
"Tahap Tiga : Kelahiran Para Dewa!"
Melepas segel menuju gerbang ke tiga, nyala rune di tangan kanan semakin terang dan bertambah satu garis, yang menjadikannya tiga garis sesuai dengan tahap yang ada.
Kekuatan hampa berkumpul pada tangannya, terhadap serangan yang mendekatinya yang hanya beberapa detik lagi mencapainya, dia tersenyum. Menghapus kekuatan semacam itu akan sulit, tetapi lain halnya jika menyerap atau—
"Enyah dari hadapanku..."
—menghancurkannya akan menjadi jalan yang boleh jadi bagus. Dia secara lembut mengepalkan jarinya dan bersamaan dengan jarinya yang terkepal, serangan di depannya menghilang bagaikan ilusi.
Cahaya hitam dan putih yang saling mengejar dan membentuk bola tidak stabil benar-benar lenyap, pemandangan yang sulit dipercaya oleh mata. Red, Acnologia, bahkan orang lain yang menyaksikannya tidak percaya dengan mata mereka.
Kekuatan yang pernah melenyapkan ratusan naga, kekuatan yang bahkan melenyapkan Kaisar Naga diatasi dengan begitu mudahnya..., siapapun tidak akan percaya dengan hal itu. Dewa masih mungkin melakukannya, namun ini hanya seorang manusia yang mendapat gelar Pahlawan, apa hal itu mungkin?
Untuk pertama kalinya dalam kehidupan, dia sampai kehabisan kata-kata untuk diucapkan. Rahangnya tidak bergerak, bukannya tidak bisa, tetapi tidak mau melakukannya. Lantas, kata-kata yang bisa dia ucapkan hanya—
"Kau..., apakah kau manusia?"
—pertanyaan yang tak lazim. Sesuatu yang seharusnya sudah jelas tidak perlu lagi ditanyakan, dia tahu dengan betul hal itu. Namun, kekuatan sedahsyat itu bukanlah sesuatu yang akan dimiliki manusia. Kendati dia benar-benar bukan manusia, tetapi Dewa dengan wujud manusia, maka...
"Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa diriku yang sekarang ini. Aku benar-benar tidak tahu, tetapi, aku dapat dengan jelas menyatakan bahwa diriku masih manusia."
Rigel tidak tahu harus menganggap dirinya apa. Dia pernah berbagi tubuh dengan Antares, mendapatkan kekuatan Void dari Dewa, bertarung layaknya monster tanpa akal, segala hal itu sama sekali tidak menggambarkan manusia.
Dia hanya bisa memastikan bahwa hati manusianya masih berada di tempat, jiwanya yang ternodai masih berbentuk manusia, raganya yang tak jelas masihlah berwujud manusia.
"Sekarang, mari bersungguh-sungguh...—"
Rune membakar tangannya dengan kekuatan yang meluap-luap dari terakhir kali menggunakannya. Alirannya serasa membakar, menggelitik..., menenangkan. Perasaan hampa tak dikenal menyelimuti dirinya hingga ke pembuluh darah.
"Aku terlalu meremehkan. Apa yang kuanggap kutu air kini menunjukkan taringnya..."
__ADS_1
Dia tahu dengan jelas bahwa kekuatan itu bukanlah sesuatu yang sangat, amat, teramat menyenangkan. Instingnya yang berkata seperti itu. Berusaha memberikan peringatan bahaya jika terlalu meremehkan.
Bukan pilihan yang buruk, Acnologia. Menggunakan Yamikari lebih awal termasuk keputusan tepat, cermat, bagus, cerdik, sampai-sampai mengerikan.
Meskipun tidak ada bedanya menggunakannya sekarang ataupun nanti, yang jadi masalah adalah dia tidak akan mengetahui lebih awal bahwa kekuatan itu mampu mematahkan Yamikari semudah mengupas kulit kacang.
"Sepertinya kamu mulai ketakutan, kadal. Aku berjanji akan memberikan kematian mudah bila dirimu menerima kekalahan dan berlutut di hadapanku."
Rigel tahu dengan jelas perkataannya sendiri konyol, dia tahu itu namun dengan lantang menyatakannya. Dia sama sekali tidak meletakkan harapan bahwa Acnologia akan mematuhinya begitu saja. Bahkan jika dia merasa takut, dia memiliki keyakinan bahwa rasa takut hanya membawanya ke pertarungan yang lebih mengerikan.
Bagian paling buruknya, dia harus menyerap kehidupan di tempat ini dan bahkan menggunakan penghancuran di tahap lima.
Dia tidak mau menggunakannya, meskipun tidak pernah tahu kekuatan apa yang menunggu.
Tahap pertama, Kehampaan, dapat menghapuskan kekuatan sampai batas tertentu, bahkan bisa melemparkan energi yang menghapus sesuatu. Contoh dia melempar energi dalam jumlah kecil ke batu, alhasil akan membentuk lubang super rapih.
Tahap dua, Penciptaan Dunia, hampir tidak ada bedanya dengan tahap pertama yang menghapuskan segala macam bentuk dan kehidupan. Tahap dua dapat membentuk energi tidak stabil yang dapat meledak dan melenyapkan segala bentuk fisik apapun yang berada dalam jangkauannya.
Tahap tiga, Kelahiran Para Dewa, kekuatan lanjutan dari kehampaan yang memungkinkan Rigel bergerak di zona waktu yang melambat ataupun terhenti, dalam batas waktu tertentu. Tahap tiga ini juga memungkinkannya memperkuat penggunaan Territory of Void.
..."Hah, takut? Cobalah jika kamu bisa membuatku takut, manusia!"...
"Sesuai permintaanmu!"
Acnologia menerjang dan Rigel juga menerjang. Mereka bersatu dengan angin sampai-sampai mata manusia biasa yang tidak terlatih dengan baik tidak akan bisa mengikuti pergerakannya.
Berusaha menggali luka demi luka, pukulan demi pukulan, hantaman demi hantaman, benturan demi benturan, mereka berusaha mengambil nyawa satu sama lainnya.
Pertaruhan antara manusia terkuat melawan naga terkuat membludak dengan kehancuran tak tertandingi. Bola hitam putih dan bola biru, semburan api dan ledakan api, cakar naga dan tinju manusia saling berbenturan dengan liar.
"Tidak ada celah pertempuran yang bisa aku manfaatkan. Jika masuk dengan sembarangan—"
__ADS_1
—aku akan mati sia-sia.
Red dengan jelas merasakan bahwa pertempuran di depannya sudah berada di dimensi yang berbeda. Sekali lagi, tentang manusia bernama Amatsumi Rigel, dia harus mengevaluasi segala hak tentangnya sekali lagi.
Entah berapa kali sudah dia melakukannya, dia lupa. Terlalu banyak dirinya merubah evaluasi terhadap Rigel sampai tidak lagi ingin menghitungnya.
Red berencana untuk melihatnya saja, tetapi dia mengurungkan niatnya itu. Tujuannya datang ke sini bukan untuk melihat pertarungan mereka, tetapi menyelamatkan ras mereka dari tangan Acnologia.
Selain itu, dia sangat terkejut dengan Ratu peri ikut bertempur dan menuju sarang Acnologia untuk alasan yang tidak terlalu dia pikirkan.
"Tetap saja, mencurigakan jika dia memiliki minat kepada manusia, terutama para Pahlawan yang dia benci."
Seringkali dia memikirkannya semenjak melihat Rigel dan Sylph berdampingan. Dia terlalu banyak mengabaikan berbagai hal sampai melewatkan bagian penting yang seharusnya dia perhatikan.
"Untum sekarang, mari kira bunuh campuran menjijikkan!"
Dia melebarkan sayapnya dan bergabung dengan naga lain ke medan perang.
"Gila, sepertinya keputusan kita tidak salah menyerahkan yang di sana kepada Rigel," ujar Petra selagi melihat pertarungan hebat di belakangnya.
"Dari manapun kau melihatnya, kekuatannya bukan sesuatu yang dimiliki manusia. Aku bersyukur bahwa ada orang seperti dirinya di pihak kita!" seru Marcel.
Bila mana sejak awal Rigel tidak pernah berada di sisi yang sama, kesulitan mereka takkan terelakkan. Dengan kemampuan Creator yang membawa senjata modern ke dunia ini, kekuatan tempur negara maupun individual sangatlah kuat.
"Bukan waktunya untuk mengobrol! Selagi Acnologia terfokus kepada Rigel, kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menghancurkan dalang di balik kekacauan!" ujar Sylph yang memimpin jalan selagi menjerat monster yang menghadang dan membiarkan para Pahlawan yang membunuhnya.
"Itu benar, semakin cepat kita mengalahkan dalangnya—"
"—semakin cepat kita bisa menolong Rigel!"
Takumi mengkhawatirkan sesuatu, tentang apa yang diberitahukan Rigel beritahukan kepadanya dan Yuri, tentang tahap empat kekuatannya yang teramat mengerikan.
__ADS_1
Takumi tidak ingin Rigel mengotori tangannya semakin jauh, tidak ingin membuatnya menanggung dosa lebih banyak lagi dan yang penting dari yang paling penting..., dia tida ingin Rigel kehilangan jati dirinya.
Pertarungan besar dan pertaruhan besar yang dimiliki semua orang, karena masa depan mereka tengah dipertaruhkan.