
Pada akhirnya tak seorangpun berani menjawab. Masuk dengan paksa tak ada bedanya dengan peperangan. Mereka sama sekali tidak membutuhkan pertumpahan darah di luar Ragnarok. Sementara untuk memecahkan masalah mereka takkan mudah.
“Yeah, aku bisa membuat pengaturan mengenai gurun. Namun pulau es, tak ada jalan selain menundukkan mereka.” Rigel menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan kasar.
Sungguh tak ada keraguan dalam kata-katanya. Sementara pahlawan lain masih naif, Ray satu-satunya pahlawan yang tampak tak mempermasalahkannya sama sekali. Semenjak awal dia telah siap melaksanakan apapun sekalipun itu tak manusiawi.
“Apa kita harus membunuh mereka jika menolak bahkan melawan?” Tanya Ray dengan dingin.
“Ya. Sejak awal mereka menolak kita, tak ada kerugian melakukan pembantaian. Aku ingin mengirim misil dan sejenisnya namun ada kemungkinan batu itu berpindah, meski tak berbeda dari garis Orion, akan sulit melacaknya lagi.”
Hanya sebatas asumsi, namun tampaknya paling mungkin jadi kenyataan. Batu Ramalan hanya dapat berpindah ke lokasi yang masih terhubung dengan garis Orion. Entah apa alasannya namun hanya si pembuat yang mengetahuinya.
“Mohon tunggu sebentar Rigel. Bisakah kamu menyerahkan pulau es kepadaku dan Ibunda? Meski orang asing dilarang masuk, masih ada kesempatan untuk beberapa pedagang. Meski sulit kami akan melakukan tindakan yang lebih aman.”
Merial tampaknya tak menyukai genosida yang dibicarakan Rigel dan Ray dengan mengetik. Sementara pahlawan lain bernapas lega, Rigel tak begitu senang lantaran akan membuang waktunya. Untuk menghindari cekcok dengan Pahlawan lain Rigel memilih angkat tangan soal pulau es.
“Lakulan. Namun jika lambat, kan ku hancurkan.” Rigel acuh tak acuh menatap batu di depannya, “Kembali ke masalah. Meski tahu tata letak batu sialan ini sesuai Orion, kita tak tahu apa yang disebut teka-teki.”
Menemukan tata letak Batu Ramalan adalah rasi Orion hanya langkah menemukan dua batu yang tersisa. Bukan untuk menemukan atau memberi jawaban atas teka-teki yang mereka bahkan tidak tahu ada tidaknya.
“Apakah patung yang ada di tengah dan sekitar ruangan memiliki hubungan? Mungkin aneh namun aku berpikir mereka bisa saja hidup.”
Mungkin Yuri mendapat pengetahuan tersebut dari game yang pernah dimainkan. Lagipula semua orang dari bumi takkan ada yang tidak mengenal game. Bahkan alasan mereka mampu bertindak mengoperasikan Index karena keberadaan game.
__ADS_1
“Maksudmu mereka seperti penjaga makam atau semacamnya? Jika benar begitu pasti harus ada yang menjadi pemicunya.”
Memang hal semacam itu umum terjadi seperti kara Hazama. Masalahnya adalah mereka tak tahu di mana pemicu tersebut, bahkan tak ada kepastian apakah mereka benar-benar bergerak atau tidak.
Dia tak memahami apa yang dimaksud teka-teki. Rigel telah berpikir bahwa itu adalah sesuatu yang dibuat Lucifer untuk menyibukkan Rigel serta pahlawan lain selagi dia menyiapkan sesuatu. Itu sangat mungkin namun firasatnya menolak pemikirannya.
Kontradiksi antara hati dan pikiran sungguh menyebalkan, dia tak mampu membuat keputusan berarti di saat ini. Pada akhirnya dia menyerah dan mencipta kursi dari batu. Dalam diam dia memperhatikan Batu Ramalan dan menarik rambutnya.
‘Sekarang, bila kita asumsikan ada semacam pemicu untuk mengeluarkan teka-teki Batu Ramalan, maka antara menghancurkan patung di tengah tersebut atau menyebutkan kata tertentu. Rasi Orion, pasti ada semacam makna tertentu dari menggunakan rasi tersebut.’
Rigel membentuk pistol dengan ibu jari dan telunjuknya, dia membidik patung di bawah batu dan cahaya muncul dari jarinya, “Dor!” Tepat dengan apa yang dia ucapkan, cahaya tersebut melesat kuat dan mengenai kepala dari patung batu tersebut.
Pahlawan lain terkejut dengan tindakan Rigel tanpa pikir panjang. Melihat patung batu yang dia tembak, mengejutkannya tak ada goresan sedikitpun. Seperti yang diharapkan, tidak mudah menghancurkannya.
Maka hal yang bisa dicoba adalah mengucapkan kata tertentu seperti yang telah dicoba. Bukan secara asal melainkan sesuatu yang terpikirkan olehnya.
“Alnilam.” Rigel menjawab gumamnya.
Marcel yang memperhatikan Batu Ramalan tertegun dengan cahaya yang berkedip sedikit lebih terang, “Oi, sesuatu terjadi saat kamu mengatakannya.”
“Aku tak melihatnya secara jelas, apa benar begitu?” Petra bertanya curiga kepada Marcel.
“Tunggu, konsentrasi mana meningkat selama beberapa detik. Meski hanya sesaat mana berkumpul di Batu Ramalan.” Merial sepakat dengan Marcel.
__ADS_1
“Ya, aku juga merasakan sesuatu samar seperti kehadiran roh. Tak jelas dan samar namun tampaknya ada sesuatu dari perkataan Rigel sebelumnya.” Ray ikut menambah penjelasan.
Memang bahwa ada kejanggalan di mana alam sebelumnya, fluktuasi berbeda dari biasanya. Tempat ini memang spesial namun yang sebelumnya terjadi adalah anomali.
Mendengar tersebut semua orang melebarkan mata, secercah harapan muncul dari situasi mendekati putus asa, lantas Rigel mengatakannya lagi dan Batu Ramalan sedikit bersinar. Lantaran tak menampilkan apapun, dia menambahkan beberapa kata.
“Datang, patuhi panggilanku, Alnilam!”
Sekali lagi dia memanggil, Batu Ramalan bersinar terang. Konsentrasi mana di dalamnya meningkat seakan ingin meledak. Semua orang tertegun sekaligus takut dengan apa yang terjadi, akan tetapi Rigel tersenyum.
Jika batu tersebut bereaksi seperti itu maka benar ada sesuatu yang disimpan dari dunia. Apakah itu kekuatan, senjata atau sejarah asli dari dunia ini. Yang manapun, selama dia menemukan cara melakukannya maka akan baik.
“Oi! Sesuatu muncul!” Hazama menyiapkan perisai namun tindakannya percuma.
Tidak hanya dia serta Pahlawan lain, bahkan Rigel menunjukkan kejutan langka di wajahnya. Kejutannya bukan dengan apa yang bisa dia atasi, lantaran kenyataan dari Batu Ramalan tampak mengerikan.
“Aku tahu bahwa Alexei mengatakan Batu Ramalan terbuat dari manusia. Namun melihatnya secara langsung sungguh mengerikan.” Rigel memijat jidatnya tampak lelah.
Tak ada kata untuk menjelaskannya, tentu karena orang yang membuat semua ini jelas tak manusiawinya. Yuri dan gadis lainnya menutup mulut, tak percaya juga dengan yang dilihat.
“Orang sekejam apa ... yang melakukan ini kepada gadis kecil?”
Di dalam Batu Ramalan terdapat seorang gadis kecil kisaran 10 tahun tanpa pakaian. Dengan rambut merah darah yang membeku di batu, luka besar terukir di perutnya. Mata merah ruby yang tanpa emosi terbuka lebar.
__ADS_1
“Aku Alnilam Margaret Atwood, manusia dari dunia lain yang datang memenuhi panggilan, Pahlawan Cambuk. Dengan maksud dan tujuan yang tak jelas, dunia memaksaku bertarung, akhir mengerikan ini adalah bayaran atas semua usahaku.”
Suaranya lembut namun dingin karena tak tersimpan perasaan apapun di dalamnya. Cara bicaranya seperti robot tanpa perasaan yang hanya akan mematuhi perintah. Dan dari segala kata yang dia ucap, fakta dirinya adalah Pahlawan yang paling mengguncang.