Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 117 — Pertarungan Puncak III


__ADS_3

Rigel bertarung dengan ganas di udara, bersama dua musuhnya yang lain, pertarungan mereka seiring bergeser ke tempat pasukan besar berada.


“A-apa itu?” Bellemere bergumam takut dan takjub terhadap benturan keras yang ada di udara.


“Itu diluar ranah kita. Aku tidak tahu seberapa jauh mereka akan bertarung.” Altucray berkata lirih saat menatap tanpa khawatir.


Dia sudah percaya kepada Rigel bahwa dia yang akan keluar sebagai pemenang. Meski begitu jaminan tidak pernah ada, hanya ada keyakinan yang dia miliki.


“Jika pertarungan mereka kembali ke darat, apa pasukan kita bisa bertahan? Aku khawatir Pahlawan Rigel akan tanpa sadar membunuh banyak sekutu karena terlalu fokus dalam pertarungannya sendiri.” Bellemere lebih khawatir rekannya mati di tangan Rigel ketimbang musuh lainnya.


Kejadian paling memalukan di medan perang adalah mati karena serangan rekan sendiri. Meski nantinya akan hilang ditelan sejarah sebagai aib yang memalukan.


“Ya, biar waktu yang membuktikan.”


Pertarungan Rigel semakin memanas, serangan liar dari mereka menghantam iblis, malaikat hingga manusia. Rigel tidak bisa mengalihkan pertarungan ke arah lain, lagipula dengan banyaknya nyawa yang menghilang akan menguntungkan Rigel.


Rigel menyerap energi kehidupan yang berlimpah di sekitarnya dan menembakkannya menjadi energi Void yang melenyapkan apapun. Michael dan Lucifer menghindar namun Rigel memutar serangannya menjadi melebar.


“Semakin merepotkan!” Michael mengacungkannya pedangnya ke langit, kemudian dua pedang cahaya raksasa jatuh tepat di atas Rigel dan Lucifer.


Mereka tak bisa menghindarinya karena pedang itu akan mengikuti. Rigel mengangkat kedua tangannya, “Lenyaplah menuju kehampaan.”


Tangannya bersentuhan langsung dengan bilah pedang, seiring pedangnya itu jatuh dan lenyap dengan lambat. Rigel berdecak kesal karena semakin besar benda dan semakin kuat kekuatannya akan butuh waktu lama menghilangkannya.


Di sisi lain, Lucifer memindahkannya dengan Black Hole dan pedang itu jatuh tepat di pasukan manusia. Banyak korban berjatuhan, entah bagaimana caranya tumpukan gunung mayat terbentuk.


“Odin!” Asoka menyerukan namanya, tepat kepada Odin yang berada di serangan yang dipindahkan Lucifer.


Menatap bilah pedang besar tepat ada di atasnya, Odin berkilau di mata dan tersenyum lembut, “Inilah akhirnya, ya? Aku senang nyawa ini berguna untuk manusia. Aku serahkan perjuangan dan harapan kepada kalian semua.”


Odin menancapkan pedangnya dan merentangkan kedua tangan dengan penuh kesediaan menghadapi kematiannya.


DUAR!


Ledakan besar terjadi dan melenyapkan seperempat tentara manusia. Asoka menatapnya dengan pahit dan menggertak gigi. Meski dia menjadi liar dan mencoba membalas, Asoka hanya akan berakhir dengan menemui kematiannya. Karena itu untuk meluapkan dendamnya, dia kana mengamuk.


“Transformasi — Singa Emas, Asland!” Tubuhnya berubah menyerupai manusia singa, ditutupi bulu-bulu emas tipis dan taring tajam mencuat, sorot mata berubah menjadi hewan buas.

__ADS_1


Asoka bergerak cepat dan menyayat semua musuh yang ada di depannya. Mencakar, menggigil, menginjak dan menghancurkan kepala lawannya. Asoka melakukannya sebagai bentuk hadiah perpisahan kepada rekan-rekan yang gugur dan kepada Odin yang menemui kematian.


JDOOM!


Sesuatu yang keras bergema dan mengambil semua perhatian. Tak jauh dari tempat para Iblis berada, tongkat besar yang panjangnya mencapai langit jatuh dengan dramatis.


Mengikuti tongkat tersebut, monyet emas raksasa jatuh dengan dramatis, tubuhnya diselimuti cahaya keemasan dan mengembalikannya ke wujud kecil manusia setengah kera.


“Itu ... Pahlawan Ozaru-!”


Ozaru yang jatuh dengan bebas, tubuhnya terlihat dialiri listrik, dadanya berlubang karena paku hitam yang menancap. Tak jauh darinya, kemunculan Barakiel yang kehilangan separuh tubuhnya dan menjumpai kematiannya, diikuti oleh Zenos yang kehilangan tubuh bagian bawahnya.


“Kuhahaha, lihatlah ini, Tuan Lucifer! Mereka tidak ada apa-apanya, baik Pahlawan, Seraphim, hanya sekumpulan cecunguk lancang yang lemah!” Zenos berkata dengan bangga dan wajah gila.


Tubuhnya yang hilang perlahan puluh, meski begitu dia terlihat begitu lelah untuk terbang.


Asoka hendak menuju ke tempatnya tetapi sebuah lubang dimensi mencapainya dan mengambilnya, lubang tersebut adalah hasil dari kekuatan Natalia.


Bersamaan dengan itu, seseorang berlari kencang dan mendaki tongkat besar Ozaru. Wanita dengan cakar yang menyala-nyala di tangannya, Nadia.


“Jangan berpikir ini telah berakhir, manusia tidak selemah yang kamu pikirkan!” Dengan kecepatannya mendaki tongkat tersebut, Nadia melompat menuju Zenos.


Dia menusuk Zenos tepat di dagu dan dadanya. Kepala Zenos segera terlepas dari tubuhnya meski begitu dia tidak menyia-nyiakan kesempatan terakhirnya.


“Bahkan jika aku mati olehmu, akan kubawa kaku menuju kematian!” Kepala Zenos yang nyangkut di cakar Nadia masih bisa berbicara, tubuh dan kepalanya kemudian bersinar terang, “All Hail, Lord Lucifer!”


Tubuhnya meledak dengan Nadia bersamanya, ledakannya cukup besar hingga menimbulkan angin kencang yang destruktif. Nadia keluar dari asap hitam yang mengepul, dia kehilangan bagian tubuh kirinya dimulai dari separuh wajah hingga kakinya.


Di detik terakhir hidupnya, Nadia tersenyum penuh kedamaian, “Menanglah, Rigel.”


“NADIA!” Hazama yang baru saja tiba di pertempuran utama berteriak selagi menangis.


Priscilla yang kehilangan lengan kanan dan matanya, mengulurkan tangan kanan dan menangkap tubuh Nadia dengan cambuknya.


Pertarungan mencapai *******, kematian dan kemenangan dan kekalahan mulai bermunculan. Para Pahlawan compang-camping dan penuh dengan luka. Priscilla kehilangan tangan, Aland kehilangan kaki, Ray menjadi buta sepenuhnya.


Takumi, Yuri dan Leo datang bersama, mereka menatap situasi yang kacau dan penuh dengan kesedihan.

__ADS_1


“Itu ... Ozaru?” Di depannya, Takumi melihat Natalia menunduk di depan mayat— Ozaru yang sekarat.


“Ozaru-!” Yuri menghampirinya selagi memapah Takumi, Leo hanya menatap diam tak percaya.


“Aku ... kalah ... dari kelelawar, itu. Tapi, menang dari mer, pati. Sekarang ... Aku akan pergi.” Untuk pertama kalinya Ozaru menangis banyak dan meratapi kematiannya, meski menangis bibirnya tersenyum berbalut sedih, “Selamat ... Tinggal.”


“Paman!” Leo meraih Ozaru dan menangis, kemudian dia menggertak gigi, mengamuk dan melampiaskan kemarahannya kepada semua musuhnya.


Pertempuran besar yang sedang terjadi memasuki tahap krusial. Rigel mendarat di tanah, matanya mengeluarkan darah. Tahap Empat mampu memulihkan setiap luka namun di satu sisi menggunakannya juga memberikan beban besar bagi tubuhnya.


Meski begitu Rigel akan tetap mendorong dirinya mencapai batasnya, ada satu kartu terakhir yang bisa dia gunakan saat situasinya tidak baik.


Mengibaskan tangan kanannya Rigel mengerahkan seluruh kekuatannya untuk satu serangan terakhir, di tangan kirinya dia sudah menyiapkan bola yang dibuat oleh Guren. Entah berhasil atau tidaknya maka ini pertaruhan.


“Mari selesaikan di sini!” Lucifer mengambil jantungnya dengan tangan kiri, kemudian energi gelap dan api membara menyelimuti tangan kirinya. Sebagai iblis dan mantan malaikat, Lucifer tidak akan mati hanya karena kehilangan jantungnya.


“Blood Sacrifice!”


“Wahai surga, kerahkan semua yang kamu miliki untukku!” Michael menurunkan badannya, membuat pedang lainnya yang bergetar karena kekuatannya.


Rigel berteriak dan melesat untuk pembukaan, Lucifer dan Michael mengikuti. Lucifer meledakkan serangannya dan membuat sebagian tubuh Rigel dan Michael meleleh.


Dengan pedangnya, Michael menusuk dada Rigel dan Lucifer di waktu yang sama. Sementara Rigel mengayunkan tangan kanannya untuk menghadapi tangan kiri Lucifer, di kesempatan tersebut dia mendorong tubuhnya menuju pedang Michael.


“Manusia gila! Apa yang coba kamu lakukan?!”


“Aku mencoba membunuhmu!” Rigel memberikan pukulan kuat ke dada Michael dan menanamkan bola kristal tersebut ke dadanya.


Energi mengumpul di tubuh Michael, kemudian dia tersenyum, “Hahaha, kamu memberiku kekuatan? Baik sekali engkau!”


Senyuman Michael segera menghilang saat menyadari sesuatu yang lain merasuki tubuhnya. Dia kemudiannya memahaminya.


Alasan Rigel menyerap tubuh manusia, iblis dan malaikat adalah untuk ini. Jika energi suci adalah racun bagi iblis, maka energi jahat adalah racun bagi malaikat. Michael sekalipun takkan bisa lepas darinya.


Pegangan terhadap pedangnya mengendur, Michael menolak akhir seperti ini dan sebelum sempat mengumpat tubuhnya meledak.


“Selanjutnya dirimu!” Rigel mengerahkan tangan kirinya dan mencekik Lucifer.

__ADS_1


“Hahaha, mari saksikan siapa yang berakhir!” Lucifer juga bertindak sama dan mencekik Rigel.


Benturan kedua kekuatan tersebut tidak memungkinkan bagi pihak lain ikut campur. Hal yang tersisa adalah adu ketahanan antara Rigel dengan Lucifer.


__ADS_2