
Leo bergerak dan saling berbenturan dengan kecepatan luar biasa. Keduanya saling berbenturan, tangan tambahan mereka sangat sibuk satu sama lainnya, yang paling merepotkan adalah tambahan mata milik Leo membuatnya mampu melihat dari berbagai sisi.
Jahoel merasa geram, habisnya segala serangan yang dia lakukan tidak mampu menggores Leo. Tidak hanya memiliki bakat besar dalam berilmu pedang namun ternyata dia memiliki kemampuan adaptasi yang tidak masuk akal.
“Seribu Sayap Besar!”
Bulu-bulu sayapnya terlepas dan bergerak menuju Leo, meski ada banyak yang terlepas namun sayapnya tidak botak, Leo lebih penasaran tentang bagaimana itu tumbuh sangat cepat. Dia berharap melihat ketiak sayap yang botak.
“Apa hanya ini?” Leo mengubah kuda-kudanya dan bersamaan dengan semua tangannya menebas bulu yang datang.
Segera Leo melompat tinggi dengan kesembilannya pedangnya dia menyerang Jahoel, “Ashura!”
SRING!
“Bocah sepertimu tidak akan bisa mengalahkanku!”
“Haha, nyatanya bocah inilah yang mendorongmu hingga ke jurang!”
Leo melompat mundur jauh ke langit, dia mengumpat semua kekuatannya dan melakukan sesuatu yang membuat Jahoel terkejut, “Seribu Sayap Besar!”
Sayap yang terbentuk dari cahaya keemasan berkumpul dan membentuk sayap besar dari punggung Leo. Dia menggunakan jurus yang sama dengan Jahoel, yang mengejutkannya adalah kekuatannya sama persis dengan sebelumnya.
Bulu-bulu dari sayap emas berhamburan dan jatuh cepat menyerang Jahoel, sontak itu membuatnya menciptakan banyak bulu yang sama dan menahannya.
“Bagaimana bisa ... bagaimana caramu melakukannya?!”
Leo tidak menjawab tetapi bergegas menuju Jahoel dan memotong salah satu tangannya. Berdecak kesal Jahoel menebas Leo dalam upaya membalas tangan dengan tangan. Gerakannya terlihat lambat bagi Leo sehingga mampu dihindari dengan mudah.
“Teknik Sembilan Pedang — Tiga Wujud!”
__ADS_1
Dua wajah lain yang dimiliki Leo mulai memberontak dan berpisah darinya, tubuh Leo terpecah menjadi tiga orang yang sama dengannya. Kekuatannya tentu dibagi tiga namun dengan mereka bersama, penggunaan kemampuannya semakin efektif.
Dua tubuh lainnya berpencar dan menyerang Jahoel dari dua sisi. Jahoel menahannya namun dia nyaris tak bergerak saat Leo menyerang dari tengah selagi bayangannya menyerang Jahoel dari dua sisi.
“Thunder Sword!” Leo menerjang langsung dari depan, Jahoel menggigit bibirnya dengan penuh amarah dan membangun pelindung, “Heavenly Sword —Eralight.”
Bilah pedang raksasa jatuh dari langit, Leo yang terus menerjang terpaksa menghantam pedang dari langit tersebut. Leo berdecak kesal dan menarik mundur dua tubuhnya yang lain karena merasakan sakit dari keduanya.
“Jadi begitu, kamu tak hanya membelah tubuh namun membagi jiwa dan rasa sakit bersama. Artinya, jika aku membunuh salah satunya maka kamu akan merasa seperti mati. Total akan merasakan dua kematian, tidak. Itu tiga bersama dirimu langsung.”
Kerugian dari kekuatan pemecahannya adalah Leo membagi rasa sakit dari dua lainnya kepada dirinya. Jika mereka ditusuk jantungnya maka Leo akan merasakan sakit serupa, belum lagi dia harua merasakannya dua kali lebih besar ketimbang seharusnya.
Dia pernah menggunakannya untuk sparing dengan Rigel, akhirnya cukup mengerikan. Rigel memukuli setiap bayangannya hingga babak belur sehingga Leo harus merasakan neraka rasa sakit.
“Lakukanlah jika kamu bisa melakukannya.” Leo memusatkan konsentrasinya dan menyerahkan segalanya ke dalam satu serangan terakhir.
Jahoel tampak berdecak kesal untuk beberapa alasan, dia perlahan terbang ke langit dan membuang semua pedang di tangannya. Tangan-tangan yang tersisa mulai menyatu seakan memegang sebuah pedang besar. Perlahan cahaya muncul, membentuk pedang cahaya yang tiga kali ukuran tubuh Jahoel.
Leo sedikit takjub dengan ukuran dan kekuatannya yang besar namun itu tak cukup untuk menggoyahkan konsentrasinya. Dia menarik napas panjang dan memejamkan matanya.
“Aku adalah tulang pedangku, ketajaman hanya berlaku bagi pedang yang terasah, pedang kuat bergantung dengan kekuatan tulang ...”
Kedua pedangnya mulai bersinar ungu dan hitam, Leo terus memusatkan dirinya ke pedangnya. Sementara pedang yang dia gigit tak mengalami perubahan apapun. Tubuhnya yang lain mulai berkumpul di sekitarnya, keduanya mengacungkan pedang dan menempelkannya.
Kekuatan mereka mulai beresonansi dan membentuk pedang yang menggambarkan tiga menjadi satu.
“... Aku adalah sebuah pedang.”
Leo membuka matanya, kedua pedangnya mengkilap dan menahan kekuatan besar. Melihat itu Jahoel hanya tersenyum mengejek. Meski dia masih sangat merendahkan Leo namun dia mengakui bahwa Leo cukup berbakat.
__ADS_1
Mempelajari ilmu pedang sama dengan menyelam kelautan dalam, tidak akan ada akhir dari mereka yang mendedikasikan diri kepada sebuah pedang. Jahoel tahu betul hal itu, meski sudah hidup lama namun dia tidak pernah merasa mencapai puncak dari pengguna pedang.
Bahkan buktinya sekarang adalah dia dipojokkan oleh Leo, pemuda yang pastinya belum lama masuk ke dunia seni berpedang. Dia jelas lebih berbakat ketimbang orang yang telah mendalaminya bertahun-tahun.
“Salah satu dari Malaikat agung, Seraphim, Jahoel.” Sebagai penghargaan kepada pemuda tersebut Jahoel melakukan penghormatan sebagai sesama pendekar pedang untuk memberikan nama.
“Salah satu dari Dua Belas Pahlawan Suci, Pahlawan Pedang, namaku Leo!”
Menyelesaikan percakapan diantara keduanya, tak ada lagi yang berbicara dan keduanya memfokuskan diri dalam pertempuran mereka.
Mengacungkan pedang, keduanya melompat dan saling berbenturan.
“Haargh!”
“Harrghh!”
Keduanya melompat tinggi dan saling berbenturan di udara. Berteriak keras, membuat udara gemetar dan alam sekitar semakin hancur karenanya. Yuri dan Takumi hanya menyaksikan dari jarak yang aman, tak ada dari keduanya mampu mengganggunya dalam perdebatan keduanya.
“Leo sekuat ini?” Tanya Yuri selagi bertahan dari angin kencangnya.
“Ya. Bagian mengerikan darinya adalah dia mampu menirukan jurus hanya dengan mengamatinya. Terakhir kali, dia meniru tarian berpedang milik Bellemere.”
Takumi menyaksikannya dengan jelas saat itu dan untuk pertama kalinya dia merasa takut dengan anak kecil. Seandainya Leo tidak dipilih menjadi Pahlawan Pedang, tidak diragukan lagi dia akan menyerupai bangsawan Ainsworth bahkan lebih kuat.
Leo akan mampu mempelajari setiap teknik senjata dan bela diri selama telah melihatnya, dia bisa menirunya dan akan menjadi orang yang lebih mengerikan dari Rigel.
Yuri saat itu tidak menyaksikan perkembangan Leo sebanyak Takumi. Melihat dari kekuatan dan bakatnya maka Leo dengan jelas akan mampu melampaui Yuri dalam waktu singkat.
“Dia benar-benar genius alami. Aku ingat Rigel pernah mengatakan Leo memiliki kecerdasan dan ingatan yang kuat karena mampu mengingat semua hal seperti pengoperasian sistem Ciel.”
__ADS_1
Ini memalukan sebagai manusia dari peradaban yang lebih maju. Takumi ataupun Yuri sama sekali tidak bisa memahami setiap teknologi canggih yang Rigel buat, mereka bahkan tidak tahu konsep dasarnya. Apalagi Ciel dengan pengoperasiannya yang terbilang sangat rumit.
Cahaya menyilaukan memenuhi medan perang dan tak seorangpun tahu apa hasil dari pertarungan tersebut. Apakah Leo keluar sebagai pemenang atau pecundang, semuanya akan ditentukan.