Creator Hero : The Last Hero

Creator Hero : The Last Hero
Ch. 106 — Tempat Sampah


__ADS_3

Rigel mengambil jarak dari Samael dan menatap tangan kanannya yang sebelumnya hancur.


Sangat jelas bahwa Samael tak perlu menyentuhnya untuk melukai. Menyerang bayangannya saja sudah cukup untuk menimbulkan kerusakan baginya dan dampaknya sama sekali tidak ringan.


Membuat situasi di mana medan pertempuran menjadi sangat terang hingga bayangannya tidak ada atau menjadikannya sangat gelap. Tidak ada jaminan dari keduanya akan berhasil karena seperti yang dikatakan Samael. Semakin terang cahayanya semakin gelap bayangannya. Bahkan jika cahaya tak lagi bersinar maka kegelapan akan mendunia.


‘Dia jelas lawan merepotkan.’ Rigel berdecak karena dia tidak dapat menemukan jawaban dari apa yang baru saja terjadi.


“Omong-omong yang barusan aku tidak menyerang bayanganmu secara asal, tetapi karena bayangan milikku yang bersentuhan dengan bayanganmu akan mampu melukaimu.”


Rigel sedikit terbelalak dan segera tersenyum, “Bayangan adalah perantaranya, ya? Sepertinya kamu memang tidak suka menyimpan rahasia.”


Karena dia sudah menggunakan Void Tahap Empat — Kehidupan maka Rigel berpikir tidak ada salahnya untuk mencobanya.


‘Setelah mempelajari kekuatan ini secara mendalam memang rupanya sangat mengerikan. Aku tidak ingin tahu seperti apa puncaknya.’


Ada keraguan untuk menggunakannya namun untuk saat ini tidak ada pilihan yang membuatnya bisa menghindari menggunakan Void.


Cahaya biru berkumpul di tangan kanan yang mengepal dan merubah bentuk Rune yang awalnya hanya garis biru lurus kini menjadi motif zig-zag. Sementara di tangan kirinya tercipta sesuatu yang berbeda, cahaya emas yang bukan Kekuatan Void.


“Kekuatanku tidak berasal dari tangan kanan, tetapi pengoptimalan Void-ku lebih baik dengan tangan kanan. Sementara tangan lainnya lebih sering digunakan untuk membuat sesuatu, dengan Skill Creator tentunya.”


Void adalah kekuatan yang sudah terukir dengan baik disetiap bentuk jiwanya, kehilangan satu atau dua tangan takkan mempengaruhinya namun sulit untuk terbiasa menggunakannya di luar tangan kanan.


Rigel sebelumnya tidak pernah memiliki tangan kiri ketika menerima Void jadi dia menggunakan tangan kiri hanya untuk Skill Creator dan yang lainnya. Meski mampu menggunakan keduanya namun ini hanya untuk kenyamanannya saja.


Samael mengerutkan alisnya meski bibirnya masih membentuk sebuah senyuman, “Aku benci berbicara saat bertarung namun jika itu denganmu, sepertinya bukan hal buruk.”


Dia menghormati Rigel karena tidak memiliki keraguan untuk membuka kartunya seperti yang dilakukannya. Samael tidak menyesali keputusannya untuk ikut berperang dan melawan Rigel, manusia menarik yang tidak berdiri di cahaya atau kegelapan.


“Sekarang, mari mulai.”


Rigel menepuk tangannya dan menghilang dari tempat, duri-duri tanah muncul sehingga Samael melompat terbang untuk menghindari namun pilihannya salah karena Rigel telah menduganya. Dia menjatuhkannya dengan memukul jatuhnya.


Samael berhasil menahan namun tak ada waktu untuk istirahat. Rigel mendekat, memberikan dua pukulan kuat yang juga ditangkis. Dengan tangan kirinya dia menciptakan empat buah bom, sementara tangan kanannya mencengkram bahu Samael dan menghancurkannya.


Bom meledak dan keduanya terkena dampak namun tidak ada dari keduanya menjauh.


“Orang sialan, bisa-bisanya kamu berani melakukan bunuh diri. Sepertinya kamu memang sesuai dengan harapanku!” Samael tersenyum lebar saat melihat pakaian dan daging di tubuh Rigel terbakar.


Jika Rigel menggunakan tahap empat maka dia tidak memiliki kekhawatiran untuk melukai dirinya sendiri. Selama tidak berdampak langsung pada jantungnya maka tak ada masalah. Seandainya jantungnya hancur dan dia langsung mati, Void sekalipun tidak bisa menyelamatkan.


Rigel memotong jaraknya dan memukul Samael di wajah, begitu juga sebaliknya. Di kesempatannya kecil tersebut Samael mengulurkan kakinya bukan kepada Rigel tetapi kepada bayangannya namun sebelum dia melakukannya, tanpa sadar, paha kanannya hancur.


Rigel tersenyum setelah memastikan sesuatu, “Jadi benar bahwa bukan hanya kamu tapi lawanmu juga mampu melakukannya.”


Ketika dua bayangan mereka bersatu Samael mampu menyerang Rigel hanya dengan menginjak bayangannya. Kekuatannya jelas rumit dan merepotkan untuk dihadapi namun jika tahu triknya siapapun akan menyadari bahwa kekuatannya memiliki risiko setimpal.


“Ketahuan, ya? Kamu memang melebihi harapanku!” Samael memulihkan dirinya dan memukul Rigel hingga terhempas.


Hawa dingin menusuk kulitnya, Samael menatap langit dan menemukan sebuah meteor besar mendekatinya. Rigel yang terhempas menjauh, dengan tangan kirinya memanggil batu luar angkasa tersebut.


“Suction Swamp.” Rigel menjentikkan tangan kirinya dan membuat tanah tempat Samael berpijak lunak hingga menariknya ke dalam.


Melihat rangkaian serangan yang dibuat oleh Rigel, Samael yang sampai kini menunjukkan semangat bertarung luar biasa sekarang merubah wajahnya menjadi datar seolah segalanya tidak lagi menjadi menarik.


“Ini membosankan.”


Crack!

__ADS_1


Samael hanya mengayunkan tangannya dan meteor terbelah menjadi dua bagian. Dia keluar dari rawa yang menghisapnya dan berjalan menuju Rigel. Matanya menyala terang tanpa semangat dan seolah emosinya menghilang tanpa jejak.


“Kamu harus tahu ini. Aku menantikan hari kekalahanku namun aku juga tidak berusaha untuk kalah.”


“Jadi kamu ingin kalah setelah mengerahkan seluruh kekuatan yang kamu miliki. Aku tidak membencinya namun tugasku melayanimu sudah selesai.”


Rigel melepaskan bajunya yang sudah sobek dan compang-camping, dia bisa membuat yang baru namun tidak dilakukan olehnya. Meyakini dirinya kuat Rigel selama ini tidak memperhatikan manfaat baju besi karena membatasi geraknya. Selain itu kekuatan Creator mampu melakukan sesuatu seperti membuat cangkang keras di kulitnya.


“Apa maksudmu. Aku baru akan menunjukkan kesenangan utama padamu.” Samael merasa marah karena merasa dirinya baru saja dicampakkan.


“Tidak peduli seberapapun kuat kamu, seberapa kuat aku mencoba mrngalahkanmu peperangan ini tidak akan berakhir. Tugas terakhirku adalah mengakhiri perang ini dan setelahnya aku akan menghilang.”


Samael melebarkan matanya dan mengambil satu langkah mundur, ini pertama kalinya dia menjadi sangat terkejut, “Kamu ... apa mungkin—”


“Seperti halnya Kemuel, kamu juga tahu sesuatu tentang itu, ya? God Requiem maksudku.”


“... Ya, nyanyian harapan Dewa yang ditujukan untuk sosok tertentu. Sekaligus tugas terberat yang pernah ada, kamu akan menjadi orang yang mengunjungi Pillar of Creation.”


Rigel tidak tahu tentang itu, dia baru saja mengetahuinya. Namun tidak ada bedanya mengetahui sekarang atau nanti karena hasil akhir tidak pernah berubah.


“Karena itu aku tidak ingin berlama-lama, dan kuserahkan sisanya padamu, Takumi.”


Tombak besar jatuh bersama dengan seorang pria dengan rambut merah yang berantakan, “Maaf aku terlambat, Rigel.”


“Tidak, aku bersyukur kamu terlambat ketimbang tidak datang.”


Percakapan mereka juga menjadi rahasia karena Takumi tidak mendengarkannya. Semuanya akan menjadi merepotkan jika Takumi yang memiliki sentimen mengetahuinya.


“... Jadi begitu, bahkan tanpa perang ini, akhir sudah ditentukan. Meski bukan tempatku mengatakannya, siapapun yang membuatmu, kita dan alam semesta ini benar-benar orang yang kejam.” Samael menatap langit dengan wajah yang kesepian, “Kamu lebih menyedihkan dari aku, sedikit simpatiku ada padam.”


“Terima kasih banyak untuk itu, tapi aku tidak membutuhkannya.” Rigel tersenyum dan menepuk bahu Takumi saat berjalan melewatinya, “Jangan mati.”


Meninggalkan senyum Rigel menghilang dari tempat dan menuju tempat pertarungannya yang sebenarnya. Kepergiannya meninggalkan suasana yang hening diantara Takumi dan Samael.


“Pahlawan Tombak, kah. Aku berharap jika itu bukan Rigel, setidaknya Pahlawan monyet itu yang datang.” Samael menghela napas dengan kecewa.


“Maaf membuatmu kecewa namun jangan khawatir karena aku tidak jauh lebih lemah darinya.”


“Ho? Kamu mencoba mengatakan kalau kekuatanmu menyeimbangi dia?” Samael menatap langit yang bergemuruh, ada benturan besar di sana dan samar-samar tongkat besar mampu mereka lihat.


Tidak ada keraguan bahwa Ozaru sedang berhadapan dengan sesuatu di langit jauh karena benturannya benar-benar berdampak besar.


“Tidak. ” Takumi tersenyum, garis hijau mengalir melalui tombaknya dan menyebar ke seluruh tubuhnya, “Justru aku lebih kuat darinya.”


Samael sedikit terkesima sebelum menunjukkan senyumannya, “Menarik. Jadilah anak baik dan hibur aku. Jangan mengecewakanku, Pahlawan.”


“Tidak akan pernah.”


Keduanya saling mengamati kemudian melangkah maju. Antara tombak dengan tinju berbenturan menyebabkan getaran udara dan angin ribut. Pergerakan mereka semakin cepat seiring berjalannya pertarungan. Takumi menjaga jarak dan melemparkan tombaknya, sementara Samael hanya menahannya dengan perisai gelap yang dia ciptakan.


“Teknik Tombak Ganda!” Takumi menciptakannya tombak lainnya, dia berpindah ke tempat tombak yang dia lemparkan sebelumnya dan melemparkannya lagi, “Gungnir!”


Samael terlihat bosan dan menahannya lagi namun dia ceroboh karena tombak itu menembus segalanya dan mencapai dadanya. Darah hangat mengalir darinya, tombak ditarik mundur, sementara Samael membiarkan dirinya menjilat darahnya sendiri.


“Rasa sakit, begitu. Aku hampir lupa rasanya. Bahkan jika kamu bukan Rigel, sepertinya kamu mampu menarik minatku, kamu juga mampu menarik kemarahanku. Bagus, itu sangat bagus dan sebuah kebanggaan yang pantas disombongkan.”


Energi ungu kehitaman berkumpul di tangan kanannya, Samael mengangkatnya tinggi dan tersenyum bengis, “Akan kutunjukkan padamu apa itu kekuatan.”


Bola energi di tangannya meledak dan tanpa pernah ada waktu bagi Takumi memahami, pengelihatannya menjadi sangat gelap. Itu karena terdapat bayangan hitam menyebar dan menyelimuti seluruh medan perang.

__ADS_1


“Apa ini?!”


“Apa yang terjadi, semuanya tiba-tiba jadi hitam!”


“Aku buta?”


“Tentu saja tidak! Semuanya merasakan hal sama.”


“Argh! Kamu menusukku!”


“M-maaf!”


“Semuanya berhenti menyerang!”


Tak hanya manusia tetapi iblis dan malaikat juga mengalami hal yang sama, bedanya adalah baik iblis dan malaikat tidak peduli jika membunuh rekan sendiri. Hal ini menjadi kerugian besar bagi pihak manusia.


Mereka mencoba membuat cahaya dengan sihir cahaya ataupun api namun percuma saja, meski berhasil menggunakannya namun tidak ada cahaya apapun. Seakan semua cahaya ditelan oleh sesuatu yang tidak mengizinkan keberadaan cahaya.


Di tempat lain yang menjadi pertarungan Michael melawan Lucifer. Keduanya berhenti bertarung karena tidak hanya buta tetapi semua indra mereka tidak berfungsi dan dikaburkan. Pendengaran masih baik-baik saja tetapi sulit memilah informasi hanya dengannya.


“Samael, dia sungguh-sungguh melakukannya.” Michael berkata dengan lirih, dia tahu Samael serius namun tidak menyangka secepat ini.


“Ini kedua kalinya aku merasakannya. Saat pertama, sebuah peristiwa di mana surga menjadi sangat gelap. Dan kedua kalinya yaitu saat ini, kegelapannya lebih dalam dari yang aku ingat. Dia benar-benar lawan merepotkan.” Lucifer berdecak kesal dan frustasi karena tidak bisa melakukannya apa-apa.


Mereka berdua tahu bahwa saat kegelapan seperti ini tindakan terbaik adalah gencatan senjata sampai Samael menariknya kembali. Kekuatannya ini tidak mengenal kawan atau lawan, mereka yang memaksakan diri untuk bertarung akan ditelan kegelapan. Untuk saat seperti ini, sebuah kata yang sangat tepat adalah diam itu emas.


Di sisi lainnya, Rigel yang berniat menyiapkan sesuatu menghentikan tindakannya karena tiba-tiba semuanya menjadi gelap. Dia tidak berpikir matanya menjadi buta karena saat ini Tahap Empat masih aktif. Sekalipun matanya hancur Void akan menyembuhkannya.


“Jadi apa ini? Michael atau Lucifer bukan penyebabnya. Apa mungkin, Samael?”


Rigel tidak menyangka akan jadi seperti ini, jika tahu maka dia akan menyelesaikannya urusan dengan Samael sampai akhir.


“Perasaan ini. Tampaknya tidak hanya menelan seluruh cahaya dan mengaburkan indra. Kegelapan ini juga mampu menelan kehidupan.”


Sampai saat ini dia masih belum mengalaminya apa-apa yang artinya dibutuhkan sebuah kondisi untuk kehidupan di serap. Rigel mencoba menggunakan Void untuk melenyapkannya namun gagal. Bukannya berhasilnya dia justru merasakan kekuatannya diserap.


“Kegelapan tidak lahir setelah cahaya, tetapi kegelapan muncul bersama kekosongan. Namun seharusnya tidak ada yang tidak bisa kulenyapkan. Ah ...” Rigel mengingat sesuatu.


Dia mengepalkan tangannya dengan kuat, hanya sebatas asumsi namun bukannya tidak mungkin, “Sejak awal ini bukan kegelapan. Kita tidak ditelan oleh kegelapan, tetapi ditelan oleh kekosongan dan itu alasan yang kuat karena aku tidak bisa melenyapkan sesuatu yang sudah kosong.”


Kekuatan Samael bukan hanya kegelapan biasa namun bukan juga kekosongan ataupun Void. Samael adalah kegelapan yang lahir bersamaan dengan kekosongan. Ritel hanya bisa menyerahkan segalanya kepada Takumi saat ini.


...***...


Takumi mencoba melihat telapak tangannya namun tentu saja tidak terlihat karena semuanya menjadi gelap gulita. Dia kini memahami perasaan menjadi orang buta.


“Kamu merasakannya, kan? Inilah arti dari kekuatan. Perwujudan dari kekuatan yang sebenarnya.”


Takumi tidak tahu apa yang dilakukan Samael saat ini namun dia dapat dengan percaya diri menyatakan bahwa Samael sedang tersenyum sekarang ini.


“Bagaimana bisa kamu tidak diusir dari surga karena memiliki kekuatan ini.”


“Ya, itu karena akulah yang menanggung semua kegelapan yang dimiliki surga. Jika neraka adalah tempat yang menghukum dosa makhluk hidup maka aku tempat penampungan kejahatan yang dilakukan neraka ataupun surga. Singkatnya aku ini tempat sampah. Selain itu, kegelapan ini juga termasuk bagian dari kekosongan sehingga temanmu, Rigel, tidak akan mampu melakukan apa-apa.”


Tempat sampah yang mengumpulkan sampah dari kekuatan. Menjadi tempat sampah adalah hal bodoh namun tampaknya hanya Samael yang menerimanya karena tidak pernah menjadi hal buruk.


“Apa-apaan itu semua.” Takumi bergumam dan mengatupkan gigi.


“Terdengar aneh dan tidak masuk akal. Aku tahu itu. Namun aku sendiri tidak memahami asal-usul kekuatanku lebih dari itu. Aku juga tidak memiliki berbagai cara untuk menggunakannya. Hanya ini yang bisa kugunakan dengan baik, inilah Territorial yang mungkin terbesar karena mampu menyelimuti keseluruhan medan perang ini.”

__ADS_1


Takumi tidak peduli dengan asal-usul atau jenis kekuatan apa itu, dia hanya peduli tentang bagaimana cara mengalahkan Samael jika bahkan dia tidak mampu melihat atau merasakan apapun?


__ADS_2