
Benua iblis yang rahasia di mana hanya kaum iblis yang mampu keluar masuk dengan bebas, pemandangan di mana jutaan iblis berbaris rapih dengan setelan lengkap untuk peperangan.
Di hadapan panggung yang dibangun di sebuah istana hitam yang megah mereka semua berlutut di hadapan Iblis dengan enam sayap dan para punggawanya yang perkasa.
“Tuan semuanya sudah siap.” Zenos datang berlutut di depan Lucifer yang duduk di singgasana dengan penuh keangkuhan.
“Ya tanpa diberitahu aku sudah melihat betapa antusiasnya mereka.” Lucifer tersenyum angkuh dan menatap langit merah disertai bulan, di sisi lain langit terdapat matahari, “Dari matahari berasal maka malaikat akan datang dari sana.”
Lucifer mampu merasakan bahwa para prajuritnya bergetar akan rasa ketidaksabaran untuk hari yang telah lama dinanti, semua iblis ini tidak akan pernah takut untuk mati dalam peperangan.
Dia bangkit dari kursinya dan menatap semua iblis yang tunduk kepadanya, para iblis yang menukarkan nyawa untuk bukti kesetiaan mereka kepada Lucifer.
“Seperti yang kalian rasakan dari perubahan mana pada dunia, langit telah menunjukkan bahwa peperangan telah dimulai. Aku yakin kalian lama menantikannya dan kalian semua tidak sabar membunuh dan dibunuh.” Dengan senyumnya yang lebar serta mengerikan Lucifer merentangkan tangannya lebar-lebar, “Dengarkan ini bajingan sekalian, tidak peduli apa yang akan ditunjukkan ras lainnya, menggila dan bunuh mereka semua!”
“Roarh!” Sebagai bentuk antusias pasukan Iblis mengaum keras selagi mengangkat senjata mereka.
Pasukan iblis dengan hawa nafsu untuk membunuh yang besar meneriakkan kemarahan dan kegembiraan, darah akan segera tumpah dan membakar dunia oleh semangat peperangan.
...***...
Tong! Tong!
Lonceng besar berbunyi dan bergema entah dari mana asalnya, suaranya seakan berasal dari langit. Bumi kembali bergetar namun bukan karena peristiwa alam melainkan langkah kaki pasukan manusia yang menuju Britannia, tembok terdepan dari medan perang yang akan terjadi.
“Region akan menjadi garis pertahanan terakhir umat manusia, segera pergi ke Britannia, pertahanan terdepan umat manusia!” Dengan perintah tersebut semua pasukan bergegas.
Selagi mereka dalam perjalanan sudah ada seseorang yang berdiri di medan perang sendirian, pria dengan rambut putih yang berdiri tegak dengan kedua tangannya di saku.
__ADS_1
“Tempat kami membunuh Tortoise akan menjadi medan perang, baguslah karena tempat tidak terjamah ini yang akan hancur.”
Pria itu adalah Rigel yang berdiri sendirian, alasan dia tahu tempat tersebut menjadi medan perang karena lokasi itulah yang menjadi titik tengah antara matahari dari sebelah kanan dan bulan sisi lainnya.
Dari lokasi matahari berada terbentuk sebuah gerbang keemasan besar yang sampai kini belum terbuka namun pasti akan terbuka, sementara di sisi lainnya Rigel merasakan aura jahat terbang ke sini.
“Mereka di sini.” Rigel melihat ke langit di mana cahaya hitam dan keemasan terbang dari arah berbeda.
Kejatuhan mereka menyebabkan pepohonan disekitar lenyap menyisakan tanah kosong tanpa kehidupan atau benda, tempat tersebut benar-benar kosong sejauh mata memandang.
Untungnya Rigel telah membuat sihir pertahanan sehingga apapun yang terjadi dia tidak tidak akan terkena dampaknya, meski begitu medan tempur yang kini kosong cukup memprihatinkan.
“Hahaha, takku sangka kita memiliki pemikiran yang sama.” Lucifer tertawa puas saat menemukan pemimpin dari setiap ras berkumpul di sini lebih awal atas inisiatif sendiri.
“Iblis bodoh dan manusia cacat, kalian tampak sehat sejak terakhir kali kita bertemu.” Michael menatap Rigel dengan tatapan tertarik, “Terutama dirimu, tak hanya rambutmu yang memanjang tetapi perubahan tubuhmu terlalu drastis.”
Selain rambutnya Rigel juga tak membiarkan fisiknya menurun dan sering melakukan latihan, dia juga belajar pedang dan senjata lain dari dasar sebagai bentuk persiapan untuk perang.
“Aku yakin kalian datang untuk mengatakan sesuatu, silahkan katakanlah jika itu penting.” Rigel mengetahui niat dua ras tersebut hanya dengan sekali pandang, lantaran dia juga memiliki niat tertentu.
Jarak mereka bertiga memang sangat jauh namun karena sepinya tempat ini suara mereka mencapai satu sama lain.
“Sungguh lancang menyuruh mahkluk sempurna sepertiku, mengapa tidak kamu yang lebih rendah atau iblis bodoh di sana?”
“Lelucon yang bagus, aku penasaran apa sebutan untuk ras cahaya yang bahkan lebih bodoh dari iblis? Armageddon seharusnya yang paling mengecewakan melebihi manusia, meski kekuatan mereka hebat sayang tak dilengkapi otak.” Lucifer menggelengkan kepalanya dengan kecewa.
“Aku setuju bila malaikat itu bodoh, namun tidakkah kamu sadar bahwa baik itu iblis ataupun malaikat memiliki wujud fisik yang jelek? Aku bersyukur lahir sebagai manusia.” Rigel melemparkan sebuah umpan yang langsung menangkap dua ikan.
__ADS_1
Mereka saling melemparkan provokasi murahan sebagai salam satu sama lain, cara yang aneh untuk mengatakannya namun Rigel lebih nyaman dengan ini ketimbang berbicara baik dengan dua orang di depannya.
“Ini tidak ada akhirnya, sebaiknya katakan niat kalian sesegera mungkin.” Rigel menghela napas lelah dan menatap mereka dengan merendahkan.
“Hahaha, silat lidah juga bukan keahlianku.” Lucifer tertawa senang dan melipat tangannya.
“Aku siap meladeni ocehan kalian yang lebih rendah.” Ujar Michael saat mengelus sayapnya yang cantik.
Diwaktu yang sama senyuman beringas menghiasi bibir ketiga orang tersebut, tatapan haus akan darah terpancarkan dari ketiganya, disertai niat yang bersatu tersebut secara serempak mereka menyuguhkan:
“Dalam 24 jam yang akan datang, aku akan menghancurkan kalian!” 3x.
Mereka memiliki niat yang sama untuk menghancurkan ras lainnya dan memenangkan peperangan yang tiada artinya ini, mereka mungkin tidak akan mendapatkan apapun namun sebagai gantinya akan dibuktikan ras pemenang adalah yang terkuat.
Puas hati mengatakan apa yang ingin disampaikan, ketiga orang tersebut menghilang dari medan perang yang sudah disiapkan. Rigel kembali ke Britannia, 12 Pahlawan telah menunggu beserta para pejuang dari seantero dunia.
Dia datang tepat saat Takumi menyampaikan pidato yang segera diserahkan kepadanya. Rigel mengangguk dan menghadap semua orang, pidatonya juga akan disebarkan ke banyak tempat.
“Waktunya telah tiba, hari yang menentukan nasib kita akan datang dalam 24 jam mendatang.” Rigel berhenti sejenak sebelum menatap kembali para prajurit Legion Of Liberation, “Aku tak pandai merangkai kata, yang bisa kusampaikan hanyalah ... Mati di peperangan ini atau mati di hari-hari kita membusuk karena melarikan diri dari perang? Kalian pasti tahu jawabannya, kan. Untuk sekarang, korbankan nyawa kalian untuk kebebasan! Mari tunjukkan kekuatan tempur manusia!”
“YA!”
Sorakan penuh semangat membara bergema, semangat para prajurit ada pada puncaknya dan akan terus berlanjut sampai dimulainya hari perang.
Rigel undur diri dan segera pergi ke suatu tempat. Sebelum pergi Ray datang dan membisikkan sesuatu yang membuat Rigel tersenyum.
“Bagus, mari buat besok jadi festival kembang api yang menyenangkan.” Rigel tersenyum sinis dan menantikan hari esok.
__ADS_1