
“Ini mungkin sangat terlambat namun biarkan aku mengatakannya ... Lama tidak jumpa.” Lucifer terlihat bersuka cita atas pertemuan ini yang akan menjadi pertemuan terakhir diantara mereka.
Kata-katanya mungkin bukan ditujukan untuk Rigel tetapi kepada para Seraphim yang kala itu telah mengusirnya dari surga. Lucifer sampai kini tidak pernah melupakannya baik itu setiap detil peristiwa atau setiap dendam yang disimpan.
“Ya, lama tidak jumpa. Meski begitu tidak kusangka bahwa kamu memiliki kesempatan mendapatkan tangan itu.” Bukan Michael yang berbicara tetapi Samael yang berkata.
Sejak awal dia menunjukkan ketertarikan terhadap tangan Lucifer yang lebih besar dari tangan lainnya dan tampak hangus karena terbakar. Ada rasa kewaspadaan darinya karena dia tidak begitu mengetahui seperti apa kekuatan Tangan Kiri Hades.
“Ya, lagipula aku yang terhebat. Hanya orang hebat yang berhak menerimanya. Kalian sampah dan pecundang takkan memahaminya sama sekali.” Lucifer mengelus tangan kirinya dengan perasaan lembut.
“Itu tentu saja karena tidak ada orang hebat yang akan ditendang dari surga. Eh? Benar juga, kamu adalah orangnya!” Samael membuat wajah seolah meminta maaf, kata-katanya tersebut jelas membuat Lucifer jengkel.
Meski terlihat jengkel namun Lucifer tidak mau bertindak banyak dan mewaspadainya melebihi kehadiran Michael itu sendiri. Rigel merasa khawatir bahwa ada monster di balik monster lainnya.
Jika Michael tidak menjadi kewaspadaan besar bagi Lucifer dan justru Samael yang dia waspadai maka ada sesuatu yang mengerikan sehingga harus diwaspadai darinya. Selain itu Rigel juga merasa aneh kepadanya yang memiliki aura gelap ketimbang cahaya.
Tatapan Samael berangsur menatap para Seraphim lain, dua yang baru bangkit sementara sisanya tewas termasuk Rafael dan Kemuel yang menjadi kerugian terbesar mereka, dia segera menatap Rigel dengan tertarik, “Meski menarik berdebat denganmu namun aku ketimbang kamu yang telah kalah olehku, aku lebih tertarik dengan manusia ini. Amatsumi Rigel, kah.”
‘Apa aku memiliki pesona untuk menarik bajingan monster sepertinya?!’
Rigel selalu bertanya-tanya tentang mengapa dirinya sangat dicintai oleh masalah yang tak pernah ada habisnya.
“Sepertinya kamu tidak terlalu senang, ya.” Samael menyadari bahwa Rigel tidak menyambutnya.
“Aku bukan orang yang tergila-gila oleh pertarungan. Mendapatkan monyet lain untuk dirawat bukan hal menyenangkan!”
__ADS_1
Di tangannya sudah penuh dengan masalah dan Rigel tak ingin menambahkan masalah lain. Jika bisa dia harus membiarkan orang kompeten menanganinya namun karena kekuatannya tak diketahui, ada baiknya dua orang menanganinya langsung.
“Itu disayangkan karena aku tidak mau repot berurusan dengan orang selain kamu.”
Apapun yang terjadi Samael akan melawan Rigel, dia mencoba menekankan hal tersebut. Jauh lebih merepotkan menghadapi tiga ketimbang dua musuh secara langsung. Seandainya fokus Michael hanya kepada Lucifer maka Rigel akan melayani Samael sebentar.
“Hey monyet putih. Burung di sana tampaknya sangat berbahaya.” Ozaru secara naluri mewaspadai Michael, Lucifer dan juga Samael.
Selain dari ketiganya ada juga orang seperti Zenos dan Barakiel yang mengamati. Keduanya tidak memiliki ketertarikan khusus kepada pra Pahlawan karena mereka hanya menatap satu sama lain. Rigel memiliki harapan baik itu Zenos atau Barakiel, mungkin keduanya, saling membenci satu sama lain dan bertarung.
“Ya, aku tahu. Sebisa mungkin aku ingin menyerahkannya ke tanganmu ataupun Takumi. Selain dari kalian berdua yang lainnya mungkin tidak mampu.”
Menempatkan Yuri mengatasi mereka bukan pilihan yang bijak karena dia sangat rentan terhadap serangan dekat. Untuk Pahlawan lainnya mustahil karena mereka sudah banyak membuang tenaga sejak awal perang. Meski ada beberapa yang baik saja namun kemampuannya meragukan.
“Semuanya, dengarkan ini baik-baik. Mulai dari sini kita akan kembali berpencar. Setiap dari kalian akan menghadapi satu dari mereka, terkecuali Zenos, Samael, Barakiel dan iblis besar di sana.”
Rigel melirik iblis larva dengan tanduk banteng yang sejak tadi menunjukkan senyuman mengerikan. Iblis itu tampak tenang namun Rigel merasa dia memiliki kemiripan dengan orang terburuk yang pernah lepas kendali yaitu, Karaka.
“Apa kita akan membiarkannya begitu saja?” Hazama mendekat dan berbisik.
“Tidak, jika memang harus bertarung maka aku menyarankan beberapa dari kalian menghadapinya, sekalipun harus mengeroyoknya.”
“Mengeroyoknya? Mungkinkah ini sama seperti kasusku melawan Kemuel?”
“Ya sesuatu seperti itu. Ada kebutuhan di mana mereka mungkin lebih kuat dari yang terlihat sehingga perlu jaminan keamanan. Jujur saja, aku tidak ingin kehilangan siapapun dari kalian lebih dari ini.” Rigel tidak memiliki emosi khusus terhadap hal ini namun para Pahlawan di belakangnya menatap seperti anak kucing yang terharu.
__ADS_1
Rigel berusaha yang terbaik untuk mengabaikannya. Alasan dia menginginkan tak ada yang mati lebih banyak lagi karena mereka dibutuhkan untuk masa depan tidak pasti yang sudah ada dalam pengelihatannya.
“Aku tidak masalah namun aku ingin melawannya sendirian. Lagipula aku Raja Kera Agung, Tuan Ozaru yang perkasa!” Ozaru mulai membuat gaya aneh miliknya yang khas seperti biasa.
“Ya. Lagipula aku memang berniat menyerahkan satu kepadamu. Entah itu siapa aku tidak peduli.”
Saat menatap Michael dan Lucifer yang terus bertukar kata, Samael menatap Rigel dengan tertarik dan mengatakan, “Sudah selesai bicaranya. Kalau begitu aku akan di bawah tanganmu. Tak ada masalah, kan, Michael?”
“Ya, dia milikmu meski aku ingin membunuhnya sendiri. Namun untuk sekarang dia urusanku.”
“Hei, apa masalahmu? Aku hanya berpikir Seraphim semakin bodoh dan bodoh dan lemah sekarang. Melawan para Pahlawan saja sudah banyak yang gugur, sampai bahkan Rafael dan Kemuel kehilangan nyawanya. Padahal kamu harusnya tahu bahwa mereka adalah kekuatan berharga, ini menggelikan!”
Lucifer mulai tertawa dengan keras, Samael hanya menyeringai dan tak menghiraukannya. Meski surga direndahkan sekalipun dia bukanlah tipe orang yang akan merepotkan diri terhadap orang yang tak lagi menarik.
“Kamu masih bermulut besar, baik di masa lalu hingga saat ini. Seandainya saja kamu membunuhku atau mampu membuatku sekarat, mungkin saat ini aku takkan mengabaikanmu.” Meninggalkan perkataan tersebut Samael terbang menjauh dan melangkah turun.
Energi gelap yang lebih pekat dari kegelapan terdalam menyelimuti tubuhnya. Dari Lucifer hingga Pilar Iblis hanya menatapnya dalam diam. Sementara Rigel melangkah maju dan bersedia menjadi lawannya.
“Semakin terang cahaya yang dimiliki langit, maka semakin gelap kegelapannya. Berbeda dengan malaikat jatuh dan iblis di sana, mereka diizinkan menggunakan kegelapan karena terlahir dan masuk ke dalamnya.”
“Lalu bagaimana denganmu? Jangan bilang kamu juga jatuh atau semacamnya.”
“Aku berbeda. Karena mau bagaimanapun aku adalah kegelapan itu sendiri. Semuanya tergantung kehendakku, kegelapan akan menurutinya.” Samael tersenyum dan mulai mengerahkan tangan-tangan hitam.
Rigel melompat menjauh selagi menembakkan api dan Samael mengikuti. Tak lama bayangan di belakang punggung Samael melebar dan membuat medan tempur mereka sendiri.
__ADS_1