Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 85 — Tak Ada Kata Menyerah


__ADS_3

Statistik Hazama meningkat pesat berkat kartu yang dia banggakan. Situasi buruk yang membuat mereka terdesak seperti ombak lumpur berisi emas. Ada kerugian dan kekurangan yang mereka dapatkan darinya.


Pasukan Succubus mulai menyerang dengan cakar mereka dengan gila, Hazama terus menggunakan posisi bertahan selagi mendapatkan ratusan serangan dari para Succubus. Capella yang melihat itu berdecak dan segera menggunakan kekuatan pengaruhnya kepada Hazama.


Melihat itu Hazama menggunakan Bubble Shield untuk melindungi dirinya dan Aland. Para Succubus berdecak dan mulai mengepung dari berbagai arah. Mereka berpikir dengan memberikan rangkaian serangan di setiap sisi akan menghancurkan perisai itu namun nyatanya Bubble Shield tidak akan hancur oleh serangan sekelas itu.


‘Biasanya aku mampu menggunakannya selama 10 menit tetapi dengan kekuatan besar Capella, gelembung ini hanya mampu bertahan kurang dari dua menit.’


Hazama melirik Aland yang memejamkan matanya. Dia tampak mulai kembali memulihkan tubuhnya dan potion yang telah kosong melakukan pekerjaannya dengan sangat baik.


“Semakin menjengkelkan saja!” Capella mendecakkan lidahnya saat melihat kejauhan bahwa Armageddon akan tiba untuk mengganggu.


Capella memerintahkan sebagian dari Succubus untuk menyerang Armageddon sementara sisanya akan terus membantunya melawan Pahlawan. Dia menumbuhkan cakar panjang dan ekor cahaya serta sayap kelelawar.


Bersama para anak buahnya, Capella menyerang Bubble Shield dari segala sisi dan dengan sangat liar. Hazama mulai berkeringat dingin karena jika Capella terus melakukannya sampai waktu penggunaan tiba, dia takkan tahu dari mana serangannya akan datang.


“Perisai ini pasti memiliki batas penggunaan, serang terus! Jangan beri waktu bernapas.” Capella memerintahkan dengan senyuman bengisnya.


“Ketahuan, ya.” Hazama sudah menduga cepat atau lambat kebenarannya akan terungkap. Dia menatap Aland yang masih memulihkan dirinya dan menyadari hanya butuh sedikit waktu lagi.


“Apa kamu akan terus bersembunyi di dalam tempurungmu? Kemenangan takkan diraih, kamu takkan mampu meraih apa pun jika tidak keluar dari zona nyaman milikmu!” Capella mengulurkan ekornya dan menciptakan duri cahaya yang melesat langsung ke arahnya.


Hazama tak berpikir Bubble Shield akan mampu menahannya, bahkan jika mampu, menyia-nyiakan serangan Capella adalah pemborosan. Perisai miliknya bersinar dan Hazama segera mengambil posisi menahan serangan tersebut.


“Terkadang memiliki tempurung yang kuat juga bagus. Karena aku mampu bertahan dan menyerang.” Hazama tersenyum penuh kemenangan saat perisainya menyerap kekuatan Capella.


“Full Counter!” Jarum cahaya yang tiga kali lebih besar melesat kembali menuju Capella.


Sontak hal tersebut membuatnya panik dan menggunakan para Succubus sebagai perisai hidup miliknya. Pasukan Succubus perlahan berjatuhan ke tanah lalu berubah menjadi debu. Melihat rasnya mati oleh serangannya sendiri memancing kemarahan besar Capella.


“Kesalahan ingin membiarkan kalian hidup untuk membunuh kalian dengan mengeringkan semuanya. Ini kesalahanku. Sudah sepatutnya aku melakukannya sejak awal. Aku tercerahkan, bahwa kematian takkan cukup untuk kalian. Akan kupotong kalian, ku masak dan jadikan makanan ternak. Kematian takkan mampu memuaskan kemarahan ini.” Capella menatap dingin dan mengeluarkan aura mematikan di sekitarnya.


Para Succubus yang lain juga memancarkan aura serupa, mata mereka menyala ungu dengan penuh kemarahan. Cakar panjang tumbuh dari jari dan tanduk mereka mencuat ke langit.


Perubahan tersebut memunculkan perasaan buruk di dada, Hazama yakin bahwa arus pertempuran kembali berubah karena kekuatan lawannya juga meningkat pesat. Dia takkan mampu bertahan selamanya, kemungkinan terburuknya Hazama akan menggunakan kekuatan kutukan. Keringat dingin bercucuran di punggungnya, Hazama tak memiliki kepercayaan diri menghadapinya seorang diri.


“Apa kamu belum selesai juga, Aland? Situasinya bertambah semakin buruk, kondisiku yang sekarang tidak memungkinkan menghadapi semuanya.” Hazama berbisik kepada Aland di belakangnya yang masih terdiam dan menutup matanya.


“Sebentar lagi. Aku sedang menyiapkan sesuatu yang akan mengakhiri segalanya.”


Hazama mengangguk meski meragukan apakah Aland memiliki kartu yang akan mengakhiri pertarungan. Meski ragu namun dia mencoba untuk tetap percaya karena pada dasarnya mereka adalah rekan seperjuangan.


“Mau bagaimana lagi ... Aegist!” Perisainya kembali berubah dan menjadi sebesar manusia, kini ada bagian dari Perisainya mencuat seperti pedang dan di tancapkan ke tanah.


Helm zirah terukir di tengah perisai yang berwarna putih dengan garis biru. Tak cukup di situ, armor yang dia gunakan di lepas. Cahaya menyelimutinya dan membentuk armor gagah dengan garis-garis kebiruan.


Hazama memegang perisainya dengan dua tangan, dia mengacungkan bagian tajam dari Perisainya dengan wajah yang melukiskan wajah dari seorang pemenang.


“Hanya karena perubahan itu takkan memberi jaminan kemenangan.” Capella berkata sinis namun matanya mengembara dan mengamati seksama.


Dia tak menyerang langsung karena tahu bahwa perubahan kecil apa pun yang terjadi akan mempengaruhi pertarungan ke depannya. Bahkan bertambah kuatnya arus sungai meski hanya sedikit dia mampu mendorong batu pergi.

__ADS_1


‘Lawanku adalah Perisai, sudah pasti yang meningkat darinya adalah pertahanan. Tetapi jika begitu, apa gunanya bagian tajam dari Perisainya?’


Pahlawan Perisai hanya ahli dalam pertahanan dan tidak memiliki serangan, awalnya Capella berpikir begitu, tetapi melihat dia mampu membalikkan serangan dan meningkatkannya menjadi lebih kuat membuat Capella meragukan hal tersebut.


‘Ada kemungkinan bahwa Perisai memiliki hal lain yang selama ini dia sembuh dengan baik. Tak ada yang lebih merepotkan ketimbang kekuatan yang tidak diketahui. Selain itu ...’ Tatapannya beralih ke tempat yang jauh.


Konfrontasi besar sedang terjadi di sisi lain tempat ini, benturannya menyebabkan bencana alam bahkan mereka mampu melihat asap hitam yang berasal dari letusan gunung berapi.


Salah satu dari kekuatan besar yang bertarung mampu dikenali oleh Capella karena kekuatan itu adalah rekan sesama Pilar Iblis.


“Jika Leviathan harus menggunakan kekuatan sebesar itu, maka lawannya lebih buruk dari pada apa pun. Ini menyebalkan.”


Dia mampu menebak bahwa lawannya mungkin Pahlawan Tongkat dan tombak karena dari kejauhan, baik tongkat maupun tombak raksasa dapat terlihat dengan jelas. Bahkan ada tambahan sesuatu menyerupai kaki terjatuh dari langit di sekitar sana.


Capella bersyukur karena dia tidak terlibat di dalam pertarungan besar tersebut. Lebih dari apa pun Capella sadar bahwa dirinya takkan bisa bertahan jika pertarungannya sebesar dan intens seperti itu.


Namun tetap saja ada kekecewaan bahwa dia tidak mampu merasakan gairah besar dari pertarungan di sana. Berbeda dengan di sini yang mana dirinya lebih banyak menyimpan kemarahan ketimbang rasa senang atas pertarungan.


!!!


Sesuatu menggelitik dan Capella merasakan bahaya, dia berbalik dan menemukan Hazama melompat masuk. Dia mengincar kepalanya dan berusaha memotongnya dengan bagian yang lancip dari Perisainya.


“Jangan meleng!”


Capella melompat dan terhempas dengan kuat, meski berhasil menghindari tanpa luka namun tetap saja serangan tersebut menyebalkan dan mengejutkan.


“Ini benar-benar memalukan. Tak bisa dibiarkan, tentu saja aku tidak akan membiarkan. Kematian akan menjadi milikmu, dirimu akan diundang ke festival yang dilaksanakan oleh neraka, festival penyiksaan. Akan kirim kamu ke sana!”


Para Succubus yang melingkari mereka mulai mengangkat tangan, melipat jari dan membuat pose menunjuk ke pusat lingkaran di mana Hazama dan Aland berada. Cahaya keunguan tercipta, sebuah dinding ungu memenjarakan mereka di tengahnya, Hazama sungguh merasakan hal buruk darinya.


“Wahai kamu yang memancing kemarahan kami. Bersyukurlah atas undangan yang kami berikan. Jiwamu akan tercabik-cabik dalam panasnya api neraka ...” Capella memejamkan matanya dan mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, “Kini terbangunlah, perwujudan dari nafsu ... Territory — Embodiment of Lust!”


Dunia yang mereka lihat mulai berganti menjadi tempat yang terbakar oleh api ungu. Pemandangan banyak gadis Succubus tanpa busana yang bagian pentingnya tertutupi api muncul. Hazama merasa buruk dan segera mengambil tindakan pencegahan.


Dia menggunakan perisai bintang untuk melindunginya sekaligus Aland. Kekuatan pengaruh itu berbahaya dan dia tidak bisa lengah walau hanya sedikit. Perisai cahaya terbentuk dan segala pengaruh telah diblokir namun situasi tidak menjadi baik, justru semakin buruk karena mereka berada dalam Territory.


“Dia memang tidak sekuat Kemuel, tetapi kekuatannya adalah yang paling merepotkan.”


Dampak pertarungan dengan Kemuel masih membekas di tubuh Hazama. Seraphim yang dia lawan sebelumnya sangatlah kuat daripada lawan-lawan sebelumnya. Kekuatannya mungkin menyaingi atau lebih kuat dari Monster Malapetaka.


“Hm?” Hazama merasakan sesuatu di belakangnya dan menemukan Aland dikelilingi kekuatan besar. Palunya seolah berdenyut-denyut dan ada aliran listrik statis di sekitarnya.


Melihat hal itu memunculkan senyuman di bibirnya, dia tidak yakin apa itu namun di bumi ada sesuatu yang serupa dengannya. Hazama memilih untuk tetap menjaga Aland apa pun yang terjadi. Dia pasti memiliki kartu yang selama ini di simpan.


“Ini akan menjadi tugas yang sulit.” Hazama merasa kesal karena dia tidak memiliki Teritory untuk menghancurkan milik Capella.


Lendir mulai muncul dari seluruh wilayah Territory dan membentuk belut keunguan yang menghajar pelindung buatan Hazama. Awalnya dia merasa yakin hal tersebut tidak akan berguna namun kenyataannya ada hal yang mengganjal.


Pelindungnya kian melemah saat belut lendir melilit di sekitarnya. Sontak Hazama menemukan sesuatu yang mengejutkan, dia mulai merasakan keringat dingin mengalir melalui punggungnya.


“Lendir ini mengikis pelindungku? Tidak. Lebih tepatnya dia menyerap mana yang ada pada pelindung ini.”

__ADS_1


Jika keadaannya terus seperti ini maka hanya perlu waktu untuk pelindungnya hancur. Meski Hazama mampu membuatnya berkali-kali namun hanya perlu waktu sampai dia kehabisan mana. Melakukan sesuatu yang sudah pasti gagal adalah pemborosan, Capella menyadari bahwa Hazama takkan menggunakan langkah-langkah yang sia-sia.


“Kamu menyadarinya, kan? Lendir itu menyerap kekuatan dan tidak hanya kekuatan. Tetapi segala bentuk kehidupan tanpa terkecuali energi akan diserap. Inilah kekuatan sejatiku, menyerap kehidupan sampai layu dan pupus lalu memberikanku kekuatan yang dia serap.” Capella merentangkan tangan penuh kemenangan saat melihat Hazama bingung mengambil tindakan.


Semakin banyak kekuatannya menyerap energi maka Capella takkan pernah kehabisan kekuatan, singkatnya menggunakan strategi seperti ini hanya akan membuatnya lelah sementara Capella bertambah kuat.


‘Apa aku harus benar-benar menggunakannya? Itu sangat menyakitkan dan karena itu aku terus menghindari menggunakannya.’


Kutukan kebanggaan memberikan efek di mana penggunaannya menyombongkan segalanya. Yang berbahaya dari kutukannya akan mempengaruhi orang di sekitarnya sampai batas di mana mereka yakin yang terkuat dan mulai saling membunuh.


Tidak masalah jika hanya dia yang merasakan dampaknya namun jika orang lain ikut terkena, Hazama memilih menghindarinya sebisa mungkin.


“Hazama ...” Panggil Aland yang membuka matanya namun dia masih tidak melakukan gerakan berarti.


Menoleh Hazama menemukan palu Aland bersinar dan petir di sekitarnya semakin banyak. Pemandangan yang cukup mengerikan namun sangat meyakinkan bahwa dia mempersiapkan sesuatu yang hebat.


“Apa persiapanmu sudah selesai?”


“Ya. Namun ada satu kendala besar.”


Hazama mengerutkan alisnya, dia tidak tahu kendala seperti apa yang mungkin terjadi namun untuk saat ini lebih baik mendengarkan. Seandainya kendala tersebut mudah diatasi maka tak ada masalah. Hazama mungkin telah bersedia menyerahkan diri kepada kutukan kebanggaan.


“Kendala seperti apa? Aku mungkin mampu mengatasinya sampai batas tertentu.”


“Aku telah melakukan konfrontasi cukup lama dengan wanita itu, dan selama itu juga aku menerima pengaruh nafsu darinya. Kekuatanku sudah sampai pada batasnya saat mengaktifkan skill ini sehingga aku hanya percaya diri mampu melakukannya dalam sekali serangan. Setelahnya aku takkan mampu bergerak lagi.”


Hazama merasa yakin akan kata-katanya. Aland tidak akan mampu menghindari kekuatan pengaruh nafsu dan umurnya telah memendek sampai hanya mampu bertahan kisaran satu hingga dua tahun lamanya. Wajar jika dia tak mampu menggunakan banyak kekuatan lagi, fakta dia masih bisa sadarkan diri sudah sangat mengejutkan.


“Lalu apa yang harus aku lakukan? Memberikan satu kesempatan emas agar kamu bisa menyerangnya?”


“Ya. Sedikit saja tak apa, selama kamu mampu mengatasi penghalang yang ada, aku yakin mampu menebasnya dalam satu serangan.” Aland menunjukkan keyakinan kuat bahwa dia berhasil.


“Aku bisa melakukannya tetapi akan sulit melindungimu selagi bertarung dengannya.”


Lebih sulit melindungi selagi bertarung dengan Capella. Hazama tak percaya diri jika dia melakukan dua hal tersebut dalam satu waktu, alasannya berdiam siri sejak tadi karena harus melindungi Aland. Dia tidak bisa pergi jauh dari Aland.


“Tidak perlu khawatir. Selama Pilar Iblis itu tidak menyerangku secara langsung aku akan mampu melindungi diriku sendiri.” Aland melirik palunya dan mengeluarkan listrik yang berputar di sekitarnya.


Jika belut lendir itu menyerangnya Aland akan mampu mengatasinya namun lain cerita jika Capella sendiri yang turun tangan, Aland takkan bisa mengatasinya dan serangan yang dia siapkan akan gagal.


“Baiklah jika begitu. Lalu, jika seranganmu tak berhasil, segera teleportasi dan serahkan sisanya padaku.”


Aland mengangguk dan memahami maksud Hazama. Jika begitu maka dia pasti akan menggunakan kekuatan kutukan kebanggaan.


“Kalau begitu mari kita mulai. Aku akan melepaskan pelindungnya.”


Pelindungnya mulai runtuh dan belut lendir menyerang Aland namun mereka hancur oleh listrik yang berputar di sekitarnya. Hazama tak lagi merasa khawatir karena Aland tampak mampu mengatasinya.


“Apa kalian telah menyerah? Sayangnya sudah terlambat untuk merasakan kematian nikmat. Aku akan memberikan kematian menyakitkan.”


“Sayangnya kami memilih terus bertarung meski harus mati. Tak ada menyerah dalam kamus.” Aland berkata dengan dingin.

__ADS_1


“Kalau gitu ... Game Start.”


__ADS_2