
“Aku Alnilam Margaret Atwood, manusia dari dunia lain yang datang memenuhi panggilan, Pahlawan Cambuk. Dengan maksud dan tujuan yang tak jelas, dunia memaksaku bertarung, akhir mengerikan ini adalah bayaran atas semua usahaku.”
Perkenalan mengejutkan datang gadis kecil yang seutuh tubuhnya biru karena hanya roh. Dia tampak tak memiliki kesadaran, yang tersisa darinya hanya apa yang ditanamkan dalam dirinya.
“Sesuai amanat. Mereka yang berhasil memanggil jiwa kami, adalah penerus kami. Delapan bintang akan bersinar, kesatuan yang terlupakan akan lahir.” Matanya yang kosong menggeliat, tatapannya tertuju kepada Merial, “Lepaslah batasan.”
Cambuk yang menjadi senjata pahlawan Merial mengeluarkan kilatan samar. Merial merasakan sedikit kehangatan, segera hantaman ingatan asing mengalir dalam kepalanya dan tak sadarkan diri.
“Apa yang kamu lakukan kepadanya?!” Ray segera memapah tubuh Merial, dia membentak Alnilam dengan geram.
Rigel menghentikan Ray. Ada alasan jelas dia melakukannya, pancaran Kekuatan Merial tidak biasa, dan juga sosok gadis itu kian memudar kehadirannya.
“Delapan bintang akan bersinar, kesatuan terlupakan akan lahir. Delapan bintang akan bersinar, kesatuan terlupakan akan lahir. Delapan bintang akan bersinar! Kesatuan terlupakan akan lahir!”
Selayaknya kaset rusak yang memutar hal sama, Alnilam bersikap seperti itu. Setiap kali mengucapkan kalimat yang sama hingga ratusan kali, suaranya kian meninggi seakan marah, begitupun wajah.
“Delapan bintang akan bersinar, kesatuan terlupakan akan lahir—” Dengan nada tinggi ke rendah, sorot matanya tertuju pada Rigel dengan kesedihan mendalam, hampir ada air di matanya.
“—Dia yang terakhir, akan benci karena terlahir.”
Meninggalkan kata-kata tersebut sosok Alnilam menghilang dari semua orang, Batu Ramalan kembali kesedia kala. Sosok Alnilam bagaikan ilusi dan fatamorgana. Pada akhirnya misteri tentangnya terputus sampai sini.
Rigel dan yang lainnya kembali ke kerajaan untuk membaringkan Merial. Selagi menunggunya sadar mereka tak mengungkap Batu Ramalan lain sampai tahu apa yang terjadi kepada Merial. Di waktu kosong tersebut Rigel menyusun rencana untuk mendapat dukungan dari wilayah gurun.
Tidak begitu sulit untuk mengatasi masalah air. Dimulai dari mengirimkan mata-mata dan memahami masalah internal serta eksternal kerajaan tersebut, Rigel baru akan bisa mengambil tindakan.
Mengenai pulau es, seperti yang Merial inginkan bahwa keluarga Ainsworth akan menjadi duta yang menghubungkan Pahlawan dengan penduduk di sana.
Setelah 10 jam lamanya Merial kembali membuka mata. Kejutan tak henti datang, kekuatannya meningkat dan pemahaman tentang Senjata Ilahi Cambuk meningkat hingga ke tingkat dia menjadi master cambuk.
“Aku tak terlalu mengerti. Aku hanya melihat kenangan wanita bernama Alnilam. Caranya memegang, mengayunkan hingga menggunakan cambuk untuk melawan monster.” Begitu ujarnya saat menjelaskan kepada Rigel.
Dengan artian Batu Ramalan memang terbuat dari tubuh Pahlawan di masa lalu. Rigel menebak terkecuali Pedang, tombak, pisau dan cakar. Alasannya karena empat pahlawan yang menggunakan senjata tersebut mengorbankan nyawa untuk menyegel Tortoise.
Sangat mungkin bahwa mereka tidak akan memberikan tambahan kemampuan seperti yang terjadi kepada Merial.
“Kalau begitu kalian bisa pergi ke Batu Ramalan yang sudah diketahui. Aku akan memberikan namanya melalui radio dan hologram untuk melihat bentuk mereka.”
__ADS_1
Rigel tidak berniat datang karena ada hal lain yang menyita waktunya. Para pahlawan lain juga tak bisa bergantung terus kepadanya. Mereka hanya setuju akan hal tersebut.
Selagi yang lainnya pergi teleportasi, Rigel sendirian di ruang kontrol.
“Sudah lama aku tak mendapat waktu santai seperti ini.” Rigel bersandar di kursinya dengan malas.
Dia mendengarkan suara roda gigi raksasa yang ada di belakangnya. Hal berisik itu menenangkan namun tak memberikan kedamaian yang dia nantikan.
“Ciel, tampilkan layar.”
......Layar ditampilkan.......
Mengikuti kehendaknya, hologram diaktifkan. Para Pahlawan telah tiba di tempat Batu Ramalan kedua, masih di Region. Meski dia bisa melihatnya langsung namun Rigel tetap menolak dan ingin menyaksikan dari kejauhan.
“Alnilam sebelumnya menatapku selagi meninggalkan perkataan terakhir. Entah bagaimana aku merasa merinding mendengarnya.”
Meski dia tidak tahu artinya tetap saja mengerikan.
“Rigel, semuanya sudah siap. Sebutkanlah nama bintangnya.” Takumi mengirim pesan lewat radio kecil di telinganya, dia juga memegang batu yang berfungsi sebagai pengirim gambar kepada Rigel.
“Kalau begitu sebut ini ... Alnitak.”
“Datang, patuhi panggilanku, Alnitak!”
Seperti sebelumnya, konsentrasi mana meningkat dan Batu Ramalan membentuk sosok gadis. Kali ini bukan gadis kecil, tetapi gadis yang terlihat berusia kepala tiga dengan perawakan menggoda.
“Aku Alnitak Romance Pink. Dengan tanpa keinginan atau harapan diriku dipanggil ke dunia ini, untuk menjadi Cakar manusia, Pahlawan Cakar.”
“Seperti apa yang disampaikan. Sosok yang memanggil jiwa kami, adalah penerus. Delapan bintang akan bersinar, kesatuan terlupakan akan lahir.” Alnitak segera menatap Nadia, cakarnya memancarkan sinar dan seperti Merial. Nadia tidak sadarkan diri setelahnya.
Tatapan Alnitak tertuju lurus kepada Takumi. Lebih tepatnya batu yang dipegang olehnya. Meski jauh dia seakan menatap langsung Rigel yang menyaksikan dari kejauhan.
Mata tanpa emosi tersebut menatap diam. Rigel yang menyadari tatapan itu untuknya mulai mengacak-acak rambutnya dengan kesal.
“Apa yang sebenarnya terjadi, mengapa ****** ini menatapku?”
Rigel memiliki kekhawatiran besar terhadap apa yang akan terjadi selanjutnya. Bila pikirannya benar, wanita itu akan meninggalkan beberapa kata untuknya.
__ADS_1
“Delapan bintang akan bersinar, kesatuan terlupakan akan lahir. Delapan bintang akan bersinar! Kesatuan terlupakan akan lahir—”
“—kesepian akan keabadian adalah teman perjalanan.”
Alnitak telah menyelesaikan tugasnya dan segera jiwanya meninggalkan dunia ini. Berbeda dengan Alnilam. Alnitak terangkat ke atas, di akhir dia memberikan senyuman tipis. Bibir tersebut seakan mengatakan sesuatu tanpa suara. Namun cukup bagi semua orang memahami apa yang coba dia sampaikan.
“Berjuanglah. Masa depan tidak mudah.”
Sosoknya benar-benar menghilang. Hazama yang membopong Nadia mengatakan sesuatu.
“Ada apa dengan mereka? Aku tak memahaminya sama sekali. Munculnya untuk membuat orang pingsan dan meninggalkan perkataan yang tidak kita pahami.” Dia tampak kesal akan situasi tersebut.
“Ya! Aku merasa sedang dipermainkan oleh kata-kata yang membuat tumor di otak!” Aland menggaruk kepalanya dengan kasar.
Semakin jauh perjalanan yang ditempuh, semakin jauh mereka tak mampu memahaminya. Dunia ini sungguh aneh, tak seperti ketika pertama kali datang.
“Masa depan takkan mudah, ya. Aku tidak lagi memikirkannya. Namun, setelah perang berakhir dan misal saja kita menang, akankah kita kembali ke bumi?”
Terhadap perkataan Takumi, semua orang diam. Bahkan Rigel yang mendengarnya tak memiliki kalimat untuk disampaikan. Ray dan Merial yang merupakan penduduk asli dunia ini hanya memasang wajah sedih.
Dengan kembali ke dunia masing-masing adalah bukti perpisahan. Mereka berasal dari bumi, namun bukan bumi yang sama. Melainkan bumi paralel yang saling berbeda. Dalam artian meski mereka kembali ke bumi, mereka takkan saling mengenal.
Meski ada kesempatan bertemu, orang yang ditemui bisa saja orang yang benar-benar berbeda.
“Jika benar, itu baik juga menyedihkan. Aku selalu berpikir bahwa kita akan tinggal di dunia ini selamanya. Menuang bir dengan senang selagi menceritakan kisah, menyebut sesama sebagai rekan perang.” Marcel tampak gemetar selagi mengatakan hal tersebut.
“Waktu yang singkat namun terasa panjang. Tak terasa bahwa kita mengalami banyak hal yang sulit dipercaya.” Petra menyeka air mata yang membanjiri pipinya.
Sampai akhir Rigel tak bergabung dalam percakapan mereka. Diam-diam dia melihat langit dan mematikan radio komunikasi. Tatapannya terlihat kesepian.
“Perpisahan pasti akan datang.”
Dalam diam dia memutuskan sesuatu dengan gemetar dan wajah pahit, Rigel memejamkan mata.
‘Hari itu pasti akan tiba. Maka, aku harus melakukannya segera!’
Wajah seorang gadis terlintas dalam benaknya. Tanpa sadar Rigel sudah sangat mencintainya. Karena dia mencintainya, maka Rigel harus melakukannya demi masa depan.
__ADS_1