
Provokasi Leo menggema di telinganya, Jahoel membuat wajah tanpa ekspresi sama sekali ketika mendengarnya.
“Tidak ada apa-apanya ... bocah tengik, kematian takkan cukup membalasmu-!” Jahoel mulai diselimuti cahaya.
Tubuhnya membesar dua kali lipat bersama armor dan pedang besarnya, Jahoel jelas akan melakukan pertarungan habis-habisan mulai dari saat ini dan sungguh-sungguh untuk membunuh Leo.
Hal itu tidak dapat dipungkiri karena Leo sengaja memancing emosinya dan membuat lawannya semakin kuat. Meski dia tak memiliki banyak pengalaman bertarung yang nyata namun dia sangat percaya diri dengan kemampuannya.
Selain itu jika pertarungannya dapat berlangsung lama maka Leo akan diuntungkan. Alasan dirinya terus di tahan oleh Rigel sampai saat ini karena bakatnya sederhana namun sangatlah luar biasa.
Leo menarik kembali Kusanagi hanya dengan mengulurkan tangannya saja. Dia menyilangkan pedangnya, “Aku juga harus serius.”
Menggunakan bilah pedang Kusanagi untuk melukai tangannya, Leo membasahi bilahnya dengan darah dan Kusanagi mulai mengeluarkan api kemerahan, “Amaterasu.”
Ada tiga jenis kekuatan dari pedang Kusanagi yakni Susano'o, Tsukoyomi, dan terakhir adalah Amaterasu. Leo tidak memahami dari mana asal penamaannya namun setidaknya yang penting baginya adalah memahami kekuatannya sendiri.
Pedang Pahlawan miliknya juga tidak dia diamkan, Leo sungguh-sungguh akan mengungkapkan semua kartu yang dia miliki. Dikarenakan dia generasi Pahlawan Pedang setelah Takatsumi, maka Leo telah memiliki varian pedang dan skill yang luar biasa melimpah.
Pedangnya mulai mengeluarkan cahaya keemasan dan berubah bentuk. Panjangnya sedikit bertambah, bilahnya berubah menjadi putih suci sementara dihiasi ulir emas yang membentuk kepala singa pada gagangnya.
Tak bisa dipastikan apakah akan mempan melawan Seraphim namun lebih baik mencoba ketimbang tidak sama sekali.
“Itu ... Excalibur?!” Yuri yang mencoba pergi menyaksikan dengan terkejut, dia baru kali ini benar-benar melihat Pedang Excalibur.
Bersamaan dengan Leo yang mengubah pedangnya, Jahoel selesai bertransformasi. Kali ini dua tangan lainnya kembali muncul. Pengguna empat pedang, meski dengan ukuran pedang sebesar itu namun Jahoel tampak mampu mengayunkannya dengan begitu mudah.
Leo dengan kedua pedangnya yang diacungkan mulai mengerutkan alis, “Ini pertarungan sulit namun berharga bagiku. Jangan sampai kalah atau lengah, Leo.”
Dia menguatnya dirinya sendiri dan tentunya agar tidak merasakan takut atau khawatir dengan kekalahan. Leo harus percaya kepada dirinya sendiri, dengan begitu keadaannya maka kemampuannya akan lebih berguna.
“Sekarang majulah!” Leo tersenyum lebar namun ketika itu terjadi Jahoel sudah ada di belakangnya dan menusuk bahunya.
__ADS_1
Leo dengan sigap berputar dan berbalik, dia menangkis serangannya dan melompat mundur. Akan tetapi lagi-lagi Jahoel bergerak cepat dan mendesak Leo untuk terus bertarung.
“Jangan mati secepat ini, bocah. Kekuatan Seraphim agung yang kamu remehkan belum keluar sepenuhnya-!” Jahoel berputar dan menyerang langsung dengan empat pedangnya.
Meski begitu Leo tidak kehilangan senyum dan menggunakan Amaterasu. Tebasan api kemerahan dilancarkannya, Jahoel menahannya namun dia terkejut ketika tahu api itu tidak bisa padam.
Leo memanfaatkan kesempatan kecil tersebut, menancapkan Kusanagi dan memegang Excalibur dengan kedua tangannya.
“Semua mimpi kan jadi nyata ...
Cahaya keemasan berkumpul di sekitarnya dan terserap ke dalam bilah pedang. Ketika cahaya mencapai batas maksimalnya, Leo membuka matanya dan memberikan ayunan lebar.
“EXCALIBUR!”
Sinar keemasan muncul dan membelah medan perang mereka. Jahoel menyilangkan pedangnya dan menahan serangan tersebut. Dia menggertak giginya dan mulai berteriak dengan keras dalam upaya menghentikan serangannya.
Leo tidak ingin membuang waktu, selagi Jahoel menahannya maka dia akan menyerang dengan serangan lain. Leo berlari dan menarik Kusanagi, dia merentangkan kedua tangannya serta pedangnya.
Gerakan Leo jadi secepat cahaya dan sekejap mata dia berhasil memotong satu lengan Jahoel. Hal itu jelas membuat frustasi dan karena itu Jahoel benar-benar marah.
“Bocah tengik-!” Dia melesat menuju Leo, beradu pedang lalu menendang Leo hingga terguling.
“Heavenly Sword!”
Bilah pedang raksasa jatuh dari langit tepat menuju Leo. Dihadapan oleh serangan tersebut, Leo mengambil sebuah pedang dari penyimpanannya. Pedang yang terbuat dari bagian Hydra dan monster kuat lainnya, pedang terkutuk, Gram, Leo mengigit pedang Gram, dia juga meletakkan punggung pedang Kusanagi di belakang leher sementara pedang pahlawan diacungkan olehnya.
Menekuk kakinya dan menurunkan gravitasi tubuhnya, Leo sedikit tersenyum.
“Ini sudah waktunya ...” Leo menarik napas dalam-dalam, energi mulai berkumpul di seluruh tubuhnya. Leo memejamkan matanya dan menggumamkan sesuatu.
“Akan aku persembahkan kekuatan untuk menerima kekuatan!”
__ADS_1
Auranya semakin menguat dan membuat tanah tempatnya berpijak retak. Jahoel menyaksikannya dengan penuh waspada karena merasakan sesuatu tidak mengenakkan. Yuri yang sudah melangkah menjauh tampak enggan berteleportasi dan menyaksikan pertarungan Leo.
“Haruskah aku membantunya? Tapi aku sendiri ...”
“... saksikan ... dulu.”
Yuri mendengar rintihan lemah dari sisinya, dia menemukan Takumi sadarkan diri meski muntah darah ketika berbicara.
“Takumi! Terima kasih, karena sadarkan diri!” Yuri mulai menangis sedu karenanya.
“Ya ... Terima kasih ...” Takumi tersenyum kecil sebelum kembali batuk, dia segera menatap tempat Leo, “Anak itu ... bisa lebih kuat ... dariku ... kamu, bahkan Ozaru.”
Saat mendengar itu Yuri kembali menatap Leo yang dikelilingi angin topan dari auranya sendiri. Pedang cahaya jatuh tepat menuju Leo, saat itu tiba Yuri memanggil Leo dengan berteriak.
“Leo!”
Mendengar itu Leo hanya tersenyum dan berbicara dengan sedikit kacau karena pedang yang dia gigit untuk mengaktifkan jurusnya, “Jangan khawatir, Nona. Meski masih muda, aku sangat kuat.”
Pedang tersebut tepat di depan mata, ketika itu tiba Leo menumbuhkan empat tangan tambahan dan dua wajah lainnya. Pakaian dan armor yang dia gunakan terlepas karena otot-otot tubuhnya yang membesar.
Cahaya yang sangat silau menyebabkan orang buta di tempat selama beberapa waktu. Benturan keras berdengung keras namun yang memukau adalah momen ketika pedang besar hancur menjadi serpihan cahaya.
“Apa yang baru saja terjadi?” Jahoel bergumam dengan pandangan terkejut, dia tidak melihatnya dengan jelas tentang apa yang terjadi.
“Kamu pikir hanya dirimu yang bisa memiliki banyak tangan?” Suara yang terdengar seperti tiga orang yang sama mengatakan perkataan serupa.
Ketika awan debu mulai menghilang, Jahoel terkejut begitu melihat Leo yang berubah drastis. Enam tangan dan tiga wajahnya, masing-masing membawa pedang dan menjadikannya sembilan.
Leo itu berbakat, dia memiliki lebih banyak hal yang bisa dia lakukan. Rigel menyimpannya karena kemampuan Leo sekuat itu. Teknik yang saat ini dia gunakan masih separuh dari berbagai hal yang bisa dilakukan oleh Leo.
“Kamu terlihat menjijikkan. Hanya dengan lebih banyak tangan dan pedang tak membuatmu bertambah kuat.”
__ADS_1
Leo menanggapi provokasi itu dengan senyuman penuh percaya diri, “Teknik Sembilan Pedang —Ashura!”