku.” Rigel tersenyum masam dan segera mengambil langkah ke depan, “Sudah waktunya bagiku pergi, rencana yang kusiapkan akan dilaksanakan besok. Kamu jangan melupakan tugasmu.”
Di tengah angin kencang Ray memejamkan mata beberapa detik dan begitu dia membukanya Rigel telah menghilang dari tempatnya berada. Perasaan kesepian menyelimuti Ray karena sikap Rigel berbeda dengan dia yang biasanya.
“Apa yang terjadi denganmu Rigel? Kamu sangat berbeda, seolah dirimu sedang bermain drama di mana kamu memerankan dirimu sendiri.” Ray berpikir ada sesuatu yang penting sedang disembunyikan oleh Rigel, pemikirannya memang misterius namun kali ini tidak seperti biasanya.
...***...
Di tempat lain di mana tembok istana Britannia berdiri kokoh, pemandangan di satu sisi adalah pemukiman tempat manusia tinggal sementara di sisi lain yang jauh sebuah lapangan kosong terbentang dengan luas.
“Bahkan jika kamu bisa lompat, terbang hingga teleportasi, berjalan di sisi itu tetap berbahaya, Yuri.” Takumi memperingatinya dengan penuh kekhawatiran, dia sudah siap menangkap Yuri sewaktu dibutuhkan.
“Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja.” Yuri tersenyum geli melihat kegelisahan Takumi, “Omong-omong apa yang ingin kamu lakukan setelah perang ini berakhir?” Dia segera mengalihkan topik pembicaraan ke arah lain.
“Apa yang kulakukan ... apa maksudmu?” Takumi tidak menjawab dan justru bertanya balik, dia tentu memahami pertanyannya namun tak memahami konteks yang dituju Yuri.
“Maksudku kita takkan kembali ke dunia kita karena pria bernama Aludra yang menyebut dirinya Ayah Rigel membuktikan bahwa tak ada jalan kembali. Jika perang berakhir dengan kemenangan kita maka tugas sebagai Pahlawan tentunya sudah berakhir kan? Kala itu tiba kita harus melakukan hal lain. Jika itu kamu, apa yang ingin kamu lakukan?”
Takumi mulai berpikir keras akan pertanyaan tersebut, dia tak pernah memikirkan apa yang akan dirinya lakukan setelah perang, sejak awal dia memang bukan orang yang akan memimpikan ingin menjadi apa atau ingin melakukan apapun.
__ADS_1
Dia tak memiliki banyak motivasi melakukan sesuatu, karena jika dia berharap ingin menjadi sesuatu maka dia harus siap jatuh karenanya.
“Sejujurnya aku tidak tahu. Aku hanya memandang apa yang sedang kuhadapi dan bukan apa yang akan kuhadapi. Aku bukan orang yang akan memikirkan seperti apa hari esok tetapi memikirkan bagaimana cara menikmati hari yang sedang kujalani.” Dia tersenyum canggung dan menggaruk pelipisnya, “Yah, jika harus menjawab aku mungkin ingin menghabiskan sisa hidupku dengan tenang.”
Kehidupan yang tenang dan damai adalah surga, Takumi tidak akan menyesali apapun jika mampu hidup di tempat seperti itu.
“Kamu sangat sederhana, ya.” Yuri memandang Takumi dan menarik wajahnya agar bibir mereka berdua segera bertemu, dia segera mengatakan, “Aku berharap kita menjadi pasangan setelah semuanya berakhir, Takumi.” Yuri kembali menempelkan bibirnya.
Takumi segera membelai lembut pipi Yuri dan membiarkan sentuhannya terus berlanjut, dia juga tak menolak untuk melakukannya.
Segera setelah melepaskan diri Yuri terjun bebas dan jatuh, Takumi dengan tergesa-gesa meraihnya dan berhasil membawa Yuri ke dalam dekapannya.
“Dasar bodoh, apa yang kamu pikirkan dengan melompat seperti itu?!” Takumi mulai memarahi Yuri selagi berusaha mendarat dengan tepat.
“Pft hahaha, lagipula aku tahu kamu akan menyelamatkanku.” Yuri tertawa hingga mengeluarkan air mata, namun air matanya bukan karena tertawa melainkan murni karena menangis sedih, dalam kejatuhannya dia menyerukan, “Aku mencintaimu, jangan sampai kamu mati mendahuluiku.”
Dia takkan pernah memaafkan Takumi jika sampai tewas di dalam peperangan, bahkan jika itu benar terjadi maka tidak ada arti kehidupan ini dan Yuri bersumpah akan mencabut nyawanya sendiri.
‘Bukankah itu romantis? Seperti halnya Juliet yang mengorbankan nyawa untuk menemani kekasihnya Romeo ke alam selanjutnya, aku juga akan melakukannya jika kamu pergi meninggalkanku, Takumi.’
Dia merasa bersalah kepada Rigel dan yang lainnya yang mungkin berjuang hingga titik darah penghabisan jika itu terjadi, namun bahkan ketika mereka meninggalkan dunia ini segala urusan tak ada lagi.
“Hah? Apa yang kamu katakan barusan?” Tampaknya Takumi tak memperhatikan perkataan Yuri sebelumnya.
“Tidak! Aku hanya bilang kamu tidak boleh mati, tidak boleh ada perpisahan diantara kita!” Yuri mengganti kalimatnya dari awalnya berkata mencintai menjadi peringatan untuk tak meninggalkan.
__ADS_1
“Aku tahu itu, aku takkan mati sebelum membuatmu bahagia!”
Waktu yang akan menentukan takdir umat manusia, perang besar yang menelan korban akan dimulai segera.