
“Itu ... Pahlawan Creator!” Seorang prajurit berseru selagi menunjuk podium.
Seorang pria dengan rambut putih berdiri tegak, sekilas wajahnya terlihat marah namun segera kembali datar. Siapapun akan mengenali warna rambut yang identik tersebut, diantara para Pahlawan hanya ada satu orang seperti itu.
Segera para prajurit mulai berbisik-bisik akan kedatangannya yang tidak diketahui tujuan aslinya.
“Apa yang beliau lakukan di sini? Kudengar rencana para Pahlawan masih berjalan.”
“Mana kutahu, mungkin dia memiliki pengumuman seperti perubahan rencana?”
“Namun untuk apa repot-repot datang secara pribadi. Seharusnya dia bisa melalui perantara Kaisar Surgawi.”
“Itu benar juga ... Namun mungkinkah dia ingin mengerahkan kita lebih cepat dari jadwal?”
“Mungkin saja ... Namun dari yang aku dengan Pahlawan Creator bukan orang yang mau merepotkan diri dengan hal ini. Jika dia ingin mengerahkan kita maka antara Kaisar Surgawi, Pahlawan Tombak dan Pahlawan Sabit yang akan melakukannya.”
“Lalu apa tujuannya?”
“Entah. Mungkin saja, ada suatu peristiwa yang terjadi.” Di tengah percakapan para prajurit Odin yang juga salah satunya memotong dan membungkam mereka semua.
Di suasana yang kian hening tersebut Rigel terus menatap dan membuat kegelisahan yang nyata, sampai dia membuka mulutnya semua prajurit merasakan perasaan yang sulit di mengerti.
“Pahlawan Sabit ... Marcel telah gugur. Tidak hanya dia, tetapi Ray, Pahlawan Pisau telah membeku di Es Abadi.”
Satu kalimat yang membuat jutaan orang tercengang dan membatu, tiada kata yang sanggup mereka keluarkan. “Mustahil!” itu yang serempak semua orang pikirkan.
Tanpa keraguan mereka percaya bila Pahlawan akan memiliki peluang yang amat besar dalam perang ini. Habisnya mereka berhasil mengalahkan semua Monster Malapetaka, Pilar Iblis atau Seraphim bukan apa-apanya, kan?
Mereka naif berpikir demikian. Meski Pahlawan penuh keagungan pasukan Legion lupa akan satu hal penting.
“Mustahil, kan? Dia ... seorang Pahlawan, loh.”
Odin datang ke prajurit yang menggumamkan hal tersebut dan menepuk bahunya, “Apa kamu pikir Pahlawan bukan manusia?”
Dia sengaja mengatakannya dengan lantang karena sejak awal Odin telah diberikan instruksi saat waktunya tiba Rigel akan memberikan pidato semangat, meski tidak tahu apa ini waktu yang tepat atau tidak.
“Ya, kami hanya menerima gelar Pahlawan. Meski begitu kami tetap manusia.” Rigel menambahkannya begitu mendengar perkataan Odin, “Saat kalian kesulitan Pahlawan akan datang menolong, namun begitu Pahlawan kesulitan siapa yang akan datang? Aku ingat pernah mengatakan hal serupa sebelumnya.”
Sekali lagi semua orang terdiam dalam keheningan yang berlangsung lama, ada yang terlihat berusaha menahan tangis namun tampaknya semua orang merasakan hal yang sama.
“Peperangan ini akan menelan terlalu banyak korban, sangat banyak sampai mustahil menghitungnya.” Rigel menatap langit dalam diam, meski kesan dirinya terlihat dingin namun sejujurnya dia ikut berduka atas kematian Marcel.
Entah apa Ray bisa diselamatkan atau tidak, namun hati kecilnya berharap masih ada kesempatan untuk selamat.
__ADS_1
“Meski begitu, walaupun perang ini akan membunuh kalian, apa kalian tetap akan melakukannya?” Rigel menatap lautan manusia di depannya yang tak lagi menahan air mata, “Dua Pilar Iblis berhasil di bawa ke neraka dengan bayaran nyawa mereka. Seandainya kemenangan tercapai dengan mengorbankan nyawa kita, maukah kalian melakukannya?”
Semua orang masih tidak mampu menjawabnya, yang menangis berusaha menghentikan tangis, sementara yang menahan tangis mulai menangis. Ada juga yang tidak menangis atau menahannya seperti Odin. Orang-orang seperti itu merasakan perasaan lain di hati mereka yang bukan kesedihan.
“Sekalipun kalian memiliki pencapaian yang berarti, hanya nama kami para Pahlawan yang terukir dalam legenda. Nama Kalian akan dilupakan sampai generasi anak dari cucu kalian, meski begitu kalian masih mau berjuang? Jika ada yang tidak siap mati, aku tidak melarangnya mengundurkan diri sekarang.”
Berita kematian Pahlawan pasti menggoyahkan tekad mereka dan pejuang yang kehilangan semangat bertarung hanya sampah tidak berguna. Dari pada membiarkan sampah tidak berguna ada sebaiknya Rigel membuangnya sejak awal.
Melebihi harapannya, tidak seorang pun prajurit maju untuk menyatakan kemunduran diri. Dia terus menunggu sampai seseorang melangkah maju.
Seorang gadis bernama Bellemere yang terpilih menjadi wakil pasukan karena kemampuannya meletakkan helm yang dia gunakan dan berlutut di depan Rigel. Gadis cantik rambut coklat dengan tatapan kuat yang penuh air mata, menyatakan tekadnya.
“Saya wakil pemimpin pasukan Sparta yang berada di bawah komando Pahlawan Sabit yang telah gugur, Bellemere Altrasia. Saya menyatakan tekad untuk membalaskan kematian belia, mohon izinkan kami bertempur segera! Kami mohon!”
“Kami mohon!” Serempak seluruh pasukan Sparta berlutut.
Tidak hanya Sparta, wakil pasukan lainnya mulai ikut serta.
“Kami pasukan Berserker siap mengorbankan nyawa!”
“Pasukan Hetairoi akan mengerahkan segenap kekuatannya!”
“Kami pasukan Herakles siap berkorban untuk masa depan cerah!”
Inilah tujuannya. Perasaan ini yang ingin Rigel harapan dari Legion Of Liberation. Kemarahan mampu menguatkan seseorang, rasa takut akan kematian dapat mereka lupakan dan kegilaan di medan perang tidak akan terelakkan kembali.
“Bagus, sangat bagus, aku mengakui tekad kalian! Dalam perang yang penuh kekacauan ini, kegilaan sangat dibutuhkan, aku tidak membutuhkan orang waras di medan perang!”
“Heargh!” Para prajurit kembali berdiri dan menatap Rigel dengan terkesima, pidato yang dia lakukan berbeda dari yang lainnya.
“Kalian siap untuk mati meski nama kalian tidak akan dikenang, sungguh bodoh. Namun aku, Amatsumi Rigel tidak membenci orang bodoh. Hanya orang bodoh yang akan aku bawa berperang, karena para orang bodoh ini tidak takut mati, maka kebodohan adalah senjata terkuat!”
Odin yang mendengarkan tersenyum penuh semangat dan antusiasme, dia tidak pernah menyesali keputusan mengabdi kepada Rigel karena orang ini berbeda dari image Pahlawan pada umumnya.
‘Orang ini memang liar, dia tidak naif dan memilih membuang yang tidak berguna. Untuk itulah tidak ada penyesalan mengabdi padanya!’
Odin menghentakkan kakinya dan membiarkan dentingan logam dari armor yang dia gunakan bergema, segera tindakannya diikuti semua kesatria, musik yang stereo tersebut menggugah hati para pejuang. Hentakkan yang mengandung kebanggaan, amarah, tekad dan haus akan pengorbanan.
Dalam alunan lagu tersebut Rigel terus melanjutkan pidatonya tanpa merasa terganggu.
“Kalian tidak takut mati jadi aku harap tidak mendengar ratapan keputusasaan kalian. Sekalipun kalian sekarat jangan menangis atau merasa sakit. Ini adalah perintah dariku. Saat menemui kematian, tertawalah! Mari bersama-sama tertawakan kematian! Tunjukkan pada dunia kalau umat manusia tidak lagi takut oleh ajal!”
“Ya!”
__ADS_1
Hentakkan kaki mereka tidak berhenti, justru semakin dan semakin lagi bersemangat.
“Kematian bukanlah kekurangan yang dimiliki manusia, kematianlah yang membuat manusia menjadi mahkluk yang sempurna.”
Rigel mengangkat tangan kirinya dengan dramatis, dia memegang sebuah benda dengan tombol di ujungnya, benda yang akan membawa pasukan ke medan perang.
“Legion of Liberation, tunjukkan taring kalian kepada dunia. Jangan takut pada apapun karena INI ADALAH PERANG! Mari bergerak ke medan perang!”
“Ya!”
Bersamaan dengan sorak semangat membara yang dimiliki pasukan, Rigel menekan tombol dan seperempat pasukan menghilang dari tempat. Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya bahwa pasukan akan dikirim secara berkala.
Rigel meninggalkan pasukan yang dalam keadaan bersemangat dan menelpon seseorang,“Asoka kuserahkan yang di sini padamu. Minta Regulus datang ke medan perang, kamu ingatkan cara mengirimnya?”
“Ya, serahkan padaku.”
Rigel berjalan dan segera menghilang, sesampainya di medan perang dia terus berjalan dan menuju mayat Marcel yang baru saja tumbang.
Di belakangnya terdapat Yuri, dan Pahlawan lain kecuali Hazama dan Nadia yang diberikan pengobatan. Mereka memiliki tujuan yang sama yaitu Marcel yang menuju kematiannya.
“Semua pasukan, menggila dan bunuh semua musuh!” Bellemere berteriak dan melompat masuk ke medan perang.
Senjata api ditembakkan dan menjatuhkan malaikat serta iblis yang beterbangan, mereka tetap menangis saat melihat mayat Marcel dan Ray yang membeku di tengah gunung es keunguan.
Di tengah situasi yang buruk tersebut para Pahlawan mengitari Marcel dengan tatapan sedih. Bahkan Yuri dan Petra menangis sedu.
“Hahaha ... jangan memasang wajah sedih seperti itu ...” Marcel tertawa penuh penderitaan, bibirnya tetap tersenyum.
Tidak satupun dari mereka mau berbicara karena tahu bahwa Marcel tidak memiliki banyak waktu untuk mendengarkan mereka semua.
Rigel segera berlutut dan membawa Marcel ke tangannya untuk memudahkannya berbicara, “Kamu berjuang sangat baik, serahkan sisanya kepadaku.”
Marcel tersenyum penuh makna, dia menatap semua wajah teman-temannya, “Kalian semua ... meski ini bukan dunia kita, bukan orang-orang yang seharusnya kita pertahankan ... namun tolong ... menangkanlah peperangan ini untukku ... maaf, karena aku tidak bisa bertarung sampai akhir ... maafkan aku ... dan selamat tinggal.” Bibir Marcel masih tersenyum namun air matanya mengalir deras sampai akhir nafasnya membeku.
Rigel menutup mata Marcel selagi mengatakan, “Sampai akhir kamu bertarung dengan hebat, sampai akhir kamu memberikan keberanian pada kami, dan sampai akhir kami akan bertarung mewujudkan keinginanmu.”
Rigel segera berdiri dan membiarkan Marcel beristirahat dengan tenang, selamanya. Dia menatap semua Pahlawan yang ada di sini, mereka terlihat berduka dan marah, tekad membalaskan kematian terbentuk dalam dada.
“Mulai dari titik ini kematian tidak bisa dihindari, kalian seharusnya sudah tahu itu. Tidak pantas untuk menangisinya, kalian akan menginjak-injak perjuangan Marcel jika begitu ... Seandainya salah satu dari kita kembali gugur, jangan sampai hilang akal dan berbuat tindakan tollol. Dan juga, aku harap tidak ada yang mengucapkan perpisahan.”
Rigel tertunduk dan meninggalkan mereka dalam keheningan, segera dia menatap langit, matanya terbuka lebar dan dia memancarkan aura kuat untuk memancing dua pemimpin lain.
“Kalian seharusnya tidak akan menolak ... Deklarasi perang dariku. Terutama kamu yang hanya menyaksikan semuanya selagi tersenyum.” Rigel memberikan tatapan dingin ke arah langit dalam penuh arti.
__ADS_1
Tidak ada yang tahu untuk siapa kebencian yang Rigel tunjukkan tersebut, hanya dia sendiri yang tahu dan mungkin orang yang dia arahkan kebencian memahaminya.