
SRING! CLANG! SRING!
Percikan dari dua logam yang berbenturan di tempat yang disebut Endless Dream. Mimpi tanpa akhir yang hanya dimiliki saat raga seseorang terperangkap dalam suatu tempat.
Es Abadi yang memenjarakan Ray dan Regulus di dalamnya, kemudian kemampuan tersembunyi dari pembekuan tersebut adalah membawa batin mereka ke dunia ini, Endless Dream. Tempat yang hampir mustahil untuk menerima gangguan dari dunia luar, alasan Regulus membawanya kemari karena tak ingin mendapatkan gangguan.
“Ku akui kamu begitu kuat sampai aku yakin akan kalah dalam beberapa pertukaran. Dan karena itu aku tidak ragu membawamu ke sini dengan menggunakan Es Abadi. Jujur saja, ada bagian dari dirimu yang membuatku takut.” Regulus berkata selagi berbenturan dengan Ray.
Dengan dunia ini yang adalah miliknya, Regulus mampu menggunakan alam sekitar untuk menyerang Ray. Tak ada keraguan bahwa Endless Dream adalah kartu terkuat yang dimiliki olehnya.
“Rupanya kamu cukup pengecut, ya-!” Ray berteriak dan menyatukan dua bilahnya, cahaya keemasan melesat dan menghancurkan es yang tiba-tiba muncul melindungi Regulus.
“Terserah apa katamu. Menggunakan cara kotor dan pengecut adalah keahlian iblis. Sekalipun bersujud lalu memenggal kepalamu, aku tidak akan ragu melakukannya!” Regulus mengulurkan tinju dan memukul udara, tangan es raksasa muncul dan menghantam Ray.
Beruntung dia bereaksi cepat. Ray berputar dan menghindari tinju es dengan sempurna. Meski menjengkelkan karena Regulus mulai menjaga jarak darinya namun dia tak mampu berbuat banyak hal.
‘Aku harus melakukan sesuatu.’
Ray tak percaya diri jika harus bertarung dari jarak yang jauh. Dia payah untuk menggunakan sihir dan diantara skill senjatanya tak ada yang benar-benar berguna untuk serangan jarak jauh, paling banyak mungkin dekat dan menengah.
Hal yang bisa dia lakukan adalah dengan membuat keadaan di mana dirinya mampu mengambil jarak stabil dengan Regulus.
‘Membayangkannya sungguh mudah tetapi eksekusinya lebih rumit.’
Ray berdecak, dia mengumpat kelemahannya dalam penggunaan serangan jarak jauh. Dia hanya punya satu yang mampu menyerang dari jarak yang jauh, tetapi berguna atau tidaknya tidak diketahui.
“Ada apa Pahlawan? Ini jadi tidak menyenangkan bila dirimu berperan sebagai samsak.” Regulus tersenyum sinis dan begitu menikmatinya.
Nikmat melihat Pahlawan kesulitan dan berjuang begitu keras untuk hidup, pemandangan tersebut adalah yang tak tergantikan. Sedikit penyesalan timbul karena dia tak mengundang Seraphim tetapi apa pun keadaannya dia harus tetap menikmati.
Ray mengambil pijakan lalu melompat, Regulus menyerang dengan pilar-pilar es yang mencuat ke langit. Hal tersebut memang menyusahkan tetapi juga menguntungkan karena Ray tak perlu khawatir mendapatkan serangan tersembunyi dari Regulus. Dia bisa berlindung kapan saja bila waktunya terjadi.
Namun buruknya jika hanya menghindar terus dia takkan bisa pernah keluar dari tempat ini. Menyerang adalah pertahanan terbaik, jika dia bisa melakukan serangan beruntun yang membuat Regulus kewalahan, kemenangan akan berpindah sisi.
Menguatkan tekad dan mematangkan strategi di kepalanya, Ray bersembunyi di balik pilar es yang dibuat Regulus. Menemukan tindakan mengejutkan tersebut, Regulus mengejek namun meningkatkan kewaspadaannya.
Dia bukanlah naif yang akan melonggar hanya karena hal tersebut, di waktu panjang yang sudah dia jalani. Manusia selalu melakukan trik-trik rendahan namun sangat menyebalkan jika terjebak di dalamnya.
“Apa kamu sudah menyerah? Pahlawan hanya seperti ini saja, ya. Kalian ini sungguh mengecewakan. Ah, aku benar-benar bosan denganmu, kubunuh saja ya?”
Provokasi murahan tersebut tidak akan pernah berhasil kepada Ray, tak peduli apa pun yang mungkin dibicarakan orang, Ray takkan pernah jatuh hanya karena Kalimat belaka. Dia bukan orang tidak sabaran, lisan takkan berpengaruh kepadanya seperti seseorang berbicara kepada orang tuli.
Memejamkan mata dan menyilangkan belatinya, Ray mulai melakukan sihir yang mana butuh waktu lama untuk aktivasi. Tidak hanya karena dia tidak lihai menggunakan sihir, tetapi penyiapannya sendiri membutuhkan waktu.
‘Di luar skill Pahlawan dan sihir dari teknik belati, hanya sihir ini yang benar-benar di luar belati, dan satu-satunya yang aku bisa.’
__ADS_1
Tak ada cara untuk mempersingkat penyiapannya, dia bukan Leo yang begitu cerdas melakukan banyak hal, bahkan mampu melakukan sihir ini seperti halnya dengan bernapas.
“Hahaha, kamu benar-benar putus asa, ya? Bersembunyi seperti tikus namun tidak menyadari kamu sudah terperangkap di dalam jebakan. Hanya ada satu pintu keluar dari tempat ini, yaitu aku. Aku adalah kunci sekaligus gerbang dari tempat ini.” Regulus mulai berbicara, dia tahu Ray sedang melakukan sesuatu dan berusaha mengacaukannya dengan kata-kata.
Dia adalah kunci dan gerbang keluar dari Endless Dream, kalimatnya mungkin tidak masuk akal tetapi sangat mungkin demikian. Sejauh ini, Endless Dream seperti Territory tanpa seorangpun bisa keluar-masuk seenaknya. Namun, tidak ada tempat apa pun tanpa jalan keluar.
Jika seseorang bisa masuk maka seseorang pasti bisa keluar. Kalau tidak begitu, bagaimana bisa seseorang tahu ada sihir seperti ini? Bahkan Regulus tidak akan bodoh untuk membuang nyawanya hanya demi seorang Pahlawan. Pastinya, disuatu tempat ada jalan untuk keluar, atau juga tempat itu adalah Regulus sendiri.
“Akan kuberitahu dirimu yang berwawasan sempit. Di tempat ini, satu-satunya cara untuk keluar adalah menghadapiku namun semuanya tidak sesederhana itu. Aku adalah gerbang untuk keluar, di satu sisi aku juga kunci untuk membuka gerbang. Jika kamu membunuhku dan berhasil mendapatkan gerbang, selama tidak ada kuncinya, kamu takkan pernah bisa keluar. Kunci dari gerbang itu sendiri adalah aku.”
Untuk menemukan jalan keluar dari tempat ini maka Ray harus membunuh Regulus dan menciptakan gerbang untuk keluar. Namun masalah terbesar adalah untuk membuka gerbang tersebut Ray harus mendapatkan izin dari Regulus, sebagai kunci pembuka gerbang.
Tentunya mustahil mendapatkan kunci tersebut karena mau bagaimanapun mereka adalah musuh yang harus membunuh satu sama lainnya.
“Singkatnya, kamu takkan pernah bisa keluar meski berhasil mengalahkanku. Kamu akan menangisi kehidupan di dalam keabadian Endless Dream.”
Regulus merentangkan tangannya selagi tersenyum penuh kemenangan. Dia yakin mampu mengguncang Ray dengan kata-katanya tersebut. Habisnya di tempat ini seseorang tidak akan mati karena umur namun masih mungkin untuk mati di tangan orang lain atau bahkan bunuh diri.
“Daripada Endless Dream, tempat ini lebih tepat disebut Unlimited Prison.” Ray akhirnya menanggapi pernyataan yang dibuat Regulus.
Dia cukup bersyukur karena Regulus mulai berbicara dan memberinya waktu namun masih tidak cukup. Untuk itu dia perlu membeli lebih banyak waktu dengan meladeni pembicaraan konyol ini.
“Namun tidakkah dirimu sadar telah mengungkapkan informasi penting kepadaku? Aku yakin kamu berusaha menyembunyikannya tetapi tidak cukup cerdas dalam permainan kata.”
“Apa maksudmu? Mungkinkah langkah-langkah putus asa yang kamu ambil? Itu terlalu menyedihkan untuk sekelas Pahlawan.”
“Benar, kah? Menurutku yang menyedihkan adalah kamu karena mengungkapkan informasi ini.” Ray berkata dengan intonasi yang mengejek, “Jika apa yang kamu katakan adalah benar, bahwa dirimu adalah satu-satunya jalan keluar, maka itu akan menjadi sangat aneh.”
Sangatlah aneh jika si pengguna adalah satu-satunya jalan keluar dari tempat ini. Jika demikian Endless Dream adalah kekuatan paling mengerikan dari banyaknya jenis kekuatan. Dengan Endless Dream tersebut Regulus cukup mampu menjebak Seraphim, bahkan Rigel yang paling dikhawatirkan oleh Lucifer.
Namun dia tidak pernah melakukannya. Tidak, justru dia tidak bisa melakukannya. Ada satu celah kecil yang menjadi kelemahan paling fatal dari Endless Dream. Meski hal tersebut masihlah spekulasi namun Ray meyakininya karena fakta Regulus masih ada di sini.
“Jika kamu adalah satu-satunya jalan untuk keluar, mengapa dirimu tidak pergi dan meninggalkanku di sini? Jika aku jadi kau, ketimbang bersusah payah membunuh di sini, lebih baik meninggalkannya sendirian. Dengan hal itu, tempat ini akan sempurna. Namun kamu tidak melakukannya. Kamu tidak bisa melakukannya. Ada sebuah kecacatan dari tempat ini yang tidak bisa diabaikan.”
Mengapa perlu untuk memasuki tempat ini Regulus harus membekukan dirinya dan Ray? Apa alasannya dia mau merepotkan diri berurusan dengannya dan tidak meninggalkannya saja di tempat ini??
Ray merasa bodoh karena sempat memikirkannya secara mendalam. Jika saja Rigel yang ada di posisinya, dengan begitu mudahnya dia akan menemukan rahasia di balik tempat ini.
Mendengarnya ucapan Ray membuat Regulus berwaspada. Tetapi dia tidak bertindak segera, jika dirinya menjadi marah maka hal tersebut mengkonfirmasi kecurigaan Ray adalah fakta.
“Hanya ada satu pintu untuk keluar, kuyakin itu benar. Namun kurasa ada cara lain untuk keluar dari tempat ini. Alasan dinamakan Endless Dream, mengapa kamu tidak mengundang semua Pahlawan, atau mungkin beberapa orang merepotkan bagi para iblis, contohnya adalah Rigel. Ternyata cukup mudah caranya. Karena tempat ini mimpi, maka aku hanya perlu menghancurkannya atau aku harus terbangun darinya.”
Mendengar pernyataan meyakinkan milik Ray membuat Regulus membatu dan hening. Dia tak mampu berucap apa pun, faktanya apa yang dia katakan adalah benar.
Jika saja Rigel atau Ozaru yang ada di sini, dengan kekuatan gila yang mereka miliki sangat mungkin menghancurkan tempat ini. Dengan Endless Dream hancur maka besar kemungkinan untuk kembali. Namun cara tersebut tidak semudah kedengarannya.
__ADS_1
“Bahkan jika kamu mencobanya, akan sangat sulit melakukannya. Aku akui kebodohanku mengungkapkan hal yang tidak perlu. Namun kenyataannya sekalipun kamu menghancurkannya, tidak ada cara bagimu untuk terbangun.”
“Aku tahu itu. Kenyataan bahwa kamu hanya membawa diriku maka ada batasan di mana tempat ini menerima tamu. Dan juga tidak sembarang orang bisa masuk. Rigel dan Ozaru mampu membuat situasi di mana tempat ini menampung lebih banyak dari yang dibisa. Sementara alasanmu tidak mengajak Pahlawan lain, karena mungkin harus ada keseimbangan kekuatan tertentu.”
Orang-orang yang Kekuatannya tidak masuk akal tidak akan bisa terperangkap di tempat ini, bahkan jika bisa, Endless Dream akan cacat. Dan alasan lain mengapa hanya Ray yang ada, pastinya batasan untuk masuk terbatas.
“Lalu satu hal lagi. Jika aku mrngalahkanmu, atau tempat ini hancur, selama ada seseorang yang mampu menarik batin ataupun jiwaku kembali ke tubuh, sangat mungkin untuk kembali.”
“Eternal Ice!” Regulus segera mengerahkan serangannya dengan penuh kemarahan, sudah sangat lama dia tidak menjadi semarah ini.
“Sepertinya itu benar, ya!” Ray segera melompat keluar dan menerjang menuju Regulus, “Ilusion Magic— Seven Shadow!”
Cahaya menyilaukan muncul dari tempat Ray. Tujuh bayangan menyerupai Ray muncul, mereka melompat dan berlari zig-zag mendekati Regulus. Regulus tampak kerepotan mencari yang asli, dia memilih menyerang semuanya sekaligus namun mereka bergerak sangat lincah. Kehabisan kesabaran Regulus berteriak dengan keras.
“Ice Thorn!”
Ratusan es keunguan berbentuk duri muncul dan tidak menyisakan celah bagi tujuh bayangan Ray untuk menghindar. Ketujuhnya ditusuk tepat di dada dan bahkan ada yang di kepala. Mereka juga mengeluarkan darah namun wajahnya datar dan segera mereka menghilang.
Regulus terbelalak karena tidak ada satu pun dari mereka yang asli. Dia mencari ke sekitar tanpa pernah menemukan siapa pun.
TAK!
Es di bawahnya retak dan Ray muncul dari bawahnya, kedua belatinya terulur dan memberi luka panjang dari perut hingga dadanya.
“KEPARAT!” Regulus mengangkat tinggi tangannya, dengan sikut tangan tersebut dia menghancurkan kepala Ray.
Darah segar mengalir, dia merasa yakin akan kemenangannya. Tetapi pemandangan menghilangkannya ilusi lain muncul. Yang menyerang dirinya barusan juga bayangan.
“Di mana yang asli?!” Regulus kembali mencari sekitarnya, lagi-lagi tidak menemukan siapa pun.
“Ini adalah akhirmu-!”
Mendengar suara keras tersebut, Regulus menengadah dan menemukan Ray sedang terjun bebas ke arahnya, dengan kedua bilah yang bersinar terang.
‘Begitu, dia memanfaatkan cahaya terang dari kekuatan ilusinya untuk melompat tinggi!’
Ray juga diam-diam menyimpan bayangan ilusinya di bawah tanah tempat Regulus berpijak. Seven Shadow, Ray sengaja mengatakannya demikian karena kenyataannya ada delapan bayangan. Dia sebelumnya menciptakan satu bayangan dengan jenis yang lebih rendah dari Seven Shadow yaitu — First Shadow. Sihir ini sungguh berguna karena Ray mampu membuat bayangan dalam jumlah tertentu.
“Aria Of Destruction!”
Tubuh Regulus terbelah dua, bersamaan dengan Endless Dream yang terbagi menjadi dua bagian dalam potongan yang sempurna.
“Tidak mungkin ... kalah.” Kata-kata terakhir yang diucapkan Regulus sebelum kehilangan kesadaran untuk selamanya.
Ray duduk dengan lemas, napas megap-megap. Dia menatap dunia yang perlahan hancur, bagian-bagiannya mulai menghilang seolah tidak pernah ada. Segera cahaya emas datang dari langit, perasaan hangat menyelimutinya dan menarik dirinya keluar dari tempat.
__ADS_1